
"Hari ini kan kamu nggak ada kegiatan nih, pelajari bahasa Inggris aja, Ai. Mumpung senggang gini," ujar Iraz sambil memperbaiki rambutnya di depan cermin ruang tamu.
"Kenapa harus belajar bahasa Inggris, Raz?"
"Seorang penguasa minimal harus bisa bahasa Inggris, Ai," jawab Iraz.
"Ah, tapi..."
"Kamu mau ku daftarin les privat?" Iraz menyolot.
"Nggak usah, Raz. Aku belajar sendiri aja," sebenernya Aine hanya takut ngerepotin saja sih.
"Yakin? Atau aku aja yang mentorin?" Iraz menawarkan.
"Emang kamu bisa bahasa Inggris?" tanya Aine ragu.
Iraz menyelesaikan kegiatannya, beralih menatap Aine. "Nggak bisa sih, tapi demi kamu aku bisa." tentu saja itu candaan.
"Aaaaa, Iraz!" seru Aine kebaperan. "Aku serius nih,"
"Hehe, bisa kok, Ai. Aku udah polyglot sejak usia sepuluh tahun. Sekarang udah naik level jadi hyperpolyglot." Iraz memberitahu seraya memperbaiki dasinya. Pagi ini bodinya udah ganteng dengan setelan jas.
"Polilot? Hepergotgot? Apaan tuh?" tanya Aine. Gadis itu duduk di atas sofa sambil menikmati sebungkus biskuit.
Iraz tertawa mendengar plesetan kata yang diciptakan Aine. "Polyglot, Ai! Bukan polilot!" pria itu membernarkan.
"Ah, iya! Artinya apa, sih?" tanya Aine sambil mengunyah.
"Seseorang yang bisa menguasai lebih dari empat bahasa." jawab Iraz. Ia duduk di sofa tepat di hadapan Aine.
"Oh. Aku mah nggak heran lagi. Bahkan jika kau mengaku bisa 10.000 bahasa asing sekalipun pun aku takkan heran." kata Aine menatap Iraz sekejap.
"Itu mah udah di luar nalar, Ai! Jumlah keseluruhan bahasa di dunia pun hanya 7.000. Kau pikir aku bisa menciptakan 3.000 bahasa lagi?"
Aine terbelalak mendengar penuturan Iraz. Sampai-sampai biskuit yang dia celupkan meleleh di dalam teh. "Kamu benaran tau jumlah bahasa keseluruhan?"
"Yaitu tadi, 7.000, Aine sayang..."
Aine menelan ludahnya. "Gilak, sampai hal seperti aja kau tau? Wihh, empat jempol sekaligus untukmu, Raz." ekspresi Aine benar-benar kocak, membuat pria dihadapannya tertawa kecil.
"Padahal aku hanya bercanda mengatakannya. Eh, kamu malah menanggapinya. Keren banget, Raz..." puji Aine.
"Hehehe, makasih, Ai." ujar pria itu tulus.
Aine kembali menikmati biskuitnya setelah merelakan satu keping larut di dalam teh.
"Oh iya, Raz, kapan aku bisa pulang ke rumah orangtuaku? Aku tidak sabar, lagian ada sesuatu yang ingin kuambil dari sana." kata Aine disela-sela makannya.
"Setelah kamu mahir bahasa Inggris, Ai!"
"Yaaa! Lama dong! Otakku tuh lemot, nggak bisa belajar dengan cepat! Terus benda yang ingin kuambil juga penting banget. Gimana dong?"
Iraz berfikir sejenak. "Ya udah deh, nanti aku percepat data palsunya. Mungkin di Minggu ini kita bisa berkunjung ke sana. Doain aja prosesnya cepat,"
"Tentu dong." sahut Aine. "Aku nggak sabar berlagak jadi bos. Hehehe,"
"Makanya belajar yang benar! Agar suatu saat nanti kau benar-benar bisa menjadi bos." Iraz berdiri. "Agar bisa menunjukkan pada dunia bahwa seseorang yang tertindas akan jauh lebih berhasil daripada orang yang menindas. Semangat, Ai!"
