
Malam pun datang, Iraz mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Kaos putih longgar yang dipadukan dengan jeans biru.
Vey dan dua anak kecil masuk ke kamar Iraz.
"Mau kemana, Stevan?" tanya Vey duduk di atas ranjang pria itu.
"Erin ngajak aku dinner," jawabnya sambil mengacak rambutnya. Entah kenapa dia lebih pede dengan model rambut kayak orang kesetrum gitu. Mungkin dia sengaja agar Erin benci padanya.
"Hah? Dinner? Kok aku nggak yakin, ya?"
"Aku nggak peduli!" balas pria itu.
"Hmmm, tapi jika benar begitu, bukankah lebih baik memakai jas atau tuksedo sekalian? Biar lebih rapi gitu..."
"Ribet!" sahut Iraz. Padahal dia hampir tidak pernah berpakaian seperti itu.
"Bukannya melarang atau mengomentari, tapi penampilanmu malam ini kurang mengesankan untuk dinner romantis. Saranku sih ganti aja,"
Iraz menggeleng. Ia ogah-ogahan membalikkan badannya untuk menatap Vey. "Malah, malam ini aku berniat menjumpai orangtua Erin. Aku mau membicarakan pernikahan dengan mereka."
"What??? Jan gila, Stevan! Kalo mau ngelamar, persiapkan dulu segalanya. Jangan asal begini dong!"
"Terserah aku! Yang mau nikah kan aku, bukan Kak Vey!" tegasnya meninggalkan ketiga orang itu. Dua anak kecil yang sedari tadi ingin dibelai olehnya ikut menyaksikan kepergian pria itu. Mereka seperti anak yang tidak dikenalinya lagi.
"Kiking kenapa sih, Mam? Kok Kiking nggak sayang lagi sama kita?" Mizi menatap Mamanya. Meminta meminta penjelasan.
"Kiking bukannya tidak sayang, dia lagi banyak masalah, sayang..." Vey mengelus kepala putrinya.
"Nggak, Mam! Zizi yakin, Kiking pasti udah nemuin ponakan barunya. Buktinya, tadi Zizi dengar dia sebutin nama orang lain di kamarnya. Dia nangis sambil bilang, Ai...Ai..."
Vey memeluk putrinya. "Kiking nggak mungkin cari keponakan lain. Zizi itu keponakan yang paling disayanginya. Nggak ada yang bisa gantiin posisi Zizi di hati Kiking." meski sebenarnya Vey juga merasakan perubahan itu.
Mizi cemberut. Baginya Iraz adalah ayah kedua. Bahkan lebih menyayangi pria itu ketimbang papanya sendiri. Itu terjadi karena Iraz sangat baik padanya. Dia diperlakukan layaknya seperti princess di dunia Disney. Tapi itu dulu, ketika Iraz tidak pergi dari rumah itu. Sekarang, semua berubah, Iraz tak lagi mencium wajahnya. Jangankan itu, menyapanya saja tidak!
"Prince kenal Kiking juga, kan?" Vey beralih pada putranya yang masih berusia lima tahun. Dulu Prince masih kecil kala ditinggalkan Iraz. Dia pasti belum mengenal Iraz waktu itu.
"Itu Paman yang sering diceritakan Papa, ya?"
__ADS_1
"Hmm, iya, sayang.... dialah Kiking yang sering ditanyakan kakakmu."
"Oh." Prince masih kecil tapi sikap dinginnya sudah mulai terbaca. "Kok dia jahat, sih?"
"Eh, kok adik bilang gitu? Kiking itu baik, baik banget..." Zizi menyela.
"Kalo dia baik, kenapa dia tidak menggendongku? Eyang selalu melakukan itu padaku." protes anak kecil itu. "Terus kenapa dia marah sama Mama?"
Vey berusaha ceria. Ia harus bisa meyakinkan kedua anaknya kalo Iraz tetap orang yang sama. Apapun itu, Iraz adalah pria terbaik yang mereka kagumi.
"Stttt, jadi Kiking itu lagi stress. Kalian tau kan, Eyang lagi sakit parah, jadi Kiking sedih karena itu. Makanya, kita harus berdoa agar Eyang cepat sembuh. Kalo Eyang cepat sembuh, Kiking bakalan kembali lagi seperti dulu. Dia akan menyayangi kalian lagi..." Vey berusaha menghibur.
"Beneran, Mam?" mata bening milik Zizi bersinar saking senangnya mendengar perkataan Mamanya.
"Iya..."
