
"Kamu yakin ini nggak apa-apa?" Melanie mengumpat di bawah pohon yang ada di halaman rumah.
"Ya, asalkan kau diam!" balas Vanya yang juga berjongkok di samping kakaknya.
Ketiganya meringkuk demi menyaksikan seperti apa wajah asli pria misterius itu. Seganteng apa Iraz hingga Vanya klepek klepek sampai ngotot memaksa mereka menahan kantuk di bawah pohon yang menjulang tinggi yang memagar di depan rumah.
Ketiganya menguap berkali-kali. Sudah lebih satu jam lamanya mereka kedinginan di bawah sana. Terlebih lagi ada banyak nyamuk yang bersiap memanfaatkan kesempatan emas untuk menghisap darah wanita-wanita cantik itu. Kapan lagi mendapat mangsa seperti mereka.
"Aduh, gatal banget!" Melanie menggaruk tangannya yang dihinggapi nyamuk. Ia tidak bisa melihat binatang apa yang tega mengubah warna kulitnya menjadi merah.
"Diam, Kak Mel! Gimana kalo dia tiba-tiba muncul?" Vanya lebih menderita, gadis itu hanya mengenakan celana pendek dan baju lengan pendek juga. Soalnya dia tidak menyangka akan menunggu lama seperti ini.
"Diam pantatmu! Aku udah gatal-gatal begini gimana bisa diam!" gadis itu malah marah pada adiknya. Ia terus-terusan menggaruk tangan dan wajahnya bergantian.
"Sttttt, kita tunggu satu jam lagi, kalo belum datang juga kita nyerah aja!" Andari menyimpulkan. Ia juga sama menderitanya dengan kedua gadis itu.
Mereka tidak pernah digigit nyamuk. Jangankan digigit, melihat nyamuk aja jarang. Soalnya mereka hidup dalam kemewahan, tidak ada nyamuk yang berani masuk dalam kehidupan mereka. Tapi sekarang semuanya berubah. Bahkan serangga itu bebas berpestapora jika mereka mau. Tiga manusia berwujud cantik itu bebas digandrungi.
"Udahlah, aku nggak sanggup lagi!" Melanie tiba-tiba keluar dari persembunyian. "Kalo kalian mau lanjut, terserah, aku nggak mati gara-gara penasaran dengan wajah itu!"
Vanya jelas kaget dengan tindakan kakaknya yang di luar nalar. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain ikut keluar.
"Huh, kak Mel nyebelin!"
"Terserah! Aku bukan orang bodoh yang memilih mati gatal-gatal gara-gara penasaran dengan wajah orang lain. Seganteng apapun dia tetap aja tidak bisa dimiliki!" Melanie meninggalkan adik dan mamanya setelah mengucapkan itu.
"Benar, Anya, sebaiknya kita tidur aja, kayaknya dia nggak bakalan datang malam ini. Lagian Mama juga tidak tahan digigiti nyamuk." Andari juga ikut meninggalkan gadis itu.
"Berarti sia-sia dong berjongkok sedari tadi. Mereka itu mikir nggak, sih?"
***
Pagi hari Aine sudah rapi dengan setelan baju yang biasa ia gunakan. Segera ia masuk ke dapur, memulai aktivitasnya yaitu memasak untuk Iraz.
Ternyata pria itu datang lebih awal hari ini setelah mengabari semalam tidak bisa berkunjung. Pria itu beralasan ada urusan penting yang tidak bisa dilewatkan semalam. Aine fine fine aja, dia tau pria itu super sibuk.
"Pagi, bidadari..." tumbenan banget sapaan Iraz berbeda.
"Pagi, pengeran..." nah, si Aine malah ikut ikutan.
"Masak apa nih?"
__ADS_1
"Apa aja yang penting enak," gadis itu mengikuti kalimat Iraz tempo hari.
"Hahahaha, aku tungguin ya," pria itu mendekati Aine, menyelia apa yang sedang dimasak gadis itu.
"Harum banget, Ai, aku jadi ngiler,"
"Hahaha," gadis itu tertawa kecil.
"Tapi aku curiga deh, yang harum itu apa? Kamu atau masakan kamu?" pria itu tersenyum lepas.
Aine sudah biasa mendapat perkataan seperti itu dari Iraz. Makanya dia hanya tersenyum, tidak sampai bersemu malu sambil memukul pria itu.
"Udah, Raz, tungguin aja..."
"Oke, dear." balasnya meninggalkan dapur.
