Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Terbuang


__ADS_3

Vanya masuk ke lingkungan sekolah. Ia harus menelan kekecewaan karena semua siswa yang hadir sudah berbaris di lapangan.


Ia yang datang dengan pakaian kacau, wajah tanpa riasan, dan rambut yang kusut berhasil menarik perhatian seorang guru yang kebetulan bertugas mengawasi murid yang terlambat.


"Vanya? Kamu terlambat?" suara pria bertubuh gemuk, perut buncit itu menekan Vanya. Dari suaranya saja terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai gadis bernama Vanya itu.


"Maaf pak," Vanya menunduk penuh penyesalan.


"Seorang murid teladan yang akan membawa nama sekolah ini terlambat? Wah, aku tidak percaya ada murid pilihan yang seperti ini!" pria itu mengomel. "Temui aku di kantor BK!" setelah mengucapkan kalimat itu, dia pergi meninggalkan siswi SMA yang cantiknya tidak ketulungan itu.


Vanya tau, Pak Rijal, guru yang tadi, tidak menyukainya. Pria itu menunjukkan dengan jelas. Makanya dia tidak segan-segan disuruh masuk ke ruang BP.


Gadis itu jalan terseok-seok. Ia udah malas. Apalagi dengan semua gurunya yang memuakkan, ia bertambah malas.


Setelah menghadap ke ruang BK, akhirnya Vanya diijinkan untuk kembali ke kelas. Semua orang kaget melihat penampilannya yang jauh berbeda dengan biasanya. Tidak ada bedak mahal yang biasa menutupi wajahnya, tidak ada softlens yang memperindah matanya, tidak ada liptin yang mewarnai bibirnya. Pokoknya dia berubah seratus delapan puluh derajat.


"Woi! Elo kok jadi jelek banget?" Erwin, pria yang selalu mengejar Vanya berkata jijik kali ini.


"Aku tidak sempat dandanan, Win," jawabnya.


"Kalo begini, aku ganti daftar perempuan yang aku sukai deh, penampilan mu benar-benar menjijikkan! Aku tidak suka!" Erwin mengatakannya tanpa peduli perasaan Vanya.


"Brengsek! Bajingan!"


Ternyata bukan hanya Erwin yang berubah sinis, tapi teman satu kelasnya. Terlihat jelas ketika Vanya baru melangkah memasuki ruangan kelas.


"Wah, lihat siapa yang datang!" Nadia bersorak bersamaan dengan kedatangan Vanya. "Tumbenan banget tidak memakai bandana? Syal juga tidak kelihatan seperti biasa. Udah jatuh miskin, ya?"


"Apaan sih!" balas Vanya mendudukkan pantat di kursinya.


"Cih, badanmu bau banget, pasti tidak mampu lagi membeli parfum. Ia kan Ce?"


Vanya menatap mereka satu-satu. Tiba-tiba ia ingin mencekik semua yang menghinanya.


"Tumbenan banget rambut tidak di sosis atau di catok. Apa ini tanda-tanda kalo dunia akan kiamat?" satu teman lainnya ikut-ikutan membuli Vanya. Kapan lagi mendapat kesempatan seperti ini. Membuli gangster yang sebenarnya.

__ADS_1


"Diam kau! Nggak usah ngebacot! balas Vanya.


"Cih, sok banget. Kau pikir kami takut sama kamu? Oh, nooo, kita tidak takut lagi!"


"Besok mulut kalian akan kubungkam!" Vanya menggetok meja di depannya.


"Oh, silahkan saja, kami tidak takut!" balas mereka sengit.


Vanya mengangguk. "Akan ku tunjukkan siapa yang paling berkuasa!" gadis itu bangkit.


Teman-teman Vanya tertawa terbahak. Mungkin mereka memang sudah meremehkan kemampuan Vanya.


"Hei, Vanya! Mulai sekarang, kau yang akan terbuang. Karena ini saatnya kami membalas semua yang pernah kau lakukan."


"Hei, kau pikir kamu siapa?" tolak Vanya.


"Oh, sudah berani berkata begitu. Lihat aja, ketika aku kembali, aku bakalan membunuh kalian semua." ancamnya.


"Hahahaha, kami takkan takut! Sudah cukup kami di bodohi orang yang sok pintar. Sekarang para suhu yang harus tunduk menjadi budak. Kami tau kebusukan mu!"


