Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Telepon Dari Vey


__ADS_3

Aine menganggap Iraz main-main dengan ucapannya. Makanya dia menolak dan mengatakan pria itu rese. Iraz juga tidak memperpanjang lagi, ia hanya mengatakan kalo suatu hari nanti Aine mau, disitulah dia memberitahu siapa orang yang dia sukai.


Iraz memarkirkan mobilnya di depan rumah. Mereka baru sampai ketika bintang mendapat giliran untuk bersinar. Sekitar mereka gelap tanpa adanya cahaya lampu.


Aine keluar duluan. Ia masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu. Setelah itu dia masuk ke kamarnya.


"Raz, aku mandi duluan, ya," mintanya pada pria yang sudah duduk di atas sofa.


"Hmmm," jawabnya singkat.


Buru-buru Aine masuk ke kamar mandi. Mereka harus bergiliran, maklumlah, kamar mandi di rumah itu hanya satu saja.


Sembari menunggu Aine selesai mandi, Iraz menghabiskan waktu membaca buku. Dari kecil ia emang suka membaca.


Sejam kemudian barulah Aine selesai mandi. Ia keluar dengan gaya yang sangat berbeda dari yang tadi. Wajahnya terlihat cantik tanpa riasan. Pakaian ketat yang ia kenakan tadi kini berganti dengan kaos putih longgar yang dipadukan dengan celana kulot. Tidak lupa rambutnya yang di sosis tadi sekarang dibungkus dengan handuk.


"Mau makan apa, Raz?" tanya Aine menatap Iraz.


"Semangkuk capcay kuah kayaknya enak malam ini." sahut Iraz tanpa menoleh dari bukunya.


"Baiklah. Dah lapar belum?"


"Nggak terlalu sih," jawab Iraz.


"Berarti aku boleh dong masaknya nyantai?"


Iraz tidak menjawab. Artinya boleh.


Aine mulai memasak. Memang sudah menjadi kewajibannya untuk menyajikan makanan untuk Iraz. Mereka tuh udah kayak suami istri yang saling melengkapi satu sama lain.


"Selamat makan." kata Aine mengantarkan makanan yang diinginkan Iraz.


"Kamu nggak makan?" tanya pria itu ketika melihat Aine hendak masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Nggak, Raz, aku nggak lapar."


"Setidaknya makanlah beberapa suap saja. Entar kamu sakit loh kalo lewatin makan malam," Iraz mengingatkan.


Aine tersenyum. "Dulu, nggak ada yang ngingetin aku untuk makan. Bahkan tidak ada yang peduli aku makan atau nggak. Sekarang hidupku lebih indah dengan adanya dirimu. Makasih, Raz..."


"Ai, Ai, kamu ngomong apa, sih? cepatlah ke sini, makan dari piringku saja!" pria itu menepuk kursi di sampingnya.


Aine bergegas. Kalo makan dari piring Iraz mah dia mau. Pasti rasanya lebih enak. Aine yakin akan hal itu.


"Katanya nggak lapar, kok bisa ngabisin sebanyak itu?" ucap Iraz tersenyum melihat tingkah Aine yang makan dengan lahap.


"Hehehe, rasanya lebih enak kalo makan sepiring berdua," jawab Aine sedikit malu.


"Hmm, kamu benar sih. Aku setuju," lanjut Iraz menutup makannya dengan meneguk segelas air putih. "Besok kita makan sepiring berdua lagi, ya..."


"Aku sih mau banget." ujar Aine keceplosan. "Maksudku, kalo kamu tidak keberatan."


Iraz memasang senyumnya. "Besok bisa diatur! Sekarang masuklah ke kamarmu, tapi jangan langsung tidur. Tunggu sekitar satu jam lagi. Sebenarnya sih harus tiga jam, tapi kayaknya kau nggak bakalan sanggup. Udah terlalu lelah berpura-pura hari ini,"


***


Jam 02.00 dini hari, Aine terbangun karena mendengar suara seseorang. Ia menguap, mengusap mata, berusaha bangkit.


"Iraz ngapain sih bicara sendiri pagi-pagi buta begini!" sungut Aine. Ia mengintip dari pintu kamarnya yang terbuka sedikit.


