Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Si Centil Vanya


__ADS_3

"Waktunya tinggal satu Minggu ini, Ai... siapin mental mu." kata Iraz saat keduanya mengunjungi jembatan tempat pertemuan pertama mereka.


Aine mengangguk. Ia menarik nafas dalam-dalam.


"Jadilah penguasa, Ai. Mereka akan tunduk padamu."


"Oke, Raz." sahut Aine cepat. "Berdiri di sampingku sampai misi ini selesai. Dampingi aku..."


Iraz tersenyum kecil. "Bahkan setelah misi ini selesai, aku akan tetap mendampingi mu. Semangat!" pria itu mengangkat tangan dan mengepal nya, memberi isyarat spirit dengan tangannya.


Gadis itu tersenyum, manis sekali.


"Kamu cantik, Ai." ucap Iraz tiba-tiba.


"Thanks a million more times. Kamu orang pertama yang mengatakannya."


"No problem. I say it because that's the truth."


"Thank you very much good people."


***


"Pah, hari ini aku numpang, ya..." ucap Vanya saat sarapan pagi. Ia sudah mengenakan seragam, hendak berangkat sekolah.


"Tumben numpang sama Papa. Kamu lagi berantam ya sama Mel?" sahut Isman di tengah-tengah kunyahan nya. Ia mengatakan itu karena biasanya kedua putrinya itu berangkat bersama. Meski kantor Mel tidak searah dengan sekolah Vanya, tapi Mel selalu mengantar adiknya duluan. Makanya dia termasuk kakak yang baik untuk Vanya.


"Aku punya tugas pagi ini, Pah. Sebaiknya berangkat sama Papa agar cepat sampai. Lagian sekolah aku kan searah sama kantor tempat Papa kerja,"


"Dasar bocil! Ngerepotin banget," Melanie menatap adiknya kesal.


"Apa kau? Suka-suka akulah!"


"Eh, malah ngenyel! Tinggalin aja, Pah! Nanti direpotin sama dia!" Mel mencegah papanya.


"Yang penting bukan kamu yang ku rugikan!" gadis SMA itu menantang kakaknya.


"Oh, udah berani gitu ya...tunggu aja besok dan seterusnya, aku gak bakalan ngangkut kamu! Naik bus baru tau rasa!"


"Oh! Yau udah! Nanti aku tinggal minta dibeliin mobil sama Papa!"


"Udah..!" Andari yang pusing melihat kedua putrinya ribut mencoba menghentikannya. "Pergi sekolah sana! Kau juga pergi kerja!" menatap wajah putrinya bergantian.


Isman berdiri, menatap putri bungsunya. "Kamu jadi ikut, nggak?"


"Jadi, Pah!" jawab Vanya berdiri juga. "Dadah kak Mel,"


Mel hanya mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa adiknya seolah sedang merencanakan sesuatu.


***


"Pah, aku tidak mau ke sekolah, aku mau ikut ke kantor Papa."


Isman terkejut mendengar perkataan putrinya.


"Loh, kenapa?"


"Aku mau ketemu sama bos Papa." jawab Vanya cuek.


"Ngapain Anya?"


"Aku ingin membuat dia tergila-gila padaku!" dengan penuh percaya diri, Vanya menjawab pertanyaan papanya lagi.


"Jangan gila, sayang! Inui bukan orang yang mudah ditebak. Meski dia benar menyukaimu sekalipun, dia nggak bakalan menggubrismu! Dia aneh, tidak bisa dibaca dan yang paling penting dia berbahaya!" pria itu sayang pada putrinya, makanya dia memperingatkan.


"Papa nggak percaya sama aku? Lihat aja nanti, dia bakal mengakuinya!" Vanya tersenyum licik.


Isman memperlambat mobilnya. "Anya, bukannya papa ngelarang kamu ketemu sama dia, tapi kamu yakin dia sukanya sama kamu?"


"Yakinlah! Kalo pun bukan aku, maka inilah kesempatan yang bagus untuk mengoper hatinya."


Isman menggeleng. "Kamu pikir hatinya bola apa!"


"Udah deh, Pah! Pokoknya bawa aja aku ke kantor Papa. Entar aku buktikan kehebatan ku!"


"Anya, Inui tidak mudah ditemui. Nggak sembarangan orang yang bisa masuk ke ruangannya. Kamu pikir dia mau ketemu dengan kamu? Sama kami para bawahannya saja dia malas ketemunya, apalagi sama orang yang kurang dikenal!"

