
"Kenapa kau penasaran dengan wajahku?" tanya Aine menatap Melanie setajam silet.
"Hmmm, aku hanya merasa agak familiar dengan Anda."
"Benarkah? Jika demikian kalo aku menunjukkan wajahku pada kalian, apakah kalian mau menanggung resikonya?" Aine mendaratkan tangannya di kuping, hendak melepas tali maskernya.
"Resiko apa, Nona?" kini Vanya yang bertanya.
"Kalian akan kehilangan segalanya. Karena memintaku menunjukkan wajah sama aja membuang moodku!" Aine tersenyum di balik maskernya.
Melanie mempertimbangkan. Dia amat penasaran dengan wajah gadis di hadapannya, tapi di satu sisi dia tidak ingin menggembel.
"Kau pilih yang mana Melanie?"
"Tidak usah, Nona Zhang. Saya rasa Anda pasti sangat cantik, seperti yang kupikirkan sekarang." gadis itu tersenyum lebar.
"Berarti tidak usah ku tunjukkan, begitukan?"
"Iya, Nona. Cukup beritahu aja umur Anda. Saya penasaran juga tentang hal itu." balas Melanie.
"Kenapa penasaran?"
"Karena Anda terlihat sangat luar biasa."
Aine menatap Iraz. Pria itu sudah menyimpan hapenya. Tapi pria itu tetap membantu dengan memberikan kode 27. Pertama dia mengangkat dua jarinya, kemudian dilanjut dengan tujuh.
"27." jawab Aine sesuai anjuran Iraz.
"Wahhh, usia semuda itu sudah mampu memimpin perusahaan besar. Luar biasa sekali..." Melanie bertepuk tangan.
"Ya ampun, apa aku terlihat setua itu?" batin Aine.
"Yah, kau benar." sahut Aine malas. "Oh iya, aku akan menjawab rasa penasaran kalian. Tentang kenapa aku menutup wajahku. Sebenarnya tidak ada alasan khusus, hanya saja aku sangat anti dengan kuman, virus dan bakteri. Dan sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini, aku tuh melihat kalian digadrungi virus ama kuman. Virus nggak ngotak, kuman sok-sokan, virus belagu dan lain-lain. Aku jadi tidak sudi buka masker. Bagaimana kalo virus kalian menjangkiti kami?" lihat betapa pintarnya Aine mengarang hal-hal yang tidak masuk akal.
"Tidak Nona, kami higienis kok," jawab Andari. "Kami..."
"Udahlah! Aku udah bosan di sini." gadis itu berdiri. "Ayo, Raz..." ia keceplosan bicara. Tapi untung tidak ada yang menyadarinya.
"Kalo begitu kami pergi. Sambutan kalian sangat luar biasa." Iraz menunduk pada keempatnya.
Karena melihat Iraz menunduk, Aine juga melakukan hal yang sama. Ia berkata, "Sebagai informasi, kalian membuatku senang hari ini. Tunggu kabar dariku," setelah mengucapkan itu, Aine melangkah menuju pintu keluar. Tapi masih lima langkah, ia membalik badannya.
"Tunggu saatnya ketika aku membuat kalian merasakan apa yang kurasakan selama ini."
***
"Bagaimana, Raz?" tanya Aine saat mereka sudah melaju.
"Great success, Ai!" jawab Iraz melepaskan setir mobil demi mengangkat kedua jempolnya.
"Benaran?" tanya Aine membuang maskernya.
"Iya, Ai. Pokoknya akting mu benar-benar luar biasa. Aku aja sampai ternganga melihatnya." Iraz tersenyum lebar. Ia juga sudah melepas maskernya. "Ternyata kamu punya bakat akting juga. Nggak nyangka gadis sepolos kamu punya segudang bakat."
Gadis itu tersenyum. Dipuji oleh Iraz adalah kekuatan baginya, sama seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
"Hehehe, kamu selalu saja seperti itu!" komentar Aine pura-pura manyun, padahal dalam hatinya sudah berbunga-bunga.
Iraz tersenyum lagi. Baginya Aine adalah gadis paling menggemaskan. Sepanjang perjalanan hidupnya, hanya gadis itu yang mampu membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Kamu puas nggak?" tanya Iraz.
"Puas, puas banget malah. Ini pertama kalinya aku merasa keadilan ada di pihakku. Meski agak sedikit merasa bersalah." jawab Aine.
"Jangan merasa bersalah begitu, Ai, kan mereka yang memulai duluan. Kamu juga nggak bakalan melakukan aksi balas dendam kalo mereka tidak jahat padamu."
"Iya, sih, tapikan..."
"Dengerin aku, Ai, kamu harus lebih tegas kedepannya. Sikap mereka akan tergantung pada perlakuanmu. Jadi tetaplah seperti yang tadi. Oke?"
