
Sudah tiga hari Iraz pulang malam dari kantor. Ia bilang perusahaan pusat sedang mengalami masalah hingga berimbas pada anak perusahaan juga. Iraz yang biasanya bisa santai harus kerja full demi mengatasi beberapa masalah yang terjadi.
Hari ini adalah hari pengumuman pemenang lomba melukis yang Aine ikuti. Pemenangnya diumumkan sore hari, sekitaran jam 5. Aine pergi ke pusat kota demi mendengar apakah namanya ikut serta dalam kemenangan kali ini.
Aine memang agak sedih karena Iraz tidak bisa menemaninya mendengar pengumuman. Tapi nggak apa-apa, dia mengerti keadaan Iraz. Setidaknya Iraz masih berjanji akan menjemputnya.
Sudah jam enam. Pengumuman sudah keluar. Hasilnya sangat memuaskan. Aine terpilih menjadi juara dua dengan alasan tema yang diangkatnya termasuk langka. Lagipula tangannya diakui berbakat dalam menyerupakan objek dengan lukisan.
Dengan hati yang bahagia, dia kembali ke rumah. Ia akan mempersembahkan piala itu Iraz plus mengajak pria itu menghadiri acara pameran yang akan diadakan seminggu lagi. Tepatnya untuk memamerkan lukisan-lukisan yang dianggap berkelas.
"Iraz pasti bangga padaku..."
***
Iraz melihat jam tangannya. Sudah pukul enam. Ia memang masih sibuk, tapi dia teringat akan janjinya pada Aine untuk menjemput gadis itu dari Galeri.
Sampai di rumah, ia membuka jasnya. Menyisakan kameja putih lengan panjang plus dasi berwarna merah bergaris biru. Segera menukar jasnya dengan jaket hitam kesukaannya.
Tapi entah bagaimana ia mengingat hapenya. Sudah dua hari ia tidak peduli dengan benda itu karena disibukkan dengan pekerjaan. Lagian, tidak ada hal yang bisa ia lakukan dengan benda itu.
"Dimana aku menaruhnya?" tanyanya berputar-putar. Eh, pas banget ia cari, hape itu berdering. Pas banget dong. Ternyata benda itu ada di bawah bantal.
Ia segera mengambil dan mencari tau siapa yang menghubunginya.
Ternyata kakaknya, Vey. Ia agak malas tapi sedikit penasaran karena Vey sudah menelfonnya lebih dari 99+.
"Halo?" sapanya.
"Astaga! Kau baru mengangkatnya!" balas orang di seberang.
"Aku sibuk. Ada apa?"
"Pulang Stevan, Papa kita sakit...." Vey memberitahu.
Tiba-tiba kaki Iraz bergetar. Dilanjut dengan sambaran petir di hatinya.
"Jangan bercanda Vey!"
"Becanda? Kenapa aku becanda untuk hal seperti ini? Papa tidak sadarkan diri... sudah tiga hari dia sakit, tapi semalam dia benar-benar drop. Dan kini Papa koma.." Vey menangis di seberang.
"Papa koma?" Iraz semakin takut mendengarnya.
"Ya..."
"Mimpi aku hingga mendapat masalah seperti ini?" gumam Iraz menangis.
"Stevan, bergegaslah, Axel dan yang lain sudah datang menjemputmu kesana."
"Maksudmu mereka datang dengan pesawat pribadi?"
"Yah... Axel mengabariku beberapa menit lalu, katanya mereka akan segera mendarat di bandara.
"Kenapa secepat itu mendaratnya? Bukankah butuh waktu sekitar lima jam penerbangan?"
"Iya... bahkan mereka sudah terbang sekitar tujuh jam yang lalu. Aku sudah menghubungi sejak delapan jam yang lalu, kamu aja yang tidak mengangkatnya!"
"Jangan bercanda Vey... aku tidak bisa terburu-buru seperti ini..."
"Cepatlah! Papa butuh kamu... dia ingin sekali melihatmu, Stevan... jangan bertingkah sekali ini!" Vey langsung mematikan teleponnya.
"Vey! Veyyy!" panggil Iraz menangis. "Jangan begini padaku! Aku masih butuh waktu! Aku harus menjemput Ai... aku masih harus memberitahunya.... bagaimana aku meninggalkan dia semendadak ini?"
Untuk pertama kalinya Iraz merasa hancur. Bagaimana sekarang? Haruskah dia meninggal Aine? Yah! Harus! Karena kondisi papanya lebih penting.
Iraz segera mencari beberapa benda yang harus dia bawa pulang. Tangannya sibuk membongkar lemari serta laci-laci yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Sementara itu, Aine sudah sampai di depan pintu. Ia membawa kemenangan. Ia bahagia saat mengetahui mobil ada di depan rumah, artinya Iraz sudah pulang. Ia akan mengejutkan pria itu dengan membawakan piala besar untuknya.
