Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Balas Dendam Yang Sesungguhnya #2


__ADS_3

"Haaachiii!" Melanie bersin berkali-kali. Mungkin saking banyaknya debu di ruangan bekas gudang itu.


"Kamu tuh ya! Dari tadi berdiri doang! Nih giliranmu yang nyapu!" gadis itu memberikan alat rumah tangga yang dia pegang dari tadi pada adiknya.


"Ah! Aku nggak sudi nyapu, nggak level!" balas Vanya. Ia tidak mau menerima sapu yang di sodorkan Melanie. Malah menghempaskan hingga benda itu jatuh.


"Kamu pikir aku juga sudi? Tapi nggak ada jalan keluar kecuali memaksakan diri, goblok!" lanjut Melanie.


"Siapa juga yang mau diperbudak sama budak!" ujar Melanie agak keras.


"Stttttt! Kamu nggak boleh begitu!" Andari tiba-tiba muncul. "Kalo sampai Tuan Inui mendengar, kita bisa diusir!" wanita itu memperingatkan.


"Tapi aku.."


"Biarin aja, Ma! Palingan dia yang akan diusir! Biar tau rasa gimana pedihnya tinggal di jalanan." Melanie kembali memungut sapu yang tergeletak, ia mengalah, kembali menyapu setengah lantai yang belum tuntas.


"Anya, kau harus bisa bertahan sayang, kalo kita melawan sekarang, Tuan Inui bakalan mengawinkan papamu! Emangnya kamu mau diomongin seantero negeri?" Andari setengah berbisik, takut kedengaran sampai ke rumah tamu.


Vanya cemberut. Ia membenarkan perkataan mamanya. Kalo sampai papanya dinikahkan, artinya dia bakalan jadi gosip panas di sekolahnya. Namanya yang diagung-agungkan pasti akan tercoreng begitu saja. Tentu saja dia tidak mau. Dan jalan terbaik agar namanya tetap baik-baik saja adalah menempatkan Aine sebagai ratu. Mematuhi gadis itu serta menganggapnya penguasa tertinggi.


***


Sudah sore, Aine duduk di ruang keluarga sambil menikmati tayangan televisi. Iraz sudah pergi. Pria itu menyempatkan diri untuk bekerja. Lagipula Aine berhasil meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja.


"Melanie!!! Melanie!!" Aine berteriak dari tepat duduknya.


Gadis cantik dengan rambut terikat begitu saja datang setengah berlari. "Ada apa Nona Aine?" tanyanya dengan nada datar.


"Aku mau makan buah. Potongkan dua apel, tiga kiwi, tiga stroberi untukku!" perintah Aine.


"Maaf Nona, tapi kami kehabisan stok kiwi," jawab Melanie.


Aine menatap gadis itu sebal. "Jawaban macam apa itu? Kalo habis, ya beli!" balas Aine tidak ramah.


"Baik, Nona." jawab gadis itu menunduk. Ia segera keluar untuk membelikan kiwi yang diminta gadis itu.


Tiga puluh menit kemudian Melanie datang dengan plastik di tangannya. Keringatnya mengucur, mungkin dia berlari demi membeli apa yang tersangkut di tangannya.


Segera ia masuk ke dapur, melakukan perintah Aine.


Sepuluh menit kemudian potongan itu selesai. Ketiga jenis buah itu bercampur seperti rujak.

__ADS_1


"Lama banget! Hampir satu jam, loh!" komentar Aine ketika Melanie meletakkan piring berisi potongan buah itu di atas meja.


"Maaf, Nona, ada sedikit kendala di jalan," gadis itu meminta maaf dengan sorot mata meleleh.


Aine tidak menyahut lagi. Ia memperhatikan potongan buah yang di bawakan Melanie.


"Astaga, tidak estetik sekali!" komentar Aine. "Udah menghabiskan waktu, tidak menarik pula! Mending kamu yang makan deh!"


Melanie menelan ludah. "Ma-maksud Anda?"


"Aku jijik." balas Aine. "Mending kau yang habisin!" Aine berdiri, meninggalkan gadis yang merupakan kakak kandungnya.


Melanie mengepalkan tangannya. "Gadis gila!" gumamnya penuh tekanan. "Sejak kapan aku menjadi orang bodoh, seperti ini?"


Gadis itu terus merutuk. Ia benci dengan Aine. Diperhatikannya punggung gadis itu telah hilang dari pandangan.


Tapi satu hal, Melanie menyadari bahwa Aine sedang melakukan apa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Kalo tidak salah, Melanie juga pernah menyuruh gadis itu memotong buah dan dia marah karena tidak tepat waktu. Ya, akhirnya gadis itu menyadari bahwa Aine hanya mengembalikan semua yang telah ia lakukan. Kejahatan dibalas kejahatan.


Aine masuk ke dapur. Ia ingin memastikan bahwa kedua wanita lainnya mengerjakan pekerjaan mereka. Penting juga mengawasi mereka.


