Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Makasih, Raz


__ADS_3

Aine bangun lebih awal hari ini. Ia harus memasak sesuatu untuk sarapan pagi Iraz.


Vanya heran melihat tingkah Aine yang tidak seperti biasanya. Tumbenan banget tidak banyak perintah, dan tidak marah-marah. Yang paling anehnya malah senyum-senyum sendiri.


"Maafkan saya jika terlambat bangun, Nona... sini saya yang masak.." gadis itu langsung mendekati Aine, ingin mengambil alih pekerjaan kakaknya.


"Nggak usah, ini masakan khusus. Kau kerjain aja yang lain," balas Aine.


"Oh, baik, Nona..." Vanya menunduk lalu meninggalkan Aine.


Gadis yang ditinggalkan itu tersenyum. Entah senyuman itu untuk siapa, yang pasti dia tersenyum tanpa alasan.


"Dia pasti sudah gila." gumam seseorang dari bawah tangga.


***


Malam hari tiba, Aine duduk menunggu seseorang. Beberapa kali ia melirik jam dan pintu bergantian. Berharap jam berputar lebih cepat agar Iraz---pria yang dia tunggu segera datang.


Tapi sial banget, jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Artinya dia harus menunggu kurang lebih empat jam lagi. Ini menyebalkan, tapi harus dia lakukan.


Sementara itu, Vanya sudah berdandan rapi. Ia hendak keluar untuk mengusir kebosanan. Dua sudah membuat janji dengan teman-temannya.


Gadis itu menatap pantulan wajahnya di depan cermin tua. Pakaian ketat dengan belahan dada terbuka membuat dia terlihat erotis. Riasan wajahnya sangat menor, apalagi ketika ditambah blush-on merah tebal plus eyeshadow biru cerah, benar-benar adiwarna. Tapi entah kenapa kemenoran itu yang membuat kecantikannya meningkat sepuluh kali lipat.


Vanya tersenyum, polesan terakhir jatuh di bibir mungilnya. Sebuah lipstik merah tebal digesekkan dengan lembut. Dan hasilnya luar biasa.


Ia meraih tas hitam yang terletak di atas meja rias, berdiri, menoleh ke belakang. Dilihatnya kedua Mama dan kakaknya sudah terlelap. Mereka pasti tidak akan sadar kalo dia keluar malam ini.


Tapi tunggu, bagaimana cara dia keluar dari rumah itu? Soalnya Aine pasti belum tidur. Kalo dia tertangkap, bisa-bisa hukumannya diperpanjang sampai lima tahun. Ih, siapa yang mau menjadi budak!


Vanya menyusun strategi. Pokoknya dia harus bisa bersenang-senang tapi tidak ketahuan oleh Mama dan kedua kakaknya. Must be able to do it.


Akhirnya dia menemukan jalan keluarnya. Jendela. Jadi dia akan keluar dari sana saja. Itu lebih aman. Tapi masalahnya, jendela di kamar itu hanya ada satu. Dan bertepatan di atas kepala mamanya. Jadi kalo dia ingin lewat dari sana, dia harus duluan melangkahi kepala mamanya . Lebih bahaya nggak sih? Bagaimana kalo wanita itu terbangun saat dia sudah berada di atas jendela, pasti Andari akan teriak. Dan hasilnya dia akan dua kali masuk ke lubang buaya.


Karena nyalinya ciut, Vanya memilih mengintip saja. Kalo Aine tidak di ruang utama, artinya dia bisa menyusup dari dapur. Tapi kalo gadis itu di sana, tidak ada jalan keluar selain melewati jendela.


Vanya membuka pintu kamar pelan tanpa mengeluarkan suara. Ia berjalan pelan melewati lorong. Soalnya kamar itu satu-satunya ruangan di belakang yang terpisah dari ruangan lainnya. Seolah tempat itu sengaja diciptakan untuk penyimpanan barang-barang rongsokan.


