
Aine berlatih keras hari ini. Dia diajari seorang wanita untuk menggunakan alat-alat gym dengan tepat. Dia disarankan mencoba free trial gym selama seminggu. Jika ada perubahan, Aine bisa mengambil kelas gym secara sungguh-sungguh.
Sementara itu, Iraz pergi untuk mengambil udara segar. Tadinya dia berniat ikut nge-gym, tapi tidak jadi karena tempat itu lumayan rame. Jadilah dia mengunjungi jembatan tempat pertemuannya dengan Aine.
Dia menatap sungai di bawahnya. Aliran yang deras, sama dengan jiwa Iraz. Dia tersenyum sinis menyadari itu.
Apakah aku harus kembali sekarang? Sudah cukup menghabiskan waktu seperti ini. Batin Iraz.
Ya, sebaiknya aku kembali. Menikah dengan Erin akan jauh lebih baik. Ucapnya dalam hati sekali lagi.
Akan tetapi dia teringat pertemuannya dengan Aine di jembatan yang ia kunjungi sekarang. Rasanya berat juga meninggalkan gadis itu. Bagaimana nasibnya jika ditinggal sendirian.
Tapi Aine bukanlah siapa-siapanya. Kenapa dia harus peduli dengan gadis itu!
Iraz bukan orang yang mau mengorbankan sesuatu untuk orang lain. Dia manusia yang berjalan dengan kemauannya sendiri. Tidak pernah peduli siapapun disekitarnya.
Kemarin aja, ketika dia menolong Aine, baginya itu suatu keajaiban. Ntah kenapa hatinya tergerak saat itu. Dan yang paling anehnya, entah kenapa dia bisa bersikap manis pada gadis itu.
Baginya itu sebuah pertanyaan.
Tiba-tiba hapenya berbunyi. Agak lama dia bertindak. Sebelum akhirnya tangannya beraksi lambat untuk mengeluarkan benda itu dari sakunya.
Ia menatap layar hapenya. Seseorang dengan nama kontak 'Papa' menghubunginya.
Tidak butuh pikir panjang, Iraz langsung me-reject panggilan itu.
Dua puluh detik kemudian, orang tersebut kembali menghubunginya.
"Cih!!!" kembali ia menolak panggilan itu.
Lagi dan lagi orang itu menelepon.
Iraz emosi. Langsung ia memblokir nomor itu.
"Benar, lebih baik aku tinggal disini lebih lama bersama Aine. Aku senang bersamanya," pria itu tersenyum dibalik maskernya. "Kurasa aku harus mewujudkan impiannya. Ya, kali ini aku akan serius membantu orang."
Pria itu menyapukan pandangannya ke sekeliling. Tempat itu sepi. Hanya suara derasnya arus air sungai yang terdengar. Tapi entah kenapa suasana seperti inilah yang membuatnya tenang. Bukan hiruk-pikuk yang menjadi salah satu ciri-ciri kota asalnya.
Iraz menatap mobilnya yang terparkir di ujung jembatan, kemudian beralih ke jam di tangannya. Sudah lebih dua jam dia menenangkan pikiran disana. Itu artinya, mungkin Aine sudah usai pengenalan.
***
"Bagaimana kelasnya? Berjalan dengan lancar?" tanya Iraz pada Aine saat mereka diperjalanan.
"Melelahkan. Lagipula aku melakukan banyak kesalahan hari ini. Ditambah otakku sangat lemot hingga kakak instrukturnya kesal. Aku malu, Raz," ucap Aine memberitahu.
Pria itu mendengar sambil menyetir. Seperti biasa, tidak ada yang tau ekspresinya seperti apa. Karena wajah itu selalu saja tertutup masker.
__ADS_1
"Tidak apa, namanya juga belajar. Emang ada manusia yang langsung bisa?" Iraz memberikan penghiburan dengan suara lembut.
"Hihihi, iya juga sih. Tapi kan nggak harus lemot banget," sambungnya manyun.
"Jangan risau. Entar kalo udah sering jadi biasa, kok. Intinya kau harus punya minat. Karena semuanya bermula dari sana."
Aine terdiam. Otaknya memikirkan perkataan Iraz. Yap, sepertinya Iraz tidak pernah salah. Pria itu bijaksana dan cerdas. Aine harus mengangkat empat jempol sekaligus untuknya. Big applaus pokoknya.
"Raz, sebenarnya kamu manusia nggak sih?" tanya Aine tiba-tiba.
Pria itu terkekeh. "Tentu saja."
"Tapi aneh deh,"
"Aneh kenapa?"
"Aku merasa hanya aku yang bisa melihatmu." Jawab Aine. Suaranya yang unik terdengar lucu saat mengatakan itu.
"Hahahaha. Jadi maksudmu aku hantu?"
"Semacam itu mungkin," sahutnya menatap Iraz.
"Hahahaha. Nggak apa-apa deh, aku rasa tidak masalah jika kau mengaggap ku hantu, jin atau apalah, yang penting kamu senang."
Aine tersenyum lebar. Pria itu membuatnya nyaman pada waktu yang terbilang cukup singkat.
Pria itu menatap wajah Aine. "Aku tidak bisa janji, Ai. Tapi aku akan berusaha,"
Aine memaksakan senyumnya mekar. Bagaimanapun juga ia tau posisinya. Meminta Iraz tetap berada disisinya bukanlah hal yang wajar. Secara dia hanya manusia rendahan yang ditolong oleh pria itu.
