
Alvan masuk ke dalam rumah. Ia membawa tas kecil milik Aine yang dia curi dengan cara memperalat orang lain. Tidak ada yang benar-benar tau isi tas itu. Dia pun penasaran apa isinya. Harapan Alvan adalah semoga di dalam tas itu ada sebuah benda yang dia inginkan.
"Sayang, kamu dari mana?" tiba-tiba suara seorang wanita memecah keheningan malam.
Alvan menoleh dari arah datangnya suara. Ternyata dari sofa. Di sana ia melihat Mamanya sedang asik menikmati secangkir kopi ditemani artikel di tangannya.
"Mama? Kok belom tidur?" Alvan tidak menjawab. Malah membalas dengan pertanyaan.
"Nungguin kamu, Sayang. Mama khawatir banget sama kamu."
"Aduh, Ma... jangan gini dong, aku baik-baik saja kok..."
"Terus kamu dari mana sampai pulang larut seperti ini?"
Alvan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dari rumah Aine, Ma."
__ADS_1
"Hah?" wanita itu tersentak kaget. "Again?"
"Iya, Ma..."
"Kamu itu udah gila ya? Ngapain ngedeketin wanita itu lagi? Udah nggak laku?"
"Stop, Ma! Jangan larang aku untuk dekat dengan Aine lagi... aku cinta sama dia, Ma!"
Wanita itu memegang keningnya. "Cinta? Makan tuh cinta!" Mama Alvan jadi berubah ketus.
"Entahlah apa yang kau lihat darinya! Mama heran banget sama kamu! Dari dulu sampai sekarang kamu masih saja tergila-gila sama gadis kolot kayak dia!"
Wanita itu berdiri, mendekati Alvan. "Jauhi dia! Melanie lebih menarik dari padanya!"
"Melanie?? Aku tidak suka padanya! Dia terlalu clingy!" komentar Alvan.
__ADS_1
"Lebih baik clingy daripada buruk rupa! Malu-maluin tau nggak sih!"
"Mama tidak tau apa-apa! Dah lah," ujar pria itu melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli lagi dengan Mamanya yang berkoar koar meneriakinya untuk menjauhi Aine. Baginya pilihannya sudah tepat. Aine tetap akan dia perjuangkan sampai gadis itu menjadi miliknya seutuhnya.
Sampai di kamar Alvan langsung membongkar tas itu. Mengeluarkan isinya . Hanya ada satu parfum, satu lipstik, satu kartu berwarna hitam, dompet lalu sebuah benda pipih yang dia inginkan.
"Yessss!" ujarnya girang saat melihat hape itu ada di dalam tas. Ia langsung menguasai hape itu dan mengutak-atik isinya.
Sejumlah aplikasi dia masuki. Mencari tau apa yang gadis itu lakukan di media sosial. Tidak ada ternyata. Gadis itu tidak memposting apapun. Dia juga tidak chat Sama siapapun kecuali pada Iraz. Itupun chat mereka terakhir kali sudah berlalu sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Itu membuatnya agak merasa aneh.
Lalu dia berpindah ke aplikasi sebelah. Di sana sudah lebih banyak chat. Sudah lebih dari sepuluh orang yang nge-dm dia. Alvan mengenal salah satunya adalah seniman terkenal yang tengah merekrut Aine sekarang. Ada juga teman-teman gadis itu yang mungkin dia temui di galeri.
Lagi-lagi yang membuatnya kesal adalah nama Iraz tersemat manis diantara timbunan chat. Ia membuka chat mereka dan mulai naik pitam dengan isinya. Mereka sweet banget. Alvan iri jadinya.
Hmmm, tapi untung juga Aine tidak mengunci hapenya itu. Kalo sampai ya, dia pasti kesulitan mengetahui isinya.
__ADS_1
Tiba-tiba jadi Alvan bergerak mengetikkan sebuah pesan. Sebuah pesan aneh yang menunjukkan di low Attitude.
"IRAZ ANJING!!!! PERGI JAUH DARIKU. AKU UDAH PUNYA ALVAN. KAMI SUDAH KEMBALI KE KEHIDUPAN AWAL KAMI. AKU MENCINTAINYA DIA JUGA MENCINTAIKU . JADI Kami sudah bahagia..."