Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kepulangan Iraz


__ADS_3

Jet pribadi yang ditumpangi Iraz mendarat mulus di lapangan aspal yang ada di belakang rumahnya. Ia segera turun, berlari ke dalam rumah yang lengang.


"Tuan Stevan?" seorang wanita paruh baya memanggilnya. Iraz tidak memperdulikan wanita itu, malah terus berjalan menembus pintu.


"Vey! Kak Vey!!" dia memanggil seseorang.


"Stevan, tenangkan dirimu," Axel, pria yang menjemput Iraz mengikuti dari belakang.


"Bagaimana aku bisa tenang, hah?" Iraz menatap sinis pria tampan yang mungkin sudah berkepala tiga.


"Stevan?" tiba-tiba seorang wanita yang amat cantik muncul dari ruang belakang. "Ini seperti mimpi..." wanita itu memeluk Iraz.


Iraz tidak berkutik. Pasrah pada kelakuan perempuan itu.


"Vey! Dimana Papa?" melepaskan wanita itu dari pelukannya setelah merasa cukup.


"Di kamarnya," jawab Vey pelan.


Tanpa basa-basi Iraz langsung meninggalkan keduanya. Bergegas ke kamar papanya.


Vey menatap Axel. Meminta informasi pada pria itu. "Apa kamu sempat mengunjungi tempatnya?"


"Tidak, Sayang. Dia datang lebih cepat dari dugaanku."


"Wah... aku penasaran bagaimana hidupnya selama ini."


Sementara itu, Iraz sudah menjejakkan kakinya di kamar terbesar yang ada di lantai dua. Ia mendapati seorang pria yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Pa...ini Stevan..." dia duduk di samping pria yang terbaring tidak berdaya. "Aku pulang untuk Papa..."


Iraz menatap jari tangan papanya yang dijepit oximeter. Pria itu terlihat begitu lemah dengan bantuan alat-alat medis. Padahal setahu Iraz, papanya adalah manusia yang paling membenci dengan alat-alat rumah sakit.


"Aku lupa kapan terakhir kali kita berbicara. Tapi aku masih ingat jelas, Papa menyuru Stevan untuk pulang. Aku marah pada Papa dan mengatakan benci pada Papa. Lalu aku mengabaikan panggilan Papa setiap harinya. Kini... bagaimana aku bisa menyesali semuanya?"


"Stevan..." Vey muncul dari balik pintu. Kemungkinan besar dia mendengar perkataan Iraz dari tadi. "Kamu nangis?"

__ADS_1


Iraz tidak menjawab. Ia malah fokus memandangi wajah Papanya yang berubah lembut.


"Papa memaksaku untuk datang ke sini seminggu yang lalu. Dia baik-baik saja tapi menyuruhku untuk memijat kakinya setiap malam. Aku baru menyadari kalo Papa kita berubah cengeng." Vey mulai bercerita. "Lalu tiga hari yang lalu, ia mengeluh sakit kepala. Axel sudah memaksanya ke rumah sakit, tapi dia menolak dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Kami memanggil dokter, tapi dia malah marah. Padahal keadaannya sudah parah. Dan kemarin, Papa drop banget. Tapi kau tau? Dia berkata ingin melihatmu kembali ke sini. Mengambil alih kekuasaan keluarga Joubert seperti sedia kala. Dan setelahnya Papa koma."


Iraz memukul dirinya sendiri. Mendengar penuturan itu dia semakin merasa bersalah.


"Sekarang bagaimana aku bisa memaafkan diriku? Papa begini pasti karena aku!" Iraz menggenggam tangan kanan papanya. "Pa... Stevan di sini untuk, Papa... aku janji tidak akan pergi lagi, aku akan kembali menjadi pemegang tahta seperti keinginan papa... tapi sadarlah, Pa... Stevan tidak kuat jika harus berdiri tanpa papa..."


"Sudah...sudah..." Axel yang baru muncul melerai adik iparnya yang berusaha melukai dirinya sendiri.


"Lepaskan aku, Axel! Aku harus menanggung semuanya!" Iraz meronta.


"Nggak... nggak, Stevan! Kau nggak salah apa-apa." Vey ikut menghibur. "Lebih baik kau istirahat dulu. Tenangkan pikiranmu, dan berpikirlah dengan jernih. Kau sudah cukup lelah hari ini."


