Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Jika Memang Demikian


__ADS_3

Hy, Author update lagi nih :)


Maapin author ya semalaman updatenya gabutan sampai ngulang ngulang gitu hehehe. Udah direvisi kok, cek aja sendiri. Author bakal rajin update kok sampai tamat. (Kalo author nya nggak gabut" lagi) Tapi updatenya malam-malam ya. Hihihi.


Aine berjalan pelan melewati jalan yang sepi. Ia menunduk sambil mendengarkan lagu melow. Hari ini cukup melelahkan. Ia harus menghabiskan waktu seharian mengikuti kelas melukis. Selain itu, dia harus turun tangan dalam menyiapkan tema baru. Benar-benar ribet.


Gadis cantik itu mengangkat hape yang sedari tadi ia genggam. Ia ingin memastikan bahwa waktu masih belum terlalu larut. Jadi ia bisa tenang diperjalanan. Tapi ekspektasinya tidak sesuai. Ternyata waktu tiga jam lebih larut dari yang ia bayangkan.


Sial! Rumah masih jauh. Perut juga udah lapar. Mana kerongkongan lagi haus banget! Beruntung banget mobil putihnya Alvan lewat.


"Kok tumben pulang larut?" kata Alvan ketika turun dari mobil.


"Aku ada kelas pencarian tema baru." jawab Aine.


"Wah, bahaya kalo begini. Mending kamu keluar aja dari kelas Ain, aku bakal cari tempat yang lebih bagus dari situ. Yang pastinya tidak akan membuat muridnya pulang larut seperti ini!"

__ADS_1


"Uda, Van! Jangan membesarkan masalah!"


"Aku tidak membesarkan, Ain! Aku hanya khawatir kamu kenapa-napa!"


Aine menatap wajah Alvan tajam. Sumpah, dia ngeselin banget! Sok banget pokoknya.


"Aku mau pulang!" kata Aine masuk ke dalam mobil. Ya, kali ini tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin dia sok jual mahal padahal dia lagi butuh banget. Kalo dia jalan, bisa-bisa dia mati sebelum sampai ke rumah. Jadi emang ini jalan terbaiknya.


"Okay, Saatnya kita pulang." sahut Alvan ikutan masuk ke dalam mobil. Ia mulai menyetir dengan kecepatan sedang.


"Hmmm, kamu lapar nggak?" tanya Alvan memulai obrolan.


"Haus?"


"Nggak!"

__ADS_1


"Ngantuk?"


"Nggak juga." balas Aine malas. Suer dah, dia lagi malas banget bicara apalagi ngeladenin hal yang sama sekali tidak penting seperti ini. Dia hanya ingin tenang sambil menutup mata.


"Hmmm, kira-kira kamu udah bisa membuka galeri sendiri nggak? Kalo udah bisa, buka aja. Aku yang bakalan mensponsorinya."


"Aduh, Van... aku mohon diamlah! Aku lagi pusing tau!" ketus Aine. Ia tidak tahan mendengar ocehan Alvan yang menurutnya hanya omongannya manis saja. Pria itu selalu saja berbohong. Tidak pernah menepati janjinya. Dulu saja dia berjanji tidak akan meninggalkan Aine, eh ketika jumpa dengan Melanie dia ditinggalkan juga. Jadi sudah hal yang untuk percaya padanya.


"Oke, sorry." kata Alvan melirik Aine. Gadis itu sedang berusaha memejamkan matanya. Sepertinya sangat kelelahan hari ini.


Entah sudah berapa lama di perjalanan hingga Aine berhasil terjatuh ke dalam mimpi. Ia tertidur dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Wajahnya menunduk ke depan. Alvan jadi kasihan melihatnya. Jadi dia berinisiatif ingin memperbaiki posisi gadis itu hingga bisa tidur dengan nyaman. Minimal lehernya tidak sakit jika sudah bangun nanti.


Tangan Alvan hendak meraih kepala Aine. Tapi tiba-tiba terhenti karena gadis itu bergumam tidak jelas. Entah apa yang dia katakan, yang pasti berhubungan dengan pria bernama Iraz itu.


"Raz, miss you. Kapan aku bisa bertemu dengan mu lagi?"

__ADS_1


Seketika aliran darah Alvan mengalir deras. Ia tidak suka dengan keadaan seperti ini. Bagaimana cara dia menjelaskan bahwa jodoh Aine itu dirinya. Bukan Iraz atau siapapun. Bagaimana cara menyadarkan gadis itu???


Sabar, sabar Alvan. Ain hanya becanda. Mungkin dia sulit melupakan pria itu karena sempat tinggal bersama. Kamu hanya perlu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pria itu. Akhirnya dia akan kembali jatuh cinta padamu.


__ADS_2