
"Hei, ingat yang ku katakan tadi. Rampas tas gadis yang lewat dari sini. Ini fotonya!" Alvan menunjukkan wajah Aine pada dua orang cowok melalui hapenya.
"Baik, Tuan." jawab mereka bersamaan.
"Oke, setelah kalian mengambil tasnya, kabari aku. Ok?"
"Oke, siap Tuan."
***
Hari sudah gelap. Aine keluar dari gedung Umkamsa. Seperti biasa, dia meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dengan pelatihnya.
Gadis itu melangkah pelayan. Ekspresinya datar. Dia menyusuri jalan tanpa ada semangat di wajahnya. Selalu kelihatan lelah setiap waktu.
"Hai, Neng...." dua orang tiba-tiba mendekat ke arahnya. Sial, dia jumpa kedua manusia itu di jalan yang sepi. Yang pastinya tidak akan berguna jika dia berteriak.
"Heh! Mau apa kalian!" bentak Aine. Dia sih takut banget, cuman karena dalam keadaan mencekam, dia nggak boleh panik. Itu pesan Iraz.
"Eh, si Eneng mah gitu amat... sini abang bisikin kemauan abang..." satu orang yang paling sangar dari keduanya mendekat tiga langkah.
__ADS_1
"Heh! Stop! Jangan mendekat! Nanti aku teriak!" ancam Aine.
"Silahkan, Neng. Teriak aja sekuat mu. Lagipula kami ingin melihat sekuat apa suara mu hingga mampu mengundang seseorang ke sini!" yang satunya ikut melangkah mendekati Aine.
"Oke, mari kita hentikan ini. Katakan aja apa yang ingin kalian inginkan." kata Aine mencoba berdamai.
Kedua preman itu saling bertatapan. Mereka melemparkan senyuman aneh secara bersamaan. Tentu saja hal tersebut membuat Aine ketakutan. Ia seolah tau apa mereka inginkan.
"Kami butuh ini!" ujar si yang paling angker sambil menarik tas Aine. Gadis yang tidak sadar itu hanya refleks melepaskan demi melindungi tubuhnya. Dan seketika dua orang itu lari meninggalkan Aine.
"Hei! Copet!! Balikin tas aku!!!" teriak Aine sambil berusaha mengejar mereka. Tapi sayang seribu sayang, keduanya terlalu cepat berlari hingga Aine tidak sanggup mendapatkan jejak mereka.
Sementara itu, kedua preman itu berlari ke arah lokasi yang si share Alvan pada mereka. Segera memberikan tas itu pada Alvan.
"Kerja bagus!" katanya menerima tas itu. "Ini bayaran untuk kerja bagus kalian," melemparkan amplop coklat yang berisi tumpukan uang.
"Terimakasih, Tuan..."
"Hmmm, tapi kalian tidak apa-apa ini si Ain, Kan?"
__ADS_1
"Tidak kok, Tuan. Kami langsung lari setelah mendapatkan tas itu."
"Oke. Pergilah. Pekerjaan kalian sudah selesai." setelah mengucapkan itu Alvan meninggal kan keduanya. Entah apa tujuannya setelah itu.
***
"Ain, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Alvan muncul seperti pahlawan setelah dia melakukan itu pada Aine.
Gadis yang duduk di dekat jalan itu membuka telapak tangannya demi melihat kedatangan Alvan. Segera ia bangkit dan meminta bantuan pria itu.
"Van, tas aku dicuri... ada dua orang yang padaku lalu mereka merampas tas ku. mereka lari ke sana." menunjuk arah yang dilalui kedua orang tadi.
"Wah, sialan! Siapa yang berani mencuri tas mu!" kata Alvan pura-pura panik. Dia ber acting seolah-olah dia tidak tau apa-apa.
"Aku tidak tau, pokoknya tolong kejar dan dapatkan kembali tas ku."
"Oh, oke, aku akan segera mencari mereka. Jangan sedih lagi, nyah." ucap Alvan mendekap Aine.
"Oke, makasih Van. Tolong semua selamatkan aku...."
__ADS_1
"Your welcome."