
"Maaf ya, Ain, aku nggak bisa nyelamatin tas kamu. Mereka tidak terkejar lagi. Kayaknya udah pergi jauh deh." Alvan kembali ke tempat Aine menunggu sejak tadi. Ia pura-pura ngos-ngosan. Sangat hebat dalam memerankan tokoh pahlawan yang mengejar maling di sinetron-sinetron.
"Ya ampun...." desis Aine pelan. Ia memegang keningnya pertanda dia pusing.
"Kamu marah, ya? Maafin aku, Ain... aku sudah berusaha keras, tapi apa yang harus kulakukan jika mereka tidak kelihatan lagi. Kau tau? Aku bahkan rela mengorbankan nyawaku demi melihat kamu tetap tersenyum. Tapi itulah dulu, mungkin belum saatnya aku menjadi pahlawan untuk mu." Alvan menindih kan bacotan di atas bacotan. Entahlah Aine percaya atau tidak.
Gadis itu menggereyotkan bibirnya. "Udahlah, Van." ujarnya lemah. "Btw makasih loh kamu udah mau bantuin aku."
"Aku nggak pantas mendapat kata terima kasih. Soalnya aku tidak membawa hasil yang memuaskan."
Aine tersenyum. Sudah jelas senyumannya itu paksaan. Alvan bisa tau dari ekspresi gadis itu.
"Maaf, Ain..."
"Kamu udah berusaha loh. Seandainya kamu tidak melakukan apapun untuk ku, aku juga tidak apa-apa. Kamu tidak perlu minta maaf,"
__ADS_1
"Tapi kamu jadi kehilangan tas mu."
"Lupakan saja." kata Aine meneruskan jalannya. Ia agak malas memperpanjang pembicaraan yang berputar-putar.
"Tunggu, Ain...." kata Alvan mengejar. "Sepertinya kamu marah deh. Emang apa benda berharga di tas itu? Apa black card mu?"
Gadis itu tidak menjawab. Ia malah terus berjalan sampai masuk ke dalam mobil Alvan. Dengan mulut yang tertutup rapat ia memejamkan mata.
Alvan menghembuskan nafas panjang. Ia menyusul Aine masuk. Setelah agak bisa mengendalikan emosi, dia menyalakan mesin mobil.
"Kenapa sih, hidup ku gini amat?" Aine tiba-tiba bertanya di tengah kekosongan.
"Dulu, aku hidup menderita sejak lahir. Lalu aku ketemu sama kamu. Aku mendapat sedikit kebahagiaan meskipun masih dominan penderitaan. Lalu kamu mengambil kebahagiaan itu dan menggantikannya dengan penderitaan lain. Saat itu tidak ada yang kumiliki di dalam hidup ini. Lalu Sebagai gantinya, Tuhan mempertemukan ku dengan Iraz. Kemudian aku kembali bahagia. Lalu dia mengambil Iraz lagi. Terus, aku kembali menderita."
"Kenapa sih, Tuhan tidak pernah membiarkan aku bahagia dalam waktu yang panjang? Kenapa selalu begini? Hidupku tuh sama aja kayak teori siklus! Hidup berulang-ulang!" Aine sampai lupa diri kalo dia sedang bersama Alvan. Dia sepertinya tidak sengaja curhat. Mungkin emosinya keluar dengan sendirinya saking lelahnya dia mempelajari arti sebuah takdir.
__ADS_1
Alvan menoleh ke samping. Ia melihat gadis itu meneteskan air mata. Kasian juga melihatnya demikian. Andai Alvan bisa menghiburnya. Namun dia sadar diri bahwa Aine tak akan pernah terhibur olehnya semenjak dia meninggal Aine waktu itu. Tentu saja dia tau dimana letak kesalahannya.
"Ain, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Mungkin Yang Kuasa sedang mempersiapkan takdir yang bahagia dalam jangka yang panjang untuk mu. Jangan lekas memutuskan." ya, hanya itu yang bisa ia katakan.
"Kamu benar, kenapa aku langsung ngomel-ngomel seperti ini!" katanya pada diri sendiri. Dia menatap ke depan. Sejenak air matanya berlalu. Tapi kemudian muncul lagi. Tidak bisa pungkiri, dia memang menyayangkan hidupnya yang gagal.
"Nah, loh, kenapa menangis lagi? Tadi moodnya usah kembali..."
"Aku tidak tau, Van. Air mata sialan ini keluar begitu saja."
"Waduh, kok bisa?"
"Aku tidak tau. Mungkin ini bukti dari sakitnya jalan hidup yang ku susuri. Tidak ada hari yang menyenangkan. Aku bosan."
Alvan meningkatkan kecepatan mobilnya. Entahlah dia kenapa. Tapi sepertinya buru-buru.
__ADS_1
"Ain, kamu harus kembali padaku. Kalo tidak, mari mati bersama!" itu kalimat yang diserukan Alvan saat meninggikan kecepatan kendaraannya. Dia sudah gila sampai-sampai menghabiskan gasnya.