Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Jika Memang Harus Demikian


__ADS_3

"Ai, Ai?" Iraz mengetuk pintu kamar gadis itu.


Tidak ada sahutan selain suara isak tangis.


"Bukain dong, Ai,"


Lagi-lagi tidak ada sahutan.


"Aku dobrak, mau?" ancam Iraz lembut.


Pria itu menyandarkan tubuhnya ke pintu. Sudah sejak sepuluh menit lalu dia meminta agar pintu dibukain. Tapi jangankan dibuka, digubris pun tidak.


"Kamu marah ya, Ai?"


"Kalo kamu marah, aku sedih loh. Kalo aku sedih, petir bakal muncul. Kalo petir muncul, kamu akan takut. Kalo kamu takut, siapa yang bakal meluk kamu, kan aku ada di luar. Makanya bukain dong," pria itu merengek.


"Berarti aku dobrak aja, nih?" Iraz habis kesabaran, ia memegang handle pintu kamar Aine dan secara tidak sengaja menekannya ke bawah. Eh, pintunya kebuka.


"Anjay! Ternyata tidak dikunci!" gumamnya agak kesal. Ia memperhatikan sekeliling kamar dan tidak menemukan gadis yang dia cari.


"Ai?" panggilnya setengah panik.


"Apa? Kenapa manggil-manggil namaku?" ternyata gadis itu ada di atas ranjang, namun bersembunyi di bawah ogokan selimut.


Iraz bernafas lega mendengar suara itu. Ia sempat mengira Aine terjun dari jendela. Ternyata tidak. Syukurlah tidak senekad itu.


"Ai, kamu nangis karena aku ngambil pisau itu?" Iraz mendekati ranjang setelah mengunci pintu. Ia membuka maskernya, memamerkan ketampanan yang dia miliki.


"Aku minta maaf jika itu menyakitimu, Ai.. aku hanya tidak ingin kau berubah jadi pembunuh. Balas dendam boleh, tapi jangan sampai pertumpahan darah juga. Kita harus membalas mereka dengan cara yang bijaksana, agar tidak ada yang dirugikan. Tapi kalo memang tindakanku tadi menurutmu salah, maka tolong maafkan aku yang bodoh ini..." Iraz memanyunkan bibirnya, berharap gadis itu kembali seperti biasa.


"Kamu jahat, kamu ngebelain Vanya di depanku!" sahut Aine yang masih di tumpuki selimut.


"Aku nggak ngebelain dia Ai, aku hanya tidak ingin kau membunuh adikmu sendiri,"


"Tapi kau dekat dengannya! Mengantarnya ke sekolah, merangkulnya! Aku benci padanya!" Aine meremas sprei saking emosinya mengingat kejadian itu.


Aku tau trik ini akan berhasil dengan sempurna.


"Astaga, ternyata karena cemburu toh?"


"Iya! Emangnya kenapa?" Aine mengangkat tubuhnya, ia menghempas selimut yang sedari tadi menutupinya. "Aku cemburu, Raz! Apa kamu keberatan, hah?"


"Hahahaha, tentu saja tidak. Aku malah senang. Akhirnya gadis super duper wow ini bisa cemburu juga...."Iraz mengedipkan sebelah matanya seraya mencolek pipi Aine.


"Alla!"

__ADS_1


"Iya loh, Ai ku sayang. Eh, tapi jangan sedih gitu dong...aku jadi tidak enak hati nih," menatap gadis bermata sembab itu.


"Ya udah, jauhi Vanya! Aku nggak bakalan sedih lagi,"


Iraz tersenyum. "Aku tidak mendekati dia kok."


"Alla! Bilang aja kamu suka sama dia! Ngaku, hayooo!"


"Apaan suka sama dia! Aku kan cuman suka kamu, Ai! Vanya ngga ada apa-apanya dibanding kamu. Pokoknya love banget buat kamu," Iraz tersenyum lebar, menghibur gadis yang manyun gegara cemburu itu.


Aine jadi ketularan senyum. Siapa juga yang nggak senang digombali pria sekeren Iraz.


"Nah, kalo senyum begitu kan' cantiknya nambah. Apalagi senyummu manis banget. Jadi pengen kugigit!"


"Gigit apa?" tanya Aine bingung.


"Wajah kamu! "


"Aku nggak mau! Pasti sakit digigitin!"


"Ya udah, dicium aja, gimana?"


"Nggak mau!"


"Ih, kenapa? Jarang-jarang loh aku nawarin cium orang," Iraz tersenyum jahil.


***


Menyukai Tuan Inui adalah petaka. Hidupku tidak tenang lagi setelah Kak Aine tau aku menyukainya. Lebih baik aku berhenti saja.


"Kamu yang masak untuk besok!" Aine menunjuk Vanya.


"Tapi, Nona..."


"Tidak ada tapi tapian! Dan yah, aku mau sepuluh macam masakan yang tidak berlemak!"


"Tapi saya masuk sekolah, Nona... bagaimana kalo saya terlambat?"