Aine tersenyum. Berjinjit jinjit agar tidak ketahuan oleh Iraz. Ia meletakkan piala itu di meja kamarnya. Jadi ia akan menutup mata Iraz, membawanya masuk ke kamarnya, lalu menunjukkan bahwa dia pulang dengan kemenangan.
Aine membuka pintu kamar Iraz yang tidak terkunci. Ia menyaksikan Iraz panik mencari cari sesuatu di lemari. Ada apa? batinnya.
"Iraz?" panggilnya agak khawatir. Yang dipanggil langsung menoleh.
"Ai..." tiba-tiba ia beranjak, langsung memeluk tubuh Aine erat.
"Ada apa?" tanya Aine.
"Nggak! Jangan tanyakan itu... aku takut menjawabnya..."
"Hah? Kenapa?" Aine mulai jantungan.
Iraz melepaskan pelukannya. "Aku harus pergi, Ai..." ucapnya menangis.
"Pergi?" Aine sedikit frustasi. "Kalo mau pergi, pergi aja! Nggak usah sampai seperti ini. Toh kamu akan kembali. Emangnya berapa lama?"
Iraz memejamkan matanya. "Aku tidak akan kembali lagi, Ai..."
"Tidak akan kembali?" Aine langsung shock.
"Kenapa? Apa waktu untuk bersamaku sudah habis?"
"Bukan begitu, Ai...." Iraz kembali memeluk gadis itu. "Maafkan aku... tapi ada masalah besar yang menimpaku hingga tidak ada yang bisa kulakukan selain kembali. Maaf, maafkan aku Ai... "
Gadis itu menangis di pelukan Iraz. Sungguh, ia tidak rela kehilangan orang seperti Iraz. Ia mencintainya.
"Apa masalahmu, Raz? Kenapa begitu mendadak?" tanya Aine di bawah pilu.
"Papaku jatuh sakit." jawabnya lemah. "Dan aku yakin, ini berhubungan dengan pernikahanku..."
"Pergilah, Raz.... jangan khawatirkan aku." Aine melepaskan diri dari pelukan Iraz. "Orang tuamu lebih penting dariku. Meski aku tidak rela kau menikah dengan orang lain. Pergilah!"
"Tapi, bagaimana bisa aku meninggalkan mu sendirian? Aku takut, Ai... "
"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan papamu. Jangan pikirkan aku, selama hatiku terhubung denganmu, aku akan selalu bahagia." Aine tidak bisa menahan air matanya.
Menetes begitu saja tanpa ia inginkan.
"Tapi Ai... "
"Sudah kubilang, pergilah! Aku bisa hidup sendiri," kata Aine membelai wajah pria di hadapannya. "Sejak awal pertemuan kita, aku yakin, Tuhan menempatkan kamu di sisiku hanya karena satu alasan, agar aku berhenti mengeluh tentang ketidakadilan yang menimpaku. Dan tugasmu telah selesai. Aku sudah membalaskan dendamku, aku juga sudah bahagia. Kamu sudah berhasil Iraz. Dan ini waktunya dia mengambilmu lagi.... aku hanya mahluk lemah yang menginginkan kamu tetap di sini tapi tidak berdaya, hanya bisa berpasrah pada takdir."
Iraz menggenggam tangan Aine. "Jangan seperti ini, aku semakin takut meninggalkanmu."
"Please, Raz. Go! I will be fine." Aine menatap mata Iraz. "Dari awal aku sudah memprediksi ini. Aku tau, kita tidak ditakdirkan untuk satu. Sampai kapanpun, cewek tolol sepertiku tidak akan mungkin mendapat pria sepertimu."
"Dari jutaan orang, aku salah satu orang paling beruntung karena dipertemukan denganmu. Aku tidak akan menyesali karena sesuatu akan berakhir. Tapi aku akan bersyukur karena rasa yang masih ada. Meski perih, aku harus bisa. Iya, kan?" Aine menangis semakin menjadi. Jujur, ia tidak mau memperlihatkan air mata itu, tapi.... ia tidak bisa membohongi perasaannya.
Iraz ikut menangis. "Dan...dari jutaan orang di dunia ini, hanya aku yang bernasib cukup sial. Aku sedang terjebak dalam situasi paling sulit. Aku ingin bersamamu lebih lama... tapi tidak bisa...hiks, aku manusia tersial!"
Aine tersenyum dalam tangisnya. "Aku tidak yakin dengan nasib sial. Tapi aku percaya dengan adanya perpisahan. Bahwa semua pasti berpisah sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan."
"Mungkin inilah waktunya kita berpisah, Raz... terimakasih telah memulai pertemuan yang luar biasa.
Terimakasih... karena telah mewarnai hidupku yang kosong
Terimakasih.... karena telah mengajarkanku cara bahagia yang benar
Karena telah menjadi manusia paling sempurna yang pernah kutemui...