Tapi jawaban Iraz memberikan Aine sedikit kelegaan. Setidaknya pria itu tidak berniat meninggalkannya untuk waktu dekat. Meski ia tidak berjanji, tapi secara tidak langsung Iraz mengatakan bahwa mereka akan bersama.
Aine membicangi pria itu dengan banyak topik. Ia yang dulunya gadis pendiam mendadak banyak bicara bersama Iraz. Ya, hal yang membuatnya demikian adalah perlakuan Iraz yang mendengar semua ucapannya.
Jika dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya yang dulu, Iraz adalah orang pertama yang mendengarkan ucapannya. Biasanya semua menganggap ucapannya sebagai dengungan yang tidak jelas. Makanya dia takut berbicara.
"Nggak lah, Ai, namanya juga anak SMA," kata Iraz diakhir percakapan mereka karena setelah itu ia menepikan mobilnya didepan sebuah rumah.
"Ini rumah siapa?" tanya Aine menatap bangunan dua lantai di depan mereka.
"Dokter gizi." Jawabnya singkat.
"Hah? Untuk apa mengunjungi dokter gizi hari Minggu? Kerumahnya pula," kerut gadis itu berkerut.
"Dia temanku. Kau akan tau sendiri kita mau ngapain kesini. Intinya ini demi kebaikan kamu," pria itu memegang tangan Aine, menatap lalu menarik gadis itu masuk. "Aku tidak ingin jadi pengecut lagi, Ai."
Gadis itu tidak mengerti, tapi terus mengikuti tarikan pria itu.
__ADS_1
***
"Anda harus menjaga pola makan. Misalnya pagi hari sarapan dengan oat, buah atau bubur kacang hijau. Kemudian makan siang dengan sayur yang direbus, lalu sore konsumsi buah atau susu kedelai. Coba ganti gula putih dengan gula merah jika biasanya demikian." seorang wanita paruh baya menjelaskan dengan rinci.
"Saya juga menyarankan untuk mulai serius bergabung ke gym dan mengikuti beberapa kelas seperti latihan RPM, body pump, body combat, dan treadmill. Biasanya latihan seperti itu membuat penurunan berat badan secara cepat. Jika bisa, cobalah untuk berpuasa."
"Maaf, apa itu tidak terlalu beresiko? Latihannya menguras banyak tenaga tapi asupan yang masuk sangat kecil. Aku tidak mau kau menyiksanya!" Iraz menyela.
"Bukan menyiksa, Tuan. Tapi anda menargetkan harus menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Jadi saya memberikan solusi terbaik," jawab wanita itu.
"Ya udah deh, lanjutin!" pintanya agak kesal.
Aine yang melihat keduanya berdebat mendadak tidak enak hati. Tapi ia hanya bisa menyerap apa yang disampaikan wanita itu tanpa bisa berkomentar.
Wanita itu tersenyum. "Ketika buka puasa saya sarankan minum mix juice seperti pepaya, nanas, daun mint, wortel, tomat, pisang, buah naga, dan lain-lain atau makan sayur yang direbus." tuturnya rinci.
"Untuk menjaga berat badan agar stabil saya sarankan tetap menjaga pola makan dan tetap berolahraga rutin misalnya joging setiap pagi."
"Saya rasa hanya itu yang bisa saya sampaikan saat ini. Untuk lebih jelasnya, silahkan kunjungi klinik saya besok. Saya akan menjelaskan lebih detail."
Aine menatap wajah wanita itu. Sedikit bingung dengan beberapa kata. Tapi dia memberikan anggukkan di setiap perkataannya, soalnya takut dikatain tolol.
Sangat berbeda dengan Iraz yang kritisnya minta ampun. Kebanyakan perkataan wanita itu dikomentarinya seolah-olah dia ahli di bidang gizi.
Akhirnya keduanya berpamitan. Iraz menolak permintaan wanita untuk minum sebelum pergi. Dia beralasan bahwa Aine masih ada urusan penting.
Aine hanya bisa tersenyum kaku. Ia tidak tahu apa hubungan keduanya yang jelas mereka terlihat dekat. Dari awal Iraz menunjukkan bahwa dia berkuasa atas wanita itu. Tampak jelas dari caranya masuk dan langsung memaksa dokter itu untuk bicara. Dan bagian paling anehnya adalah, wanita itu tunduk dan memberikannya pelayanan yang terbaik.
Entahlah siapa sebenarnya Iraz, yang jelas dia pasti bukan orang biasa. Aine yakin akan hal itu.
Setelah usai dari rumah wanita itu, keduanya berniat untuk pulang.
"Terimakasih banyak loh, Raz. Kau sudah banyak rugi karena aku. Aku janji deh, kalo nanti aku dapat pekerjaan, aku bakalan membayar semuanya. Hitung aja dulu sebagai utang," kata Aine lembut. Suara uniknya membuat Iraz nagih.
"Kamu yakin mau membayarnya?" tanya Iraz jahil.
"Ya... doain aja aku segera dapat pekerjaan."
"Nggak usah deh, Ai, nggak dibayar juga nggak apa-apa," kata Iraz serius.
"Eh, nggak boleh gitu, utang tetaplah utang." lanjut gadis itu.
"Bagaimana kalo kamu membayarnya satu malam? Kupikir itu cukup," pria itu menatap Aine jahil.
Gadis itu sontak menatap Iraz. Ia langsung memeluk tubuhnya sendiri. "Maksud kamu apa?"
"Maksudku..."
__ADS_1