
"Kenapa harus berjalan sih, Ai?" Iraz berkomentar saat mereka berjalan menuju konser di pusat kota. Aine memang memaksa untuk jalan kaki, soalnya dia mengira sanggup untuk berjalan sejauh itu.
"Biar sehat, Raz. Kita udah terlalu banyak menggunakan kendaraan. Sekali-sekali bisalah berjalan seperti ini. Ngitung ngitung ngurangin polusi, hehehe," gadis itu menjawab dengan senyuman tipis di ujung bibirnya. Sejujurnya dia juga lelah. Padahal jalan yang harus ditempuh masih panjang. Tapi sangat tidak mungkin jika dia mengeluh, mengingat jalan kaki ini adalah usulnya.
"Okelah. Kalo kamu yang ngomong gitu sih, aku nggak apa-apa. Biar jalan yang harus ku tempuh sejuta kilometer lagi, aku akan tabah. Harus begitu, kan?"
"Tentu saja, Raz." jawab Aine tersenyum menyesal.
***
Selesai menonton konser, mereka berniat untuk pulang. Niat hati ingin makan di warteg, apa daya pintunya tertutup. Jadilah mereka kembali dengan perut kosong.
"Aduh, aku udah nggak kuat!" Aine berhenti, mendudukkan tubuhnya di pinggir jalan.
"Lah?" Iraz ikut berhenti. Duduk di samping Aine.
"Udah jam berapa, Raz?" tanya Aine ngos-ngosan.
Pria itu tidak menjawab. Ia membuka hapenya terlebih dahulu.
"Jam 21.09, Ai."
"Waduh! Berarti kita bakal sampai jam 22.00. Parah! Padahal aku nggak kuat lagi," Aine memilih jujur daripada memaksakan diri.
"Kamu bandel sih!" omel Iraz tersenyum.
"Aku kira tidak akan secapek ini, Raz ... lah ternyata...."
"Kenapa? Nggak sanggup berjalan lagi?"
Aine menggeleng. "Kita nunggu taksi aja, Raz! Aku tidak sanggup lagi berjalan." dia jadi gadis yang tidak tau malu.
"Nggak ada taksi yang bakalan mau nganterin kamu sampai ke rumah. Yuk, kita jalan aja!" ajak Iraz.
"Tapi aku nggak sanggup lagi, Raz..."
"Ya udah, sini, naik ke punggungku..." Iraz berjongkok, menawarkan pundaknya pada Aine.
"Nggak usah, Raz..."
"Nggak apa-apa kok, ayo, naiklah...." tawarnya sekali lagi
Karena tidak dapat menolak ajakan itu, akhirnya Aine memberanikan diri naik ke punggung Iraz.
"Cih, kamu ringan banget! Berapa kilo nih?"
"Empat puluh lima, Raz." jawab Aine di dekat telinga Iraz.
"Wahhhh, kurus banget. Kurangi olahraga ya, Ai... entar kamu tinggal rangka jadi angker, hehehe,"
__ADS_1
"Seep, Raz...wkwkwkwkw,"
Setelah setengah jam Iraz melakukan perjuangan menyusuri jalan dengan beban di pundaknya, ia mulai berbicara agar Aine tidak tertidur. Dia mengobrol random pada gadis manja yang hinggap di punggungnya.
"Raz, kamu baik sekali. Kamu mau nggak jadi pacarku?" Aine malah kebawa suasana.
"Nggak!" balasnya singkat.
Agaknya Aine sedikit kecewa pada pria itu. "Kenapa?"
"Kalo jadi suami aku mau. Tapi kalo jadi pacar aku nggak mau!! Tanggung!" balas Iraz tersenyum.
"Aaaaa, so sweet banget," Aine ikut tersenyum di punggung Iraz. Ia memeluk leher Iraz agar bisa bersandar dengan nyaman. Hingga karena nyamannya, dia tertidur di gendongan pria itu.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Iraz samping di depan rumah. Ia cukup lelah dalam perjalanan kali ini. Tapi meski lelah, dia merasa bahagia bisa bersama Aine seharian.
Ia masuk ke kamar Aine. Menidurkan gadis cantik itu dengan hati-hati. Membuka sepatu gadis itu sebelum menyelimutinya sampai ke menutupi bahu.
"Tidur yang nyenyak, Ai..." dia mengusap kepala gadis itu, mencium keningnya sekali. Yang dicium tidak bergerak sama sekali. Tampaknya sudah tertidur pulas. "Selamat malam, cantikku." mematikan lampu kamar Aine, menutup pintu lalu beranjak ke kamarnya.