__ADS_1


"Aku siap nunggu, Pah! Pokoknya dia harus menjadi milikku!"


"Kamu itu masih sekolah loh, bentar lagi kuliah, ngapain ngabisin waktu untuk hal yang belum pasti!"


Vanya tersenyum licik. "Aku nggak bakalan kuliah lagi kalo udah dapetin dia!"


Isman menggeleng. "Terserah kamu deh! Intinya Papa udah peringatin kamu."


***


Vanya benaran tidak masuk sekolah demi ikut ke kantor papanya. Ia duduk di samping Papanya sampai menunggu aba-aba dari sekretaris kalo dia diperbolehkan masuk ke ruangan Iraz.


Vanya orang yang penuh dengan ambisi. Jika dia sudah berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu, biasanya dia akan mengorbankan segalanya, termasuk harga diri.


"Pah, melapor lagi sama sekretaris gih," Vanya memukul bahu papanya. Dia sudah merepotkan Isman sejak masuk ke ruangan itu.


"Udah Anya, Papa udah bolak-balik dari tadi, kamu lihat 'kan?" balas Isman dengan nada penuh kekesalan.


"Mungkin sekali lagi dia bakal penasaran Pah," lanjut Vanya.


Isman mengalihkan pandangannya dari laptop, menatap wajah putrinya yang duduk di sampingnya. "Kamu mau Papa dipecat gara-gara melapor lebih dari seratus kali?" pria itu mulai marah.


"Ya tapikan..."


"Makanya dari awal Papa udah bilang, dia ngga mudah ditemui! Kamu aja yang ngotot."


"Papa yang salah, punya jabatan tinggi kok ada pengaruhnya!"


"Kamu pikir dia seperti bos Papa yang dulu? Bisa dikompakin dengan mudah? Dia suhu!"


Vanya membuang nafas kasar. Ia kesal, sudah lama dia duduk menunggu di sana, bahkan sejak pagi, dan sekarang sudah hampir jam 16.00, para pekerja sudah bersiap untuk pulang, dan dia tidak digubris sama sekali.


Yah, kemungkinan yang akan dia dapat adalah, dipanggil saat pulang, atau pulang dengan kecewa. Dan sepertinya dia tidak akan mendapat apa-apa hari ini.


"Papa tau dimana rumahnya?" tanya Vanya ketika tidak ada harapan lagi.


"Nggak!"


"Masa rumah bosnya tidak tau, sih!" omel gadis itu.


"Tapikan..."


"Udah deh, Anya, menyerah aja, nggak ada gunanya kau ngejar-ngejar dia, kalo kalian jodoh, pasti ketemu juga kok suatu saat nanti."


"Ya udah deh, kayaknya apa yang papa bilang benar. Aku..."


*Tok...tok..tok*


Tanpa dijawab, seseorang membuka pintu. Ternyata sekretarisnya Iraz.


"Maaf, Tuan, orang yang anda laporkan dipanggil oleh Tuan Edo. Maksudku Tuan Inui." kata sekretaris itu lembut. "Silahkan temui beliau di ruangannya,"


"Baik, sekretaris Shin."


"Pergilah, ikuti sekretaris itu!" perintah Isman pada putrinya.


Vanya yang senangnya tidak ketulungan langsung bergegas di belakang wanita itu. Dia tidak sabar bicara langsung dengan pria misterius itu.


Di depan ruangan Iraz, Vanya menyempatkan diri memperbaiki riasannya. Ia mempertebal bedak dan lipstiknya. Juga membuka dua kancing seragam yang paling atas. Mirip banget sama cabe-cabean.


Vanya menyentak nafas dalam-dalam sambil memasang wajah menggoda. Entah apa yang ingin dia lakukan.


"Halo, Tuan," sapa Vanya dengan wajah penuh senyuman.


Iraz menoleh pada gadis yang berjalan mendekatinya.


Adiknya Ai kan? Ngapain dia kesini? batin Iraz.


"Mau ngapain?" tanya Iraz datar. Dia santai dan biasa aja karena tau posisi gadis itu.


"Mau ngobrol aja," balas Vanya.


Iraz tidak tau harus berbuat apa. Dia marah, kesal, dan jijik dengan gadis itu.


"Apakah kau mau membicarakan sesuatu yang penting?" tanya Iraz menatap laptop.

