Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kunjungan Aine #3


__ADS_3

"Aku bukan pelakor. Aku tidak pernah merebut siapapun!" balas Melanie tajam.


Iraz menggigit ujung bibirnya. Dia tidak tau cara mengatasi ini. Menurutnya Aine terlalu mendalami perannya hingga lupa batasan. Bagaimana sekarang?


Aine memperbaiki rambutnya. Gayanya santai banget, tidak kelihatan panik dengan ucapannya.


"Ah, jadi kamu bukan pelakor? Tapi Inui bilang begitu padaku."


Iraz langsung membeku. Kenapa Aine menyangkutkan namanya? Perasaan dia tidak ingin gadis itu terlalu mencolok, apalagi menyuruhnya mengungkap pribadi Melanie. Tapi kenapa jadi begini?


Melanie menatap Iraz. Tatapannya tidak bersahabat.


Ai, ada apa denganmu? Kenapa menjebakku begini?


"Kenapa tatapanmu seperti itu?" tanya Aine pada kakaknya. "Apa ada yang salah dengan laporannya padaku?"


Melanie mengalihkan pandangannya pada Aine. "Aku tidak terima dikatain pelakor!" jawabnya ketus.


"Kenapa? Bukannya kata pelakor itu pujian. Menunjukkan bahwa kamu bisa menguasai banyak bahasa. Kenapa kamu tidak terima?"


Iraz tersadar. Jadi Aine sedang memainkan trik lain sekarang. Trik yang sama dengan yang dia gunakan pada Vanya sebelumnya.


Melanie jadi bingung sendiri. Pelakor apa hubungannya dengan penguasaan bahasa?


"Maaf nona, tapi saya mengatakan bahwa dia polyglot, bukan pelakor." ucap Iraz tersenyum puas dengan permainan yang tercipta.


Aine menyilangkan tangannya di depan dada. "Iyakah?" ujarnya membentuk huruf v dengan jarinya di bawah meja. Dia melakukan itu untuk Iraz. Tujuannya agar pria itu tidak perlu khawatir, dia bisa menyelesaikan ini.


"Maaf Melanie, aku kira dia bilang kata pelakor ternyata polyglot. Atau jangan-jangan kau menguasai keduanya?"


Melanie tersenyum lalu menggeleng. "Tidak nona Zhang."


Saat ingin bicara lagi, tiga pelayan datang mengantarkan cemilan dan teh. Mereka bekerja sama untuk mengatur posisi teh dan cemilan itu sesuai dengan perintah Isman sebelumnya.


Aine menatap tiga pelayan itu bergantian. Suatu pertanyaan muncul di benaknya.


"Terimakasih." ucap Aine ketika secangkir teh panas diletakkan di depannya.


Pelayan itu hanya tersenyum saja.


"Pelayan kalian cantik-cantik." Aine mulai lagi.


"Hehehe. Kami memang sengaja mempekerjakan yang masih muda agar orang yang datang bertamu selera untuk menikmati apapun yang disajikan. Juga karena pekerjaan orang muda lebih rapi dan kreatif. Lagian mereka lebih lincah." Andari bicara panjang lebar. Ia seperti ingin menunjukkan betapa cerdas.


"Aku tidak menanyakan kenapa kalian memperkerjakan orang yang masih muda. Aku hanya bilang pelayan kalian cantik-cantik. Jujur ya, aku nggak suka orang yang neko-neko!" Aine berkata pedas. Sia-sia Andari bicara panjang lebar hanya untuk dipermalukan.


Wanita itu langsung malu sendiri. Wajahnya memerah. Mungkin sekarang dia memikirkan cara untuk lari dari tempat duduknya.


Iraz tersenyum penuh kemenangan. Tapi sayang sekali tidak ada yang bisa melihat senyum itu karena bersembunyi di balik masker.


'Ayo, Ai, buat suasana segila mungkin. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka.'


ketik Iraz di hapenya.


Aine membaca pesan itu dengan pura-pura melihat ke bawah. Keempat orang di hadapannya pasti tidak menyadari apa yang di lakukan keduanya.


Aine memberikan kode tanda jempol. Artinya dia mengatakan oke.

__ADS_1


"Nona Zhang, apa yang akan saya dapatkan setelah ini?" tanya Isman.


'Jabatanmu akan ku naikkan' ketik Iraz membantu Aine.


"Jabatanmu akan ku naikkan." jawab Aine sesuai perintah Iraz.


