
"Pagi! Pagi! Pagi! Tetap semangat! Luar biasa!!!!" Iraz masuk ke dalam rumah selesai melaksanakan joging. "Ai! Ai! Ai! Tetap kucinta! Selamanya!!!" menirukan intonasi yang sama namun dengan kalimat yang berbeda.
"Iya! Iya! Iya! Mandi dulu! Biar sarapan!!!" nah, si Aine malah ikut-ikutan.
"Baik! Baik! Baik! Tetap nurut! Asal Ai bahagia!!!"
"Udah! Udah! Udah! Aku capek! Cepatan mandi!!!!"
"Hahahaha." keduanya tertawa kompak saat menyadari kekonyolan itu.
"Ada-ada aja!" gumam Aine setelah tubuh pria itu ditelan kamar mandi. Ia mendengar Iraz bernyanyi dari dalam sana. Suaranya bersaing dengan jatuhan air dari shower. Bisa-bisanya dia lupa pekerjaannya gara-gara menguping nyanyian laki-laki yang sedang mandi itu. Dasar Aine!
"Gilak! Suaranya merdu!" gumamnya mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan Iraz. Jadilah mereka bernyanyi bersama namun dalam tempat yang berbeda.
Iraz selesai mandi. Dia keluar dengan badan setengah telanjang.
"Ai, aku dah harum..." ucapnya memberitahu.
"Hihihi, bagus dong. Pakai baju sana!" ujarnya memerintah. "Kalo nggak pake baju, nggak boleh makan!"
"Oke, bosss!" Iraz tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya. Tiga menit kemudian, dia keluar hanya dengan menggunakan celana panjang.
"Ai, kau lihat kameja purple ku nggak?" tanyanya pada gadis yang sedang sibuk menata meja makan.
"Di lemari paling bawah, aku sudah menyetrikanya semalam,"
"Oh, oke..." Iraz kembali masuk ke kamarnya. Eh, tapi belum satu menit ia sudah kembali berteriak.
"Nggak ada, Ai!" ucapnya menyembulkan kepalanya di pintu kamar.
Aine mengerutkan keningnya. "Seingatku ada kok. Jelas-jelas semalam aku yang menyusunnya,"
"Tapi nggak ada, Ai! Aku dah nyoba cariin dari tadi..."
Aine mematikan kompor. Ia turun tangan untuk mencari baju yang Iraz inginkan. "Awas aja nanti di situ, kucubit kamu!" ancam gadis itu ketika baru memasuki kamar pria itu.
"Nah, ini apa?" Aine menarik baju yang dia pikirkan. Menunjukkannya pada Iraz.
"Eh, benar, yang ini....kok bisa di situ? Tadi aku udah tengokin lah nggak ada, kok giliran kamu jadi ada?" menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa jangan-jangan kau punya jimat?"
"Hushhh! Dasar tukang nething." komentar Aine meninggalkan kamar Iraz. "Segera bergabung untuk makan! Keburu sarapannya dingin!"
"Oke, bosss," jawab Iraz mengikut dari belakang.
"Eh, iya lupa! Aku belum mencubit mu!" dia kembali ke dekat Edward, malah benaran mencubit perut pria itu.
"Awwww, sakit, Ai..." jeritnya.
__ADS_1
"Rasain!"
Di meja makan
"Hari ini ada rencana apa, Ai?" tanya Iraz di sela-sela sarapannya.
"Bersih-bersih. Kelihatannya sudah banyak sarang laba-laba. Juga debu yang bertempelan. Butuh sedikit tenaga untuk mengembalikannya seperti sedia kala."
"Oh, baiklah. Mau kubantu?" tawar Iraz.
"Nggak usah, makasih. Bekerjalah dengan keras, agar bisa membagi padaku. Hehehe," dia balik memotivasi.
"Oke-oke."sahutnya pula.
"Oh, iya, Ai, aku akan mulai ngedaftarin kamu kelas spa lagi. Sepertinya kamu masih butuh,"
"Nggak usah, Raz....aku udah puas dengan diriku yang seperti ini. Lagian sayang banget uangmu terbuang sia-sia. "
"Hehehehe , kalo demi kamu sih nggak apa-apa. Namanya juga Ai ku sayang."
"Jangan mulai lagi deh!"
***
Aine keluar dari rumah. Berjalan-jalan di sekitar taman yang ada di pusat kota. Tadi dia sudah ijin pada Iraz agar bisa keluar, eh tumbenan banget dianya ngiyain.
"Terimakasih, tapi ini tentang apa, ya?" tanya Aine menerima sodoran itu.