Gadis kecil itu langsung melipat tangannya. Menutup mata dan berkata..."Ya Allah, semoga Eyangku cepat sembuh... agar Kiking kembali kayak dulu... Zizi rindu Kiking ya Allah..."
***
Iraz tidak naik mobil ke rumah Vey. Ia sengaja naik moge saja. Tujuannya agar Vey membatalkan dinner malam ini. Karena sejujurnya dia malas banget ngelakuin hal yang berhubungan dengan pacaran.
Jam delapan teng dia sampai di rumah Erin. Sambutan yang sangat meriah diberikan padanya. Sampai-sampai kedatangannya disambut seperti rider MotoGP.
"Eh, Tuan Stevan..."sepasang suami istri mendekatinya setelah delapan pelayanan tersenyum menyapanya.
Sebenarnya Iraz agak malas dengan mereka. Melihat susunan pelayan itu sudah membuatnya muak. Entah karena dia sudah biasa hidup sederhana atau karena memang sambutan ini terlalu berlebihan, entalah! Intinya dia tidak suka.
"Erinnya ada?" nah, dia nggak punya pilihan selain membaiki mereka.
"Ada, Tuan... di dalam," kini pria berbalut jas yang menyahut. Tidak lupa senyuman lebar yang mengalahkan senyuman monyet.
"Masuk aja, Tuan..."
Iraz mengangguk. Ia melewati mereka dengan mudahnya.
Di ruang tamu, Iraz menemui gadis yang didandan berlebihan. Make-up gadis itu menor, pake banget. Blush-on merah di pipinya terlalu tebal, membuat dirinya agak mirip dengan boneka Jepang. Belum lagi gaun panjang merah yang menjuntai dengan punggung terbuka hingga ke pinggul. Plus high heels yang tingginya mencapai sepuluh centi meter. Gila benar!
__ADS_1
"Erin?" tanyanya pada gadis itu. "Jadi nggak dinner nya?"
Gadis itu tersenyum sangat manis. "Jadi dong. Aku dah cantik begini masa dibatalin!" berjalan mendekati Iraz.
"Ya udah, ayok!" Iraz balik melangkah.
"Hmmm, kamu yakin tidak akan ganti baju?" gadis itu berhenti sejenak, menatap penampilan Iraz yang benar-benar aneh bin ajaib.
"Kenapa memangnya? Kamu aku nggak suka?" menatap Erin dengan tatapan setajam silet.
"Bukan begitu, tapi kurang sopan jika disandingkan dengan dandananku malam ini." Erin menunduk mengatakannya.
"Oh, ya udah! Kita batalin!" seru Iraz. "Lagian siapa suruh kamu dandan kayak nenek lampir begini!" protes pria itu.
Hah? Nenek lampir? Cantik seperti ini dibilang nenek lampir? Matanya soak atau gimana? Jangan-jangan penglihatannya sudah kabur nih! ucap Erin dalam hati.
"Hmmm, kalo begitu maafin aku. Pakaianmu bagus kok, aku suka... kita jadikan dinner nya?" Erin memilih mengalah daripada kehilangan kesempatan emas.
"Terserah kamu aja!"
"Eh, ngomong ngomong, kamu bukannya berniat bicara sama orangtuaku?"
Iraz menatap gadis itu tajam. "Aku belum siap. Kayaknya perlu pertimbangan yang lebih matang." kata Iraz tanpa ekspresi.
Mikirin apa lagi sih! Labil amat! protes Erin dalam hati lagi.
"Hehehe, terserah kamu deh, aku sih nggak apa-apa. Tapi lebih baik percepat pemikirannya, agar kita lebih cepat bahagianya. Hehehehe," Erin berhehe manja.
"Aku tidak yakin bisa bahagia bersamamu. Namun meskipun demikian, aku tetap akan mengambil pilihan ini." Iraz mengangkat tangannya, meminta agar Erin menggenggamnya. "Aku akan belajar mencintaimu!"
Gadis itu tersenyum sekali lagi. Ia meraih tangan Iraz dengan suka cita.
"Jadi, mari kita pergi," Iraz melangkah tidak semangat.
"Eh, jadi ceritanya mau seru-seruan nih?" Erwan, Papanya Erin tersenyum pasy mereka saat keduanya melewati teras rumah. Kebetulan pasutri itu sedang duduk di teras depan.
"Iya, Pahhh..." Erin tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Cie...cie... Tuan Stevan akhirnya dapat cewek juga. Selamat,,"
"Jagan panggil Tuan mulai sekarang, panggil saja Stevan atau nama yang kalian suka. Karena aku akan menjadi keluarga kalian mulai sekarang .."