"Nggak, Vey. Cuaca di sini bangus. Aku suka." ucap Iraz pada seseorang di dalam hape. Pria itu sedang melakukan panggilan video pada seseorang. Aine yakin lawan bicara Iraz pasti perempuan. Terdengar dari suaranya yang melengking namun lembut.


"Disini? Jam 02.00 pagi. Iyalah, kan perbedaan waktunya sekitar 10 jam. Disitu masih terang? Iyalah, Astaga." pria itu terus bicara tanpa menyadari Aine memperhatikannya dari balik pintu.


Iraz bicara sama cewek yang bernama Vey, itu? Mereka ada hubungan apa, ya, sampai-sampai mengobrol pagi-pagi begini! Batin Aine.


Ia memperhatikan Iraz yang menumpuk buku di atas meja. Menggunakannya sebagai sandaran hape agar leluasa bicara dengan orang di dalam hape.

__ADS_1


"Kenapa aku harus takut? Nggak ada apa-apa disini! Nggak loh, Vey! Kangen banget, aku ingin memeluk gadis kecilku itu. Dia ada di situ? Kasih sama dia, aku mau bicara."


Aine mempertajam pendengarannya. Gadis kecil? Apa maksudnya? Apa dia punya wanita selama ini?


"Hai, sayang..." panggil Iraz. "Kiking kangen banget sama Zizi. Bagaimana kabarmu, sayang?"


Aine terhenyak. Ia tak nyangka kalau Iraz ternyata memiliki kekasih selama ini. Dia berbohong perihal tidak pernah dekat dengan wanita.


"Aku mau dicium dong," ujar Iraz pada orang di seberang. "Satu lagi, yang ini.." pria itu mendekatkan pipinya ke kamera. "Makasih, Mizi sayang....muuuuachhh,"


"Kiking udah ngantuk, besok harus kerja. Jadi besok malam aja kita lanjutin bicaranya, ya, sayang..."


Aine yang mendengar semua percakapan itu merasa kecewa. Kenapa lagi sekarang? Kenapa dia selalu begini setiap kali ada perempuan lain yang mendekati Iraz. Ia tidak suka, baginya Iraz hanya milik pribadi saja.


"Bye, dear. Love you so much." ujar Iraz di ujung percakapan mereka.


Aine terus berdiri di tempatnya yang tadi. Matanya memperhatikan Iraz yang sibuk mengembalikan buku ke tempatnya. Pria itu belum mandi, buktinya pakaiannya masih kameja purple yang tadi ia gunakan. Aine sedikit kecewa.


"Dia bahkan lupa mandi gara-gara bicara sama wanita itu. Berarti mereka sudah mengobrol lama. Mungkin sejak aku memutuskan untuk tidur!" Aine menerka-nerka. "Ai, ada apa denganmu?? Kenapa kamu cemburu seperti ini!! Ayolah, berfikir lah dengan normal!"


Gadis itu merengut. Rasanya hampa sekarang.


Ia kembali naik ke atas ranjangnya. Masuk ke dalam selimut, menarik bantal guling dan memeluknya.


"Bisakah kamu berubah jadi Iraz?" tanyanya pada bantal berwarna putih itu. "Aku ingin memeluknya seperti ini."


Jika ada yang mendengar perkataan Aine, pasti dia dikira gila. Apalagi saat berhalusinasi kalo bantal yang di pelukannya adalah pria yang sedang ia kagumi. Really crazy.


Aine mencoba menutup matanya. Ah, tapi sial! Bayangan Iraz selalu menempel di ingatannya. Dia tau kenapa ini terjadi, pasti karena dia sudah menyukai pria itu.


Iyalah dia menyukainya, jelas-jelas Iraz pria paling sempurna yang dia kenal. Siapapun pasti akan jatuh cinta juga padanya, soalnya pria wow banget. Selain keren, ganteng, pintar, bijak dia juga pria baik berhati emas. Tidak mungkin ada orang yang mau melewatkan pria itu.


Sementara itu Iraz mengganti pakaiannya dengan sepasang baju tidur. Ia tidak jadi mandi karena mendapat telepon dari Vey. Ia akan mandi nanti aja, kalo jam weker menyuruhnya bangun.

__ADS_1


Pria itu merebahkan tubuhnya. "Selamat tidur, Ai." ujarnya lalu menutup mata.


__ADS_2