
"Ai, kenapa sih kamu kepikiran mulu sama dia! Lihat tuh es krim kamu meleleh tak tersentuh," Iraz berkomentar ketika mereka duduk di emperan toko es krim.
"Aku tidak selera lagi." katanya lesu. Es krim di tangannya melumer gegara lama tidak disentuh.
"Ayolah, Ai, kita jauh-jauh datang kesini hanya untuk membelinya. Masa kau rela mood mu hilang gara-gara pria sialan itu! Setahuku es krim lebih manis darinya," ujar Iraz setengah kesal.
Gadis itu tersenyum kecil. "Jangan kesal begitu, Raz. Aku minta maaf."
"Ya udah, biar aku ga kesal, habisin dong!"
Aine mengangguk. "Iya, Raz." tidak ada pilihan lain, Aine terpaksa menghabiskannya. Ia takut kalau-kalau Iraz marah dan meninggalkannya. Hanya pria itu yang dia miliki saat ini.
Iraz menatap wajah gadis itu. Imut, manis, cantik, semua bisa tergambar disana. Imut karena matanya besar, manis karena auranya, dan cantik karena struktur wajahnya. Iraz suka memandanginya.
"Ai, ternyata kalo diliat liat kamu tuh mirip dengan Vey," Iraz bertopang dagu saat memperhatikan wajah gadis itu.
"Vey? Siapa dia?" tanya Aine antusias.
"Kau tidak mengenalinya, tapi dia wanita yang spesial." jawab Iraz.
"Oh." sahut Aine singkat. Ia terlihat tidak peduli padahal dalam hati ia kepo setengah mati.
Sambil menunggu Aine selesai, Iraz memilih bermain hape. Cukup bosan juga menunggu gadis itu. Tapi tak apalah namanya juga cewek.
"Tapi jujur ya, Ai, sebenarnya aku mengira Alvan itu ganteng. Nyatanya tidak sesuai ekspektasiku. Aku malah jauh lebih ganteng darinya," Iraz membuka topik lagi sembari bermain hape.
"Narsis!" timpal Aine.
"Ih, serius loh. Bajingan itu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku. Tidak tau apa alasan kenapa kamu lebih memilih dia ketimbang aku," Iraz sok-sok ngambek.
Aine tersenyum manis. Bibirnya kelihatan manis kala dilumuri es krim rasa coklat.
"Raz, mungkin bagimu perkataan yang tadi itu adalah lelucon, tapi bagi orang sepertiku, ucapan mu itu adalah ejekan." Aine menatap mata Iraz.
Pria itu melemparkan pandangan ke depan karena tidak cukup kuat bertatapan mata dengan Aine. Entah kenapa dia grogi saat menatap mata itu.
"Nggak kok, Ai, aku nggak bermaksud mengejek. Suer,"
"Aku tau, Raz. Cuman perasaan ini aja yang ngga bisa dikondisikan."
"Waduh, parah sih kalo udah terlibat perasaan. Apalagi udah dalam banget,"
Aine hanya tersenyum kecut. "Benar, Raz. Apalagi perasaan cintaku pada Alvan," tiba-tiba saja Aine kembali membahas pria itu. Matanya ulang mengembun. Otaknya balik membayangkan kenangan indah sebelumnya, saat keduanya masih sepasang kekasih.
Melihat itu Iraz mulai kesal. Kedua tangannya langsung meraih wajah Aine membuat gadis itu terkejut. Pria itu sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Aine, mata mereka bertatapan cukup dekat. Iraz berkata pelan namun terdengar jelas di telinga gadis itu. Sebuah kata-kata yang menghantarkan listrik ke tubuh Aine.
__ADS_1
"Cintai aku, Ai! Jangan lagi Alvan, dia nggak berguna."
***
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, perkataan Iraz terngiang-ngiang di telinga Aine. Dia mencoba menebak maksud perkataan pria itu namun tidak sedikit pun bisa ia cerna.
Sebenarnya bisa sih ditanyakan langsung, karena Iraz ada disampingnya. Tapi mau gimana, Aine pemalu plus penakut. Lagipula Iraz pasti menganggapnya bodoh jika menanyakan langsung. Jadinya ia diemin deh.
