
Hari ini hari Sabtu, Iraz libur. Biasanya kalo libur begini dia ngabisin waktu di tempat gym. Tapi kali ini dia punya rencana lain.
"Cepat, Ai!" ujar Iraz ketika menunggu Aine di mobil. Gadis itu sedang ganti baju untuk fitness hari ini.
"Maaf, Raz." Aine meminta maaf saat sudah masuk ke dalam mobil.
Iraz melajukan mobilnya. Ia harus mengantar Aine terlebih dahulu.
"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Iraz sambil menyetir.
"Jam tiga, Raz."
"Oh. Aku jemput jam setengah empat gimana? Soalnya aku ada urusan hari ini." Iraz memberitahu.
"Terserah kamu, Raz. Kalo nggak di jemput juga nggak apa-apa. Aku bisa kok pulang sendiri," jawab Aine.
"Jangan pulang sendirian lah, bahaya," Iraz memperingatkan.
"Ya tapikan kamu sibuk." timpal Aine.
"Ya udah, terserah kamu deh. Tapi kalo udah pulang, kabari aku. Oke?"
"Sippp."
***
Cowok tinggi yang selalu menutupi wajahnya itu berdiri di depan gerbang rumah seseorang. Ia memperhatikan situasi dan masuk menembus gerbang yang terbuka.
"Isman nya ada?" tanya pria itu pada seorang pembantu yang sedang mengepel teras.
Pembantu itu terkejut. Selain karena tiba-tiba muncul, suara pria itu agak berat.
"Astaga!" pembantu yang mungkin berusia setengah abad itu memegang dadanya. "Maaf tuan, saya terkejut." katanya menunduk.
"Nggak apa-apa, hehehe. Isman ada?"
"Pak Isman maksud anda?"
"Ya."
"Oh, ada, Tuan. Beliau di dalam,"
Pria itu langsung masuk tanpa peduli lagi dengan pandangan pembantu. Pasti wanita itu berfikir dia anak yang tidak sopan memanggil orang yang lebih tua tanpa aturan. Ia tidak peduli.
"Isman," ternyata pria itu adalah Iraz.
Seorang pria yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi menoleh. "Pak bos?" langsung ia berdiri, menampakkan dirinya yang ada di ruang tamu.
Iraz berjalan menuju pria bernama Isman itu.
"Pa-pak bos ngapain ke rumah saya?" pria itu gemetaran.
"Kenapa? Tidak boleh?" sahut Iraz ketus.
__ADS_1
"Bukan begitu pak,"
"Hei, berhenti memanggilku Pak! Kamu yang pantas dipanggil pak! Emang kau pikir usiaku berapaan hingga aku sudi dipanggil demikian!" Iraz marah-marah.
"Jadi saya harus menyebut nama anda siapa?" tanya pria itu agak takut.
"Panggil saja namaku langsung!" jawab Iraz sambil duduk di hadapan pria setengah baya itu.
"Baik, Edo." jawabnya menurut sesuai perintah.
Iraz menggeleng. "Jangan Edo! Nama itu kampungan sekali!" ujarnya tegas. Ia memang agak menyesal membuat nama samaran Edo di perusahaan.
"Jadi?"
"Iraz." kata pria itu sambil berfikir.
"Ya udah, baik, Iraz."
Mendengar namanya disebutkan, Iraz jadi risih. "Wah, kau tidak cocok mengatakannya! Suaramu terlalu berat dan nggak ada imut-imutnya." pria itu kesal sendiri.
Hanya Ai yang cocok memanggilku demikian. Batinnya.
"Panggil saja Inui. Kurasa suaramu yang cempreng itu akan lebih cocok memanggilku demikian," Iraz emang sudah gila. Sedari tadi mengganti-ganti nama sesuka hatinya.
"Baik, Inui." pria yang merupakan bawahan itu menurut. Kalo saja Iraz tidak terkenal berbahaya di kantor, ia pasti sudah menelanjangi pria itu. Tapi... jabatan Iraz membuatnya menjadi orang bodoh yang harus menuruti apapun yang di perintahkannya.
"Masih fals. Tapi sudahlah, suara cemprengmu itu mungkin udah bawaan lahir!" Iraz berujar sambil menindih kaki.
"Ma-maaf, Inui." katanya lirih. "Kalo boleh tahu, apa tujuan anda berkunjung ke sini?"
"Oh.. Silahkan..." jawab Isman setengah gugup.
Iraz menatap sekeliling ruang tamu. Ada banyak sekali foto yang tertempel di dinding. Dan salah satu foto yang ukurannya paling besar berhasil menarik perhatiannya.
"Kau hanya punya dua anak?" tanya Iraz sambil mengamati foto empat orang yang terpanjang dalam bingkai besar. Ada dua orang gadis yang duduk di kursi mewah tersenyum ceria, terus Isman dan istrinya berdiri di samping kedua putrinya.
