
Sihir itu telah menghilang. Aine tidak memiliki apapun lagi. Ibaratnya jika dia adalah Cinderella, maka hidupnya yang sekarang adalah jam dua belas malam. Dimana semua yang dia miliki lenyap bersamaan dengan perginya Iraz dari sisinya. Simpelnya, Iraz adalah pembawa sihir selama ini.
Gadis bertubuh ramping, berwajah cantik itu menangis di sudut ruang kamarnya. Ia memeluk piala yang dimenangkannya dari ajang perlombaan melukis.
Jika bisa jujur, Aine menangis karena kepergian Iraz. Dia memang sudah menakutkan ini sejak lama. Dan jalan terbaik adalah pasrah dalam luka.
Yah, setidaknya dia tau Iraz diciptakan bukan untuknya.
"Raz, seandainya dari awal aku bisa mengontrol perasaan ini, mungkin hatiku tidak akan seterluka ini..." gadis itu berderai air mata. "Jika memang harus berpisah seperti ini, lalu mengapa kau meninggalkan janji?"
Malam semakin larut, selarut kesedihan Aine. Isak tangis bergema sepanjang malam. Menandakan betapa sendu Aine yang sekarang. Yah, dia sendu tanpa Iraz.
***
Fajar datang menyingsing. Gadis berbalut pakaian kasual duduk di taman depan rumah. Dia tidak tidur semalaman, menahan kantuk demi mengamati bintang-bintang di langit.
Mata indah yang dibantu lensa kontak itu terpejam sesaat. Kulitnya merasakan dinginnya semilir angin pagi. Jika pria yang dia cintai ada di sini, dapat dipastikan pria itu akan marah melihat gadisnya melakukan hal di luar nalar. Duduk sepanjang malam di depan rumah, dengan baju tipis yang dia kenakan sejak sore kemarin. Rambut panjang yang kusut karena dihembus angin serta kaki yang mengenakan alas. Dia tampak menyedihkan dibawah langit yang kemerah-merahan.
Gadis itu menggerakkan jarinya yang hampir beku karena menggenggam papan bangku entah sudah berapa lama. Ia bagai raga yang kehilangan jiwa. Punya tubuh tapi tidak memiliki roh. Semuanya hampa tanpa pria itu.
Satu malam ternyata cukup panjang jika ia melewatkan sendirian. Bayangin, kamu sendirian dalam dunia yang begitu luas. Tapi bukan itu yang membuatnya patah semangat, melainkan kehilangan seseorang dianggap sangat penting dalam hidupnya.
Tidak terasa, hari telah berubah cerah. Matahari menyapa dengan riang. Sinarnya begitu cerah, jauh berbeda dengan kondisi gadis yang sudah memucat.
"Ain? Kamu kenapa?"seorang pria tampan berbalut jas biru mendekati Aine. Wajahnya memancarkan kecemasan luar biasa.
Gadis itu tidak bergerak. Ia bagai patung yang sengaja didudukkan sebagai figuran. Patung yang menggambarkan kesedihan tak berujung.
"Ain? Kamu sakit?" pria itu menyentuh kening gadis yang ternyata adalah Aine dengan punggung tangannya. "Astaga! Dingin sekali!" ujarnya.
Segera ia membuka jas yang ia kenakan dan memakaikannya pada Aine. "Kamu kenapa, Ain?" tanyanya lagi-lagi.
Gadis itu tidak menjawab. Tatapannya kosong. Bibirnya mengatup rapat.
"Kita ke dalam, yuk...!" ajar pria itu. Ia hendak meraih tangan Aine.
"Aku nggak, mau!" tolaknya ketus.
"Kenapa? Kamu ngapain seperti ini, kayaknya kamu sakit, deh!"
"Aku nggak sakit, aku baik-baik saja!" kata Aine tegas.
__ADS_1
"Kalo begitu kenapa duduk di sini?" suara pria itu amat lembut.
"Aku nungguin Iraz." jawabnya.
"Emang kemana dia pergi?"
"Pulang."
"Hah? Maksudnya gimana? Bukankah dia tinggal disini bersamamu?" Pria itu jadi bingung.
"Nggak, Van! Dia punya kehidupan lain yang tidak bisa kamu duga." ternyata pria itu adalah Alvan.
"Jadi maksudmu, kamu sendirian sekarang?"
"Ya... begitulah." jawabnya lemah. Wajahnya begitu pucat.
"Kenapa dia meninggalkanmu?"
Aine menggeleng. Tak yakin harus menjawab apa.
