
Vanya bergoyang mengikuti alunan musik yang menggelegar. Di dekatnya ada beberapa laki-laki yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Mereka mengelilingi gadis itu, menyentuhnya dengan bebas.
Ini adalah dunia Vanya, dunia malam yang penuh dengan kesenangan materi.
Banyak orang mengira gadis itu polos. Apalagi teman-teman Andari yang memilihnya sebagai calon menantu idaman. Mereka taunya gadis itu pintar, berbakat, terbawa, dan kompeten. Tidak pernah terbersit dalam benaknya kalo Vanya punya sisi gelap.
"Udah, Bar, aku mau pulang." ucap gadis itu setelah meneguk segelas miras.
"Cepat banget, baru juga sampai!"
"Besok lagi, aku janji. Perasaanku nggak tenang,"
"Tumben banget elo begini. Biasanya nggak mau pulang," Bara memeluk pinggang Vanya, hendak meraih bibirnya.
Vanya meladeni. "Sekarang aku punya keterbatasan waktu, Bar. Nggak sebebas dulu lagi." jawab Vanya setelah bibirnya lepas dari pangutan pria itu.
"Okay, gue bakalan ngantar elo. Tapi elo harus janji, besok wajib masuk bilik!"
"Hmm, iya, Bar."
***
"Dingin Raz, kita masuk yuk..." Aine memeluk tubuhnya sendiri.
"Dingin? Kok aku kepanasan, ya?"
"Kan kamu pake jas, wajarlah kepanasan."
"Cih, polos banget. Nggak peka," gumam pria itu.
Aine cemberut, menatap pria itu agak kesal. "Kamu ngomong apa? Kok bergumam?"
Iraz tertawa kecil. "Aku bilang, dari pada masuk, mending aku meluk kamu. Kan sama juga memberikan kehangatan," tanpa instruksi dia menarik tubuh Aine kepelukannya.
Gadis itu kaget, tapi tidak meronta. Ia pasrah. Gak usah bohong, dia senang. Senang banget.
Benar apa yang dikatakan Iraz, pelukan bisa memberikan kehangatan. Bukan hanya kehangatan tubuh, tapi juga kehangatan hati. Buktinya Aine merasakannya sekarang.
"Biar tambah hangat," pria itu melebarkan jasnya dan menutup tubuh Aine. Mereka menempel, semesra itu.
Sementara itu, mobil yang ditumpangi Vanya sudah sampai di depan gerbang.
"Nggak usah takut, gua bakalan kasih pelajaran sama kakak lo yang bodoh itu. Berani-beraninya dia membatasi hidup elo sampai nggak bisa bebas seperti ini," Bara menatap wajah Vanya dengan pandangan aneh.
"Nggak usah, Bar, entar kamu mati lagi!"
__ADS_1
"Siapa bilang, kalo perlu gue bakalan ngerusak dia. Lihat aja," senyum sinis pria itu mengembang.
"Terserah kamu deh, yang penting aku udah ingetin. Btw aku harus pergi," Vanya membuka pintu mobil, meluncur ke luar.
"Jangan lupa, besok kita harus jalan. Gua bakal nunggu," Bara sempat-sempatnya membincangi gadis itu dari dalam mobil.
"Aman." jawab Vanya melambaikan tangannya.
Mobil biru itu pun melesat meninggalkan gadis itu.
"Udah jam 01.55, bukankah sebaiknya kita tidur? Besok kamu harus kerja loh," terdengar suara dari sekitar rumah, Vanya tidak tahu pastinya dari area mana.
"Udah ngantuk, ya?" seseorang menjawab.
"Hmm, sikit."
Vanya menelan ludah. Bagaimana ia bisa masuk sekarang? Tidak mungkin kedatanganya tidak dipertanyakan. Selain karena sudah dini hari, juga karena tampilannya yang tidak pantas untuk ukuran gadis seusianya. Bisa hancur harga dirinya kalo ia ketahuan keluyuran malam.
"Siapa sih yang ngobrol malam-malam begini!" gadis itu bersungut, mengintip dari sela-sela gerbang. Halaman rumah kosong, tidak ada orang di sana.
"Terus siapa yang ngobrol?" tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. "Apa jangan-jangan?" mulai overthinking.
"Tiga menit lagi, Ai, biar pas jam 02.00, katanya horor kalo tidur jam dua kurang," terdengar lagi suara dengan badan yang tak terlihat.
"Hahahaha, masa kamu percaya begituan, sih!" yang membalas suara cewek.
"Apa jangan-jangan dia memelihara jin atau semacamnya? Makanya dia bicara malam-malam begini tanpa wujud? Masuk akal sih, buktinya semua perubahan yang dia dapat termasuk tidak nyata. Bagaimana mungkin gadis dekil, jelek, nggak terurus tiba-tiba berubah secantik itu dalam kurun waktu yang cukup singkat. Wah, sekarang aku tau rahasianya," Vanya nungging demi mencari tau lebih lanjut tentang kebenaran opininya.
