
Semenjak ditinggal pergi sama Iraz, Aine berubah menjadi gadis pendiam dan tertutup. Ia kehilangan setengah dari arah hidupnya. Tapi meski demikian, dia tetap berjuang untuk mencapai cita-citanya.
Di samping dia merasa kehilangan sosok Iraz, di situlah ia merasakan kembalinya sesosok Alvan. Tuhan seperti sengaja mengembalikan Alvan agar hidupnya tidak terlalu kosong. Tetapi sebagai gantinya, ia mengambil Iraz, mengatur agar pria itu tidak bisa bertemu lagi dengannya.
Sakit memang, tapi dia harus kuat.
Hari ini Aine diundang menghadiri acara pameran yang dilaksanakan di Galeri Unkamsa. Khusus untuk memamerkan hasil karya yang dianggap bernilai jual tinggi. Kebetulan karyanya ikut dari salah satu karya yang dipamerkan. Berkat keberhasilan lukisannya, ia dipilih untuk memberikan pengarahan serta membagikan beberapa tips untuk menjadi pelukis yang baik.
Aine agak gugup kalo udah begini.
Dia menatap pantulan tubuhnya. Sudah cantik. Malam ini dia mengenakan dress putih selutut yang dipadukan dengan high heels warna senada. Rambutnya yang diluruskan dibiarkan tergerai. Wajahnya yang dirias natural kelihatan elegan dan berkelas. Dia cantik kayak artis papan atas.
"Ain, kamu udah siap?" Alvan menunggu di ruang tamu. Ia terpukau dengan penampilan Aine malam ini. Sangat cantik, membuat dia tergila-gila.
"Hmmm," jawabnya pelan.
Alvan langsung berdiri. "Yuk!" ajaknya. Dia yang akan mengantarkan Aine ke Galeri.
Aine tidak menjawab. Tapi dia berjalan di belakang pria itu. Sebenarnya dia tidak mau diantar oleh Alvan, selain karena sudah berstatus mantan, juga karena merasa merepotkan. Tapi... dia sudah berjanji pada Iraz, kalo dia tidak akan keluar malam sendirian.
Aine menatap Alvan dari belakang. Melihat tubuh pria itu kembali mengingatkannya pada Iraz. Postur mereka mirip, hanya saja Iraz lebih tinggi dan lebih berotot dibandingkan Alvan. Tapi jika dilihat sekilas, pria itu persis seperti Iraz.
Alvan membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan masuk, Ain..." ujarnya lembut.
Aine bengong sejenak. Entah kenapa. Dia berdiri menatap pintu mobil yang terbuka.
"Ain? Kenapa?" Alvan menggerakkan tangannya di depan wajah Aine. "Hei, kenapa sih?"
"Eh, tidak...tidak apa-apa, Van..." jawabnya terbata. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil agar tidak ditanyai lebih banyak.
"Mikirin apa sih, Ain?" tanya Iraz simpati.
__ADS_1
"Nggak kok. Cuman penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Iraz sekarang," katanya jujur.
Mendadak wajah Alvan cemberut. Dia harus jujur kalo sebenarnya dia benci pada manusia bernama Iraz itu. Karena gara-gara pria itu, dia kehilangan cinta Aine. Kalo saja pria itu tidak muncul di hidup Aine, mungkin gadis itu masih mencintainya sampai sekarang.
"Ain, kamu kenapa sih masih mikirin dia? Harusnya kamu itu benci sama dia, karena dia meninggalkanmu tanpa alasan yang jelas,"
"Kok kamu bilang gitu, sih?" nada suara Aine menajam.
"Kalo kataku sih dia jahat. Soalnya dia udah tega merubahmu menjadi sad girl. Lihat wajahmu yang sekarang, tidak pernah tersenyum lagi!" Alvan mencoba menghasut Aine agar membenci Iraz.
"Dia tidak merubahku kok! Aku yang memilih jalan ini! Dia juga tidak ingin aku seperti ini, tapi aku yang kelewatan karena aku sangat mencintainya!" Aine menatap Alvan tajam. "Jangan meracuniku, Van! Kau tidak akan berhasil!"
Pria itu tersenyum kecut. Cukup susah juga mengembalikan Aine ke titik awal wataknya. Dia sudah lebih pintar sekarang. "Maaf, Ain," lirihnya.
Aine mendengus kesal. Seandainya kalo bukan karena nasehat Iraz, ia sudah naik taksi. Tapi pria itu melarangnya naik taksi atau ojek jika tidak ada pengawasan. Katanya bahaya cewek secantik dirinya pergi sendirian. Entar diapa-apain sama supirnya. Jadi itulah mengapa dia memilih pergi bersama Alvan. Memang pria itu juga berbahaya, tapi kalo terjadi sesuatu, minimal dia nggak akan di mutilasi atau dicincang seperti kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini.