Sampai di rumah, matahari sudah menghilang. Langit juga sudah mulai menghitam. Satu persatu bintang mulai bermunculan di atas sana untuk menghiasi langit yang pekat. Malam segera datang.
Aine langsung bergegas menuju dapur. Ia tau Iraz lapar. Segera ia menyiapkan makanan untuk pria itu.
Kira-kira wajah Iraz seperti apa, ya? Apa benar lebih ganteng dari Alvan. Terus Vey siapanya? Lalu kenapa dia menutupi identitasnya?
Aine terus merenung hingga tidak sadar bahwa bawang yang ia goreng telah gosong.
Yang paling membuatku penasaran kenapa dia membantuku sejauh ini. Sungguh tidak ada jalan keluar untuk mengetahuinya semua ini. Aduh, Raz, sebenarnya kamu siapa, sih?
Aine terpaku dengan spatula yang menggantung di tangannya.
Yah, aku harus tau semuanya tentang dia. Iraz sudah menjadi temanku. Tidak mungkin seorang teman tidak mengetahui identitas temannya. Meski, aku lebih setuju jika dia pacarku. Hehehehe, halunya aku ini.
"Eh, gosong!" serunya ketika melihat bawang dalam wajan telah berubah warna menjadi hitam pekat.
"Ada apa, Ai?" tiba-tiba Iraz muncul.
Aine cukup terkejut, tapi dia pura-pura biasa aja.
"Nggak, Raz. Hanya nyanyi aja," jawabnya berbohong. Malu banget kalo Iraz tau bawangnya gosong gara-gara Aine mikirin dia.
"Oh." pria itu tidak terlalu memperhatikan wajan. "Bisa dipercepat nggak, Ai? Aku dah lapar banget," Iraz memegang perutnya, persis kayak wanita yang baru hamil.
"Iya, tunggu bentar lagi," jawab Aine. Artinya di tidak bisa mengganti bawang yang gosong itu.
"Oke." sahut Iraz meninggalkan Aine. Pria itu kini terbiasa dengan masakan Aine. Setelah kehadiran gadis itu, Iraz hampir tidak pernah makan di luar. Baginya masakan Aine lebih enak dari masakan koki manapun. Mungkin dikarenakan gadis itu pintar menakar rasa.
Tak lima menit lagi, makan malam Iraz terhidang di atas nampan. Aine mengantarkannya ke dalam kamar.
Iraz buru-buru menutup pintu ketika tubuh gadis itu berlalu. Acara makan nikmat ia lewati sendirian. Mereka tidak pernah makan berdua meski makan di tempat yang sama dan memakan masakan orang yang sama pula. Iraz masih saja bersembunyi di balik identitas palsunya.
Sambil menunggu pria itu selesai makan, Aine menyusun rencana untuk menguak siapa sebenarnya Iraz. Kali ini dia bertekad untuk melihat wajah asli pria itu.
"Benar, aku hanya perlu membiarkan dia tidur duluan, terus aku masuk ke kamarnya. Nggak mungkin dia tidur pake masker. Kalo pun pake masker mungkin nggak bakalan sadar kalo aku membukanya. Yahhh, ide yang brilian, Ai!" gadis itu tersenyum lebar. Merasa telah mendapat solusi yang paling baik.
Malamnya, Aine benar-benar menahan kantuk. Ia sampai merendam kakinya dengan air dingin. Juga sengaja menonton film horor agar terbayang mulu dengan hantunya. Karena biasanya dia akan sudah tidur kalo menonton film komedi---horor maksudnya.
__ADS_1
Pukul 01. 23 dini hari, Aine berhasil tetap melebarkan matanya meski kini mulutnya udah mulai menguap.
"Dia pasti udah tidur," gadis itu beranjak dari atas ranjangnya. Berjinjit dan membuka pintu dengan pelan, hampir tidak bersuara. Ia takut Iraz akan bangun bila tau dia belum tidur jama segini. Lagian kalo pria itu bangun, berarti misinya gagal total dong. Gagal sebelum mencoba ibaratnya.