__ADS_1


"Yah." gadis itu duduk di sofa. Dia menindih kakinya, persis kayak ibu-ibu arisan kelas atas.


Gadis yang kurang ajar!


"Katakanlah, aku memberimu kesempatan tiga menit." kata Iraz kesal.


Vanya bangkit, mendekat ke arah Iraz. "Kudengar Anda menyukai salah satu putri papaku. Aku ingin tau siapa dia," gadis itu duduk di atas meja Iraz, menatap pria itu tajam.


"Itu benar, tapi pastinya bukan kamu!" telak Iraz.


Vanya tersenyum kecut mendengar pernyataan itu. "Tapi aku bisa menjadi orang yang Anda inginkan," kata gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Iraz.


"Caranya?" sebenarnya Iraz tidak tertarik meladeni gadis itu, tapi dia merasa perlu mempermainkan gadis kurang ajar itu biar kapok.


"Aku akan tidur dengan Anda." Vanya memasang senyum memikat.


Gadis bodoh, gadis murahan, gadis nggak punya otak! Emang dia pikir semua laki-laki akan suka dengan perempuan yang mengobral murah dirinya?


"Aku tidak suka tidur dengan perempuan! Lebih suka tidur dengan laki-laki!" jawab Iraz datar.


"Apa? Maksudnya, Anda gay?" Vanya terkejut.


"Kenapa aku harus memberitahumu?"


"Tapi anda bilang menyukai..."


"Itu benar. Aku menyukai perempuan, tapi aku sukanya tidur sama laki-laki. Kamu ngerti?"


Vanya menggereyotkan bibirnya. "Meski demikian, aku tetap menyukai Anda."


"Matre!" ketus Iraz.


"Terserah Anda mau menilaiku gimana, aku tetap menyukai Anda!"


"Murahan banget! Kamu itu anak SMA, harusnya belajar dengan benar agar masa depanmu cerah, bukan mengajak pria dewasa untuk tidur!"


"Tidak ada salahnya, kok. Belajar sambil mengejar cinta. Bisa dong,"


Kekehan Iraz terdengar menyeramkan. "Aku jamin, otakmu ada di lutut!"


"Terserah mau dimana, yang penting aku bisa menghibur Anda."


"Jijik! Dengar, aku tidak suka wanita murahan, apalagi modelnya kek kamu! Jadi daripada kamu ngabisin waktu di sini, lebih baik kau pulang!"


Dasar Vanya, pasti urat malunya sudah putus. "Nggak! Aku akan pulang setelah tau siapa yang Anda sukai sebenarnya."


"Penting amat? Sampai berusaha seperti ini?" Iraz bangkit dari duduknya, menjauh dari gadis itu.


"Sangat penting!"


"Intinya bukan kamu bodoh!"


Vanya tersenyum sinis. "Jadi orangnya Kak Mel?"


Iraz diam. Membiarkan gadis itu membenarkan dalam hati.


"Apa bedanya denganku? Aku bahkan lebih cantik dari dia!" gumam gadis itu. Dia berlagak seperti menginginkan simpati.


Iraz menatap gadis itu dari sofa. "Sebenarnya aku tidak ingin terlibat dengan kalian, tapi mau gimana lagi, kalian saudarinya. Aku kasih tau satu hal, orang yang aku sukai berhati lembut, penuh candaan, tidak murahan, dan pintar melukis. Kau bisa memikirkan siapa dia. Jadi pergilah!"


"Kak Mel tidak sebaik itu!" Vanya sempat-sempatnya menyahut.


"Aku juga tidak pernah bilang orangnya Melanie!"


"Tapi hanya dia satu-satunya..."


"Kamu melupakan seseorang."


Vanya mencoba memikirkan arti perkataan Iraz. Siapa yang dia lupakan?


"Melanie adalah pelakor. Apa kamu juga ingin mengikuti jejaknya?"


Vanya tidak memperdulikan perkataan Iraz. Ia masih fokus pada perkataan pria itu yang mengatakan bukan Mel. Jika bukan gadis itu, dan bukan dia, maka siapa?


"Dia merebut Alvan, dan kau ingin merebut ku... sempurna mendapatkan gelar pelakor sisters."

__ADS_1


Vanya langsung ngeh. "Tunggu...apa maksud Anda orangnya adalah, kak Aine?"


__ADS_2