Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Berusaha Mencintai adalah Sebuah Luka


__ADS_3

Hari-hari berganti. Banyak hal yang terjadi. Berbagai luka dan kesedihan bercampur membuat seorang Iraz tidak dapat menunjukkan senyum manisnya. Hanya tampang murung yang selalu tergambar di sana.


Pagi ini Iraz sudah bersiap berangkat ke kantor. Ia sudah keren di bawah balutan jas hitamnya.


"Stevan!" kepala Vey menyembul dari balik pintu.


Pria itu menoleh. Tidak menyahut tapi siap mendengar apa yang hendak dikatakan oleh kakaknya.


"Segera turun untuk sarapan ya..."


Lagi-lagi tidak ada sahutan. Pria itu masih sibuk dengan setelan rambutnya.


"Van, kamu dengar, kan?"


"Hmmm." akhirnya dia buka mulut.


"Ya udah, aku turun duluan, ya," kata Vey menutup pintu. Dia berjalan menuruni anak tangga.


Pria itu terdiam menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Sempurna. Tidak ada yang kurang di sana. Itu wajah yang diinginkan oleh semua orang. Tapi... tapi sesuatu telah hilang. Semangat dan senyuman hangatnya tidak pernah terlihat lagi. Mungkin sejak dia pertama sekali menginjakkan kaki di rumah besar itu.


"Raz, kamu harus bisa menyelesaikan semua ini. Mari memulai hidup yang diinginkan Papa. Kamu harus bisa!" Iraz mengepalkan tangannya, menatap wajahnya yang dipenuhi ekspresi sakit hati.


"Karena kamu ada untuk merasakan rasa sakit."


***


"Selamat pagi, Kiking..." Zizi menyapa pria yang baru saja turun dari lantai atas.


Pria itu memasang ekspresi datar tanpa berniat menjawab. Ia seperti mayat hidup yang berjalan tanpa pernah bicara. Paling kalo bicara hanya seadanya saja. Hmm, oh, ya, ok, y, g dan lain lain.


Dari awal Iraz memang termasuk kategori manusia dingin. Tapi setidaknya dulu dia masih sering tersenyum. Juga ramah pada ponakan. Minimal setiap harinya dia bakal bersedia menggendong salah satu ponakannya. Mengajaknya bermain bahkan membawanya jalan-jalan. Namun setelah kembali seperti sekarang, dia berubah seratus delapan puluh derajat. Same face but not the same personality.


"Stevan, kamu sarapan dulu..." kata Vey menyambut adiknya.

__ADS_1


Stevan diam. Dia menatap sarapan yang disediakan di atas meja. Sangat tidak masuk akal baginya. Sudah sejak lama dia tidak menyukai sarapan berkelas seperti yang tersedia sekarang. Berbagai macam makanan yang tersaji terlihat membosankan baginya.


Pria itu melewati meja makan. Berjalan menuju dapur. Entahlah apa yang ingin dia lakukan. Keanehannya sudah cukup membuat mereka bingung. Jadi biarlah pria itu melakukan apapun yang dia mau tanpa dicampuri. Sepertinya itu yang dia inginkan.


"Dia kenapa sih, Sayang?" tanya Axel, suami Vey.


"Nggak tau tuh. Kayaknya shock karena semua keadaan ini." jawab Vey tak acuh.


"Aku malah berfikir dia begitu karena seseorang."


"Maksud kamu?" Vey mengehentikan mulutnya mengunyah. penasaran dengan maksud suaminya.


"Ya kali aja dia memiliki kekasih di sana. Mungkin saja dia merasa kehilangan orang itu karena dia akan segera melangsungkan pernikahan dadakan." jelas Axel.


"Nggak mungkin, Sayang! Stevan nggak mungkin jatuh cinta pada siapapun. Kalo saja dia mencintai seseorang, tindak mungkin dia melewati semua hari harinya. Lagipula, Stevan bukan pria yang mau disukai. Apalagi menyukai. Kayaknya ini karena masalah lain deh,"


"Iya. Tapi apa?" Axel menatap wajah istrinya.


"Mungkin saja dia sangat terpukul dengan berita Papa yang terbilang buru-buru dengan semua penyakitnya. Atau karena dia tidak pernah ramah di sana. Pokoknya banyak kemungkinan, Sayang..."


"Yah.. kita tau itu."


