
"Pergilah! Aku udah malas melihat wajahmu!" Iraz menatap gadis centil itu dengan tatapan meloya.
"Jawab dulu! Kak Aine kah orangnya?"
"Siapa kamu berhak mengetahuinya?"
"Saya tidak akan berhenti menggangu Anda sebelum Anda menjawab pertanyaanku!"
Iraz berdiri. "Kamu 'mau jadi gembel?" pertanyaan itu jelas membuat Vanya ciut.
"Ti-tidak, Tuan."
"Makanya pergilah!"
"Aku yakin dia pasti marah jika aku benar-benar mempermainkan mu!" kata Iraz dengan sorot matanya yang tegas.
Dia marah? Oh, aku tahu, dia pasti Kak Aine. Tapi jika orangnya Kak Aine, artinya dia masih hidup dong?
Vanya terus berfikir. Banyak pertanyaan yang timbul di benaknya. Dia sampai tidak sadar kalo pria di depannya sedang menjawab telepon.
"Halo, Ai?" ujar pria itu riang. Nada suaranya berubah drastis. Sangat lembut, jauh berbeda saat bicara dengan Vanya tadi.
"Hmm, udah kok. Mau dijemput?" tanya pria itu.
Vanya baru tersadar saat melihat pria itu sudah membelakanginya. Ia mendengar percakapan keduanya.
"Makan dulu? Ya udah, oke. Lima belas menit lagi udah OTW kok. Tunggu aja. Hehehe, nanti aku yang bayarin, puas puasin aja di sana..." pria terus memberikan jawaban-jawaban yang cukup menghibur.
Vanya memperhatikan gelagat pria itu. Tidak dingin ternyata. Buktinya dia terkekeh lembut, menjawab panjang lebar dan perhatian. Tapi, apa mungkin dia hanya hangat pada orang yang sedang menemaninya bicara? Kalo ya, betapa beruntungnya orang itu.
"Apa? Makanannya udah mau habis? Waduh, berarti harus bergegas nih." pria itu berbalik, berjalan menuju meja kerjanya, menyuruh Vanya turun dan mengusirnya dengan isyarat.
Gadis itu turun dari meja. Berjinjit hendak pergi. Tapi ia penasaran dengan sesosok yang bicara dengan pria itu. Kesempatan yang bagus, karena Iraz meletakkan hapenya di atas meja. Ia membiarkan orang di seberang bicara sedangkan dia membereskan mejanya.
Vanya menilik dari tempatnya berdiri. Ia berusaha membaca nama siapa yang tertulis di layar hape itu.
"My Animo" begitu iya membaca. Plus stiker hati berwarna hijau.
Iraz menatap gadis bebal di dekatnya. Sekali lagi ia menyuruh cewek itu keluar dengan cara menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuknya tanpa mengeluarkan suara.
Vanya yang takut dengan reaksi tegas Iraz langsung bergegas keluar. Gadis itu menguping di balik pintu.
"Oke, Ai! Sampai jumpa." pria itu mengakhiri percakapan mereka. Dia keluar dari ruangan tanpa menyadari Vanya berdiri di balik pintu. Soalnya ia berjalan aja tanpa memedulikan sekitar.
Vanya menatap punggung Iraz. Ia penasaran dengan orang yang hendak ditemui pria itu.
"Apa aku ikuti aja, ya?"
***
Aine duduk sambil menikmati makanan yang dia pesan. Kebetulan hari ini dia melewati restoran yang sepi, perut laparnya langsung meronta ingin makan. Tapi sial, dia tidak punya uang. Segera ia mengingat Iraz, pria itu pasti bisa mengatasi segalanya untuknya. Termasuk membayar makanan yang sudah ia habiskan. Memang punya seseorang yang kaya di samping kita bisa membuat hidup lebih indah.
Gadis itu tersenyum sambil membayangkan wajah kesal Iraz jika tahu dia makan dengan pakaian terbuka. Jujur, dia sengaja.
Aine makan sambil menatap layar hapenya. Sesekali menatap ke arah pintu masuk. Ia berharap pria yang dia tunggu segera datang.
__ADS_1
"Hy, apakah aku boleh duduk di sini?" seorang pria menyapanya.