Gadis itu tersenyum. "Makasih, Raz."
"Hmm." jawab pria itu. "Aku pamit, Ai, ada meeting pagi ini. Dadahh honey!" pria itu melambaikan tangannya.
Aine hanya membalas dengan senyuman lebar seraya satu tangannya terkibas di udara.
"Sampai jumpa, Raz..."
***
Iraz menatap kalender yang ada di atas meja kantornya. Tepat hari ini, tanggal 11 Agustus adalah hari ulang tahun Aine. Ia sudah menandainya sejak tiga bulan yang lalu. Pastinya sejak tau tanggal lahir hadir itu.
Sebenarnya dia mengingat hari ini adalah hari ulang tahun Aine. Tapi ia ingin membuat kejutan untuk gadis itu. Makanya dia tidak mengucapkan selamat ulang tahun sejak tadi pagi walau mereka bertatapan langsung.
Pria itu tersenyum kecil. Ia menuliskan sesuatu di dekat tanggal ulang tahun Aine. "The first." demikian isi tulisannya. Setelah itu dia menilik jam yang ada di tangannya. Sudah waktunya dia pulang.
***
__ADS_1
Sudah jam 21.47, Aine tetap setia duduk di teras untuk menunggu kepulangan Iraz. Sudah sejak jam empat dia menunggu di depan, berharap pria yang dia tunggu segera datang.
Gadis itu menguap dua kali, beberapa ekor nyamuk juga sudah mulai mengerumuninya. Hal tersebut membuatnya tidak nyaman, memilih menunggu di dalam rumah saja.
"Raz, kamu dimana sih? Udah larut kok nggak keliatan? Biasanya jam empat kamu udah di rumah!" Aine bicara sendiri.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi padamu?" katanya lagi-lagi. Ia tampak sangat cemas. "Aku khawatir, Raz..."
Aine mengeluarkan hapenya dari saku Hoodie yang dia gunakan. Ia kembali menghubungi Iraz setelah lebih dari sepuluh kali ia hubungi pria itu sebelumnya.
Dan lagi-lagi orang di seberang tidak bisa dihubungi. Kayaknya hape pria itu sedang dinonaktifkan. Buktinya nomor itu tidak bisa dihubungi.
Aine memikirkan pria itu. Kemana dia pergi? Mungkinkah Iraz sudah bosan tinggal bersama gadis tidak berguna sepertinya hingga pria itu pergi mencari hunian yang baru? Ataukah dia pulang ke negara asalnya secara diam-diam? Bagaimana kalau Iraz benar-benar meninggalkannya?
Gadis itu langsung ciut. Ia menunduk dalam, menangis dalam sunyi. Ia merasa tidak berguna tanpa adanya pria itu.
"Raz...kau meninggalkanku?" ucapnya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis sendirian.
"Hiks, kamu dimana Raz.."
Disela-sela tangisnya, seseorang mengetuk pintu.
Aine langsung diam. Ia mengusap air mata, mencoba memperjelas pendengarannya. Sekali lagi seseorang kembali mengetuk.
Aine memperkirakan siapa kira-kira yang mengetuk pintu jam segini. Tidak mungkin Iraz, pria itu nggak bakalan ngetuk, soalnya rumah itu kan miliknya. Lagian dia hampir tidak pernah mengetuk pintu sebelumnya---setelah Aine tinggal di rumah itu.
Gadis itu bangkit, berjalan ke dekat jendela, mengintip dari sana. Tapi sayang sekali, jendela itu tidak cukup membantu untuk mengetahui siapa yang mengetuk sedari tadi.
Karena tidak mendapat informasi apapun, Aine memberanikan diri bertanya, tapi tentu saja setelah ia mempersiapkan alat pemukul di dekat pintu---untuk berjaga-jaga saja.
"Siapa?"
Tidak ada sahutan. Akhirnya Aine memberanikan diri membukanya.