"Jangan sedih, Ain, aku ada untukmu. Jika dia sudah meninggalkanmu, maka aku akan kembali untukmu." Alvan menggenggam tangan Aine yang sudah membeku.
"Nggak, Van... kamu nggak bisa ngegantiin dia!" Aine menarik tangannya. Menatap Alvan penuh kebencian. "Sampai kapanpun, kamu nggak akan sebanding dengan Iraz!"
"Karena Iraz bukan cowok pecundang seperti kamu!"
"Bukan pecundang? Lalu kenapa dia meninggalkanmu?" Alvan tidak mau kalah. "Kami sama aja, Ain!"
"Nggak! Iraz meninggalkanku punya alasan yang jelas. Dia juga nggak bakalan pergi seandainya papanya tidak sakit!" Aine membengis. "Sedangkan kamu? Kamu Ninggalin aku karena tau saudariku jauh lebih cantik! Jujur aja, aku masih sakit hati sama kamu!"
Tiba-tiba Alvan memeluknya. "Bukan begitu, Ain... aku mutusin kamu waktu itu bukan karena Melanie lebih cantik, tapi karena sebuah alasan... dan aku melakukannya demi keselamatan kamu.."
"Keselamatan ku?"
"Yah... sebenarnya aku menyimpan sebuah rahasia selama ini. Kamu mau dengar?"
Aine tidak menjawab. Sejujurnya dia memang penasaran tapi hatinya mengingat janji yang pernah ia ucapkan pada Iraz.
"Kalo kamu mau mendengarnya, lebih baik kita masuk ke dalam. Kau harus mengganti pakaiannmu dengan baju yang lebih hangat. Kayaknya kamu kedinginan," Alvan mengajak Aine masuk.
"Aku nggak mau!" tolak Aine.
__ADS_1
"Ain, tolonglah, kasihanilah dirimu," Alvan menarik tangan Aine. Kali ini dia tidak menolak. Memilih mengikuti tarikan pria berkameja biru itu.
Alvan memandu Aine untuk duduk di sofa. Sifat pria itu sudah kembali ke titik awal pertemuan mereka. Baik dan romantis.
"Kamu udah makan?" tanyanya dengan penuh kelembutan.
Aine menggeleng lemah.
"Ya udah, aku masak buat kamu aja, gimana? Mumpung aku lagi semangat nih,"
"Nggak usah, Van... aku nggak lapar!"
"Eh, nggak boleh gitu... kalo kamu sakit, gimana? Siapa yang akan ngurusin kamu?"
"Nggak, Vannn!!! Aku nggak pengen makan," tegas Aine.
"Hmmm, jadi apa nih yang Ain mau? Katakan padaku, entar aku coba ngabulin," pria itu tersenyum cerah, wajah gantengnya sangat menggemaskan kala tersenyum seperti itu. Gwi yeo wun banget.
"Aku hanya mau Iraz kembali. Itu aja!"
Wajah Alvan langsung berubah pias. "Kenapa meski meminta hal yang tidak masuk akal?"
"Aku juga tidak akan meminta kalo kamu tidak menyuruh!" tegasnya.
"Yah, ini salahku. Maafkan aku..." menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Btw, kamu mau makan sesuatu yang hangat?"
Aine emosi pada pria itu. Bisa-bisanya Alvan mengucapkan kalimat yang berulang, yang menurutnya sangat menyebalkan. Ia sudah menolak, mengatakan tidak lapar atau tidak ingin makan. Kenapa dia mengulangi lagi? Dia nggak punya kuping apa?
Saking emosinya, Aine malah mengangguk aja. Menurutnya Alvan nggak bakalan ngerti perasaannya. Jadi lebih baik diiyakan aja.
"Seingatku, Ain nggak pemilih soal makanan. Semua dia makan, kecuali batu. Iya, kan?"
"Nggak makan pasir juga, Van!" sahut Aine.
"Hahahaha, iya juga sih. Ya udah, jadi mau nggak nyicip semangkok mie?"
"Terserah!"
"Hmmm, kayaknya kamu bakal suka dengan masakanku. Dulu, aku yang sering makan masakan mu, sekarang, kita tukaran. Mulai saat ini, aku akan berusaha menebus kesalahanku padamu." Alvan berdiri di depan wastafel, menyalakan air agar bisa mencuci bahan-bahan masakan.
Aine nggak peduli dengan perkataan pria itu. Ia hanya fokus memikirkan bagaimana keadaan Iraz saat ini.
__ADS_1
"Aku ingin kembali seperti dulu, bisakah, Ain?"