Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kunjungan Aine


__ADS_3

Oh, ternyata seperti itu wajah Iraz. Tampan kok ditutupi.


***


Iraz tak pernah lagi menutup wajahnya semenjak hari ulang tahun Aine. Ia pikir tidak ada gunanya lagi menutup-nutupi itu. Toh Aine sudah melihatnya.


Hidup pria itu bertambah damai semenjak mengabulkan permintaan Aine. Ia tidak perlu repot-repot lagi untuk memastikan gadis itu tidak macam-macam padanya. Tidak perlu mengecek CCTV setiap hari, tidak perlu mengunci pintu kamar saat bepergian dan pastinya bebas melakukan apapun tanpa terhalang masker lagi.


Dan akhirnya Aine pun tau alasan mengapa Iraz berusaha menyembunyikan identitasnya. Kata Iraz demi keamanan dan keberlangsungan hidupnya.


Ternyata Aine tidak salah. Ia memang pernah melihat wajah Iraz di tivi. Pria itu mengakuinya. Dia bilang, ia pernah berpartisipasi sebagai model demi mempromosikan produk baru yang mereka luncurkan. Dan iklan yang dia bintangi itu bersifat global advertising. Makanya Iraz merasa takut untuk menunjukkan diri. Ia tau ada banyak orang yang akan julid padanya kalo sampai menguak rahasianya.


Pagi ini Iraz dan Aine makan bersama di meja yang sama. Ternyata makan seperti ini lebih menyenangkan. Mereka bisa saling berkomentar. Bukan seperti yang biasa terjadi---saat Aine harus mengantarkan makanan untuk Iraz dan pria itu menutup pintu untuk makan. Membagongkan.


"Ai, kau bisa jadi koki loh," kata Iraz pagi ini.


"Koki apaan! Nganggar garam aja belum tamat!" sahut gadis itu.


"Eh, beneran loh, Ai! Saranku sih mending sekolah lagi buat jadi koki benaran. Sayang bakatnya terlewatkan."


"Hehehehe, nanti aku pikirin deh. Tapi cita-citaku bukan koki Raz, gimana dong?"


"Jadi pelukis, ya?" tebak Iraz.


"Benar, Raz. Hehehe. Aku ingin jadi pelukis yang terkenal. " sambung gadis itu.


"Itu juga bagus. Berkarya lah sebanyak mungkin, entar aku bantu promosikan." Iraz menjeda sejenak. "Tangan seperti itu yang seharusnya di butuhkan dan di hargai, bukan tangan orang-orang yang memiliki uang. Aku bangga padamu, Ai, ternyata kau masih memiliki cita-cita."


Aine tersenyum. Iraz tuh selalu saja membuatnya senang.


"Oh iya, Ai, hari ini kita bisa mengunjungi rumah orangtuamu. Kau bisa melihat-lihat keadaan dulu sebelum memutuskan. Sekalian mengambil barang yang kau bilang kemarin," Iraz bicara sambil mengunyah nasinya.


Aine langsung berseri. "Benarkah?"


"Iya, Ai. Tapi saranku jangan terlalu kaku saat bertemu mereka. Kau harus sombong dan bersifat menindas. Dan untuk sementara ini kita harus menyembunyikan identitas. Aku sudah mempertimbangkan keputusan ini." Iraz menatap Aine sebentar kemudian kembali ke sepiring nasi goreng di depannya.


"Kenapa harus menyembunyikan identitas?" tanya Aine bingung.


"Pokoknya begitulah pertimbangannya. Kalo kau ingin berhasil dalam misi ini, maka ikuti aja permainanku. Ini akan menjadi pemanasan yang menyenangkan." senyum Iraz mengembang sempurna.


Aine mengangguk. "Tapi bagaimana kalo aku keceplosan atau gagal?"


"Jangan takut, aku ada kok. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah berakting sebisa mungkin. Oke?" Iraz melemparkan senyum manisnya pada gadis itu.


"Oke, Raz." jawabnya deg-degan.


Mereka berdua melanjutkan makannya.


"Sial! Sekarang giliran ku yang nyuci piring!" ujar Iraz setelah selesai makan.


"Kalo kamu malas aku bisa kok gantiin. Ga apa-apa kok, Raz." tawar Aine.


"Nggak, Ai. Aku harus belajar tanggung jawab. Dulu waktu aku tinggal di rumah Papa, aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Sekarang aku harus tanggung jawab karena ini bukan rumah papa!" Iraz berdiri sambil mengumpulkan piring kotor mereka. "Nggak apa-apa, Ai, kau udah sering gantiin pekerjaan ku. Kita udah bagi jadwal dan aku akan mengikutinya."