"Ain, kamu mau jadi pelukis, ya?" Alvan bertanya lembut.
"Iya."
"Kemana aja selama ini?" Aine menyahut ketus. Tampaknya dia tidak menyukai Alvan lagi.
"Kamu jadi garang, Ain..."
Aine tidak menjawab lagi. Ia berdoa agak Galeri itu cepat sampai, soalnya dia udah males banget bersama Alvan. Pria itu seolah berusaha pdkt lagi padanya.
Tak sampai sepuluh menit lagi, mereka sampai di tempat tujuan.
Galeri Unkamsa tampak ramai malam ini. Pintu ruang utama penuh dihiasi bunga-bunga putih. Lampu-lampu display menyorot setiap tembok yang berisi lukisan-lukisan hasil goresan kuas pada pemenang. Sementara lampu utama dimatikan. Mulai dari pintu utama hingga pintu keluar dilapisi karpet merah tua, membuat ruangan tersebut mewah dan berkelas.
Aine disambut dengan hangat. Berita kemenangannya sudah tersebar setidaknya bagi semua orang yang hadir di malam itu. Mereka mengakui bakat Aine yang kelewat terpendam.
"Hai, Nona Aine, kenalkan saya Thomson, penggelar acara ini."
__ADS_1
Aine berbalik saat mendengar suara seseorang di belakang tubuhnya, kemudian mendapati seorang pria berbalut jas cokelat muda sedang tersenyum ke arahnya.
"Oh, hai, Tuan..." Aine mengulurkan tangannya, memberikan kesempatan untuk saling berjabat tangan. "Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan."
"Senang berkenalan denganmu juga, gadis cantik." balas Tomson sambil menjabat tangan Aine. "Lukisanmu luar biasa. Sangat bercerita dan berkesan. Saya mempromosikannya dan permintaan akan lukisan ini meledak. Sepertinya kamu punya aset besar untuk menjadi pelukis profesional."
Aine tersenyum sebagai balasan.
"Ya udah, nikmati pameran hari ini, mulai Minggu depan kamu sudah masuk pelatihan. Oke?"
"Oke, Tuan. Terimakasih..."
Pria itupun tersenyum lalu meninggalkan Aine. Ia menghampiri tamu-tamu penting lainnya.
Alvan tidak banyak tahu tentang lukisan. Makanya dia nggak banyak buka suara. Kalo dia bicara palingan hanya menanyakan hal sepele yang sama sekali tidak berarti. Aine malah tidak menjawabnya terkadang.
"Lukisan kamu mana, Ai?" Alvan bertanya sambil melirik kemana-mana.
"Tuh, yang dekat pojok!" Aine menunjuk.
Alvan kaget, dinding tempat lukisan Aine dipajang penuh dengan kerumunan orang. Sepertinya mereka tertarik untuk melihat goresan tangan itu.
"Aku mau lihat juga..." Alvan beranjak menuju kerumunan itu. Dia benar-benar penasaran dengan hasil karya Aine. Sehebat apa gadis itu memendam bakatnya selama ini?
Alvan menyaksikan sendiri lukisan itu. Memang sangat bagus. Aine pintar menyesuaikan warna, belum lagi bentuknya yang persis sama kayak aslinya.
"Mirip kayak lukisan Monalisa, kan? Bercerita banget," komentar salah seorang cewek diantara kerumunan itu.
"iya, tapi tabrakan warnanya persis kayak Stary night. Mungkin pelukisnya fans banget pada Leonardo Davichi dan Vincent Van Gogh. Sampai-sampai aliran keduanya disatukan."
Alvan membenarkan perkataan orang-orang itu. Dia baru tau kalo Aine hebat dalam bidang lukis melukis.
Pria itu menatap lukisan itu lekat lekat. Ia tau siapa objek di dalamnya. Pasti Iraz. Soalnya dia hapal banget dengan bentuk wajah pria itu.
__ADS_1
Objek lukisan itu menceritakan bahwa dia sedang duduk menunggu di bawah senja. Dia memeluk lututnya, menatap ke arah matahari. Ekspresi pria itu sedih, seolah melambangkan sebuah perpisahan. Percaya atau tidak, Aine melukis itu karena perintah hatinya. Ia seolah tau kalo Iraz akan pergi dari hidupnya. Tapi anehnya, kenapa dia bisa memikirkan itu bahkan sebelum pria itu pergi. Mungkinkah Tuhan sudah memberikan petunjuk sejak awal? Kalo ya, betapa bodohnya dia baru menyadari segalanya.
"Beruntung banget sih dia!" ujar Alvan menatap lukisan itu. "Harusnya aku yang dijadikan objeknya!"