"Lomba melukis tema bebas, Mba. Lumayan loh hadiahnya. Silahkan dihubungi nomor yang tertera di sana jika Mba berminat." wanita itu bergegas pergi meninggalkan Aine untuk membagikan selebaran lomba melukis itu pada pengunjung taman yang lain.
Aine membaca judulnya, "Lomba melukis tema bebas? Hmmm, kali ini aku harus menunjukkan bakatku pada dunia." ia berfikir sejenak. Kemudian lanjut membaca. Dalam selebaran tersebut tertulis nominal hadiah untuk para pemenang.
"Wah, lumayan banget hadiahnya. Bisa nyicil utang." dia tertarik mengikuti lomba itu. "Seandainya aku juara satu, dapat uang tunai sama piala. Wuih, pialanya bisa dipersembahkan kepada Iraz dong.. aku mo ikut ah!"
Aine memasukkan selebaran tersebut ke dalam tasnya. Kemudian ia kembali melanjutkan keasikannya memandangi aktivitas pengunjung di sana.
Sesaat matanya menangkap adegan yang hanya boleh di tonton oleh orang yang berumur 17 tahun ke atas. Sepasang remaja berciuman mesra di bawah sebatang pohon.
Aine memperjelas penglihatannya. "Vanya?" gumamnya mengenali si cewek.
"Dia ngapain?" Aine tau mereka berciuman, tapi dengan bodohnya dimenangkannya lagi.
Lama ia tertegun menatap objek itu. Ia tidak pernah merasakan seperti apa yang dirasakan pasangan itu. Padahal usianya sudah memenuhi untuk mencobanya. Tapi sayangnya dia nggak punya pasangan untuk mempraktekannya.
"Dia menang banyak. Masih SMA sudah mendapatkannya." Aine menggeleng lalu melanjutkan jalannya. Ia tidak berfikir untuk menegur adiknya itu.
Senja pun tiba. Aine menghampiri halte. Ia akan menunggu seseorang di sana.
__ADS_1
Tak sampai satu jam, mobil hitam jemputannya datang. Segera ia masuk ke mobil.
"Raz, boleh nggak aku ngikutin lomba ngelukis? Tadi ada yang datang memberikan selebaran. Aku tertarik."
"Kenapa nggak boleh? Aku malah senang Hehehehe," jawab Iraz sambil terus mengemudi.
"Yey, berarti besok aku bisa daftarin diri dong..."
"Tentu saja. Btw sini aku liat lombanya, siapa tau diadakan seniman ternama,"
Aine segera mengeluarkan selebaran itu dari tasnya. Memberikan pada Iraz.
Pria itu membaca sambil menyetir.
"Raz, nanti aja bacanya! Bahaya membaca sambil menyetir!" Aine memeringatkan.
"Tenang, Ai, aku bisa kok multitasking."
"Tapikan..."
Pria itu terdiam. Satu tangannya menggenggam setir mobil, satu lagi memegang kertas. Matanya bergantian menatap jalan dan selebaran.
"Wah, lumayan bergensi, Ai... ikuti aja. Nanti kamu dapat bimbingan khusus kalo semisal menang. Lumayan untuk memulai karir mu." Iraz memberikan kertas itu pada Aine setelah selesai membaca.
"Benarkah?"
"Hmmm. Tapi masalahnya, tema apa yang ingin kamu lukis? Dan mampukah kamu menyelesaikannya dalam dua Minggu?"
Aine tersenyum. "Untuk temanya udah ada. Tapi mungkin pengerjaannya kurang yakin bisa. Tapi semua pasti bisa, karena tekad ku kuat."
"Emangnya apa yang membuatmu sangat tertarik dengan lomba ini?" tanya Iraz.
"Hadiahnya." jawabnya santai. "Gede banget,"
Iraz tersenyum kecil. "Segitu kok dibilang gede!"
"Mungkin bagimu enggak Raz, tapi bagiku itu udah banyak. Cukup nyicil utang sama kamu!"
"Hahahahah, ternyata mau bayar utang, toh!"
"Iya.... kalo nggak kucicil mulai sekarang? Kapan aku akan membayarnya?"
Iraz menatap Aine sejenak. "Bagaimana aku mengatakan padamu kalo aku ikhlas membantumu."
"Nggak bisa gitu Raz, yang namanya utang akan tetap menjadi utang."
"Terserah kamu deh! Susah membuatmu mengerti!" ia menggaruk kepalanya. "Btw aku punya dua tiket konser, mau pergi bersamaku?"
__ADS_1
Aine mengangguk. "Sepertinya menyenangkan!"