Pria itu langsung tersenyum lebar. Ia sudah menduga ini sebelum. Tidak apa-apa dia dihina sedari tadi yang penting ada faedah yang dia dapatkan.


"Jabatan seperti apa yang akan saya terima?" tanya Isman.


Tentu jika sudah bersangkutan dengan pekerjaan Aine tidak mengerti lagi. Jalan keluarnya adalah mempelototi hape Iraz.


"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Jabatanmu bergantung pada perlakuanmu dan keluargamu hari ini. Jika aku keluar dari sini dengan bahagia, maka bisa saja aku merekrutmu jadi CEO. Tapi sebaliknya, jika aku tidak nyaman keluar dari sini, bisa saja aku memecatmu tanpa alasan." Aine menjawab sesuai dengan apa yang dia baca di layar hape Iraz.


Satu keluarga itu langsung membeku. Artinya mereka harus hati-hati. Tidak boleh membuat gadis itu tersinggung. Jaga sikap istilahnya.


"Ai, buat mereka agak menyadari siapa dirimu. Maksudku, buat mereka merasa familiar padamu."


Aine mengangguk pelan. Hanya Iraz yang menyadari anggukannya itu.


"Aku punya satu pertanyaan buat kalian."


"Apa Nona?" sahut seseorang dari keempatnya.


"Jika kalian memiliki seseorang yang buruk rupa di keluarga ini, apa yang akan kalian lakukan padanya?" tanya Aine.


"Izin menjawab Nona." Andari angkat bicara.


"Silahkan."


"Kami pasti akan menyayanginya. Jika dia seorang anak di keluarga ini, maka saya dan suami pasti akan bertindak adil padanya. Jika seorang keluarga Natsu kerabat, kami pasti membantunya untuk semangat." tutur Andari. Dia berucap seolah dia benar-benar akan melakukan itu.


"Sekarang, aku mau tanya satu lagi. Pertanyaan ini khusus untuk Melanie." Dia menajamkan pandangannya pada gadis itu.


"Jika seandainya kamu punya adik yang jelek, atau katakanlah jauh dibanding parasmu, dan dia memiliki pacar yang tampan, populer, kaya dan baik hati. Apa kau akan iri padanya?"


"Tidak." jawab Melanie secepat kilat.


"Bagaimana tanggapanmu terhadap hubungannya?"


"Tidak apa-apa. Aku akan mendukungnya. Bagaimanapun juga kebahagiaan adikku adalah kebahagiaanku juga."


Aine mengangguk. "Jawabanmu sangat memuaskanku. Semoga memang begitu perlakuanmu yang sebenarnya. Sama dengan ibumu, kau dapat nilai plus."


"Terimakasih, Nona Zhang."


"Lebih greget lagi, Ai!" tulis Iraz.


Aine mengangguk lagi.


"Kudengar kau anak yang pintar." Aine menatap Vanya.


"Begitulah kira-kira, Nona." jawab Vanya percaya diri.


"Belakang ini, ada banyak anak-anak muda yang yang tidak memiliki attitude yang baik. Menurutmu, bagaimana attitude yang kau miliki?" sebenarnya pertanyaan itu terlontar karena sikap Vanya yang buruk padanya ketika dia masih tinggal di rumah itu.


Vanya tersenyum secerah matahari. "Menurut saya baik, nona Zhang. Buktinya saya mendapat nilai A penilaian sikap di sekolah." jawab gadis itu.

__ADS_1


"Bisa saja nilai itu dibuat-buat! Misalnya gurunya suka padamu karena kamu cantik, atau nggak karena disuap oleh orangtuamu. Ada banyak kemungkinan, sayang."


"Tidak, kok. Aku mendapatkannya murni karena sikapku baik."


Jawaban itu membuat Aine merasa tertantang. "Boleh aku membuktikannya?" tanya Aine.


"Tentu saja."


"Baiklah, aku akan menilai mu dari sini." Aine berdiri, berjalan mendekati Vanya, ia mengangkat teh panas yang ada di atas meja. Langsung ia menyiramkan teh itu ke tubuh Vanya.


Gadis itu merintih kepanasan. Tapi sayang sekali, rintihan itu hanya bisa ia keluarkan dalam hati. Dalam dunia sebenarnya dia tersenyum pada Aine. Berpura-pura tidak ada yang terjadi padanya.