Aine tidak tau harus berbuat apa. Ingin senyum tapi ia takut Iraz menganggapnya tidak waras. Ingin memuji, ia ragu apa hal kecil seperti itu layak untuk dipuji. Jadi dia hanya bisa mengagumi pria itu dalam hatinya.


***


"Ai, kita boleh masuk setelah lewat jam empat." Iraz memberitahu setelah ia selesai menyuci piring.


"Kenapa jam empat?"

__ADS_1


"Aku udah hubungi Isman, katanya mereka ada acara. Katanya jam empat baru pulang."


"Yah, lama banget! Mana ini masih pagi!" rengek Aine.


Iraz tersenyum kecil. "Kita bisa menggunakan waktu yang tersisa untuk merubahmu menjadi bidadari."


"Maksudnya?"


"Ikuti aku, Ai!" pria itu menarik tangan Aine dan membawanya ke dalam mobil. Iraz melajukan mobil ke pusat kota


Aine sebenarnya bingung dengan Iraz. Dari tadi pria itu diam. Ia ingin bertanya tapi segan juga. Yaudalah, ikuti aja apa yang ingin dia lakukan, toh Iraz pasti merencanakan sesuatu yang asik.


"Sulap pacar saya menjadi bidadari!" perintah Iraz pada seorang wanita setelah mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup ramai.


Aine terkejut tapi tidak berkomentar. Sebenarnya lebih terkejut karena Iraz menyebutnya pacar sih.


"Baik, Tuan." Jawab wanita itu penuh senyuman.


"Raz, aku mau diapain?" tanya Aine takut. Ia memeluk lengan pria yang tertutup masker itu.


"Kok takut sih, kan mau membalas,"


"Tapi..."


"Pergilah Ai, ini demi aku."


***


Aine merasa menjadi orang yang berbeda ketika didandani seperti sekarang. Cantik memang, tapi nggak enak aja karena tidak pernah.


Pakaian serba pendek dan ketat, rambut di sosis, make up tebal, high heels, lipstik tebal pokoknya segala sesuatu yang ada di tubuhnya saat ini membuatnya tidak nyaman. Ia tidak mengerti kenapa dia harus dipernik sampai segitunya.


"Raz..." panggil Aine pada laki-laki yang yang sedang bermain hape di luar.


"Ai, kamu cantik banget," Iraz kelepasan memuji.


"Hehehe, makasih, Raz. Tapi aku tidak nyaman, rok ini terlalu pendek," sahut Aine sambil berusaha menurunkan roknya.


"Untuk kali ini nggak apa-apalah, Ai. Tahankan aja dulu," Iraz melirik sekitar, situasi yang bagus karena lagi sepi. Ini artinya dia punya kesempatan untuk membuka maskernya.


"Mbak..." Iraz memanggil seorang wanita yang kebetulan lewat.


"Iya?" jawab wanita yang kira-kira berusia delapan belas tahun.


"Fotokan kami dong," mintanya menyodorkan hape.


Wanita itu tidak menjawab, tapi tersenyum seraya menerima sodoran pria itu.


Iraz langsung memeluk Aine, ia tersenyum lebar. Sama dengan Iraz, Aine juga tersenyum lebar. Tinggi mereka hampir sama karena high heels yang digunakan Aine. Padahal aslinya Aine itu pendek jika tidak dibantu dengan high heels.


Dalam beberapa potret mereka melakukan hal yang sama. Sama-sama tersenyum, sama-sama bergaya, dan sama-sama deg-degan.


Jam 16.40 Iraz dan Aine sampai di rumah Isman. Iraz memberikan masker pada Aine. Dia bilang, bukan hal yang sulit untuk mengenali wajah itu. Meski dia berbeda, tapi tetap aja Aine yang dulu masih mirip dengan Aine yang sekarang.


"Ingat, kau harus bertingkah seolah kamu adalah wanita dari kalangan sosial tinggi. Cobalah bicara dengan logat bahasa asing. Semaksimal mungkin tunjukkan gaya yang angkuh. Dan jangan lupa untuk menekan habis mereka. Oke?" Iraz berkomat kamit ketika mereka masih di depan gerbang.


Aine menarik nafas. Ia menatap mata Iraz dan mengangguk penuh keyakinan. "Oke, Raz." jawabnya semangat.


"Aku akan duduk di sampingmu. Jadi jika kau tidak tau harus berbuat apa, tinggal lihat hapeku, aku akan mengetik apa yang harus kau lakukan. Kau mengerti?" tanya Iraz sekali lagi.