Aine memaksakan kepalanya mengangguk. Ada seulas senyum kaku di bibirnya. "Oke, Raz."
"Bagus, Ai. Ngomong-ngomong, apa barang yang kau cari sudah ketemu?"
Gadis itu menggeleng. "Mereka sudah membakarnya."
Iraz terlihat prihatin. "Emang apa sih barang yang kau cari?"
"Death note." jawab Aine. "Aku menulis banyak kisahku di sana, dan berfikir akan menerbitkannya suatu saat nanti. Tapi mereka membakarnya." wajahnya sedih saat memberitahu.
"Jangan sedih, Ai, aku akan belikan buku yang baru untukmu. Pastinya persis seperti buku yang kau inginkan." Iraz menghibur.
"Tapi aku butuh isinya, Raz."
"Kita bisa menulisnya kembali, Ai. Aku akan membantumu merevisi bagian yang hilang. Termasuk memasukkan kisahku ke dalamnya."
"Iya, sama-sama, Ai. Btw, mau pemanasan dengan mereka lagi?" pria itu memasang senyum menantang.
"Hehehe, boleh. Tapi, Raz, bagaimana kalo mereka curiga? Aku sudah terlalu banyak membeberkan identitasku,"
"Tidak akan, Ai, kulihat mereka semua bodoh. Tenang aja. Dan kalau pun mereka mengetahui identitas aslimu, aku ada untuk melindungi mu."
Aine menatap jalanan di depannya. Ia tidak berani menatap wajah Iraz setelah mendengar kalimat itu.
Bagaimana aku bisa merelakanmu sedangkan sikapmu berhasil membuatku ingin bersamamu untuk selamanya.
"Ai," panggil Iraz.
Gadis itu terbengong. Ia sibuk memikirkan bagaimana hidupnya tanpa Iraz.
"Ai," panggil Iraz lebih keras.
Gadis itu terbuyar. "Hmm, iya, Raz?"
"Kok bengong sih. Ada apa?" tanya pria itu lembut.
"Nggak kok, Raz."
"Nggak kok jawabnya manyun sih,"
Aine mencoba tersenyum. "Aku hanya penasaran siapa sebenarnya yang yang kau sukai. Vanya atau Melanie?"
__ADS_1
Iraz mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Kan tadi kamu bilang kalo kamu menyukai salah satu putri papaku. Aku penasaran aja siapa dia,"
Iraz tersenyum aneh. "Menurutmu siapa?"
"Menurutku sih pasti Melanie. Dia lebih dewasa dan berkarir cemerlang. Tapi Vanya juga tidak diragukan." gadis itu semakin manyun saja.
"Kamu ngawur, Ai!" lanjut Iraz. "Bukan salah satu dari mereka, kok."
Gadis itu menoleh, mengamati wajah Iraz. Tidak dapat dipastikan dia serius atau tidak.
"Jadi, kenapa kamu..."
"Aku becanda, Ai. Ya kali aku menyukai orang yang udah nyakitin kamu. Nggak logis banget!"
Senyum Aine langsung terkembang. Ini suatu kabar gembira buatnya.
"Kamu mau tau, siapa sebenarnya orang yang aku sukai?" tanya pria itu.
Mata Aine langsung berbinar-binar. Tentu saja dia sangat sangat sangat ingin tahu.
"Siapa, Raz? Aku pengen tahu banget,"
Pria itu menatap wajah Aine, tersenyum manis. "Bayar dulu!"
"Ha? Bayar? Aku nggak punya duit, Raz..."
"Nggak pake duit, kok. Caranya mudah, tapi kamunya aja mungkin nggak mau."
"Emang mau dibayar pake apa?"
"Ciuman."
***
"Uhhh! Dasar cewek gila!" sungut Vanya setelah Aine dan Iraz pergi.
"Iya, kan! Gayanya belagu banget! Ku sumpahin mati keselek!" Andari ikut mengumpat.
"Kalo bukan karena dia punya pengaruh, serius, udah kuracun benaran!" Melanie ikut-ikutan.
"Sabar.. sabar... yang penting ada gunanya buat kita." Isman mencoba menasehati anak dan istrinya.
"Serius cringe banget!" imbun Vanya lagi. "Dia berani sekali menumpahkan air panas padaku. Benar-benar sinting!"
"Udah, Vanya... ini juga berpengaruh pada kamu. Nggak usah bawa emosi begitu," kata Isman pada putri bontotnya.
"Tapi tunggu, apa kalian tidak merasa curiga padanya?" Melanie menyipitkan matanya.
"Maksudnya?" Andari menanggapi putrinya.
"Sepertinya aku sering melihat matanya. Dan aku merasa familiar banget sama dia."
"Menurutmu dia siapa?"
__ADS_1
"Entahlah. Tapi aku rasa dia pernah tinggal bersama kita."