***


Iraz memasuki sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas bangunan itu. Kamar terbesar, termewah dan ternyaman di rumah raksasa itu.


Tidak ada yang berubah dari kamarnya. Tetap bernuansa putih bersih. Ranjang biru yang dia tinggalkan sekitar setahun lebih yang lalu masih tetap awet meski tidak ditiduri siapapun. Semua bersih, rapi dan teratur. Kayaknya ada pelayan khusus yang bertugas di bagian kamar Iraz.


"Tidak ada berubah..." katanya menatap rak bukunya yang penuh dengan susunan buku. "Semua masih sama...hanya keadaan yang berubah."


Disaat merenung, Vey muncul mendekatinya. Kakaknya itu duduk tepat di sampingnya.


"Kamu sedih banget ya sampai tidak ada waktu untuk menyapa Mizi dan Prince."


"Emangnya dimana mereka?" tanya Iraz kurang semangat.


"Di kamar bawah. Mereka masih tidur."


Pria itu terdiam. Ia tidak mood menemui siapapun, termasuk kedua keponakannya.


"Kapan-kapan saja, Kak Vey! Aku lagi malas." ujar Iraz malas. "Lagian mereka akan terbangun sebentar lagi. Kenapa aku mengganggu tidur mereka?"


Ibu dua anak itu tersenyum kecil. "Stevan, papa punya pesan sama kamu... tadi aku takut memberitahunya karena kamu masih berada dalam keadaan shock. Tapi sekarang, rasanya kamu sudah lebih baik. Kamu siap mendengar pesannya?" Vey menatap adik semata wayangnya dengan sorot mata lelah.

__ADS_1


Iraz mengangguk lemah.


Wanita itu menarik nafas dalam, menatap wajah Iraz yang agak berubah karena lebih berisi.


"Papa ingin kamu menikah dengan Erin. Dan aku tau, kau sudah memprediksi ini."


Iraz menggeleng. "Aku tidak mau!" tolaknya.


"Tolonglah, Stevan... kau harus menghargai keinginan papa. Dia sayang sama kamu, makanya dia memilih Erin karena dia tau kau akan bahagia bersamanya!"


"Bahagia? Tidak mungkin!"


Vey menyentuh pundak adiknya. "Setidaknya pikirkan baik-baik malam ini. Kau tau kenapa kau dikirim ke kota kecil itu, yakni karena menolak pernikahan yang ia inginkan. Dan sekarang, bisa saja Papa kenapa-napa jika kau menolaknya lagi. Tolong adikku..."


Iraz meremas tangannya. Benar apa yang dikatakan kakaknya, papanya bisa saja sakit lebih parah jika dia meminta. Tapi bagaimana perasaannya? Mungkinkah ia mengorbankan kebahagiannya demi kelangsungan hidup Papanya? Lalu bagaimana dengan Aine? Haruskah dia melupakan gadis itu?


"Apa kurangnya Erin? Dia cantik, pintar, baik hati dan penyayang. Papa memilihnya bukan tanpa alasan, Stevan..."


"Tapi, aku punya kebahagiaan lain! Jika memang harus menikah, tidak bisakah dengan wanita lain?"


"Nggak bisa, Stevan. Papa hanya menyukai Erin."


Iraz mengangguk. Ia tersenyum. Padahal senyum itu mengartikan luka yang sangat dalam.


"Baiklah, demi papa aku akan menikah dengan Erin. Tapi aku butuh banyak waktu untuk menyesuaikan diri!" pada akhirnya Iraz memilih jalan yang benar namun menyakitkan. Dia hanya akan merubah hidupnya ke arah yang kosong.


Vey tersenyum. "Ingatlah, cinta bisa datang setelah pernikahan."


"Bukan berati berlaku pada setiap orang. Dan aku akan menjadi orang yang paling membenci pernikahan setelah ini. Tapi its okay, demi kesembuhan papaku."


"Itu pilihan yang benar, Stevan..."


"Memang, tapi akan menjadi kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan lakukan dalam hidup ini. "


"Jangan berkata begitu..."

__ADS_1


"Pergilah, Vey! Aku ingin tidur!"


__ADS_2