
"Kenapa kamu membohongiku, Mel?" Alvan menatap gadis yang duduk di hadapannya.
"Bohong tentang apa?"
"Ain."
Mel menatap Alvan dengan ekspresi malas. "Sudah deh, nggak usah ungkit! Aku muak mendengar namanya!" gadis itu berujar tajam.
"Tapi kamu bohong! Aku tidak bisa tidak mengungkit!"
"Alvan! Tolong ngerti sedikit saja, aku lagi stres mikirin dia, tolong jangan ditambahi!" seru Melanie malas.
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, Mel. Aku sudah berusaha menyukaimu, tapi rasanya sulit. Nama Ain tidak bisa tergantikan," Alvan sudah berencana memberitahu itu sejak lama, tapi entah kenapa selalu tertahan. Namun kali ini dia sudah bertekad bulat untuk memberitahu yang sebenarnya, agar tidak ada yang tersakiti.
Melanie mengangkat wajahnya sinis. "Kenapa sih, semua orang tertarik padanya? Oke, mungkin dia sudah berubah sekarang, tapi semua sudah menyukainya bahkan ketika dia masih buruk rupa!"
"Kamu gak ngerti satu hal, Mel! Tidak semua orang memandang fisik. Tidak selamanya kecantikan menjadi standar seseorang," balas Alvan.
Melanie mengangguk. "Jadi aku tetap tidak bisa menggantikannya? Itukah maksudmu?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Melanie terlebih dahulu. Menelisik kulit gadis itu yang berubah akhir-akhir ini. Tidak glowing seperti sebelumnya. Malah berminyak dan banyak timbul flek hitam. Beberapa jerawat juga berbenjolan menghiasi keningnya.
"Jawab, Alvan!" desak Melanie.
"Iya, maafkan aku."
"Apa karena kamu tau kalo Aine sudah kembali? Dan dia datang dengan wujud yang berbeda?" Melanie menyipitkan matanya.
"Tidak, aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Sejak lama aku memendam ini Melanie, bahkan sejak pertama kau mengancam ku. Rasanya berat meninggalkan orang seperti Ain, tapi demi dia, aku rela tersakiti. Namun kali ini, aku tidak ingin jadi pecundang."
Mel mendengus kesal. "Kau tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Dia sudah punya lelaki yang seratus kali lebih baik darimu. Mending kamu tetap bersamaku aja deh," tawar gadis itu.
"Nggak bisa, Mel. Aku akan tetap mengejar dia meski pria di sisinya adalah orang hebat. Aku yakin, dia pasti akan memilihku, karena kami pernah saling mencintai." semudah itu Alvan mengatakannya.
"Baik, terserah kamu. Untuk kali ini, aku tidak punya senjata untuk mengancam mu. Lagian aku sedang berada di situasi sulit. Jadi lakukan sesukamu!"
Alvan mengangguk. "Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Bahkan seluruh sikap yang seharusnya didapatkan Ain sudah kuberikan padamu. Jadi kumohon dengan sangat, jangan berniat membunuhnya lagi,"
Mel tidak menjawab. Sepertinya ia malas meladeni pria yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.
"Mel, kumohon, biarkan dia hidup bahagia,"
"Tanpa kau minta, dia akan tetap bahagia. Tuan Inui bersamanya, tidak mungkin dia tidak bahagia. Aku tidak punya kesempatan untuk menyakitinya lagi!" Mel berdiri, mengangkat tas nya. "Baiklah, kita putus. Tapi jika kamu ragu atau ingin kembali padaku, datanglah, aku akan selalu menunggumu."
"Oke, Mel." jawab Alvan tanpa bergerak.
"Berjuanglah, jika kamu mendapatkan Aine kembali, maka aku bisa mendapatkan Tuan Inui. Jadi aku tidak akan keberatan jika kalian kembali bersatu," senyum licik gadis itu terkembang, menunjukkan dia juga punya rencana lain setelah putus dari Alvan.
"Intinya, apapun yang akan terjadi, kumohon jangan sakiti Aine lagi. Itu yang paling penting bagiku. Berjanjilah akan hal itu," ujar Alvan semangat.
"Oke, tapi tidak sepenuhnya. Jika aku punya kesempatan untuk melukainya, maka akan kulakukan. Tapi kayaknya tidak mungkin deh, dia sudah punya dua pria hebat sebagai tameng. Akan susah menembusnya!" Mel menatap Alvan, melambai. "Aku pergi, dahhh!"
__ADS_1
***
"Tinggal dua hari lagi, Ai... kamu yakin tidak akan memperpanjang masa hukuman mereka?" Iraz bertanya saat keduanya berada di kamar Aine.
"Nggak, Raz. Kayaknya cukup, deh. Dendam ku terbalaskan dengan sempurna," gadis itu menatap Iraz, tersenyum manis.
"Bagus, dong. Akhirnya Semangat hidupmu bisa kembali tertata." Iraz yang sedang sibuk menyusun puzzle segera menyelesaikan pekerjaannya. "Dan aku berhasil membantumu. Iya, kan?"