Ah, sial! Aine ada di ruangan tersebut. Dia sedang duduk sambil bermain hape.


Jadi tidak ada cara lain selain keluar dari jendela.


Vanya kembali masuk ke kamar kecil itu. Dia mengangkat kursi dan meletakkannya diatas kepala mamanya. Untung Melanie tidur agar jauh dari Andari, jadi kursi itu punya tempat untuk berdiri tanpa menjepit kepala, tangan, rambut atau apalah. Tapi masalahnya, kalo Andari tiba-tiba terbangun, dia tetap akan berteriak karena kursi yang ada di atas wajahnya. Tapi sudahlah, palingan hanya berteriak, tidak sampai stroke atau kejang-kejang. Aine juga pasti sudah tidur, tidak akan mendengar teriakan itu lagi.


Vanya sudah berdiri di atas kursi. Tapi sialnya hape yang sudah masuk ke dalam tasnya berdering kuat. Dia lupa mematikan volume hapenya.


"Asuuuu!" pekiknya dalam hati. Tangannya sigap menelusup masuk ke dalam tas, mematikan nada yang bisa saja membangunkan dua manusia yang sudah terlelap itu.


Melanie menggeliat, badannya berbalik.


"Mampus!" gumam Vanya.


Tapi keberuntungan berada di pihaknya, karena gadis cantik itu tetap menutup matanya. Langsung ia melanjut misi dengan naik ke bingkai jendela. Setelah itu melompat ke bawah.


Selamat, dia berhasil melewati semuanya. Akhirnya dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman-temannya di clab malam yang telah di tentukan. Ia hanya perlu pulang dini hari untuk menghindar ketahuan. Tapi kalo misalnya Mama atau kakaknya bangun, ia pasti kentara juga. Tapi sudahlah, kalo terlebih dahulu takut pada resiko, bisa-bisa ia melewatkan malam yang indah ini.

__ADS_1


"Bar, kamu dimana? Aku udah di luar gerbang rumahku," gadis itu menelpon seseorang.


"Udah otw baby, just a minute,"


"Jangan kelamaan, entar aku ketahuan!" Vanya melirik ke kanan dan ke kiri, takut ada yang memergok.


"Five more minutes baby, be patient."


"Oh, Sure? I'm really scared. Please speed it up to three minutes."


"Of course. I will try."


Setelah tiga menit, seorang pria bermobil biru berhenti di depan Vanya. Tanpa berfikir panjang gadis itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. "Ngebut, Bar!"


Pria dengan wajah sangar yang mengemudikan mobil untuk Vanya tersenyum kecil. "Oke." jawabnya memenuhi permintaan gadis itu.


Bara, pria berusia 24 tahun, seorang berandal yang terlahir di keluarga berada. Ia bisa mengendalikan dunia malam dengan mudah. Termasuk berbakat menggaet wanita manapun.


"Kita bisa malam ini, nggak?" tanya pria itu setelah setengah perjalanan mereka lewatkan.


"Kayaknya nggak bisa, Bar, aku lagi stress."


"Malah ini akan berguna untuk memperbaiki mood elo. Ayolah, sudah berapa bulan sejak kita tidak melakukan itu lagi." pria itu tersenyum penuh nafsu.


"Sorry, Bar, aku bukannya nggak mau. Cuman jangan malam ini, pliss..."


"Kenapa emangnya? Apa elo ada masalah?"


"Ya, baby, kakakku yang jelek itu kembali ke rumah. Dan aku stres dibuatnya," Vanya lebih tepat mengadu daripada bercerita.


"Iya. Tapi dia bukan gajah lagi, dia udah berubah menjadi bidadari." cerita Vanya. "Kau tau? Dia membalas perbuatan kami selama ini dengan cara memperbudak kami. Dia benar-benar menyebalkan,"


"Seriusan? Gua nggak percaya,"


"Iya, Bar, sumpah. Kapan-kapan kamu bisa mengintip dan memastikannya sendiri."