Sepuluh menit berlalu, Iraz kembali muncul dengan mie instan cup di tangannya. Dia turut bergabung dengan keluarganya di meja makan.


"Mie instan lagi?" Vey menyorot adiknya.


Iraz tidak memperdulikan kakaknya. Lebih fokus ke makanan yang masih tertutup.


"Kamu kenapa sih, Stevan?"


Iraz mengangkat wajahnya, menatap kakaknya kesal. "Emang aku kenapa?"


"Kamu itu aneh! Lihat apa yang kau lakukan sejak kembali! Tidak pernah makan-makanan yang sehat! Selalu mie instan. Lihat juga wajahmu yang selalu murung itu! Kamu juga kerja dari pagi sampai larut! Maksud mu melakukan itu apa?" Vey bukannya marah, tapi ia turut prihatin dengan adiknya yang luar biasa aneh.

__ADS_1


"Itu terserah aku." jawab Iraz melahap mie instan nya.


"Iya, itu terserah kamu. Tapi plis pikirin hidup kamu. Tolonglah jangan abaikan kesehatanmu. Ini penting loh," Vey berkata frustasi.


"Iya Stevan. Ayolah, jangan seperti ini. Dulu kamu orang paling peduli dengan kesehatan. Masa sekarang kamu abai!" Axel ikut-ikutan menasehati adik istrinya.


"Urus saja urusan kalian." sahut Iraz. "Aku baik-baik saja."


"Aduh, kamu nggak ngerti, Stevan! Kami yang tersiksa melihat kamu begini. Hanya kamu yang mengatakan kamu baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya kamu tidak baik-baik saja."


Zizi melihat pria itu. Tiba-tiba ia menghentikan makannya. "Daripada Kiking makan mie instan, mending Kiking makan bubur Zizi aja. Nggak apa-apa kok. Zizi tidak akan keberatan selama Kiking yang makan." Zizi turun dari kursi, mengangkat semangkuk bubur yang sudah sempat ia pangan. Meletakkannya di depan Iraz.


"Kata Mama, kita nggak boleh mengonsumsi makanan instan dalam jumlah yang banyak. Karena akan berubah menjadi penyakit. Jadi Kiking harus makan ini agar tidak sakit." kata Zizi semangat.


Axel yang melihat putrinya demikian tersenyum penuh haru. Ia ingin Iraz menghargai usaha Zizi agar gadis kecil senang. Tapi, keadaan yang tidak diinginkan terjadi.


"Udah. Aku udah kenyang." tolak Iraz. Ia berdiri lalu membawa cup mie instannya pergi menuju pintu keluar. Sepertinya dia akan membuangnya di tempat sampah yang ada di depan.


"Jangan sedih, Sayang... nanti malam kita coba lagi. Tersenyumlah," hibur Axel.


"Iya, Zizi nggak sedih kok. Zizi senang banget melihat Kiking mau makan. Gimana kalo tidak, kan lebih bahaya lagi..." gadis itu ikut-ikutan menghibur dirinya.


"Anak Mama udah pinter ternyata." Vey tersenyum tulus pada putrinya. Tentu saja dia tau putrinya sakit hati gara-gara penolakan Iraz.


"Iyalah, kan ponakannya Kiking." Zizi tersenyum balik. Melihat dari tingkahnya, Zizi tak pantas berusia tujuh tahun. Tapi percaya atau tidak, dia tetap gadis kecil yang berusia tujuh tahun. Special little girl.


"Nanti malam Zizi bakal masak untuk Kiking. Semoga saja dia mau."


***


Iraz masuk ke ruangannya setelah melewati perjalanan cukup panjang. Dia mandiri sekarang. Tidak butuh supir pribadi. Tidak butuh pengawal pribadi juga. Dia bisa sendiri tanpa bantuan orang lain.


Saat baru pertama melangkah keluar dari mobil, Iraz sudah mendapatkan banyak penghormatan serta sapaan. Dan ini terjadi semenjak dulu, semenjak dia menyerahkan diri untuk menempati kursi kebesaran papanya. Entahlah semenjak umur berapa itu, dia juga sudah lupa.

__ADS_1


Pria itu menatap ke depan. Cukup terkejut melihat seorang wanita sudah menunggu nya.


"Erin yang menyebalkan!" gumamnya kesal.


__ADS_2