Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Bagaimana Jika Berbagi Luka?


__ADS_3

Aine marah gara-gara hal yang tidak jelas. Cemburu karena Vanya dekat dengan Iraz? Yah, itu benar, dia tidak bisa membohongi hatinya.


Pagi ini tidak ada orang di rumah itu kecuali Andari dan Aine. Melanie sudah pergi bekerja, Vanya juga sudah pergi sekolah. Jadi, Andari lah satu-satunya tempat pelampiasan kemarahannya.


Sudah sejak tadi pagi Aine kehilangan akal. Ia sampai tega menyuruh mamanya untuk menghitung berapa langkah yang ia habiskan ketika menggunakan treadmill. Dan yang paling parahnya, ia memerintahkan Mamanya untuk mengucapkan perkalian satu sampai sepuluh. Segabut itu dirinya.


Aine bukan orang yang sensitif. Tapi jika menyangkut Iraz, dia bisa berubah menjadi highly sensitive person. Buktinya hari ini dia kehilangan semangat karena Vanya berhasil mendekati pria itu. Mereka pergi bersama dan dengan mudahnya merangkul sigila itu. Aine tidak suka sama sekali.


Ketika Vanya pulang sekolah, disitulah kemarahan Aine memuncak. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi pelajaran pada anak gadis itu. Beraninya dia menggoda pria kesayangan Aine.


"Pelakor dua sudah pulang!" Aine berdiri di belakang daun pintu, mengejutkan Vanya yang baru saja menembus pintu.


"Nona Aine?" dia refleks berbalik, memberi hormat pada gadis itu.


"Dasar tidak tau malu!" Aine melangkahkan kakinya satu langkah, kedua tangannya terlipat sempurna di depan dada. "Mau mengikuti jejak Melanie?"


"Ma-maksud Anda?" jelas Vanya bingung, dia tidak mengerti maksud perkataan kakaknya.


"Maksudku, apa kau berniat menjadi pelakor seperti Melanie? Dia sudah merebut pacarku sebelumnya, apakah kau akan mengikutinya?"


Vanya menatap mata kakaknya tidak percaya. Gadis yang lebih tinggi lima centi itu terlihat kesal padanya.


Kak Mel terkenal banget kepelakorannya. Apa berita ini sudah sampai go internasional, ya?


"Maaf Nona, tapi saya benar-benar tidak mengerti," ulang Vanya.


Aine menahan amarahnya. "Intinya hanya satu, jangan dekati Iraz! Dia milikku selamanya! Sudah cukup aku merelakan Alvan untuk Melanie. Iraz tidak boleh. Kali ini kesalahan itu tidak akan terulang lagi!"


What? Kak Alvan mantan Kak Aine? Wahh, hebat banget dia bisa menggaet dua laki-laki keren seperti mereka. Apa yang menarik dari gadis bodoh ini hingga para laki-laki tampan mau padanya?


"Maaf, Nona, tapi saya tidak berniat merebut Tuan Inui dari Anda. Saya memang tertarik padanya, tapi tidak sampai ingin merebutnya," seberani itu jawaban Vanya.


"Oh, jawaban yang menarik." Aine mengayunkan tangannya, menampar pipi adik yang menurutnya kurang ajar. "Secara tidak langsung, kau mengatakan iya, kan?"

__ADS_1


Vanya meringis sewaktu tangan halus itu membentur pipinya. Menyentuh area itu secara refleks. "Awwww," pekiknya.


"Dari dulu aku memang sudah dendam sama kamu. Bahkan sejak kita masih kecil. Tapi waktu itu aku tidak berdaya karena tidak ada orang yang membelaku. Lagipula waktu itu aku masih bodoh. Tapi semua telah berubah. Aku bisa saja membalaskan seratus kali perbuatanmu yang dulu, karena sekarang aku telah berkuasa." Aine berkata seraya menarik tangan gadis itu. Tidak ada pilihan, Vanya hanya bisa terseok-seok mengikuti tarikan itu.


"Kau pasti masih ingat bagaimana wajahku hancur gara-gara ulahmu! Bagaimana kalo kita berbagi luka?" Aine mengambil pisau pemotong buah yang terletak di atas meja ruang utama. Ia mendorong Vanya kebelakang hingga menabrak dinding. "Aku rasa semua akan setimpal jika lukaku berpindah ke wajahmu. Iya, kan?"


"Ja-jangan, Nona..." Vanya ketakutan. Ia berusaha melarikan diri, tapi sialnya Aine sudah mengunci dirinya.


Aine tersenyum aneh. Sepertinya ia sedang dirasuki sesuatu. Buktinya tatapannya kosong dan ekspresinya aneh sekali. "Bagaimana kalo aku memulai dari sini?" mengancungkan pisau itu ke pertengahan kening Vanya.