Aine mulai menyentuh gagang pintu kamar Iraz. Dalam hati ia terus berdoa agar pria itu sudah tidur. Kalo semisal Iraz belum tidur, katakan aja dia masih main hape, yang akan terjadi pasti sesuatu yang buruk. Dampaknya sudah pasti buruk juga. Antara lain : Iraz marah padanya, dia dituduh penguntit dan yang paling parahnya, kemungkinan besar dia akan ditendang dari rumah itu. Akan tetapi rasa penasaran Aine mengalahkan rasa takut terusir. Ia tidak tahan lagi untuk mengetahui wajah asli Iraz.
Aine menutup mata ketika gagang pintu itu tertekan ke bawah. "Semoga dia sudah tidur," gumamnya.
Sial! Aine sudah mencoba beberapa kali untuk membukanya, dan kenyataan buruk yang dia terima adalah pintu itu terkunci dari dalam. Iraz mungkin sudah memprediksi ini dari dulu. Aine aja yang bodoh baru kepikiran untuk melakukan aksi tilik menilik.
"Astagah! Aku berusaha melek demi mendapatkan kekecewaan. Harusnya aku sadar kalo Iraz bukan manusia bodoh." Aine mengepalkan tangan lalu memukul wajahnya sendiri. Kayaknya sedang menghukum dirinya gegara kebodohan otaknya.
Dengan demikian, rencana yang pertama gagal. Kini harus berlanjut ke rencana yang kedua.
Mengintip dari fentilasi jendela. Itu adalah cara yang kedua. Sebenarnya Aine tidak menyangka akan gagal direncana yang pertama, tapi ternyata otak Iraz jauh lebih tinggi di atasnya.
Aine keluar dari rumah. Kebetulan fentilasi kamar Iraz hanya bisa diintip dari luar saja. Aine sih merinding, tapi tak apa demi sebuah tujuan yang mulia. Canda kok gess.
Di luar Aine sempat-sempatnya memperhatikan ke sekeliling. Tempat itu sepi banget, belum lagi mencekam. Bulu kuduk gadis itu berdiri seketika. Tapi meski demikian, ia tetap memilih mengabaikan yang namanya makhluk halus. Demi Iraz tersayang. Hehehe.
Aine menggeser kursi rotan yang terletak di teras. Ia mendekatkannya ke jendela kamar Iraz. Sesudah dianggap bisa gadis itu naik. Girang banget karena kursi itu bisa membantunya mencapai puncak fentilasi.
Tapi kegirangannya itu sirna saat mendapati lubang-lubang kecil itu ditutup dengan blanko. Pada akhirnya tetap aja hasilnya nihil. Wajah Iraz tetap aja tersembunyi.
"Apa dia sudah memprediksi semuanya? Hingga lubang terkecil pun ditutup olehnya. Gilak sih!" gerutu Jelita.
Jelita kehabisan ide. Semua rencana yang telah disusunnya tidak menghasilkan apa-apa. Pada akhirnya hasilnya sama aja. Zonkk.
Karena merasa tak mampu lagi, Aine memilih untuk tidur. Sebenarnya dia agak menyesal mengorbankan waktu tidurnya, tapi nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang perlu disesali. Pada akhirnya hasilnya sama aja.
"Tolong...sekali saja, biarkan aku melihat wajahnya," itu adalah doa yang dipanjatkan Aine setiap harinya. Berharap banget bisa mengenal wajah dengan kepribadian sebaik itu. Iraz the best.
Aine akhirnya memilih tidur. Toh tidak ada cara apa-apa. Identitas Iraz akan tetap tertutup.
Esoknya Aine bangun lebih cepat. Ia sudah menyusun rencana yang ketiga.
Jadi nanti kalo Iraz lagi mandi, dia bisa punya waktu untuk melihat isi hape pria itu. Nggak mungkin ga ada sedikit pun bukti di sana.
Keberuntungan berpihak pada Aine karena pria itu meninggalkan hapenya di atas meja. Makanya baru saja Iraz masuk ke kamar mandi, Aine langsung bergegas mengambil hape itu.
Dan, hari keberuntungan yang dia yakini itu ternyata hari yang apes juga. Gimana tidak kalo hape itu dikunci. Tetap aja dia nggak bisa mendapatkan apa-apa yang dia inginkan.
Aine cemberut saat menyalakan layar hape pria itu, ada foto seorang wanita di layar kunci.
"Cih, dia pasti Vey, kekasihnya itu."
__ADS_1