
Vey masuk ke dalam kamar Stevan saat jam menunjukkan pukul tujuh. Ia ingin mengecek keadaan pria itu. Namun Vey agak kecewa saat melihat tempat tidur itu sudah rapih. Sepertinya pemiliknya sudah pergi atau sedang sarapan di bawah. Buru-buru dia turun untuk mengecek di bawah.
"Tuan muda Steven berangkat pagi-pagi sekali, Nona." lapor seorang pelayan.
"Kenapa dia berangkat sepagi ini?"
"Saya kurang tau, Nona."
"Baiklah. Terima kasih informasinya." Vey tersenyum kecil dan menyuruh pelayan itu kembali bekerja. "Aish, kali ini ada apa dengannya. Dasar yah, manusia kalo kepala batu susah banget ditebak!"
***
Vey mengikuti Stevan sampai pria itu benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Soalnya Iraz kelihatan aneh banget. Matanya memerah dan jalannya agak sempoyongan. Sepertinya dia sedikit mabuk.
Setelah pria itu benar-benar aman, Vey memilih meninggalkannya. Tapi baru tiga langkah dia menjauh, Iraz tiba-tiba berteriak.
__ADS_1
"Kenapa sih hidupku gini amat??? Apa salahku???"
Mendengar teriakan itu Vey mengurungkan niat untuk masuk ke kamarnya. Dia mengambil posisi di depan pintu kamar Iraz. Menempelkan telinganya agar suara pria itu kedengaran.
"Ai!!! Bagaimana kabarmu??? Coba hubungi aku sekali saja! Katakan kalo kamu baik-baik saja di sana!" dasar Iraz! Perasaan dia yang melarang Aine mengontaknya. Kok sekarang malah minta di kontakin. Aneh banget!
Mendengar itu, Vey semakin penasaran.
"Kamu tau nggak, aku hancur banget, Ai. Hidup ku tuh kayak usang banget. Papaku belum sadar juga, dan yang paling parahnya aku dipaksa untuk mencintai Erin. Kenapa sih kamu nggak datang ke sini? Kejar aku kek! Bilang kalo kamu sayang sama aku!! Aku rasa kamu bakal diterima oleh semua keluarga ku ..." ucapan-ucapan Iraz diakhiri dengan sesegukan. Sudah pasti pria itu menangis seperti orang bodoh.
Vey kembali menempelkan telinganya karena merasa tidak puas mendengar ocehan yang tidak jelas itu. Setidaknya ia bisa mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Mungkin tidak akan memaksa hubungannya dengan Erin lagi.
"Ai, aku hancur tanpa kamu." hanya itu kalimat terakhir yang dia ucapkan. Sepertinya pria itu tertidur setelah mengucapkannya.
Tinggallah Vey yang berdiri menguping di balik pintu. Saking penasarannya, ia sampai rela meregang seperti orang gila. Dan hasilnya cukup buruk. Ia tidak bisa mencerna apapun kecuali adiknya memiliki hubungan dengan manusia bernama Ai. Entah siapa dia, yang penting nama itu berhasil membuat Vey bertahan selama berjam-jam demi mendengar nama itu berkeluaran dari mulut adiknya. Semoga saja manusia yang bernama Ai itu adalah orang baik.
__ADS_1
"Yah, sebaiknya aku mencari tau tentang Ai." katanya lalu meninggalkan kamar Iraz.
***
Besok paginya, tepat pukul enam, Vey kembali mengecek kondisi adiknya. Ia berjalan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Cukup menyeramkan juga jika Iraz bangun dan berkata, "Pergi kamu dari sini! Jangan sok perhatian!" sudah pasti dia akan kena mental. Meski sebenarnya ia sudah pasrah.
Klekkk! Ia memutar gagang pelan. Pelan sekali hingga suara derit pintu itu nyaris tak terdengar oleh telinga normal.
Vey membuka pintu kamar. Ia agak terkejut mengetahui adiknya tidur tidak teratur. Masa ia tidur telungkup dengan sepatu yang masih menempel di kakinya. Udah gitu dia memeluk sesuatu lagi! Kayaknya berharga banget sampai ia tertidur menindih benda itu.
Perlahan wanita cantik itu memperbaiki posisi tidur Iraz. Ia menggeser tubuh Iraz dan mengambil benda yang dipeluk oleh Iraz. Cukup penasaran juga dengan benda itu.
"Hah! Untuk apa dia memeluk lukisan aneh ini? Apa ini yang namanya si Ai? Masa sih!" kritik Vey dalam hati. "Aduh, nih anak normal nggak sih? Masa jatuh cinta pada lukisan! Kan ada banyak cewek di dunia ini! Mending jangan gila dulu Raz.
"Kamu memang aneh!" komentarnya mengalihkan pandangannya pada Iraz yang sedang tertidur pulas. "Kamu nggak bisa naksir sama cewek lebih mendingan dari pada mencintai benda tidak masuk akal seperti ini!"
__ADS_1