"Aku tidak peduli! Intinya besok perintahku harus terlaksana! Kalo tidak, hukumanmu ku tambah tiga bulan. Gimana? Kamu mau?"


Vanya menelan ludah.


"Katakan pilihanmu!"


"Saya akan memasak untuk besok Nona." akhirnya dia memilih pilihan yang benar.

__ADS_1


Besoknya, Vanya bangun jam empat pagi. Ia tidak tau memasak, karena sebelumnya ia belum pernah melakukan pekerjaan itu. Tapi kalo dia menolak, sama aja dengan menjatuhkan diri kedalam lubang dengan sengaja.


Gadis itu membuka internet. Mencari petunjuk dari sana, sekalian melaksanakan prosedur yang dianjurkan. Karena syarat yang diberikan oleh Aine adalah memasak tanpa bantuan siapapun.


Satu jam berdiri di dapur, ia masih belum menghasilkan satu masakan pun. Malah mengambur adulkan tempat itu. Nanti jika Melanie atau mamanya bangun pasti akan kaget melihat dapur yang semula bersih berubah menjadi kapal pecah.


Jam setengah tujuh pagi harusnya dia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tapi karena permintaan dari Aine, dia bahkan masih memakai piyama saat ini. Masakan yang dia siapkan juga masih delapan macam. Itupun tidak tau rasanya gimana, yang penting bentuknya mirip.


Dada Vanya bergemuruh. Dia takut tidak masuk sekolah hari ini, karena kalo itu terjadi, dia akan mendapat surat panggilan. Dan mau tidak mau dia akan di skors. Karena dalam semester ini, dia sudah lima kali tidak hadir tanpa keterangan. Jika ditambah satu hari lagi, kemungkinan dia akan dikeluarkan dari peluang siswa berprestasi yang akan di kirimkan ke luar negeri. Dan yang paling parahnya, kebusukannya selama ini akan tercium. Kalo surat panggilan datang, tidak mungkin Mama dan Melanie akan diam saja. Pastinya akan mencari informasi tentang apa saja yang dilakukan Vanya selama ini. Kenapa bolos sebanyak itu, padahal selalu berangkat dari rumah?


Ya, Vanya gadis yang nekad. Ia banyak bolos karena bersenang-senang dengan teman-temannya. Terlebih jika ada pria yang mengajaknya jalan-jalan sambil ditawari traktiran, wahh, dia nggak bakal peduli dengan sekolahnya. Tanpa ia sadari, ia telah melakukannya empat kali. Kenapa bolosnya lima, karena kemarin ia menghabiskan satu hari untuk menggoda Iraz.


Tak ada yang bisa ia lakukan selain memasak dengan asal. Karena lima belas menit lagi, bel sekolah akan berbunyi. Artinya, hidupnya juga akan berakhir lima belas menit lagi.


"Kak Mel, antarin aku dong!" gadis itu menatap kakaknya setengah memohon. Melanie baru saja mau ke kamar mandi untuk membersihkan wajah.


"Aku cuti hari ini." jawaban lain diberikan.


"Makanya antari aku, dua belas menit lagi sekolah akan masuk, Kak Mel!" gadis itu memohon lagi. Ditangan ada setumpukan seragam beserta sepatu.


"Bolos aja sekali ini! Tumbenan banget rajin!" Melanie malah benaran masuk ke kamar mandi.


"Nggak bisa Kak Mel, hidupku tergantung pada hari ini! Tolonglah..."


Melanie mundur. "Aneh banget!" tatapannya curiga. "Lagian ngapain ke sekolah berbaju seperti ini! Serius deh, kamu lebih cocok ke ladang. Sumpah!"


Vanya menatap dirinya. Masih berpiyama. Rambutnya yang panjang terlihat kusam. Wajahnya juga belum dicuci, giginya belum digosok, intinya penampilannya masih persis kayak baru bangun tidur. Eh, tapi udah ditambah keringat sih.


"Tidak apa-apa Kak Mel, aku akan ganti baju di mobil saja. Ayolah..." dia menarik kakaknya keluar dari kamar mandi dengan satu tangan.


"Astaga! Hei! Are you crazy?" Mel setengah panik.


"Aku tidak punya pilihan."


***


Melanie menggeleng ketika melihat adik bontotnya menanggalkan pakaian di dalam mobil. Gadis itu Mangganti baju tidurnya dengan seragam berwarna putih yang dipadukan dengan jas berwarna hitam.


"Kamu yakin mau kesekolah dengan tampilan seperti ini?" tanya Melanie yang melihat kekacauan adiknya.


"Kali ini nggak apa-apa deh," jawab Vanya mengancing jasnya.


"Kalo aku jadi kamu mending nggak sekolah. Daripada gara-gara sehari namaku rusak, mending nggak bolos aja." saran Melanie.


"Kak Mel nggak ngerti! Aku lagi di ambang kematian!"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Udah deh, Kak Mel nggak bakalan ngerti!"


__ADS_2