"Happy birthday, Aine honey...." ternyata pria yang ada di balik pintu sedari tadi adalah Iraz. Ditangannya ada kue ulang tahun dengan lilin angka 2 dan 1. Lilinnya menyala, memberikan cahaya kekuningan.
Aine terbatu. Ada dua hal yang membuatnya bahagia kali ini. Pertama, Iraz mengingat hari ulang tahunnya meski dia tidak pernah memberitahu. Kedua, Pria itu kembali, ternyata dia tidak meninggalkan Aine.
"Raz...." tiba-tiba gadis itu memeluk Iraz. Sontak Iraz mengangkat kue ulangtahun itu ke atas.
"Ada apa, Ai?" tanya Iraz lembut.
Aine tidak menjawab.
"Udah, Ai, tiup dulu lilinnya, keburu habis nih," kata Iraz memperingatkan.
Gadis itu melepaskan tubuh Iraz. Ia menghapus air matanya sebelum jatuh menyentuh bumi.
"Happy birthday sekali lagi, Ai. Make a wish, dong..."
Gadis itu menurut. Ia melipat tangannya dan mengucapkan satu harapan dalam doanya. Setelah usai, ia membuka mata dan meniup api yang menyala di atas sumbu lilin. Seketika angin dari mulutnya memadamkan lilin yang berbentuk angka 21 itu.
"Ye... akhirnya resmi juga umur 21. Selamat ya, Ai..." Iraz beryeye.
"Makasih, Raz..." ucap Aine menangis.
"Eh, kok malah nangis? Kenapa?"
"Aku terharu, Raz. Ini pertama kalinya aku niup lilin di hari ulang tahunku. Biasanya tidak ada yang peduli. Hiks," jawabnya sesegukan.
"Cup...cup... kasihan. Btw kita masuk yuk, nggak bagus rayain ulang tahun di luar!" Iraz memperingatkan.
Aine mengangguk, segera ia berbalik, masuk ke dalam rumah kemudian diikuti Iraz.
"Btw makasih loh, Raz," ucap Aine ketika memakan sepotong kue ulang tahunnya.
"Makasih untuk apa, Ai?"
"Untuk semuanya. Terlebih untuk hari ini, makasih banyak sudah mengingatkan hari ulang tahunku. Aku sendiri tidak ingat tentang ini," jawab Aine pelan.
"Oh. Sama-sama, Ai." jawab pria itu singkat.
"Btw kamu tau dari mana tanggal ulang tahunku? Seingatku aku nggak pernah kasih tau kamu,"
Iraz menatap menatap kue di piring Aine. Hampir habis. Ia memotong lagi agar Aine bisa nambah. "Aku tau lebih banyak dari yang kau pikirkan, Ai." hanya itu jawaban Iraz.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. Padahal ia tidak mengerti maksud perkataan pria itu.
Sejenak suasana hening. Hanya suara sendok Aine yang berdenting dengan piring. Ia sibuk dengan makanan manis itu. Sudah jadi kewajibannya untuk menghabiskan kue itu karena Iraz nggak bakalan mau menyentuh makanan yang manis.
"Kau menungguku ya, Ai?" tanya Iraz tiba-tiba.
Aine menghentikan makannya. Menatap Iraz yang duduk di sampingnya. "Iya, Raz." tumben dia jawab singkat.
"Maaf, Ai, tadi aku lupa mesan kuenya. Pulang dari kantor baru aku ingat. Terus saat mesan, eh penjualnya mandang fisik. Yang ganteng diladeni duluan. Tapi nggak apa-apa, aku ikhlas diperlakukan demikian. Aku udah belajar dari kamu,"
Aine tersenyum. "Kamu mah selalu saja begitu." ucapnya memerah.
"Eh, tapi aku takut loh, Raz. Aku pikir kamu pergi ninggalin aku. Sudah lebih lima jam aku duduk di teras demi menunggu kamu datang. Eh, aku malah duluan kecewa!" Aine memberitahu tanpa ada rasa malu.