Tiara, teman satu kelas yang terkenal ketus menatap Vanya dengan tajam. "Kau membeli kursi itu, kan?"


"Iya... kami sudah tau semuanya!" timpal yang lain.


Gadis itu mengerutkan keningnya. Dari mana mereka tau? Tidak mungkin kepala sekolah yang memberitahu. Karena itu sama aja dengan mengumbar kejahatannya.


"Iya, kita nggak nyangka ternyata elo semenjijikkan itu!"


"Emang dari awal gue udah heran, Iffan jauh lebih pintar darinya, kok dia yang dapat kuota? Ternyata rahasianya uang, toh!" yang lain sibuk membandingkan.


"Gue bakal ngaduin ini sama ortu gue, entar mereka pasti akan komplain dan menuntut kepala sekolah. Liat aja, semuanya bakal berakhir!" Dava menatap Vanya dengan penuh kebencian. Dia memang sudah lama ingin menjatuhkan gadis itu karena selalu merasa kalah. Seandainya Vanya gagal mendapatkan kursi itu, berarti satu-satunya yang bisa menggantikan posisi gadis itu adalah dirinya. Karena hanya dia yang mampu secara akademik maupun ekonomi.


"Siapa yang memberitahu kalian?" Vanya memandangi satu persatu wajah manusia yang mengelilinginya.


"Emang itu penting, ya? Bukankah seharusnya elo mulai menyusun strategi agar bisa bebas dengan selamat?"

__ADS_1


"Aku tanya siapa yang memberitahu kalian!" bentak gadis itu.


"Entahlah, tapi seorang pria berjas hitam yang tertutup masker. Dia datang membagikan kertas yang berisi perjanjian papa kamu dengan Kepala Sekolah. Yah, surat yang dimaterai kan." Joana, teman akrab Vanya memberitahu. "Dia juga membagikan foto-foto kamu waktu di bar. Sepertinya dia sangat membencimu."


Mendengar penuturan Joana, Vanya langsung tau siapa dalang dari semua ini. Pasti Iraz. Apapun ceritanya pasti pria itu. Karena hanya dia satu-satunya orang yang berani mengumbar aibnya. Selain itu, Iraz lah satu-satunya orang yang tau kehidupan pribadinya.


Brengsek sekali dia!


"Kita semua nggak nyangka, ternyata elo orang yang kotor. Kasihan gue liatnya," Andra si cowok ganteng yang pendiam ikut angkat bicara.


"Ckckck, benar-benar menjijikkan."


Vanya menyadari bahwa dirinya tidak berarti di mata semua orang lagi. Tidak ada kehormatan seperti dulu. Rasa disegani juga menghilang seketika. Semua hancur. Tidak dak hal yang indah seperti dulu, ketika dia dipuja sebagai gadis termodis dan tercantik. Mulai sekarang, dia akan ditatap sebagai gadis rendahan yang pantas di lingkungan itu.


Ia melihat ke arah Lina, gadis yang selalu dia buli karena jelek. Gadis itu tersenyum lebar, sepertinya bahagia dengan penderitaan Vanya. Ia teman yang ikut berdiri dari sekian banyak orang yang mengelilingi meja Vanya.


"Kalo aku jadi kamu, mending aku memilih mati aja. Apa gunanya hidup di bawah gunjingan orang!" Ciara membuka suara.


"Iyakan. Mending kamu lari sekarang , tinggalkan segalanya."


Vanya menurut, ia menembus kerumuman manusia yang mengelilinginya.


"Aku benci kalian semua!" pekiknya menangis.


Vanya melebarkan kedua tangannya. Ia sudah berada di puncak gedung tertinggi sebuah perusahaan. Setengah langkah ia bergerak, Vanya benar-benar akan menjadi tulang belulang.


Ia menutup matanya, bersiap untuk melompat.


"Apa yang akan kau dapat jika mati sekarang?" satu bagian hidupnya memperingatkan.


"Lebih baik mati, kau tidak akan mendapatkan penghisaan atau apalah namanya. Tidur yang nyenyak." hati yang lain ikut berkomentar.


"Tetaplah hidup, kau tidak boleh mati sebelum menghancurkan hidup Aine. Kau masih berguna untuk membuat mereka menderita."


Perlahan, Vanya mundur ke belakang. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Mending hidup terhina daripada harus mati penasaran.

__ADS_1


__ADS_2