"Baik, Raz." jawab Aine yakin. Ia menatap wajah Iraz yang tertutup masker juga.

__ADS_1


Iraz meraih tangannya. "Kau harus berhasil, Ai, ini penentunya apa kau bisa menguasai mereka." Iraz menyalurkan kekuatan pada gadis itu.


"Iya, Raz. Terimakasih."


Iraz mengangguk. "Kita masuk sekarang." Keduanya melangkah menembus gerbang.


Sebelum mereka masuk, Aine dan Iraz disambut seorang pembantu. Katanya dia disuruh oleh Isman untuk menyambut mereka.


Aine lumayan terkejut mengetahui bahwa di rumahnya yang sekarang sudah ada pembantu. Tapi dia menahan untuk tidak buka suara.


"Eh, kalian udah datang..." Isman langsung menyambut kedatangan mereka. "Silahkan masuk Tuan Inui dan Nona."


Aine yang semula mengenakan kacamata hitam kini berlagak kayak artis papan atas yang dengan pedenya melepas kacamata itu dengan gaya elite. Ia menatap ayahnya dengan tatapan sinis.


Aine dan Iraz mengikuti langkah Isman. Pria itu mengajak mereka untuk duduk di ruang tamu yang sudah disulap khusus.


"Silahkan duduk Tuan, Nona," Isman mempersilahkan.


Tidak ada yang menjawab, mereka sama-sama bertingkah angkuh.


"Tunggu sebentar, saya akan memanggil anak dan istri saya." Isman menunduk, lalu detik kemudian dia menghilang entah kemana.


Ini kesempatan yang bagus untuk Iraz dan Aine berdiskusi. Mereka membicarakan tindakan kedepannya.


"Hai, Nona, Tuan... selamat sore..." Andari dan kedua putrinya menyapa dengan penuh senyuman. Mereka bertiga berdandan layaknya ingin menghadiri pesta besar. Mungkin Isman yang mengatur ini, mengira bahwa dengan berdandan seperti itu akan membuatnya mendapat nilai plus.


Aine menatap ketiganya bergantian. Tidak ada yang berubah. Bahkan setelah ia menuliskan surat ancaman pada seisi rumah itu, tetap aja tidak ada yang peduli atau mencarinya. Lihat aja wajah menjijikkan keempat manusia itu.


"Hai Nona, perkenalkan mereka keluargaku." kata Isman.


Aine berdiri, keluar dari kursinya. Ia mendekat ke arah ketiga wanita itu.


"Hy, My name is Zhang Mirae. Aku pemimpin perusahaan YZ di lima negara." Aine pura-pura memiliki jabatan tinggi. Ia dengan angkuhnya mengulurkan tangan pada Andari.


"Oh, hai Nona Zhang. Senang bertemu dengan anda. Saya Andari, istri Isman." Ujarnya memperkenalkan diri.


Aine mengangguk. Kemudian beralih menjabat tangan Vanya dan Melanie.


"Kalian gadis-gadis yang cantik. Boleh dong aku tau namanya?" Aine berhasil membuat akting seolah-olah di orang asing di rumah itu.


"Aku Vanya, anak paling kecil di rumah ini," ia buru-buru mengulurkan tangannya agar Melanie tidak mendahuluinya.


"Nama dan wajahnya sesuai. Sama-sama menjijikkan." ujar Aine blak-blakan.


Vanya terkejut mendengarnya. Senyum di bibirnya seketika lenyap entah kemana.


"Kenapa cemberut?" tanya Aine ketika menyadari perubahan mimik gadis kecil itu.


"Anda mengatakan saya menjijikkan?"


"Iya. Bukannya benar?" dia pura-pura menatap Iraz. "Menjijikkan itu sama dengan cute kan?" ia mengedipkan sebelah matanya pada Iraz.


"Bukan Nona, cute itu menggemaskan." Iraz meladeni permainan Aine.


"Iyakah?" gadis itu kembali menatap Vanya. "Maaf adik kecil, aku belum lancar bahasa kalian, jadi maklum aja jika aku tidak bisa membedakan menggemaskan dan menjijikkan,"


Vanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Nona, saya mengerti kok."


Untuk pertama kalinya Aine puas melihat Vanya tidak banyak bacot.


Kini ia beralih ke Melanie. Gadis yang paling melukainya akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Melanie," ucap Melanie menyebutkan namanya.


"Zhang Mirae." balas Aine. Ia menatap tajam kakaknya yang sangat menyebalkan itu.


__ADS_2