Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kunjungan Aine #2


__ADS_3

Aine duduk setelah ia memperkenalkan dirinya. Mengaku bernama Zhang Mirae membuatnya sedikit tergelitik. Dari mana ia menemukan nama itu? Kok tiba-tiba tersemat begitu saja? Ini lucu sih.


Setelah memperkenalkan diri, gadis itu duduk di samping Iraz. Ia menindihkan kakinya dengan angkuh. Sesuai dengan rencana mereka sebelumnya. Tatapan gadis itu mengarah pada Melanie yang sudah duduk di hadapannya.


"Maaf nona Zhang, kalo boleh saya tahu, apa tujuan anda datang ke mari?" Isman berusaha membuka topik.


"Tujuanku?" gadis itu menoleh ke samping, menatap wajah Iraz. Artinya dia tidak tau mau menjawab apa.


Iraz buru-buru mengetikkan sesuatu.


'Jalan-jalan' ketik Iraz.


Otak Aine langsung bekerja merangkai kalimat dari kata jalan-jalan.


"Just a walk. Aku mendapat perintah untuk memeriksa cabang di kota ini. Pekerjaanku sudah selesai, tapi aku harus mempunyai bukti bahwa aku benar turun tangan ke kota kecil seperti ini. Caranya i harus mengunjungi salah satu rumah karyawan dan mengetahui latar belakang hidup mereka." jawab Aine.


Iraz mencoba menahan tawa. "Kamu ngomong apa sih, Ai! Nggak masuk akal, sumpah!" batin pria itu.


Tapi sepertinya satu keluarga yang mereka kunjungi itu otaknya tolol. Terlihat jelas ketika mereka semua mengangguk, mempercayai omongan Aine.


"Jadi, kenapa nona Zhang memilih saya?" tanya Isman dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ira.." ia menatap Iraz. Pria itu langsung menggeleng. Kayaknya keberatan dipanggil Iraz.


'Inui'


"Maksudku, Inui yang merekomendasikanmu. Katanya kamu hebat dalam mengelola keuangan di perusahaan. Aku penasaran dan akhirnya mengikuti rekomendasinya." jawab Aine.


Iraz mengangkat dua jempolnya di bawah meja, ia memuji kehebatan Aine dalam mengarang suasana. Dan Aine sempat-sempatnya membalas pria itu dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Wah, terimakasih tuan Inui, anda baik sekali," pria tiga anak menatap Iraz penuh hormat.


" You're welcome. Aku sudah bilang sebelumnya, sebenarnya saya melakukan ini karena saya menyukai salah satu putrimu." Iraz menatap Isman.


Mendengar itu kedua putri Isman, yakni Melanie dan Vanya langsung bawa perasaan. Apalagi Melanie, gadis itu langsung memasang senyum seindah mungkin sambil menyisipkan rambutnya ke kuping. Mungkin dia berfikir dialah orang yang dimaksud oleh pria bermasker hitam itu.

__ADS_1


Aine menoleh pada Iraz. Perasaannya langsung berkecamuk. Kenapa Iraz mengatakan menyukai anak Isman? Apa jangan-jangan pria itu benaran menyukai salah satu dari kedua saudarinya? Yang pasti bukan dia, karena Iraz tau benar bahwa dia bukan anak yang dianggap.


Benar, apa susahnya menyukai gadis seperti Melanie. Dia cantik banget. Laki-laki manapun juga pasti tertarik padanya. Buktinya saja Alvan, pria itu bisa menyukainya dalam sehari saja.


Dan jika gadis yang disukainya adalah Vanya, maka hal tersebut juga masih hal yang wajar. Bagaimanapun juga Iraz pasti pria normal. Vanya cantik seperti Melanie, hanya saja masih muda. Bukan hal yang salah menyukainya. Tidak ada larangan juga untuk jatuh cinta pada bocah SMA. Namanya juga hati.


Tiba-tiba hati Aine berkerut. Rasanya tuh nyesek banget. Apalagi jika Iraz serius dengan perkataannya. Wah, double sial nasibnya.


Aine mengarahkan pandangannya pada keempat manusia yang duduk berdempetan. Ia meneliti satu-satu wajah mereka. Hampir tidak ada yang berubah. Papanya masih sama seperti dulu, menggunakan Hair gel dalam jumlah yang banyak hingga kepalanya terlihat berkilau. Mamanya masih saja membentuk alis seperti gambaran gunung anak SD, tinggi banget. Vanya masih dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai setiap saat. Dan Melanie masih dengan pakaian ketatnya.


Bahkan setelah dia hilang, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang takut akan kepergiannya. Semua masih menjijikkan.