"Tentu saja." balas Aine tanpa menatap orang itu.
"Makasih, Mba. Saya sebentar kok, cuma nungguin seseorang aja,"
"Tidak masalah." jawan Aine mengangkat wajahnya. Tersenyum pada pria yang sudah duduk satu meja dengannya.
Melihat wajah pria itu, jantung Aine berdegup sepuluh kali lebih cepat. Bagaimana tidak kalo pria itu adalah Alvan, mantan pacarnya.
Pria itu menatap wajah Aine lekat lekat. Ia seperti sedang mencari tahu identitas gadis itu melalui paras.
"Aine?" dia cepat mengetahuinya.
Aine tersenyum kecil. "Maaf, kayaknya Anda salah orang." berusaha menahan diri. Identitasnya tidak boleh terkuak begitu saja.
"Kamu Aine, kan?" pria itu semakin meneliti wajah Aine.
"Bu-bukan... Anda salah orang!" balas Aine lagi.
"Nggak, aku nggak salah! Kamu pasti Aine, aku tahu! Mata itu, bibir itu, aku sangat mengenalnya. Itu kamu kan, Ain?" suara Alvan terdengar menahan tangis.
Aine berusaha setenang mungkin. Ah, tapi sial! Dadanya bergemuruh. Ternyata dia lebih gugup ketemu Alvan ketimbang ketemu keluarganya.
"Ain?"
"Sudah kubilang, aku bukan Aine!" tiba-tiba gadis itu membentak. Sayang sekali tingkahnya semakin memperjelas identitasnya.
Pria itu tersenyum kikuk. "Aku tidak bodoh, Ain. Meski kau berubah seperti ini, aku tetap mengenalimu. Karena aku pernah menjadi orang yang paling mencintaimu." pria tampan itu mulai mengeluarkan jurusnya.
Ah, tapi bodoh amat, mending malu daripada berlama-lama seperti ini. Lagipula Iraz pasti bisa menghipnotis pemilik restoran itu jika dia melarikan diri sekarang. Dengan kata lain, pria itu pasti menyelematkannya dengan mudah. Dia tinggal kembali lagi nanti setelah ketemu dengan orang yang dia cari.
Aine hendak melangkah, tapi tiba-tiba saja Alvan menarik tangannya. "Jangan pergi, Ain, aku ingin lebih lama bersamamu." pria itu seolah memaksa Aine untuk duduk kembali.
"Untuk ke seribu kalinya, aku bukan orang yang kamu maksud!" Aine berkata seraya menaikkan resleting jaket Iraz yang menempel di tubuhnya. Tadinya ia ingin mengejutkan Iraz dengan menampakkan tubuhnya yang dibalut pakaian fitness makan di tempat rame. Tapi karena rencananya gagal, dan yang menemuinya adalah Alvan, maka dia terpaksa menutup tubuhnya lagi.
"Kalo kau bukan Aine, maka duduklah kembali. Hanya itu satu-satunya cara yang akan membuatku percaya kalo kamu bukan Aine." Alvan menatap wajah gadis itu dengan tatapan penuh harap.
Aine menurut, ia kembali duduk di hadapan mantannya.
"Aku tau itu kamu. Seandainya kamu bukan Aine, kamu akan memilih pergi dan mengabaikan permintaanku. Tapi lihat, kau masih sama seperti dulu..."
Deg! Dia ketahuan.
"Jujurlah, tidak apa-apa. Kamu Aine, kan?" wajah tenang pria itu membuat Aine kehilangan kendali.
Aine lemah, itu benar. Kemarin dia bisa berdiri di hadapan keluarganya karena ada Iraz yang membantunya. Karena pria itu menyalurkan kekuatan padanya. Dan sekarang, ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku mengkhawatirkan mu sepanjang waktu. Syukurlah kamu baik-baik saja," mata pria itu mengembun. Ia berlagak lembut, seolah dia telah melupakan perbuatannya yang menyakiti Aine terakhir kali.
Aine akhirnya mengangguk. Entah kenapa dia tidak bisa membohongi pria ini. Dia merasa Alvan bukanlah orang lain yang pantas ia benci. Mungkin karena pria itu pernah mewarnai hidupnya.
"Iya, Aku Aine." jawabnya terlambat.
