Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Erin Bolwn


__ADS_3

Besoknya, Iraz memilih untuk kembali ke pusat perusahaan. Ia mengambil alih pekerjaan Papanya yang hancur berantakan selama beberapa hari ini. Sudah menjadi tugasnya memperbaiki semua kesalahan yang ditinggalkan oleh Papanya.


Kabar kepulangan Iraz tercium oleh hampir semua orang. Tak terkecuali Erin Bolwn, gadis cantik yang berprofesi sebagai model papan atas. Ia menyandang gelar Dewi berkat parasnya yang memukau.


Mengetahui kepulangan pria keren itu, Erin langsung pasang ancang-ancang untuk mendekatinya. Lagipula ia sudah punya jurus untuk mematahkan pria itu. Dia bisa memastikan kalo Iraz akan bertekuk lutut di hadapannya. Sudah cukup lama ia berharap memiliki pria sekeren Iraz.


"Stevan! This is you?" Erin masuk ke ruangan Iraz, menemui pria yang sedang bekerja.


Iraz menatap gadis itu sejenak, langsung merasa malas. Dari dulu ia sudah muak dengan manusia itu.


"Hmmm, I thought you were busy. But it's okay, I'll wait for you to finish. We'll eat together right?"


"Okay." jawab Iraz pendek.


Wanita itu langsung berseri. Okay?? baru kali ini dia mendapat jawaban okay dari Iraz. Biasanya penolakan yang dilontarkan pria itu. Tunggu, tunggu! Apa Vey membantunya kali ini? Apa wanita itu menjalankan rencana mereka? Kalo ya, betapa beruntungnya dia mulai sekarang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Erin.


"Buruk. I'm such a mess." jawab Iraz.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin memberitahumu!"


"Oh, baiklah! Tapi... kamu tau? Aku datang ke sini untuk menyampaikan pesan Om Alex padamu. Jadi sebelum beliau jatuh sakit, dia memanggilku. Lalu dia memintaku agar bersedia untuk menikah denganmu. Jadi..."


"Oke, aku tau. Kita bakal nikah, fine." Iraz mengentikan tangannya, beralih menatap gadis di depannya.


Astaga, menikah? Woww, mimpi apa Erin semalam hingga bisa mendengar kalimat itu dari Iraz. This is so amazing.


Impian terbesar Erin selama hidup adalah memiliki Iraz seutuhnya. Karena dengan memiliki pria itu, dia akan menjadi wanita paling sempurna. Ah, akhirnya tercapai juga.


Iraz mencengkram kertas di bawah tangannya. Jika bisa jujur, maka ia ingin menolak permainan ini. Tapi... dia juga ingin papanya bahagia. Setidaknya ia bisa memberikan sesuatu yang berharga pada pria itu.


"Sepertinya kamu butuh waktu untuk bekerja sendiri, aku akan menunggumu di rumah saja. Datanglah ke rumahku, temui kedua orang tuaku..."


Iraz mengangguk. Tidak ada pilihan lain. Ini yang terbaik.


Sepeninggalan gadis itu, Iraz menangis memikirkan nasib Aine. Apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Bagaimana lomba yang dia ikuti? Apa dia sedang menangis kayak anak kecil yang kehilangan ibunya? Atau malah sudah melupakan Iraz?

__ADS_1


"Ai... semoga kamu baik-baik saja. Maafkan aku memilih jalan yang salah. Aku yakin, ada rencana lain dibalik semua ini. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku." Iraz memeluk sebuah foto yang berobjekkan gadis curly.


"Tapi, aku tidak rela kalo kamu dimiliki pria lain... kamu itu hanya milikku!! Ya, hanya milikku!"


Tanpa terasa, dunia Iraz berubah. Jika dilihat dari awal kehidupannya, pria itu bukanlah orang yang mau bermonolog. Apalagi menangis tidak jelas. Tapi setelah mengenal Aine, dia sama kayak pria bucin lainnya. Dia jadi sering merenung dan memikirkan hal di luar logika. Aine merubah segalanya.


"Jika aku diberi kesempatan untuk merubah takdir, maka hanya satu yang ingin kurubah. Aku ingin membuat Aine menjadi gadis yang diinginkan papa menjadi menantunya. Hanya itu saja!"