Aine mengangguk. "Iya, makasih, Raz."
Pria itu bangkit, lekas dia duduk di samping Aine.
"Ternyata sudah tiga bulan kau tinggal di sini. Tidak terasa banget, ya,"
"Iya. Rasanya tuh kayak baru kemarin aku berkuasa. Aku jadi pengen tetap jadi penguasa," oceh Aine.
"Bisa kok, Ai, asal kamu mau aja. Aku bisa menyuruh mereka tetap jadi budak, bahkan sampai ajal mereka."
Aine tertawa renyah. "Nggak ah, sudah cukup balas dendamnya. Intinya kan aku udah bahagia sekarang."
Pria itu memalingkan wajahnya ke jendela yang terbuka, menatap ribuan bintang yang bersinar di langit.
"Aku ingin selalu bersamamu, Ai." tiba-tiba ucapan itu terlontar begitu saja.
"Apa?" Aine pura-pura tidak mendengar.
"Hatiku terasa hangat di sampingmu. Aku ingin selalu seperti ini." kata Iraz mengganti objek yang dipandang.
Jantungnya berdebar saat bersama Aine entah itu disebabkan senyum manis Gadis itu, atau tatapan mata yang tiba-tiba saling bertemu, ataukah karena tangannya yang acap kali bersinggungan dengan tahan Aine.
"Kamu jantungan, Raz?" Aine tertawa menunjukkan perhatiannya.
"Nggak, kok." jawab pria itu agak gugup.
"Tapi dadamu tampak berdegup kencang. Kelihatan banget, tau!" gadis itu mengelus punggung Iraz supaya lebih rileks.
"Itu hal yang wajar, Ai! Kalo jantungku tidak berdegup, artinya aku tidak hidup dong!" berusaha mencari alasan agar gugupnya tidak disadari.
"Hehehehe, iya juga, sih." dan bodohnya Aine mempercayai apa yang dikatakan pria itu.
Keduanya kembali terdiam. Kamar bernuansa modern itu tampak sunyi tanpa suara mereka.
"Vanya di keluarkan dari daftar beasiswa. Apa kau tau itu?" tanya Aine pada Iraz.
"Benarkah? Wah, sayang sekali!" Iraz pura-pura terkejut.
"Iya, ternyata dia melakukan banyak pelanggaran selama menempuh pendidikannya. Aku nggak nyangka,"
"Kamu sedih, Ai?"
"Nggak sih. Cuman kasihan aja liatnya."
__ADS_1
"Kok kasihan, sih? Kan salahnya sendiri. Bahkan hukumannya itu udah lumayan loh, gimana kalo tadinya dia dikeluarkan dari sekolah? Mengingat pelanggaran yang dia lakukan bukanlah kesalahan kecil!"
Aine mengerutkan keningnya. Ia jadi heran pada Iraz. "Kok kamu tau kesalahannya?"
"Tentu saja aku tau! Yang membongkar semua kebusukannya adalah aku. Dan kenapa dia berkahir seperti sekarang, juga karena aku!"
"Apa?" Aine terkejut.
Ups! Ternyata Iraz keceplosan.
"Jadi kamu pelakunya?" gadis itu tersenyum.
Tidak mampu menutupi lagi, akhirnya Iraz mengangguk.
Tidak disangka, setelah mendengar jawaban Iraz, Aine memeluk pria itu.
"Eh, kok?"
"Akhirnya aku tau kenapa kau mendekatinya selama ini. Ternyata bukan karena kau suka padanya, tapi karena kau ingin menguras informasi. Iya, kau?" Aine mempererat pelukannya.
"Hahahaha, iya. Aku kira kau bakalan marah kalo tau misiku ini. Ternyata malah senang." Iraz membalas pelukan gadis itu.
"Raz, udah tiga bulan berlalu, dan aku masih saja penasaran dengan hadiah mu malam itu." Aine melepaskan pelukannya.
"Hadiah apa?" sejujurnya Iraz memang sudah melupakan hari itu.
"Yah, lupa ternyata!" gumamnya pelan. "Itu loh, Raz, yang kau bilang aku belum siap menerimanya!" Aine memperjelas.
"Ohhh." Langsung ngeh. "Kau mau sekarang?"
"Hmm, iyah." tersenyum secerah mentari
"Ya udah, tutup matamu!" perintah Iraz. Yang disuruh langsung menurut.
"Nah, ini dia hadiahnya!" Iraz memegang wajah Aine, lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir gadis itu.
Sungguh, Aine tersentak. Ia tidak yakin dengan apa yang dilakukan Iraz.
"Raz? Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Aine setelah membuka mata.
"Menurutmu?" malah balik bertanya.
"Kau menyentuh bibirku."
"Hahahaha, benar."
"Apa itu hadiahnya?" tanya Aine agak kecewa.
"Hmm, iya." balas Iraz singkat. "Kenapa emang?"
"Kurang panjang!"
__ADS_1