"Aku haus, buatin es teh manis, dong!" perintahnya pada Vanya.


"Baik, Nona..." jawab Vanya yang sedang membersihkan lantai di dapur. Ia segera menyandarkan sapunya demi membuatkan es teh manis untuk kakaknya.


"Silahkan, Nona..." ujar Vanya layaknya Niken yang selalu mengatakan itu setiap kalian melayani mereka.


Aine memperhatikan gelas itu. "Asal-asalan!" protesnya.


"Saya sudah berusaha sekuat mampu saya, Nona..."


"Kamu aja yang meminumnya, aku tidak selera!" setelah mengucapkan itu, Aine meninggalkan dapur. Tentu ia menyempatkan diri untuk tersenyum sinis di depan adiknya.


"Dasar bangsat!" umpat Vanya. Sumpah, dia kesal setengah mati.


Malamnya, ketiga manusia itu menyiapkan makan malam untuk Aine. Mereka bekerja sama sesuai perintah Iraz. Pria itu memberikan daftar makanan yang bisa dan tidak bisa Aine makan. Bukan sembarang makanan, tapi harus pilihan. Gadis itu butuh nutrisi yang baik dan gizi yang seimbang. Terus tidak boleh tinggi kalori.


Aine sebenarnya tidak boleh protes karena ia tau bagaimana sulitnya menghasilkan makanan. Seharusnya dia tidak perlu mengomentari meski hasil masakan itu tidak enak sekalipun. Tapi Aine hanya menggunakan kesempatan untuk memadamkan api yang membakar dadanya selama ini. Termasuk membalas perbuatan mereka yang pernah menempatkannya di posisi sekarang.


"Ya ampun, rasa hambar banget!" protesnya. "Siapa yang masak ini?"


Andari mengangkat tangannya seraya menjawab sayu, "saya Nona."

__ADS_1


"Coba cicipi!" Aine menyodorkan mangkok berisi sayur-sayuran pada wanita itu.


Yang disuruh menurut. Andari mencicipi dan dia sependapat dengan anak gadisnya yang berubah status.


"Satu hari ini tidak ada yang becus mengerjakan pekerjaan. Kalian bertiga remedial. Aku bakalan memperpanjang masa hukuman kalian," Aine menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi makan, melipat tangan, kemudian menatapi ketiga wanita yang menunduk di samping meja makan.


"Tapi Nona..."


"Berani menyahut?" Aine menatap Melanie. "Aku aduin sama Iraz, 'mau?"


"Ti.. tidak, Nona..." jawabnya.


"Kalian semua menyebalkan! Aku kesal hari ini!" gadis penguasa itu berdiri, meninggalkan ketiga wanita yang mungkin juga kesal dengan perlakuannya.


Aine sempat mencuri pandang pada ketiganya, ia tersenyum seraya bergumam, "seasik ini menjadi penguasa."


***


"Ihhhhh! Dasar wanita gila! Sinting! Abnormal! pokoknya nyebelin!!!" Vanya mengumpat ketika mereka hendak tidur.


Melanie menggeleng. "Sampai kapan kamu akan mengumpat?"


"Aku itu lagi kesal banget, Kak Mel!"


"Ya terus karena kamu kesal emangnya kenapa?"


"Kak Mel nggak pernah mengerti!"


Melanie merebahkan tubuhnya di atas tikar yang beralaskan selimut tipis. Ia tidur di sisi kiri mamanya. "Aku ngerti kok, aku juga tersiksa dan pastinya kesal pake banget. Tapi nggak ada gunanya mengumpat, mereka nggak bakalan ngebebasin kita! Mending didiamin aja, sampai kekuasaannya berakhir." Mel tampak lebih dewasa sekarang.


Vanya yang duduk di kursi reyot memikirkan perkataan kakaknya. Benar juga, apa gunanya mengumpat. Toh hukuman ini akan terus berjalan.


"Ah, tapi aku nggak rela tidur di lantai! Kamarku kosong, masa iya lebih baik setan yang nempatin!" sungutnya lagi.


"Diam kamu! Aku mau tidur! Pekerjaan kantor ku numpuk, besok harus berangkat lebih awal!" Melanie mencoba menutup matanya tapi tak bisa gara-gara mulut adiknya yang komat-kamit.


Vanya langsung manyun. Ia beranjak dari kursi itu dan merebahkan diri di samping kanan mamanya. Wanita setengah baya itu tidur lebih cepat hari ini, mungkin saking lelahnya mengerjakan pekerjaan yang jarang ia lakukan.


"Aku juga harus tidur! Besok harus sekolah," kata Vanya.


Mel yang tidak bisa tidur gara-gara suara adiknya mulai naik pitam. "Bisa diam nggak, sih! Kalo mau tidur tutup mata aja! Nggak perlu ngelapor dulu!"

__ADS_1


"Ih, Kak Mel!"


"Dasar bocah!"


__ADS_2