"Entah kenapa aku merasa ada yang ganjil di rumah ini." Aine menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Tercium bau ketidakadilan di sini,"


Andari langsung berhehe. "Hehehe, feeling anda saja mungkin,"


"Iya, sih. Semoga aja memang begitu." kata Aine sampir. "Oh iya, btw aku mendengar banyak hal tentangmu. Katanya kamu pengoleksi barang mewah. apa itu benar?"


Wanita itu tersenyum lebar. Ia menutup mulutnya dengan jari-jari, persis ketika seorang bangsawan yang sedang tertawa tapi berusaha menutupi giginya. "Iya, benar Nona."


"Kita sama. Aku juga pengoleksi barang seperti itu. Tapi bedanya aku mendapatkannya secara halal." ucap Aine tersenyum sinis di balik maskernya. Ia tidak tahu bagaimana cara mamanya mendapat barang-barang mewah koleksiannya selama ini. Yang pasti ia mendapatkannya secara curang.


"Aku tidak bilang begitu! Aku hanya mengatakan bahwa aku mendapat apa yang kumiliki secara halal. Kalo tentang kamu aku tidak tau!" jawab Aine sinis.


Iraz tersenyum puas. Ini lebih dari yang ia harapkan. Aine tidak kaku dalam menjalankan perannya.


Semua terdiam. Aine berdehem agar suasana kembali bangkit. "Hmmm, tenggorakan ku kering. Apa di rumah ini ada air minum?" tanyanya sok-sok kehausan.


Isman langsung buru-buru memanggil pembantunya.


"Niken!" panggilannya. Yang dipanggil langsung datang.


"Iya, Tuan?"


"Siapkan yang ku perintahkan tadi!" titahnya. Mungkin mereka sudah membuat kesepakatan sebelum Aine dan Iraz sampai di rumah itu.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawabnya bergegas menuju dapur.


Sepeninggalan gadis itu, Isman minta maaf. "Maaf Nona Zhang, saya lupa menawarkan minum," ujarnya menunduk.


"No problem. Aku sudah tahu kok kamu nggak punya sopan santun!" ketus Aine. Hal tersebut membuat mereka refleks menoleh ke arah gadis itu.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanyanya sok-sok tidak merasa bersalah.


Mereka menggeleng bersamaan. "Tidak, Nona." pasti mereka beranggapan bahwa Aine salah mengucapkan lagi.


"Apa kalian hanya punya dua anak saja?" tanya gadis itu membuka topik baru. Ia ingin memastikan kejujuran keluarga itu.


Andari mengangguk. "Iya, Nona." jawabnya mantap.


Saat itu juga hati Aine terbakar. Okelah, mungkin Iraz sudah menceritakan ini sebelumnya, selain itu dia juga sudah sering merasakan yang namanya tidak diakui dan biasanya dia baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang berbeda? Apa karena dia sudah merasa berharga? Atau karena keberadaan Iraz yang membuatnya demikian? Entahlah, intinya dia merasa kali ini perbuatan mereka tidaklah bisa dimaafkan.


"Kalian yakin? Apa tidak ada saudara yang lain?" mata Aine yang di hiasi softlens biru menajam menatap Melanie.


Gadis yang ditatap Aine menggeleng.


"Kurasa kalian melupakan seseorang." ucapan itu berhasil mengundang kekawatiran bagi Iraz.


"Jangan terlalu mencolok, Ai! Mereka akan curiga padamu!" teriak Iraz dalam hati. Ia juga mengetikkan kalimat itu di hapenya. Ia berusaha keras memberikan kode agar gadis itu menoleh pada hapenya, tapi yang dilakukan Aine malah cuek tingkat dewa.


"Tidak, Nona Zhang! Kami tidak melupakan siapapun, kok." kini Vanya yang menjawab.


"Hmm, baiklah. Kurasa kalian sudah mengikhlaskan." suaranya lirih saat mengatakan itu.


Jika kalian tidak menganggap ku sebagai manusia lagi, maka aku juga akan demikian. Tunggu saatnya!


"Ngomong-ngomong, aku mau tau dong apa pekerjaanmu!" Aine menatap Melanie. Mungkin dia paling dendam pada gadis itu hingga Melanie mulu yang menjadi sasaran matanya.


Melanie memberitahukan pekerjaannya lengkap dengan profilnya. Ia dengan bangga memberitakan bagaimana perasaannya saat naik jabatan dan sebagainya. Intinya dia menceritakan semua pencapaiannya tanpa menyelipkan keburukannya. Membuat semua orang yang mendengar ucapannya menilai dia sebagai orang pintar


"Kamu pelakor, kan?" tanya Aine tiba-tiba. Tentu saja hal tersebut berhasil menarik perhatian semuanya, termasuk Iraz.

__ADS_1


Gadis itu mengerutkan keningnya. "Aku bukan pelakor. Aku tidak pernah merebut siapapun!" balas Melanie tajam.


Iraz habis akal. Ia tidak bisa membantu Aine kali ini.


__ADS_2