
Pagi hari, tepat ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan. Vey masuk ke kamar Iraz. Ia ingin memastikan apakah pria itu baik-baik saja. Jawabannya sangat di luar dugaan. Iraz belum bangun. Posisi tidurnya masih persis sama seperti yang ditinggalkan Vey tadi pagi. Sepertinya dia tidak bergerak sama sekali.
"Ai... Ai..." tiba-tiba saja pria itu bergumam. Membuat jiwa Vey kaget tidak kepalang.
"Duh, kirain manggil aku!" sungutnya berbisik.
"Ai, peluk aku, plis. Aku kangen banget sama kamu..." kata Iraz lagi. Vey hanya bisa garuk kepala sambil menerka apa maksud adiknya.
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi. Please, temui aku sekali lagi... setidaknya hanya untuk memberitahu bahwa kamu baik-baik saja di sana."
Vey merinding mendengar ucapan adiknya. Jujur aja, Iraz makin hari makin aneh deh. Kadang pria itu bisa diajak bicara, kadang berteriak tidak jelas, kadang murung tanpa alasan. Sekarang malah bicara saat tidur. Sebenarnya dia kenapa sih?
"Stevan," panggil Vey lembut. Ia duduk di tepi ranjang pria itu sambil membangunkannya dengan cara mengguncang tubuhnya.
"Astaga, badan kamu panas banget!" ujarnya khawatir. Ternyata alasan mengapa Iraz ngigo karena dia sakit. Sepertinya dia terlalu kepikiran pada Ai. Entah apa atau siapa Ai itu
"Kamu di sini?" tiba-tiba Iraz menggenggam tangan Vey. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sudah bangun. Kemungkinan besar dia melakukan itu di luar kesadaran.
Tentu saja hal tersebut membuat Vey lebih kaget lagi.
__ADS_1
"Ini aku, Stevan. Vey. Aku bukan Ai." kata wanita itu lembut. Ia berharap keadaan Iraz akan membaik setelah ini.
Pria itu terdiam. Tangan Vey masih digenggamnya dengan erat.
"Stevan? Kamu dengar aku, kan?"
Tidak ada sahutan lagi. Fix dia tertidur. Sepertinya ia tidak sempat mendengar bahwa wanita itu adalah kakaknya, bukan Aine.
"Hmm, kamu tertidur, ya?"
Tidak ada jawaban.
"Jangan tinggalkan aku." katanya sendu.
Vey yang tadinya ingin beranjak mau tidak mau harus mengurungkan niat. Ini demi adik tercintanya.
"Oke, tidurlah. Aku akan duduk di sini sepanjang yang kamu mau." Vey kembali duduk di tepi ranjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatapi wajah ganteng yang tengah tertidur itu. Duh, dia kok ganteng banget sih!
Sadar, Vey! Kamu udah punya ayang! Udah punya anak juga! Stevan itu adikmu, adik tersayang mu, jangan menatapnya demikian! Batin Vey.
__ADS_1
Tapi aku nggak bisa bohong sih, dia memang ganteng maksimal. Tidur begini aja dia genteng banget. Siapa sih yang bakal jadi wanita beruntung yang akan dapetin dia? Semoga aja wanita baik-baik.
"Ai itu siapa sih?" tanya Very tiba-tiba.
"Orang spesial." jawab Iraz pelan.
"Hah? Sejak kapan orang sepertimu mengakui orang spesial?"
"Sejak pertama kali bertemu dengan nya."
"Dia cantik banget ya?"
"Tentu saja."
"Jadi, kamu tersiksa dengan kedekatan Erin ya?"
"Ya, aku ingin lepas darinya. Aku ingin bersama Ai. Jika bukan Ai, aku tidak mau hidup lagi."
Okay. Jadi tugas Vey saat ini adalah mencari tau siapa itu Ai. Kalo bisa menariknya ke rumah itu agar Iraz kembali normal. Setidaknya senyuman hangat pria itu bisa kembali.
__ADS_1