"Maaf Nona, mungkin tangan anda tidak sengaja." Vanya pikir dengan mengatakan hal itu dia bisa mendapat nilai plus juga.


"Benar, tanganku keseleo." Aine mengerjapkan matanya. "Kamu pasti kepanasan,"


"Tidak Nona. Ini bukan masalah," jawab Vanya dengan senyuman manis.


"Benar-benar gadis yang sangat sopan. Kamu memang pantas menerimanya." Pasti mereka berfikir Vanya pantas mendapat nilai A di sekolah, padahal maksud Aine dia pantas mendapat luapan teh panas itu.


"Terimakasih, Nona." Vanya membiarkan tubuhnya basah. Mungkin ia takut untuk bangkit atau takut membersikan pakaiannya. Pasti ia berfikir bahwa Aine akan mengurangi nilainya jika dia berani bergerak.


"Sekalian aja deh, karena kamu anak yang pintar, coba hitung tingkat kepanasan teh itu. Istilahnya apa ya dalam pelajaran fisika?" Aine terus menatap Vanya.


Gadis itu gelagapan. Dia tidak tau apa maksud perkataan Aine. Karena dia tidak pernah mengikuti pelajaran fisika, ia selalu memilih tidur jika masuk pelajaran mematikan itu.


"Kamu tidak tau, ya?" tanya Aine.


Gadis itu membisu.


"Atau jangan-jangan kau bodoh? Jangan-jangan nilaimu selama ini hasil suapan? Masa ingin sekolah ke luar negeri tapi ngitung itu aja nggak sanggup! Ah, itu udah salah." ucap Aine kembali ke tempat duduknya.


Gadis itu menunduk, malu sekali. Apalagi Aine mengucapkannya dengan keras, didengar oleh semua orang yang ada di rumah itu.


Iraz tertawa dalam hati. Puas sekali. Tapi dia agak protes dengan cara Aine. Menurutnya menyiram dengan air panas tidaklah tepat. Tapi sepertinya gadis itu tidak apa-apa, dia tidak mengeluh kepanasan sedikitpun. Entahlah karena dia menahannya atau gimana, yang penting gadis itu baik-baik saja.


Positif thinking aja, mungkin airnya tidak panas lagi. Batin Iraz. Bagaimanapun juga dia harus menjaga agar tidak ada yang terluka. Kalo semisal gadis itu terluka, dan mereka berfikir untuk melapor ke polisi, wah udah gawat. Bisa-bisa dia ditendang dari silsilah keluarga Joubert.


"Bagus, Ai. Tapi pertanyaanmu tidak masuk akal. Tidak ada materi dalam fisika yang menghitung tingkat kepanasan teh." ketik Iraz saat gadis itu sudah kembali duduk.


"Benarkah? Aduh, mereka pasti udah curiga padaku!" kini Aine yang membatin.


Tapi keluarga itu tampak bodoh. Tidak ada satupun dari mereka yang protes. Mereka beranggapan apapun yang dilakukan Aine adalah hal yang benar. Termasuk ketika dia menyerang Vanya. Bahkan gadis itu yang minta maaf padanya.


Ketika dia masih tinggal di rumah itu, Aine selalu disalahkan. Duduk salah, berdiri salah, pokonya tidak ada yang dianggap benar dari apapun yang dia lakukan. Dan sekarang.... ia menguasai mereka. Semua perbuatannya yang salah dibenarkan dengan mudah.


Menyentuh Vanya adalah jurang baginya. Itu benar, tapi apabila dia masih menjadi Aine yang dulu. Ketika dia masih seogok sampah di rumah itu. Jika dia berani melawan gadis itu, Aine akan di hukum. Meski Vanya yang salah. Dan meski gadis itu adalah adiknya.


Sekarang semua berubah. Aine telah berubah menjadi penguasa sehari. Ia berhasil menbucahkan semua yang dia simpan selama ini.


"Aku mau ke kamar mandi!" ujarnya tiba-tiba. Ini kesempatannya untuk masuk ke kamarnya dan mengambil barang yang dia inginkan.


"Apa saya perlu menemani anda?" tawar Melanie.


"Tidak usah. Beritahu aja dimana letak kamar mandinya!"


"Di belakang, Nona. Anda hanya perlu berjalan lurus lalu belok kiri."

__ADS_1


"Baiklah." Gadis itu mengangguk. Ia meninggalkan kelima manusia itu.


"Aku mau ngapain lagi, ya?"


__ADS_2