"Wah, bisa jadi mangsa baru kalo begitu,"


"Nggak bisa!" bantah Vanya.


Pria itu mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Dia punya seseorang yang luar biasa di sampingnya. Jangankan menjadikannya mangsa, menatapnya saja kau tak akan dibiarkan."


"Hahahaha, emang ada yang bisa melawan Bara Effendy? Sekuat apa orang itu hingga mampu melindungi kakakmu yang bodoh itu?"


***


"Malam, Ai..."


"Tumben datangnya lebih awal? Bukannya harus tengah malam, ya?" Aine kaget, tapi senang melihat sesosok pria berdiri di depan pintu.


" Keburu mati menahan rindu, Ai... nggak tahan menunggu sampai tengah malam. Hehehe,"


"Gombal lagi!" gadis itu memanyunkan bibirnya. "Mau makan apa malam ini?" gadis itu ngegas ke inti pertemuan mereka.

__ADS_1


"Ngga usah, Ai, aku dah makan kok."


"Lah? Jangan bilang mie instan lagi!"


"Enggak, kok. Makanan yang kau berikan tadi aku hangatkan, nggak habis soalnya,"


"Oh, yaudalah,"


Iraz menatap wajah Aine. "Duduk di taman, yuk... kayaknya enak mandangin bulan berduaan,"


Gadis itu tersenyum, "dingin, Raz..." balasnya manja.


Pria itu menarik tangan Aine, membawanya ke taman depan rumah yang di sinari lampu redup. Udara memang dingin seperti yang dikatakan Aine.


"Aku punya hadiah buat kamu," kata Iraz memulai obrolan.


Aine yang memeluk tubuhnya sendiri langsung berseri. "Apa, Raz?" dia orang paling heboh kalo mendengar ada hadiah dari Iraz.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. "Tada..." ternyata hanya sekuntum mawar merah.


Senyum gadis cantik itu merekah. "Wah, tumben banget kasih bunga.." katanya menerima tangkai itu.


"Hahahaha, tadi lewat dari depan rumah tetangga, eh kebetulan bunganya mekar, aku colong deh," jawab Iraz.


"Ya.. ternyata hasil curian!" Aine tersenyum kecil.


"Sekarang hasil curian dulu, nanti kalo akhirnya kita nikah, di situ aku bakalan beli bunga yang sangat-sangat banyak, sampai kamu tenggelam di dalamnya."


Aine tersenyum lagi. "Makasih, Raz." ucapnya menggenggam bunga itu.


Iraz menatap lurus ke depan. "Selalu saja makasih. Berbuat dikit kek," omel pria itu.


"Makasih, Raz.." tiba-tiba Aine menempelkan bibirnya ke pipi kanan Iraz. Mencium pipi pria itu sekali.


Iraz langsung melotot. Ia menyentuh pipinya yang lembab akibat ulah Aine.


"Kamu nyium aku, Ai?" tanyanya menatap Aine.


Gadis itu menunduk. "Maaf, Raz. Kamu marah, ya?"


Pria itu menelan ludahnya. "Aku nggak bakalan cuci muka sampai besok, Ai. Ini stempel pertamamu." reaksi tidak terduga diberikan pria itu.


Aine mengangkat wajahnya, menatap Iraz yang juga menatapnya.


"Kasih satu lagi, Ai, fix aku ngga bakalan cuci muka sampai satu Minggu." Iraz mendekatkan pipi kirinya pada Aine.


"Apaan sih, Raz!" protes gadis itu malu.


"Cepat, Ai, keburu leherku patah!" pria itu mendesak.


Karena percaya dengan omongan Iraz, Aine benaran mencium pipi kiri pria itu.


"Udah, Raz..." ujarnya memberitahu.


"Ya ampun... sesenang ini mendapat ciuman." dia menyentuh area wajahnya yang di cium Aine. "Aku mau sekali lagi, dong!"

__ADS_1


__ADS_2