***
Pagi harinya Aine terkejut mendapati tubuhnya terbaring di atas tempat tidur. Paling paniknya lagi ia baru Menyadari bahwa matahari pagi sudah menyelip dari fentilasi jendela. Senyenyak apa dia tidur hingga bisa melewatkan satu malam yang panjang tanpa berkutik?
Aine termenung sejenak. "Kenapa sih aku tertidur!" rutuknya. "Ih, bodoh! Bodoh!"
Dia mengatakan itu bukan karena takut diapa-apain sama Iraz, tapi merasa sayang banget dengan waktu berdua yang terlewatkan begitu saja. Harusnya dia bisa mengobrolkan banyak hal jika saja matanya tidak tertutup. Ah, tapi dasar nasibnya sial!
Benar saja, pria itu sudah pergi dengan meninggalkan seuntai surat untuknya.
Ai, aku pamit kerja. Jang lupa:
-Makan
-Mandi
-Bernafas
-tersenyum
Dan yang paling penting, jangan lupa
-**MEMIKIRKANKU**:)
maaf menye, sekedar mengingatkan.
Aine tersenyum membaca kertas yang tinggalkan di meja ruang tamu.
"Gaje banget!" ujarnya pelan. "Kurang kerjaan!"
Setelah mengatakan itu, dia masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya. Ia berniat mengantarkan surat pendaftarannya ke loket. Sekalian membeli beberapa bahan lain yang ia perlukan.
__ADS_1
Aine menatap bayangannya di depan cermin. Sudah cantik dan rapi meski hanya mengenakan pakaian kasual. Sederhana tapi elegan.
Dia memasukkan persyaratan lomba ke dalam satu map berwarna biru. Mengecek kembali status kelengkapan sambil mencocokkan dengan deretan persyaratan yang tertulis di selebaran yang dia letakkan di atas meja ruang tamu. Lengkap. Hanya perlu mengantarnya ke pusat kota.
"Pagi, Ain," seseorang menyapa Aine ketika dia baru keluar dari rumah.
Gadis itu terkejut melihat siapa yang menyapanya. "Alvan?"
"Suprise!"
"Ngapain kamu ke sini?" malah dibalas ketus.
"Nengokin kamu!"
"Udah, kan? Jadi pergilah!" ketus Aine.
"Kok jadi galak gitu, sih?"
"Nggak usah banyak bacot! Kamu bilang cuman nengokin doang kan? Jadi pergilah tanpa basa-basi!" menatap pria itu datar. Nyaris tanpa ekspresi.
"Ain... kamu mau kemana? Kok bawa map?" Alvan malah mengalihkan pembicaraan dengan menatap map karton di tangan Aine.
"Bukan uranmu!"
"Cantik-cantik kok galak!"
"Udah deh! Malas ngeladenin kamu! Mending aku pergi!" gadis itu meninggalkan Alvan dengan tampang cuek.
"Eh, Ain...." sayangnya Alvan berhasil menarik tangan gadis itu.
"Apa lagi!" Aine menarik tangannya sinis.
"Mau kuantar?"
"Nggak usah, aku punya kaki untuk berjalan!"
"Eh, tapi..."
"Pergilah! Melanie pasti sudah menunggumu!" ucap Aine santai sambil berjalan menuju jalan utama meninggalkan Alvan. Sesaat dia bergumam pelan tanpa sanggup di dengar oleh Alvan. "Dari mana si kampret itu tau alamat rumah Iraz? Menyebalkan sekali!"
***
"Formulir yang telah diisi lengkap, tema karya berbentuk sketsa lengkap, fotokopi KTP. Bla...bla..bla... Lengkap," ucap Aine.
Ketika tiba di depan loket, Aine menyerahkan seluruh persyaratan lomba kepada panitia pendaftaran.
Panitia tersebut mengeceknya satu per satu. Kemudian pria itu menuliskan nama lengkap Aine pada sebuah buku khusus.
"Anda peserta nomor 153. Silahkan mengantarkan hasil karyanya paling lambat 12 hari ke depan. Pemenangnya akan diumumkan seminggu setelah karya terkumpulkan. Kalo Anda terpilih sebagai pemenang, karya Anda akan di pamerkan di Galeri Unkamsa dan dibeberapa tempat terkenal lainnya. Anda juga akan mendapatkan bimbingan khusus hingga berkesempatan menjadi pelukis terkenal. Ada pertanyaan?" tutur pria itu menjelaskan.
Aine menggeleng. Ia mengambil kertas yang diberikan pria tersebut yang berisi nomor urut peserta dan buru-buru melangkah pergi. Ini akan menjadi awal karirnya jika seandainya dia menang.
__ADS_1
"Semoga sukses!"