Iraz berkeliling rumah itu untuk menghabiskan waktu. Kebetulan banget dia jumpa dengan Vanya di ruang belakang.
"Selamat pagi, Tuan Inui..." gadis itu refleks menyapa. Padahal ia sedang mengikat tali sepatunya. Entah kenapa serefleks itu hingga bisa berdiri di luar kesadaran.
Iraz tidak menanggapi. Malah menatap gadis itu lekat lekat. Untung dia sudah mengenakan masker, kalo nggak, dia nggak mungkin bisa menelanjangi gadis itu dengan matanya.
"Saya sekolah dengan benar kok, Tuan..." Vanya tersenyum manis, tidak tau malu sedikitpun.
"Kata siapa? Apa seorang siswa yang keluar masuk clab malam bisa sekolah dengan benar?"
Vanya melotot. Pertanyaan Iraz benar-benar menusuk sampai tulang terdalamnya. Apa pria ini tau sisi lain dari dirinya?
"Ma-maksud anda?"
Iraz memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya masih sama seperti tadi, tajam dan menyeramkan.
"Haruskah ku jelaskan?" pria itu mengangkat salah satu alisnya.
Gadis itu gemetaran. Siapa sebenarnya Iraz? Kenapa dia tau banyak hal tentang mereka? Dan bagaimana pria itu bisa menemukan hal yang bahkan orang lain tidak bisa temukan. Sehebat apa pria ganteng yang tertutup masker ini?
"Aku akan membantumu berdiri dengan benar. Aku yakin, Ai pasti senang kalo aku membantumu. Jadi, maukah kamu menerima bantuan ku?"
Vanya mencoba menebak apa maksud perkataan pria itu. Tapi sulit, sangat sulit. Tidak ada yang benar-benar mengerti apa artinya.
"Mulailah hidup dengan benar, Vanya, Ai menginginkan itu." suara laki-laki itu berubah lembut. Tidak kasar seperti biasanya.
__ADS_1
Vanya mengangguk. Selagi bisa dekat dengan Iraz ia akan mengiyakan segalanya.
Iraz tersenyum dalam hati.
Siapa juga yang mau menbatumu, aku hanya ingin memperalatmu agar Aine cemburu. Kayaknya seru melihat dia marah di level tertinggi. Batin Iraz.
"Berangkat denganku hari ini, aku akan mengantarmu ke sekolah," ujar Iraz berbalik.
Gadis itu langsung bersemu. Inikah yang dinamakan dengan bahagia? Bahagia diajak jalan bareng orang yang dikagumi.
Dendam Aine bakal meningkat sepuluh kali lipat jika aku melakukan ini. Iraz menatap gadis yang senyam-senyum dari tadi. Dia umpan yang cukup baik.
"Ayo Vanya," Iraz menoleh kebelakang, mengajak gadis itu dengan suara ramah.
Si Vanya yang memang dasarnya tolol langsung berseri. Segera berjalan di samping pria itu.
Iraz membincangi Vanya sepanjang perjalanan ke dapur. Mulutnya baru berhenti bicara ketika sampai di dekat Aine.
Gadis itu langsung menatap keduanya bergantian. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya.
Iraz tersenyum ketika menyadari perubahan reaksi gadis itu. Langsung ia menambah kepanasan di hati Aine.
"Oh iya, Ai, hari ini aku berangkat bareng Vanya, ya..." pria itu menatap Aine lembut.
"Kok bareng?" tanya Aine ketus.
"Lah, sekolahnya dia kan searah dengan arah kantorku. Kan lumayan mengumpulkan kebaikan," balas pria itu riang.
"Diakan bisa naik bus atau apa kek!"
"Hemat pangkal kaya, Ai."
Aine kehabisan kata-kata. Tapi tetap aja dia nggak suka dengan keinginan Iraz yang ingin mengangkut adiknya.
"Sini sarapannya, Ai, kami harus pergi,"
Gadis itu menurut. Ia menyerahkannya rantang yang sudah ia isi dengan berbagai jenis makanan. Pastinya sehat dan seimbang.
"Kalo begitu, kami pamit Ai, sampai jumpa lagi.." Iraz menunduk lalu merangkul Vanya. Mereka berjalan hingga hilang di balik pintu.
"Vanya, kau akan mati!" Aine mengepalkan tangannya. Ia tidak suka dengan wanita manapun yang berniat mendekati Iraz nya.
__ADS_1