Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Jalan Menuju Tujuan


__ADS_3

Aine tidak jadi mendapat hadiah, Iraz mengatakan belum waktunya. Jadinya, ia manyun sepanjang perjalanan pulang.


Iraz tersenyum kecil melihat tingkah gadis cantik itu. Gemes banget jadinya.


"Iraz, aku ga bakalan tidur malam ini! Sebelum mendapatkan hadiah itu!"


***


Pagi hari di kantor...


Isman bergetar saat duduk di hadapan kursi Iraz. Kursi itu kosong, tapi anehnya mampu membuat dada Isman mengombak kencang. Mungkin ia takut menghadapi kemungkinan yang akan terjadi padanya.


Sejak sekretaris memanggilnya tadi, ia sudah bisa merasakan sesuatu yang buruk akan menghampirinya. Entah itu apa, tapi ia yakin tidak ada kabar baik hari ini.


"Ohhh, sudah ada ternyata," Iraz masuk ke ruangannya, menatap Isman yang sudah duduk di kursi yang disediakan.


Pria berjas hitam, tertutup masker itu berjalan menuju tempat duduknya. Ia begitu angkuh saat mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran. Tatapannya tajam ke arah pria setengah baya yang sedang menunduk.


"Pak Isman, apakah Anda kaget dengan panggilan saya?" tumbenan banget Iraz sopan pada pria itu.


"Tentu saja, Tuan.." jawab pria itu pelan.


"Anda berbohong. Tentu Anda tau kenapa saya memanggil Anda. Ya, kan?" nada suara Iraz pelan namun memekak.


"Saya benar-benar tidak tau, Tuan,"


Iraz terdiam sejenak. "Baiklah, tampaknya saya akan menjelaskan." melipat tangannya di depan dada.


"Sebelum sampai ke inti, saya ingin menanyakan sesuatu."


"Menanyakan apa, Tuan?"

__ADS_1


"Sudah berapa banyak dana yang sudah Anda gelapkan selama bekerja di perusahaan ini?" pertanyaan itu tentu menghantam kesadaran Isman.


"Ma-maksud Anda?" tanya Isman bergetar.


"Tidak usah pura-pura bodoh! Kau pikir aku tidak tau semua kelakukanmu?" Iraz kembali ke jati dirinya yang sebenarnya, kejam dan ketus.


Isman meremas tangannya di bawah meja. Sesungguhnya ia sudah memprediksi ini sebelumnya. Kebusukan yang telah ia sembunyikan rapat-rapat selama ini kini terkuak kebenarannya. Ia tau, karirnya akan berakhir sekarang.


"Hampir setengah dari umurmu kau abdikan bekerja di perusahaan ini, tapi anehnya tidak ada satupun yang menyadari kerakusanmu! Aku bingung, bagaimana koruptor bisa lewat dengan mudah. Berpuluh tahun lamanya kau menggendutkan rekeningmu tapi tak satupun menyadarinya. Big applause for you," Iraz menepuk tangannya, dia bukan memuji, melainkan menghina.


"Aku tau kenapa kau tidak tertangkap selama ini, pertama, karena kau bekerja sama dengan bos sebelum aku. Kedua, karena wajahmu begitu kalem dan dermawan hingga siapapun tidak akan tega mendugamu korupsi. Dan yang ketiga, karena kau pintar menghapus jejak. Hebat memang..." pria muda itu mengeluarkan setumpukan laporan dari lacinya. Ia menyerahkannya pada Isman.


"Kau melakukan banyak sekali pelanggaran, termasuk membodohi proses keluar masuknya anggaran. Menggelapkan uang yang seharusnya dibagikan kepada karyawan dan yang paling parahnya, kau menyuap Pak Lee, CTO perusahaan ini agar putrimu Vanya dapat kuota kuliah ke luar negeri. Dan ada banyak lagi kerugian yang kau timbulkan..."


Isman menarik laporan itu seraya mendengarkan perkataan Iraz. Ia membuka satu-persatu lembar yang bertuliskan kejahatannya.


"Mungkin karena perusahaan ini tidak terlalu berpengaruh ke perusahaan pusat hingga tikus-tikus seperti kalian bebas berlarian. Tapi ya, pada akhirnya aku tau harus melakukan apa kedepannya. Jika nanti aku kembali, aku akan meluncurkan peraturan ketat. Ini tidak akan terjadi lagi!"


Isman tidak bicara, ia fokus merenungi kebodohannya sambil memikirkan hukuman apa yang akan menghampirinya.


Pria paruh baya itu menunduk dalam. Ia tidak bisa membantah seperti permintaan Iraz, karena jelas-jelas bukti kekotorannya sudah ada di tangan pria itu.


"Sebenarnya aku tidak heran kenapa kau harus korupsi. Melihat Istri dan kedua putrimu yang begitu konsumtif bisa membuatku mengerti kemana uang yang kau gelapkan selama ini. Kalian keluarga yang gila..." kata Iraz pedas.


Ya, benar, keluarga Isman memang sangat konsumtif. Mereka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu perlu. Contohnya saja membeli banyak tas dengan harga yang mencekik. Belum lagi pakaian, sepatu, dan lain sebagainya. Intinya mereka tidak mau membeli barang jika tidak berlabel khusus.


"Bagaimana? Apa kau ingin membantah?" tanya Iraz.