"Aku akan membuat tato gratis untukmu.


Lukisan panjang bergambarkan tulang patah. Menarik bukan?"


Vanya meremas seragam yang belum ia ganti. Ia masih dengan pakaian lengkapnya. Bahkan tas yang berisi buku-buku serta sepatu belum lepas dari tubuhnya.


"Jangan Nona. Saya minta maaf jika memang membuat anda tersinggung. Tapi tolong jangan lukai saya," itu pertimbangan yang bagus, karena bagaimanapun juga salah satu yang menarik darinya adalah kecantikan wajah. Jika wajahnya cacat, sama aja dia telah kehilangan setengah pesona hidupnya. Jadi meminta maaf adalah hal yang simpel namun tepat.


Mata Vanya membulat, ia sudah berada diketakutan level tertinggi.


"Bagaimana jika kita memulainya?" ujung pisau itu menyentuh kulit putih nan mulus Vanya. "Sepertinya membedah bisa menjadi hobi ku mulai sekarang."


"Hentikan, Nona, kumohon jangan lakukan itu!" Andari berseru dari bawah tangga, ia tidak sengaja mendengar suara Aine, menyaksikan putri kesayangannya sedang dalam bahaya.


Gadis yang namanya dipanggil menoleh, menjauhkan pisaunya dari Vanya, tapi tetap mengungkung gadis itu.


"Kenapa? Apa Mama ingin menggantikannya?"


Andari mendekat, ia memohon penuh penyesalan, berharap Aine melepaskan Vanya. "Tolonglah, Nona, jangan lakukan itu," diikuti air mata yang kendur.


"Dulu ketika aku berada di fase ini, Mama tidak peduli sama sekali. Bahkan Mama menyalahkanku waktu itu. Betapa tega Mama membiarkanku mengobati luka sendirian, tanpa bertanya apakah aku baik-baik saja. Sekarang ketika Vanya berada dalam kondisi bahaya, Mama takut, bahkan memohon seperti orang yang menyedihkan. Sebenarnya apa perbedaan dia denganku?" Aine menerawang jauh ke saat-saat dulu ketika dia masih menjadi anak terabaikan.


"Saya sudah menyesalinya, Nona. Kumohon jangan sakiti dia. Jika memang Anda ingin membalaskan dendam, maka hancurkan saja wajah saya, biarkan saya yang menanggung perbuatanya di masa lalu," Andari berlutut di dekat Aine seraya mengendurkan air matanya.

__ADS_1


"Mama semakin menguatkanku untuk membunuhnya saja."


"Jangan...."


"Kalo begitu, katakan satu padaku, apa aku anak kandungmu?"


"Tentu saja. Kamu anak kandungku, Aine." untuk pertama kalinya dia mengakuinya.


"Lalu kenapa selama ini aku diperlakukan berbeda?" gadis itu mulai larut dalam kesedihan.


Tidak ada jawaban. Sepertinya, Andari bingung harus menjawab apa. Mengingat memang tidak ada alasan yang membuat mereka sekeluarga demikian. Lagian jika alasannya ada, pasti berkaitan dengan fisik. Tidak mungkin juga ia jujur, bisa-bisa Vanya dibunuh benaran di depan mata kepalanya.


Sementara itu Nafas Vanya sudah naik turun. Ia takut akan dilukai, terlebih-lebih dibunuh dengan sekali tikaman. Menyedihkan sekali mati ditangan kakak sendiri. Ngeri banget.


"Kalian tidak membuatku senang, sebaiknya ku mulai saja pekerjaan ini," Aine kembali mengancungkan pisau ke wajah Vanya.


"Eh, kok main benda tajam! Bahaya!" tiba-tiba seseorang muncul, merampas pisau itu dari tangan Aine. Ternyata dia adalah Iraz.


Anehnya, kenapa mereka tidak menyadari kalo pria itu muncul di dekat mereka? Apa dia punya kekuatan menghilang? Teleportasi mungkin? Ataukah kekuatan super?


"Iraz?" Aine berkata sontak.


Pria itu menatap Aine, menyembunyikan pisau itu kebelakang.


"Sini pisaunya, Raz! Aku mau pake!"


"Nggak boleh, Ai, ini pisau pemotong buah, bukan pelukis wajah!"


"Aku bilang sini!" bentak Aine. Dia benar-benar marah.


"Aku nggak ngijinin kamu ngelukain orang!"


"Oh, kamu belain dia? Okeh! Aku kecewa, Raz!" Aine menatap Iraz tajam kemudian meninggalkan pria itu dengan kedua wanita lainnya.

__ADS_1


__ADS_2