Karena telah membentukku menjadi manusia yang baru...
__ADS_1
Karena telah memberikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kukasih ke kamu...
Karena telah membangkitkan semangat hidupku.
Maaf karena telah merepotkan mu selama ini.... aku bahagia, sejuta kali terimakasih."
Iraz terdiam sejuta bahasa. Hatinya hancur berkeping. Memang, dia punya pilihan lain selain meninggalkan Aine. Yaitu membawanya. Tapi ia takut akan memperkeruh suasana jika Aine tiba-tiba muncul di hadapan papanya. Jadi jalan terbaik memang berpisah.
"Ai... bagaimana aku bisa meninggalkan mu..." menghapus air mata Aine dengan ujung jari jempolnya. "Kamu bayi yang membutuhkan banyak perhatian. Bagaimana nasibmu jika kutinggal sendirian?"
Aine tersenyum tipis. "Seorang bayi bisa tumbuh tanpa perhatian, Raz. Jangan menakutkan bayimu ini. Kalo aku cengeng, tinggal hibur dari sana. Bisikkan aja namaku tiga kali, maka tangisku akan reda. Karena aku akan tau, kalo pengasuhku telah mengirimkan cinta melalui angin."
Iraz mengangguk. Tiba-tiba ponselnya berdering. Segera ia mengangkatnya.
"Axel? Kalian sudah di bandara? Oke, aku akan segera ke sana..." langsung mengujungi percakapan.
"Ai, aku harus pergi. Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Iraz menatap Aine.
"Ini pertemuan terakhir kita, ya?" menatap Iraz balik. "Jika memang demikian, maka aku ingin meminta satu hal padamu..."
"Apa? Katakan, Ai... aku akan memberikan apapun itu..."
"Tinggalkan aku dalam ingatanmu...jika akhirnya kita tidak bisa bertemu lagi, maka kumohon, ingatlah semua hal yang pernah kita lakukan. Bahwa kamu pernah tinggal bersama gadis sepertiku."
"Aku ingin selalu bersamamu. Meski hanya sekedar ingatan di otakmu." Aine kembali menitikkan air mata.
Iraz menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Tanpa kamu minta, aku akan melakukan itu. Karena aku mencintaimu, Ai..."
"Hiks...hiks... aku pergi, Ai..." Iraz melepaskan pelukannya, memungut benda yang sudah ia siapkan sedari tadi.
"Raz...." Aine memanggil ketika tubuh pria itu hampir menghilang dari kamar.
"Hmmm?" jawab Iraz menoleh.
Aine mendekat. "Aku punya hadiah untukmu. Setidaknya ini akan menjadi hadiah terakhirku untukmu..." gadis itu berjinjit, memejamkan mata, lalu menyentuh bibir Iraz dengan bibirnya.
Iraz terkejut, tapi ia merasakan aliran darahnya mengalir deras. Tiba-tiba ia memeluk pinggang Aine, membalas ciuman itu dengan semestinya. Ini kali pertama mereka berciuman secara bebas. Tapi kenapa harus di akhir pertemuan? Ini hanya akan membuat mereka semakin takut untuk berpisah.
Aine melepaskan diri. Ia tersenyum, lalu kembali menyuruh Iraz pergi.
"Ai... jangan pergi dari rumah ini. Tetaplah di sini. Suatu hari aku akan datang untuk menjemput mu. Oke?" Iraz mencekal lengannya pelan.
"Tapi..."
"Aku berjanji akan kembali. Apapun yang terjadi. Jaga diri. Agar aku tidak pikiri."
Aine tersenyum kecut.
"Aku tidak bisa memastikan waktu, Ai... tapi aku akan memperjuangkan namamu. Jadi, jangan pergi dari sini."
Bagi Aine, semua yang dikatakan Iraz hanyalah kebohongan semata. Pria itu pasti tidak serius dengan perkataannya. Tapi ia tetap mengangguk.
"Jangan pernah menghubungiku duluan, Ai... aku takut saat kesehatan mentalku tidak baik, aku akan membuang hapeku. Jadi, biarkan aku menghubungimu duluan. oke?"
Lagi-lagi Aine mengangguk.
"Ya udah, aku pamit...." ucapnya sekali lagi. Ia menyempatkan diri untuk menghapus air mata Aine sekali lagi. "Aku senang kamu menangis, itu artinya kamu sedih aku pergi. Tapi aku tidak akan senang kalo kamu berlarut-larut dalam kesedihan. Ayo! Sudahi sedihmu awali senangmu."
"Oke, Raz."
Iraz mencium kening Aine sekali, melambai lalu beranjak ke halaman tempat mobilnya terparkir.
"Ai, aku sudah meninggalkan black card di atas mejamu. Kau bisa menggunakannya untuk kelangsungan hidupmu." ucap Iraz lalu menghilang.
__ADS_1