Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Sebaiknya Jangan Terluka Lagi


__ADS_3

"Memperbaiki?" Iraz hendak melangkah tapi terhenti karena ucapan Alvan. "Sebuah gelas yang telah kau pecahkan tak akan pernah bisa utuh lagi. Meski kau memperbaikinya sebisa mungkin, pasti akan ada bagian yang hilang. Begitu juga dengannya, meski kau memperbaiki kesalahanmu, dia hanya akan memaafkan mu."


Alvan menarik senyum. "Anda salah. Saya tau lebih banyak tentang dia. Saya bisa membuatnya kembali seperti semula, saat dia masih menyukaiku."


Iraz tersenyum sinis. "Aku tau Aine lemah. Aku tau dia masih labil. Tapi, jangan kau pikir bisa memanfaatkan kelemahannya. Karena aku akan selalu ada untuk melindunginya. Termasuk menangkal pecundang sepertimu." pria itu menatap tajam.


"Really? what if i get her back?"


"Bodoh. Langkahi dulu mayat ku!" sahut Iraz.


Alvan terlihat biasa aja. Ekspresinya seolah berkata tidak takut dengan Iraz. Bahkan sempat-sempatnya dia memasang senyum aneh.


"Baiklah. Mari kita lihat seberapa hebat Anda melindunginya. Saya yakin, Anda akan memberikan sedikit celah agar saya bisa masuk. It just takes a little strategy."


Iraz memperbaiki jasnya. "I'm waiting for your greatness." lalu pria itu menghampiri seorang pelayan untuk meminta tagihan.


***


"Kok bisa sih jumpa sama dia?" Iraz berkata sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lambat.


"Aku nggak tau, tuh. Tadi saat aku makan, tiba-tiba dia permisi untuk duduk. Aku iyain karena tidak tau dia Alvan. Eh saat kami bertatapan dia ngenalin aku. Aku nggak bisa ngehindar lagi. Makanya, terbongkar deh." jawab Aine.


"Betulan?" Iraz seolah tak percaya.


"Iya loh. Emang gimana lagi?"


"Siapa tau kau menghubunginya diam-diam. Kan banyak kemungkinan,"


"Enggak kok, Raz. Tadi aja aku berusaha tidak mengenalnya, eh dia malah fasih banget sama aku. Aku ingin lari, eh dia punya trik bagus. Hadeh, aku benci diriku karena mudah dibohongi." Aine manyun sendiri. "Lagian tanpamu aku lemah, nggak bisa berfikir jernih."


Pria itu menatap lurus ke depan. "baguslah kalau begitu." ujarnya singkat.


"Kamu marah, Raz?" tanyanya menatap pria itu.


"Nggak. Aku hanya nggak suka kau dekat dekat dengannya." jawab Iraz datar.


"Kenapa emangnya?" sesantai itu Aine menyahut.


Iraz mengerem mendadak. Ia mengalihkan pandangannya ke wajah Aine. "Dia udah nyakitin kamu, Ai! Dia udah buang kamu! Kamu ngerti sakit hati nggak sih!" Iraz setengah membentak.


Aine menunduk. "Maaf, Raz." ucapnya sedikit gemetar.


Iraz menyadari bahwa kelakuannya membuat Aine takut. Ia mengatur nafas, kemudian mencekal lengan gadis itu. "Ai, dengerin aku." ucapnya lembut.


Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Iraz yang berusaha mengontrol emosi.


"Aku hanya tidak ingin kau disakiti lagi. Kau sudah sembuh, sebaiknya jangan terluka lagi. Susah mengobatinya, Ai." tatapan pria itu kalem sekali. "Kalo kamu terluka lagi, aku yang akan repot. Karena lukamu adalah lukaku juga. Jangan yah,"

__ADS_1


Aine mengerti maksud Iraz. Pria itu ingin dia bahagia. Hidup tenang tanpa ada yang menyakiti. Sungguh beruntung dirinya dipertemukan dengan pria sebaik Iraz.


Gadis itu tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Raz. Aku nggak bakalan nemuin dia lagi. Aku janji,"


"Jangan cuman janji, Ai."


"Iya. Aku akan buktikan juga."


"Gitu dong, baru Aine-ku." Iraz kembali melajukan mobilnya. "Sebenarnya aku takut,"


"Takut kenapa, Raz?"


"Aku takut kau akan kembali pada Alvan. Sepertinya kalian punya hubungan yang sangat dekat. Aku takut kau akan meninggalkanku demi pria itu." Iraz memberitahu kekhawatirannya.


"Kamu ngomong apa sih, Raz!" Aine tersenyum manis. "Hanya orang gila yang akan memilih pilihan seperti itu. Meninggalkan emas demi bersama kerikil."


"Sebodoh bodohnya aku, masih tetap punya pikiran kok. Nggak mungkin banget aku ninggalin kamu demi dia. Seperti yang kau bilang sebelumnya, nggak logis banget! Cowok setampan kamu kok ditinggalin,"


Iraz tersenyum. "Udah pinter ngegombal rupanya,"


"Iya dong, kan yang ngajarin suhu,"


"Siapa nih suhunya?"