"Iya," jawab pria itu.
"Tapi kalo tidak salah seorang temanmu pernah mengatakan bahwa kamu punya tiga anak. Dan semuanya perempuan." Iraz berbohong, ia hanya sedang menguji pria dihadapannya.
"Ti-tidak, kok." dia gugup. "Memang kami pernah mengadopsi seorang gadis, tapi dia sudah pergi."
"Pergi? Kemana?" Iraz sengaja memperpanjang.
"Hm, dia sudah menemukan keluarga kandungnya. Dan dia memilih untuk meninggalkan kami."
"Benarkah?" Iraz tampak tidak percaya. Ia terus mengamati foto-foto yang terpajang secara bergantian. Tidak ada foto gadis yang dia inginkan. Satupun dari ratusan tidak ada.
"Putrimu cantik." kata Iraz saat menatap salah satu foto yang objeknya anak sulung di keluarga itu.
"Hehehe. Selain cantik dia juga pintar loh. Dia lulusan universitas terbaik dengan IPK yang hampir sempurna." pria itu mengambil kesempatan untuk memuji putrinya.
"O ya?"
__ADS_1
"Iya. Dia menyelesaikan studinya dalam waktu tiga setengah tahun. Hebat, kan?"
Iraz mengangkat kedua bahunya. "Tampaknya kau sangat menyayangi putrimu," ucapnya tanpa menatap wajah Isman.
"Hehehe, semua ayah seperti kok." sahutnya.
"Hmmm, semoga itu tulus dari ginjal mu. Aku tidak mau mendengar bualan mulutmu hanya untuk terlihat keren. Itu banci banget!"
Isman menggaruk kepalanya. Dari tadi ada banyak perkataan Iraz yang tidak ia mengerti.
"Eh, aku lupa nawarin minum." ujarnya memplesetkan pembicaraan.
Tidak ada reaksi dari Iraz, artinya dia tidak keberatan disuguhi minum.
"Niken!!" panggilnya sekali. Seorang gadis yang kira-kira masih berusia dua puluh tahun muncul dari arah dapur.
"Iya, ada apa, Tuan?" tanyanya menundukkan kepala.
"Buatin kami kopi!"
"Baik, tuan." jawab gadis itu tanpa tersenyum sedikitpun.
"Kau punya banyak pembantu rupanya. Ada berapa?" entahlah apa yang terjadi pada Iraz hingga pria itu berubah jadi manusia kepoan.
"Nggak banyak kok, empat doang."
"Oh." pria itu berkata singkat. Ia kembali menelusuri foto yang tertempel. Ntah kenapa ia selalu tertarik dengan gadis yang paling kecil di keluarga itu.
Menyadari Iraz memperhatikan putri bungsunya, Isman langsung tergerak untuk memberitahu.
"Dia putri bungsu ku. Namanya Vanya Yorita. Dia murid berprestasi yang sedang dipersiapkan untuk sekolah di luar negeri. Kalo kakaknya yang tadi, namanya Melanie Erincson. Mereka anak-anak yang membanggakan." tutur Isman panjang lebar. Padahal Iraz tidak menanyakan apapun padanya.
"Nggak nanya sih," ucap Iraz pelan.
Isman jadi malu sendiri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ditatapnya wajah Iraz yang tertutup masker dengan wajah semu.
"Aku rasa aku menyukai salah satu putrimu." ujaran itu berhasil membuat Isman refleks tersenyum.
"Yang mana? Melanie? Vanya?"
Tentu saja bukan diantara mereka. Aku menyukai putrimu yang terbuang. Aine. batinnya.
"Aku tidak bisa memberitahu sekarang. Intinya suatu saat nanti aku ingin kau menjadi mertuaku." bersamaan dengan ucapannya itu, Niken--pembantu muda, datang membawakan dua cangkir kopi. Dia meletakkan kopi itu di hadapan pemiliknya. Setelah itu ia pergi.
Iraz mengangkat tangan kirinya dan melihat jam. Sudah pukul tiga, artinya Aine sudah selesai dengan kegiatannya.
"Kurasa cukup untuk hari ini. Aku pergi dulu," Iraz langsung bangkit, hendak meninggalkan pria itu.
"Eh, tapi kopinya...."
"Minum aja. Lumayan buat menyuburkan manggamu. Lagian secangkir kopi ini tidak lebih penting dari ayang. Bye," pria itu benaran pergi, tapi ia meninggalkan seulas senyum sinis di balik maskernya.
Tinggalin komen kalian yah, biar aku semakin semangat. Jangan lupa vote sama hadiahnya.
__ADS_1
Thanks beratttt, all.