Alvan tersenyum bahagia. "Melanie bilang, kau memilih pergi ke luar negeri. Katanya kau tidak tahan lagi tinggal di kota ini. Tapi aku tidak percaya, aku berusaha mencari keberadaan mu tapi tidak pernah bisa menemuimu. Dan sekarang hari keberuntungan, aku melihatmu sekali lagi..."
__ADS_1
Dasar Aine! Dia mudah banget diluruhkan. Udah tau Alvan brengsek tapi dia tetap saja baper dengan perkataan pria itu.
"Kamu mengkhawatirkan ku?" tanyanya agak memerah. Ia merasa Alvan sudah kembali, Alvan baik hati yang menyukainya apa adanya.
"Tentu saja! Kau pernah menjadi orang yang sangat berharga bagiku, Ain. Aku harus mengkhawatirkan mu." pria itu tersenyum, manis sekali. Aine suka pada senyuman itu.
"Makasih, Van..." Aine juga ikut tersenyum.
"Btw, kamu cantik banget sekarang. Kok bisa?" Alvan menatap wajah Aine yang berubah sangat-sangat drastis. Tadinya dia tidak akan mengenali Aine jika saja ia tidak hapal dengan mata indah itu. Soalnya, kini gadis itu cuanteeek banget.
"Rahasia, Van.." jawab Aine.
Pria itu tersenyum kecil. "Privasi, ya?"
Aine mengangguk.
Alvan orang yang dewasa, dia menanggapi segala hal dengan santai. Meskipun dia penasarannya sudah level yang paling tinggi, dia tak akan memaksa untuk mengetahui.
"Ain,," pria itu menyentuh tangan Aine. "Boleh nggak aku minta sesuatu?"
Sementara itu, Iraz menatap keduanya dari pintu. Darahnya langsung berdesir, urat-urat di sekujur tubuhnya terasa berdenyut. Ia mengambil langkah gila.
Iraz membuka maskernya. Memperlihatkan wajah tampannya pada orang-orang yang ada di restoran itu. Keberuntungan bagi mereka yang sedang singgah di sana. Bisa melihat wajah tampan bak dewa berjalan seperti model. Kapan lagi dapat pemandangan gratis seperti itu.
Pria itu berjalan menuju Aine. Ia memasang senyum aneh. Antara cemburu dan marah.
"Sayang...kau udah selesai rupanya?" Iraz berdiri di samping Aine.
Aine terkejut dan langsung menarik tangannya yang hendak di genggam Alvan.
"Iraz?"
"Pulang yuk..." kata pria itu menarik tangan Aine.
"Iya, Raz.." Aine mengambil hapenya yang tergeletak di atas meja. "Tapi aku belum bayar..."
"Ya udah, pergi ke mobil gih, aku akan membayar untukmu." pria itu tersenyum lebar.
"Oke, Raz." gadis itu tersenyum pada Akan dan berlalu meninggalkan keduanya.
Setelah Aine keluar dari restoran itu, Iraz melakukan tindakan yang diluar dugaan. Ia mendekati Alvan dan menarik kerah baju pria itu.
"Jangan coba-coba mendekati pacarku lagi!" ujarnya kasar.
"Maaf, saya tidak tahu jika dia pacar Anda.."
"Jangan pura-pura, bangsat! Kau udah membuangnya, kau sudah mencampakkannya, harusnya kau malu melihatnya. Tapi kau bertingkah seakan tidak bersalah padanya!" Iraz masih dengan kemarahannya.
"Anda tidak tau apa-apa tentang kami!"
"Kau pikir aku bodoh? Aku tau semua hal tentangnya. Termasuk bagaimana kau menyakitinya. I am the one who knows him best. Lebih dari kamu." ujar Iraz mendorong tubuh pria itu kebelakang.
Alvan menunduk dalam. Dia memang sudah membuang Aine, menyakiti gadis itu dan mengabaikannya. Benar, harusnya dia malu pada gadis itu.
"Jangan pernah mendekati dia lagi! Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri! Ingatlah, karena ulahmu, dia hampir tiada. Jadi, renungi kebodohanmu itu bajingan!"
__ADS_1
"Aku ingin memperbaikinya." Alvan menyela.