"Kamulah! Emang siapa lagi!"


"Iyaaaa, kamu ngajarinnya secara tidak langsung!"


"Mana ada!"


"Iyaloh, astagah!"


Iraz terkekeh. "Ya udah, kamu menang! Aku deh yang ngajarin kamu!" pria itu menatap Aine sejenak, kemudian lurus ke depan.


"Hmm, sudah jam berapa?" tanya Iraz setelah mereka membisu untuk beberapa saat.


"17.20." jawab Aine menatap layar hapenya.


"Wahh, saat yang tepat untuk menikmati sunset. Cuaca juga lagi mendukung. Kamu mau ikut nggak?" tanya Iraz pada wanita yang duduk di sampingnya.


"Sunset? Apaan tuh?" tanya Aine bingung. Mungkin ia belum pernah mendengar kata itu sebelumnya.


Iraz mengerutkan keningnya. "Kamu benaran tidak tau atau pura-pura tidak tau?"


"Tidak tau lah!" sahut gadis itu. "Tapi aku sering mendengar kata sunset. Aku kira semacam makanan, ternyata tidak ya?"


"Ya udah, kamu ikut deh. Aku yakin kamu bakalan suka."

__ADS_1


***


"Ma, Ka Aine masih hidup!" Vanya mengadu pada orangtuanya saat dia sampai di rumah.


"Apaan sih, Anya!" Andari sedikit kesal dengan aduhan putrinya.


"Iya, Ma. Serius." ujarnya lagi.


"Tau dari mana?" kini Melanie yang bertanya.


"Tuan Inui!" jawabnya. "Tadi aku ketemu sama dia dan kami ngobrol cukup lama. Ia bilang orang yang dia sukai adalah Kak Aine."


"Ha? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Apa dia datang ke sekolahmu?" Melanie terkejut juga dengan adiknya itu.


"Nggak. Aku pergi ke kantornya. Dan yah, kami ngobrol." Vanya berbohong, dia tidak mengobrol dengan Iraz, dia diusir, dipermalukan dan dikritik habis-habisan lebih tepatnya. Tapi gengsi banget memberitahu itu, bisa-bisa dia dibuli oleh Melanie.


"Pergi ke kantornya? Dasar centil!" komentar Melanie.


"Biarin, yang penting aku tau bukan Kak Mel orangnya. Dia suka Kak Aine, blaaa," gadis menjulurkan lidahnya ke luar demi mengejek balik.


"Aine? Apa dia memberitahumu langsung?" terlihat jelas Andari tidak percaya dengan putrinya.


"Tidak sih, tapi dia bilang bukan Kak Mel, bukan aku juga, berarti Kak Aine." jawab Vanya.


Melanie berdecak. "Berarti nggak pasti, goblok!"


"Iya sih nggak pasti, tapi aku yakin banget orangnya Kak Aine. Soalnya aku mendengar dia bicara pada seseorang dengan nama Ai. Karena penasaran aku ingin ngikutin dia, eh pas jalan aku ketahuan. Dia menatapku tajam dan menyuruhku pulang. Gagal deh mengetahui siapa perempuan itu." Vanya bercerita panjang lebar. Ia bahkan tidak sempat mengganti seragamnya gegara menutur.


Andari menyesap tehnya. "Pasti bukan Aine. Mungkin saja namanya bertepatan Ai. Bisa saja Aiko, Aida, Aisha, Aira, dan lain-lain. Kamu aja yang tidak berfikir luas," komentarnya.


"Iya juga, sih! Lagipula dia memang memberitahukan kalo orang yang dia sukai pintar ngelukis. Nggak mungkin kak Aine juga, dia kan nggak bisa ngapa-ngapain!" tambah gadis itu.


"Itulah!" lanjut Andari.


"Tunggu, kamu bilang pintar ngelukis?" Melanie tersenyum kecil. "Fix itu aku. Kalian ingat kan? Waktu SD aku pernah juara dua lomba melukis. Wah, aku jadi bersemangat!" imbun Melanie percaya diri.


"Apaan! Jelas-jelas dia bilang bukan Kak Mel!"


"Cih, polos banget! Lagian kamu kenapa sih ngedeketin dia! Masih bocil!"


"Aku suka sama dia!"


"Suka sama dia atau suka sama jabatannya?" Mel menatap risih adiknya. "Secara nggak mungkin kau menyukai orang tanpa tau wajahnya kek mana! Bilang aja kamu matre!"


"Kalo matre emangnya kenapa? Yang penting nggak kek Kak Mel, ngerebut laki orang!" Vanya bangkit dari duduknya, hendak melarikan diri.


"Kamu bilang apa? Merebut laki orang?"

__ADS_1


"Iyaaaaaa, Tuan Inui yang bilang! Katanya kamu ngerebut Kak Alvan. Aku tidak tau Kak Mel rebut dia dari siapa, intinya tuan Inui bilang begitu!" gadis itu lari menaiki tangga, takut dibacok sama kakaknya. "Lebih baik matre dari pelakor!"


__ADS_2