Agak lama Isman menjawab. "Saya hanya akan menyangkal perihal Pak Lee saja, Tuan.." balasnya pasrah.


"Pak Lee? Apa kau pikir aku bodoh? Istri Pak Lee adalah kepala sekolah di sekolah Vanya. Kau menyuap dia agar mau membujuk istrinya untuk memberikan kuota pada Vanya. Bahkan uang yang kau gunakan adalah uang perusahaan dengan mengatakan bahwa itu adalah keperluan bersama. Kau memanipulasi orang dengan mengganti istilah lain. Aku tau semuanya...'' Iraz menyela.

__ADS_1


Pria paruh baya itu kembali menunduk. Ia tau Iraz bukan orang biasa. Bukan orang yang mirip dengan bos sebelumnya. Dia memang masih muda, tapi otaknya tidak terjangkau. Kemarin saja, tiga karyawan dipecat karena alasan sepele. Karena mereka tidak disiplin dan dianggap merugikan. Dan yang paling anehnya, Iraz seolah-seolah tidak mengamati apa-apa tapi mengetahui segalanya.


Saat Iraz menginjakkan kaki di kantor itu, Isman sudah merasakan sesuatu yang buruk. Ia juga tidak heran kenapa bukti-bukti yang dia hapuskan selama ini bisa didapat oleh Iraz dengan mudah. Entah bagaimana, intinya dia patut ditakuti.


"Katakan satu kata padaku!"


"Maafkan saya, Tuan..." ucap Isman.


"Maaf? Memang benar ya, kamu korupsi?" jelas, jelas Iraz sedang mempermainkan pria itu.


Tidak ada jawaban, ruangan itu hening.


"Baiklah, kamu mengakuinya secara tidak langsung. Mau bertanggung jawab?" tanya Iraz santai.


Pria itu tetap terdiam. Kedua bibirnya mengatup rapat, seolah-olah sengaja di lem.


"Padahal selama ini aku sudah baik padamu. Mengijinkanmu memanggil namaku Inui, mendatangi rumahmu, aku juga memilih keluargamu sebagai tempat persinggahan Nona Zang. Tapi inilah yang terjadi, kau tikus." Iraz menghelai nafas sejenak.


"Mungkin kau berfikir aku tidak mungkin memenjarakanmu karena status perusahaan yang milik oknum pribadi. Tapi kau harus tau, aku bisa menyeretmu ke penjara dengan pasal berlapis. Karena aku bisa saja memiliki kekuasaan di sana. Tapi karena kamu adalah calon mertuaku, maka aku tidak akan membusukkanmu di sel. Sebagai gantinya, aku akan memberikanmu dua pilihan." Iraz menatap pria itu dengan tatapan aneh.


Isman tidak mampu melakukan apapun, bahkan berkedip seolah pekerjaan yang susah untuk dilakukan saat ini.


"Normalnya, aku akan memecat mu dan mendenda sebanyak yang kau habiskan. Namamu akan buruk, dan keluargamu akan jatuh miskin. Mungkin segala aset yang kau miliki tidaklah cukup untuk membayar semua perbuatanmu. Dan, Vanya, kuota yang kau suap akan hangus dan sia-sia. Kau sudah bisa membayangkan kehancuran itu mulai dari sekarang."


"Akan tetapi, aku punya tawaran yang menggiurkan. Kau tidak akan ku pecat.Dan masih bisa bekerja di perusahaan ini. Tapi, kau akan ku kirimkan ke unit terkecil perusahaan ini, yaitu desa yang jauh dari kota ini. Dan semua asetmu akan dikuasai seseorang sampai waktu yang sudah ditentukan. Dan selama hukumanmu berjalan, istri dan kedua putrimu akan menjadi budak."


"Jika kamu menyetujui pilihan yang kedua, aku menjanjikan jabatan tetap untukmu. Maksudnya, jabatanmu akan tetap setelah masa hukuman selesai. Dan, aku tidak akan membocorkan informasi kejahatan mu ini. Selamanya, ini akan menjadi rahasia kita, dengan syarat, kau harus menjadi orang yang baik setelah ini. Cintramu akan baik selamanya meski perilakumu sangat-sangat bangsat. Bagaimana?"


"Saya pilih yang kedua, Tuan," jawabnya amat cepat.


Iraz tertawa seram. "Aku tau itu tawaran yang wow. Sudah melakukan kejahatan, tapi tertutupi dengan hukuman kecil. Tapi tidak apa-apa, aku juga menginginkannya. Baiklah, aku akan membuat surat kontrak dalam jangka tiga bulan. Selama masa ini, kalian satu keluarga akan dikuasai oleh seseorang. Tenang saja, aset dan segala yang kalian miliki tidak akan diambil sedikit pun. Ini hanya acara balas dendam."

__ADS_1


Isman mengangguk setuju. Ia tidak peduli badai apa yang akan datang selanjutnya. Kapan lagi nemuin tawaran seperti ini. Tidak kehilangan apa-apa, nama tidak kotor dan masih tetap mendapat jabatan tinggi. Ini luar biasa.


"Oh iya, sebagai informasi, orang yang menginginkan hal ini adalah nona Zhang. Dan yang akan menguasai keluargamu adalah Zang Mirae alias Aine Fourie." kata Iraz tersenyum sinis di balik maskernya.


__ADS_2