"Cih, udah ketergantungan rupanya," imbun pria itu. "Lagian aku nggak mungkin lari begitu saja! Minimal aku pasti hubungin kamu kalo berniat pergi,"
"Aku tau, Raz, tapi itulah ketakutanku."
Iraz menggeleng. Suasana seperti ini membuatnya memikirkan satu hal. Udahlah, pikirannya dijauhkan dulu, ini kan hari jadi Aine, ngapain khawatir di hari yang bahagia.
"Oh iya, aku lupa beli kado untukmu. Kamu mau hadiah apa dariku?" tanya Iraz mengubah suasana.
"Ngga usah, Raz. Semua ini udah lebih dari kado kok. Bahkan sekedar ucapan sudah sangat cukup sebenarnya," Aine menolak.
"Kita kan teman, Ai, jadi aku harus kasih kado. Mintalah apa yang kau inginkan, aku akan memberikannya."
Aine terdiam.
"Kau mau minta apa aja boleh. Penthouse, apartemen, hotel, plaza, galeri atau apapun yang menurutmu perlu akan kuberikan. Atau kau ingin rumah sebesar istana juga boleh. Terserah kamu mau minta apa."
"Serius, aku bisa minta sesuatu?" tanya Aine.
"Tentu saja."
"Baiklah." Aine menelan ludah. "Aku tidak akan meminta sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Tapi aku yakin, permintaanku ini mahal. Jika kamu mengabulkannya, maka hari ini adalah hari terindah dalam hidupku dan menjadi ulang tahun terbaik yang pernah kurasakan. Ini sederhana, tapi pasti sangat sulit,"
Iraz merasa tertantang. "Apa, Ai?"
"Ijinkan aku melihat wajahmu." jawab Aine.
Sorot mata Iraz langsung menajam.
"Bisakah kau mengabulkannya?" tanya gadis itu.
Iraz tampak berfikir. "Tidak ada yang spesial dari wajahku, Ai!" dari ucapannya saja Iraz sudah jelas menolak, meski secara halus.
"Kau bisa meminta yang lain, Ai! Aku punya banyak penthouse, kau boleh minta satu. Itukan lebih untung ketimbang melihat wajahku. Nggak ada yang berubah kalo kau melihatnya."
"Tapi aku mau itu, Raz!" Aine tetap ngotot.
"Berikan aku alasan, kenapa harus itu?" tanya Iraz datar.
"Agar suatu saat nanti ketika kau meninggalkanku, aku tau harus mencari wajah siapa, Raz. Supaya aku tidak melupakan wajah orang yang pernah memberikanku kekuatan untuk hidup. Agar aku bisa mengenali Iraz, pahlawan sejati. Pria yang membuatku jatuh cinta tanpa mengenali wajahnya (diucapkan dalam hati Aine)" Aine memberi tiga alasan. "Kumohon, Raz, kabulkan permintaanku. Tidak perlu lama, satu detik aja."
Iraz menatap wajah gadis dihadapannya. "Kamu yakin?" tanya pria itu.
"Yakin, Raz." jawab Aine.
"Baiklah." Iraz menutup matanya, sudah sejak lama ia tinggal di kota itu dan belum pernah ia mempertunjukkan wajahnya kepada siapapun. Ini dia lakukan semata-mata untuk melindungi dirinya.
Iraz membuka maskernya. Memperlihatkan wajah yang selama ini dia tutupi dengan masker.
"Gimana, kamu puas?" tanyanya pada Aine.
Gadis itu melongo melihat wajah asli Iraz. Ganteng banget. Fix sepuluh kali lebih ganteng dari Alvan.
"Aku kayaknya pernah liat kamu deh Raz," ujar Aine terus menatap wajah pria itu.
Iraz tersenyum, manis banget. Jadi begitu ekspresi aslinya kalo lagi senyum. Oh, ganteng banget ternyata.
Aine mengingat sesuatu. "Oh, aku pernah melihatmu di tivi!" serunya girang.
Iraz terus tersenyum.
__ADS_1