"Percaya dikit, soalnya waktu aku kecil aku pecinta cerita horor,"
Setelah mendengar ucapan itu Vanya menemukan siapa yang bicara. Ternyata benar Aine. Gadis itu duduk di bangku taman dan mengobrol santai dengan seseorang. Opini Vanya salah, Aine tidak bicara pada makhluk gaib, gadis itu punya lawan bicara yang cukup mengagumkan.
"Siapa dia?" tanya Vanya takjub. Ia melihat sesosok pria yang luar biasa tampan sedang memeluk kakaknya. Pria terlihat bahagia mendekap gadis cantik itu.
"Aku tidur di dadamu aja, kayaknya lebih asik." Aine berucap manja pada pria yang dia tempeli.
"Hahaha, romantis juga. Tapi kayaknya kurang pas deh, Ai.."
"Nggak apa-apa, Raz, dadamu enak dijadikan bantal."
Setelah mendengar namanya Raz, Vanya langsung konek tentang siapa pria itu.
"Dia Tuan Inui?" tanyanya pada diri sendiri. "Gila! Ganteng banget anjirr!" senyumnya terkembang refleks. Gadis itu melebarkan matanya, memperjelas penglihatan, memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
Tidak salah, dia Inui, pria yang selama ini menutupi wajahnya. Oh, jadi seganteng itu pria yang bekekuasan, yang terkenal sombong itu. Tidak mengecewakan sama sekali.
__ADS_1
Vanya memandangi pria itu lumayan lama. Ia ingin merekam wajah itu di otaknya, sepertinya butuh sedikit pencarian mengenai identitas asli pria itu. Tidak mungkin dia rela menutupi kegantengannya kalo tidak punya alasan khusus. Pasti ada yang disembunyikan.
Gadis itu mengintip sampai pinggangnya sakit. Soalnya kedua manusia itu belum bergerak sama sekali. Ia kudu sabar menunggu agar bisa mendapat kesempatan masuk ke rumah itu.
Tiga menit kemudian, ketika jam menunjukkan pukul dua lewat sepuluh, barulah mereka masuk ke dalam rumah. Di situlah kesempatan Vanya untuk menyusup masuk. Ia berlari ke belakang, menemui jendela yang yang digunakan sebagai pintu untuk masuk. Segera ia mengangkat tangga yang kebetulan berada di dekat tembok. Ia membuka daun jendela dan masuk ke dalam kamar.
Kedua wanita yang dia tinggalkan tadi tidak berkutik. Melanie masih dengan mulut mengapnya dan Mama masih di bawah kursi segera dia memindahkan kursi itu, mengganti pakaiannya dan menelusup ke samping Mamanya. Satu hal, dia nggak bisa tidur memikirkan wajah ganteng itu, wajah Iraz.
***
"Gila, ternyata Tuan Inui itu ganteng banget, nggak ada tandingannya!" Vanya memberitahu kakak dan Mamanya saat mereka sarapan pagi di dapur.
"Tau dari mana? Emang dia menunjukkan wajahnya padamu?" tanya Melanie sedikit tertarik.
"Semalam..." Vanya terhenti, ia tidak mungkin memberitahu semalam dia keluar.
"Semalam apa?" kini Andari yang bicara.
"Semalam aku kebelet, nah aku ingin ke kamar mandi, eh aku mendengar suara kak Aine. Aku ngintip dari jendela, ternyata dia lagi pacaran sama Tuan Inui. Mungkin karena tidak sadar, dia membuka maskernya. Padahal aku udah melihat wajah aslinya." cerita Vanya.
"Kamu lihat mereka dimana?"
"Di taman. Makanya aku sempat merinding, bayangin aja ngobrol jam dua pagi, aku kan jadi takut, mengira mereka hantu, eh tak taunya hantu tampan."
Melanie mengehentikan makannya. "Dia mirip siapa?"
"Nggak mirip siapa-siapa, dia hanya satu keknya,"
"Aku jadi penasaran."
"Makanya jangan tidur mulu!" cibir Vanya. "Eh, tapi aku yakin nanti malam dia bakal lakuin itu lagi. Bagaimana kalo kita bertiga mengintip malam ini, kayaknya seru deh,"
Andari mengangguk setuju. "Mama juga ingin melihatnya."
"Aku sih ogah, tapi aku ingin memastikan apakah dia lebih ganteng dari Alvan," ujar Melanie melanjut.
"Kak Alvan? Kalah jauh! Ibaratnya dia itu masih kerikil dan Tuan Inui sudah berlian. Sejauh itu beda mereka."
Melanie mengangkat satu alisnya. "Benarkah? Padahal awalnya aku mengira bahwa tuan Inui punya cacat di wajahnya hingga dia menutupinya. Ternyata bukan ya?"
"Nggak kak Mel! Dia malah sempurna banget. Tipeku banget, tau nggak sih!"
Andari menoleh ke arah putri bungsunya. "Aku juga sepemikiran dengan Mel. Awalnya aku mengira dia sumbing. Makanya nggak terlalu tertarik,"
"Nggak, Ma... sumpah, fiks dia pria tertampan yang pernah kulihat."
__ADS_1
"Okelah, mari kita survei malam ini."