
Pagi hari tiba. Aine duduk di kursi sambil memainkan hapenya. Hari ini dia tidak masuk karena akhir pekan. Jadi dia memutuskan untuk bersantai seharian.
Alvan datang ke tempat Aine setelah pulang dari kantor. Akhir pekan agak santai, jadi dia lebih cepat datang.
"Hai, Ain... siang," sapa Alvan. Dia datang dengan banyak kantong plastik di tangannya. Bibirnya mengembangkan senyum manis.
Aine mengangkat wajahnya. Melirik Alvan sejenak. Lalu sorot matanya berpindah ke tangan pria itu.
"Bawa apa?" tanya Aine agak cuek.
"Banyak. Asa belanjaan juga bahan pokok. Aku nyempetin diri buat membeli semua ini." kata Alvan mengangkat kantong plastiknya. Tentu saja setelah memamerkan barang barang yang dia bawa.
"Oh. Makasih." sahut Aine lalu kembali cuek. Tatapannya seratus persen teralih pada hape di tangannya.
"Kamu lagi apa? Kok sibuk banget?"
__ADS_1
"Nggak. Cuma lagi liatin mata Iraz aja sih. Aku kangen sama dia." jawab Aine lemah. "Liat deh, dia ganteng banget seperti ini. Eh, dia kan emang ganteng. Mau gaya seperti apa dia tetap Perfect. Miss you banget pokoknya," gadis itu menunjukkan satu foto Iraz yang diambil secara diam-diam. Waktu itu Iraz mengenakan Hoodie berwarna abu-abu dan sedang asik mengiris bawang. Tampak gagah ketika memasak.
Alvan tidak bisa berbohong. Iraz memang keren. Dia yang laki-laki aja mengakui. Tentu saja perempuan lebih gila dalam menilainya. Tapi justru karena pria itu keren lah dia tidak suka. Karena ulahnya Aine jadi benci padanya. Seandainya saja gadis itu tidak mengenal Iraz, pastinya dia akan bertahan dalam mencintai Alvan. Tapi semua hancur karena ulah pria itu.
"Hmmm, sepertinya tidak baik membicarakan pria lain di depan pacar. Aku agak sakit hati jadinya," Alvan memperingatkan.
"Idihhh, emangnya situ siapa aku? Teman juga tidak!" ketus Aine.
"Loh, aku kan pacar kamu. Mantan maksudku,"
"Kenapa emang? Bukan kah kita hidup bahagia sebelumnya?"
"Iya, tapi jika pikir pikir lagi, lebih baik aku hidup begini. Lagian standar cowokku sudah naik.. Sudah harus ganteng, pintar, kaya , baik, good attitude. Intinya persis seperti Iraz. Kurang dari situ aku nggak mau."
"Ye, itu sih namanya kamu ketinggian!"
__ADS_1
"Terserah, yang penting aku memilih standar. "
Alvan menyadari perdebatan situasi. Ya, lebih baik jika mencari topik lain. Atau tidak mengajak gadis itu memasak. Atau apa lah yahh membuatnya lupa pada Iraz.
"Eh, kita masak aja yuk, aku dah lapar banget nih," terpaksa berbohong agar topik teralihkan.
"Masak aja sendiri! Kamu kan punya tangan, punya mata, punya hati, jadi bisa sendiri kan. Aku masih harus menatapi wajah Iraz ini. Agar rinduku terbayarkan. "
Alvan mengepalkan tangannya kuat. Kenapa sih gadis itu tidak mau berpaling? Padahal dia udah mencoba untuk melakukan yang terbaik. Tapi apalah yang bisa dia buat olehnya selain menikmati perlakuan Aine.
"Ain, aku pergi ke dapur dulu," ijin Alvan.
"Oke." balas Aine singkat. Ia kembali fokus pada hape di tangannya.
Ternyata Alvan tidak masuk ke dapur. Ia berhenti di depan pintu demi mendengar apapun yang dikatakan oleh Aine. Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Aine.
__ADS_1
"Ain, maafkan aku. Jika kamu tidak mau melupakannya, maka aku akan memaksamu untuk melupakannya.