***


"Ma... Pa...!" Erin masuk ke rumah sambil bersorak kegirangan.


"Erin? Ada apa, sayang?" wanita setengah baya dengan kerutan halus di wajahnya menyahut seruan Erin.


"Ma... ada berita besar..."


Wanita itu mengerutkan keningnya. "Apa?"


"Stevan sudah kembali!" ujarnya berseri.


"Mama sudah tau, Rin! Tadi Mama baca dari artikel!"


"Jadi apa dong?"


"Dia mau menikah denganku, Ma...!"


"What? are you serious?"


"Iya, Mam! Rencana kita berhasil!!" Erin tersenyum puas. "Aku bakalan menjadi nyonya Joubert. Hebat nggak?"


"Wowwww. Congrats my princess. Gilak sih kalo sampai benaran!" wanita itu memeluk putrinya erat.


"Ih, benaran loh Mam. Aku baru dari kantornya. Mama tau? Dia nggak ngelarang aku masuk, lalu aku ngajakin dia makan, eh dianya mau. Yang paling hebatnya lagi, aku nyuruh dia bertemu kalian, dan dia langsung mau dong!!!"


"Wow...wow...ini luar biasa. Kegetok apa kepalanya hingga berubah seperti itu? Perasaan dia bukan orang yang asal mengiyakan," wanita dengan alis kayak gunung itu tersenyum senang.


"Kayaknya Vey menolong kita deh, Mam. Aku yakin, dia yang sudah membujuk Stevan."


"Ohhh. Bagus, berarti dia berada di pihak kita. Ya, kan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kita punya peluang sekitar lima puluh persen untuk menempati posisi yang kosong." Erin tersenyum kecil. "Mari menikmati hidup yang indah. Aku bakalan jadi manusia sempurna. Hahahaha,"


"Wih, akhirnya tercapai juga... selamat sayang...."


"Makasih, Mam. Btw dimana Papa?"


"Belum pulang, sayang..."


"Gak sabar nungguin papa pulang, pasti dia sangat senang mendengar berita ini... ya 'kan?"


"Tentu saja, sayang..."


***


Iraz masuk ke dalam rumah. Dua pria datang menemuinya, menunduk di hadapannya. Mereka adalah bodyguard khusus untuknya. Bertugas menemani Iraz kemanapun.


"Istirahatlah! Aku nggak kemana-mana!" perintahnya pada keduanya. Yang dieuruh langsung mengangguk dan pergi.


Pria itu melanjutkan langkahnya. Ia sudah sampai di ruang utama yang luasnya sama dengan stadion sepak bola.


"Kiking!!!!" tiba-tiba seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan berlari ke arahnya. Anak itu kira-kira berusia enam tahun. Rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya bening, hidungnya mancung, persis kayak Baifern Freya. Dia cantik kayak mamanya.


Iraz menoleh pada gadis kecil itu.


"Kiking dari mana aja?? Zizi udah kangen ama Kiking..." gadis yang ternyata adalah Zizi itu memeluk paha Iraz. Hanya itu yang bisa ia gapai mengingat tinggi Iraz sangat jauh dibandingkan dirinya.


Perlahan Iraz melepaskan tangan Zizi. Ia berjongkok di depan keponakannya. "Kiking lagi sibuk, kapan-kapan aja Kiking jawab pertanyaan Zizi, ya?" mengusap puncak kepala Zizi lalu meninggalkannya.


Sungguh, Zizi kaget dengan perlakuan Iraz yang berubah drastis. Ia yang anak kecil aja sakit hati dengan sikap cuek pria itu.


Zizi melihat tubuh besar pamannya masuk ke ruangan yang di tempati kakeknya. Ia mengikuti dari belakang.


"Pa... Stevan kuat kok, aku yakin, ini yang terbaik untuk kita semua. Sebaiknya cepat sembuh agar bisa melihat Iraz bahagia. Maksudku Stevan..."


Diam-diam, Zizi mendengar ucapan itu. Dia mengumpat di balik pintu.


"Malam ini Stevan akan ngelamar Erin. Harusnya Papa baik-baik saja agar bisa menyaksikannya. Bukankah ini yang papa inginkan?"


"Sembulah, Pa... beban Stevan akan menghilang kalo Papa sembuh. Aku akan bahagia, Stevan janji..."

__ADS_1


__ADS_2