Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
-


__ADS_3

"Van! Kamu apa-apaan!" Aine kaget melihat perubahan laju mobil yang berubah drastis.


"Kamu bilang kamu tidak pernah bahagia, kan? Maka aku akan membuatmu bahagia!"


"Ini namanya gila!" bentak Aine. Ia menggenggam pegangan mobil kuat.


Alvan tidak melanjut. Namun kecepatan tidak berubah. Meski pria itu sudah terdiam tetap saja nyawa mereka masih terancam.


"Van! Woi! Sadar! Kalo pengen mati jangan bawa bawa aku, woii! Aku masih pengen hidup meski kehidupan ku perih!" Aine menatap Alvan penuh rasa takut. Sudah jelas karena sikap Alvan yang langsung berubah drastis.


Tiba-tiba Alvan melambatkan laju mobilnya. Lalu kembali standar.


"Kenapa sih, Ain? Kenapa sih aku tidak bisa lagi mengisi hati mu?" tanya Alvan tiba-tiba. "Apa sih yang tidak kuberikan padamu?"


Aine mengusap dadanya. Untung pria itu tidak bernekat meluruskan tekongan. Kalo saja itu terjadi, mungkin mereka akan masuk jurang. Kemungkinan terbesarnya adalah mati berdua di dasar jurang. So sweet sih, tapi Aine nggak mau kalo bersama Alvan. Coba dia Iraz, mati dengan cara apapun asal bersama dia rela. Hahaha. Canda ding.


"Kamu lagi bad mood ya? Turunin aku aja, siapa tau gara-gara aku masuk ke sini kamu jadi agak miring." kata Aine lari dari topik yang diinginkan Alvan.

__ADS_1


"Ain! Plis deh, jangan seperti ini! Hargai aku sedikit saja!"


Gadis itu mengatupkan bibirnya. Kedua tangannya ada di atas paha. Wajahnya muram. Pandangannya lesu.


"Aku ngehargain kamu, kok. Emang siapa yang bilang aku tidak ngehargain kamu? Plis! Jangan ngadi ngadi!" balas Aine setengah berteriak. "Kalo memang kamu merasa tidak dihargai, ya udah, pergi saja, Van! Aku juga bisa hidup sendiri tanpa kamu!"


"AAAA!" teriak Alvan di dalam mobil. "Kenapa sih kamu jadi begini? Dahulu kamu sangat mudah diluluhkan!"


"Ya, karena saat itu aku belum pernah melihat manusia seperti Iraz. Dan setelah bertemu dengannya aku memutuskan untuk tidak berpaling darinya."


"AHHHKKK! IRAZ LAGI! IRAZ LAGI! APA ISTIMEWANYA SIH ANAK ITU?" teriak Alvan. Dia mengamuk tanpa alasan yang jelas.


"Nggak!"


"Turunin aku, cepat!" ucap Aine lagi.


"Nggak, Ain! Kamu tidak boleh berjalan sendirian malam-malam begini. Bahaya, tau!"

__ADS_1


"Aku punya kaki kok. Punya mata. Punya otak juga. Jadi meskipun bahaya setidaknya aku tidak memberatkan kamu lagi!"


"Kok kamu jadi gini sih?"


"Udah, deh! Turunin aja aku, nggak usah banyak bacot!"


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Aine. Mobil Alvan berhenti tepat di pinggir jalan. Gadis itu keluar tanpa membawa Apa-apa.


"Terima kasih karena sudah mengantar kan aku sampai ke sini." lalu gadis itu melanjutkan perjalanannya dengan tangan kosong. Apalah yang bisa dia bawa.


Sementara itu, Alvan mengiring Aine dari belakang. Sampai gadis itu benar-benar sampai di rumahnya. Karena sudah aman , Alvan meninggalkan rumah Aine dan pergi ke suatu tempat.


"Kerja yang bagus. Aku rasa Kalian pantas mendapatkan upah tambahan. Ini nah," kata Alvan mengeluarkan amplop warna coklat yang diisi oleh uang.


"Wah, terima kasih, Tuan ..." kata mereka memberikan tas Aine pada Alvan.


"Oke. Sampai jumpa. Suatu hari nanti aku masih membutuhkan kalian. Jangan sungkan untuk menghubungi kami.

__ADS_1


"Hmm, terima kasih banyak." Kata mereka Bersamaan.


"sama sama."


__ADS_2