Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
One Romantic Day


__ADS_3

"Wow... indahnya..." Aine berdecak kagum ketika Iraz memberhentikan mobil.


"Oh, ternyata sunset itu senja toh!" Aine keluar dari mobil, mengikuti Iraz yang sudah keluar duluan.


"Iya. Bukan makanan ringan atau cemilan. Hehehe," sahut Iraz sambil mengambil tempat duduk di atas rumput yang menghijau.


Aine menggaruk kepalanya malu. "Maklum, Raz, aku baru bisa bahasa Inggris," ucapnya seraya mendudukkan pantatnya di samping pria itu.


Iraz hanya tersenyum kecil.


Mereka berdua menikmati matahari terbenam. Iraz sengaja membawa Aine naik ke bukit, ia tau gadis itu butuh cuci mata. Apalagi setelah bersedih selama dua hari.


"Aku baru tahu ada tempat seindah ini di kota ini," Aine membuka obrolan.


"Kemana aja dua puluh satu tahun ini?" sahut Iraz menatap lurus ke depan. Ada senyum kecil yang menghiasi bibirnya.


"Iya kan, kemana aja sih aku!" ujarnya merutuk. Iraz tidak menanggapi lagi.


"Raz, aku ingin melukis senja ini..."


Pria itu menoleh, tersenyum di bawah sinar jingga. "Aku tau kau akan mengatakannya."


Aduh, tolong...aku meleyottt! Batin Aine ketika melihat wajah tampan itu semakin tampan saat disinari warna cahaya yang keemasan. Apalagi senyum tipis itu, wahh, Iraz adalah pria tertampan di dunia menurut Aine. No debat!


Sayangnya senyum itu sirna beberapa detik kemudian. Pria dengan nama lengkap Stefan Joubert itu sudah kembali berekspresi datar. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


Aine ikut-ikutan memeluk lutut. Bedanya dia tidak memandang lurus, melainkan menengadah ke wajah Iraz yang luar biasa. Ia candu dengan orang itu.


"Ai, boleh nggak aku tau sesuatu tentang kamu?" pria itu memalingkan wajahnya ke wajah Aine, jadinya mereka bertatapan.


"Boleh dong, boleh banget malah." sahut Aine semangat.


"Tapi ini tentang Alvan. Boleh nggak?"


"Boleh, Raz. Aku akan memberitahumu segalanya, bahkan hal yang paling rinci sekalipun!"


Iraz tersenyum lagi. "Hubunganmu dengan Alvan sudah sampai tahap apa?" tanyanya agak ragu. Mungkin dia merasa pertanyaan itu adalah privasi.


Aine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudnya?"


"Hmmm, maksudku, sejauh mana hubunganmu dengannya? Apa sudah serius banget?"


"Aku nggak ngerti juga, Raz!" yah, kebodohan Aine memang natural banget.


Pria itu berusaha menyusun kata yang tepat dan mudah dipahami. "Kalian udah pernah cip*kan belum?" kali ini Iraz memberanikan diri.


"Cip*kan? Apaan tuh?" gadis itu semakin bingung saja. "Tolonglah, Raz, kamu tau aku bodoh, jangan pakai bahasa-bahasa planet asing lah, nggak bakalan ngerti soalnya."


Pria itu mengangguk. "Cip*kan itu ciuman bibir. Apa kalian pernah melakukannya?" dengan sabar Iraz memperpanjang.


Aine menggeleng cepat. "Nggak lah!"


"Ah, masa? Padahal udah dua tahun pacaran loh,"


"Emangnya kalo udah lama pacaran harus cip*kan, gitu?"

__ADS_1


"Setahuku sih begitu. Itu masih sopan, kalo di negaraku, satu hari pacaran sudah bebas unboxing."


"Hehehehe, unboxing itu apa lagi?"


"Buka-bukaan gitu, kayak suami istri," jawab Iraz memperjelas.


"Wah, parah banget tuh!" kritik Aine. "Apa jangan-jangan kau juga pernah melakukan itu!"


Iraz terkekeh. "Sering banget malah," sahut pria itu santai.


Aine yang mengira pria itu serius langsung memukul bahu Iraz. "Tuh kan, kamu pria nakal ternyata!"


"Emang siapa yang bilang aku pria yang baik?" pria itu sengaja menjebak Aine dalam pertanyaannya sendiri.


Benar saja, dia berhasil membuat gadis itu jadi linglung.


"Becanda, Ai, aku bukan pria seperti itu kok," kata Iraz menebus kelakukaanya yang membuat gadis itu manyun. Ia mencolek pipi gadis itu agar tersenyum kembali.


"Terus, apa yang sudah kalian lakukan selama pacaran?" pria itu kembali ke pertanyaan awal.


Aine mencoba mengingat. "Nggak ada, hanya sekedar jalan bareng, bercanda, bermain, pokoknya sekedar begitu deh. Nggak ada cium-ciuman."


"Oh, ternyata bibirnya masih perawan toh. Heran juga," kata Iraz menatap Aine sejenak.


"Kamu ngomong apa sih!" gadis itu memukul lengan pria itu pelan. "Tapi aku pernah kok dicium sama Alvan, tapi bagian pipi saja. Hehehe,"


"Iyakah?"


"Iya, Raz. Aku lupa kapan itu terjadi tapi aku ingat kata-katanya. Waktu itu kami sedang menyaksikan bintang-bintang dari kamarnya. Kebetulan kamarnya ada di lantai paling atas rumahnya. Nah, malam itu dia bilang begini, 'Ain, aku mencintaimu. Jadilah ibu untuk anak-anak kelak," Aine memberitahu. "Terus aku tersenyum, mengangguk kala itu. Tiba-tiba saat aku menengadah ke langit, bibirnya menyentuh wajahku. Ternyata dia menciumku."


"Hehehe, waktu itu keluargaku pergi liburan ke luar negeri. Aku ditinggalkan seorang diri di rumah, dan dia ngajakin aku untuk keluar. Hehehe,"


Iraz tidak bereaksi, ia berwajah datar, pandangannya lurus ke depan.


"Bagaimana rasanya dicium?" tanya Iraz setelah terdiam cukup lama.


"Deg-degan. Aku merasa kayak terbang ke langit ketujuh. Hehehe," Aine tersenyum malu-malu.


"Dia pria romantis, nggak?" Iraz hanya peduli dengan pertanyaannya.


"Romantis. Kadang dia berlagak kayak anak-anak agar akunya senang. Tapi dia banyakan bertingkah dewasa sih, apalagi saat menghadapi suatu masalah. Alvan tuh sempurna untuk ukuran seorang gadis sepertiku." tutur Aine.


Iraz mengangguk. Ia memancang pandangan ke matahari yang malu-malu untuk tenggelam. "Tampaknya kalian sangat dekat. Kau bahkan masih sanggup memujinya ketika dia sudah memperlakukanmu dengan buruk." kata pria itu lirih.


"Aku tidak mungkin melupakan semuanya semudah itu, Raz. Dia pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku, harusnya aku mengingatnya. Ya meskipun dia memang sudah membuang ku, tapi kebaikan seseorang tidak diukur dari satu kejahatan," balas gadis itu tak kalah lirih.


"Kau benar." Iraz memaksakan senyumnya. "Aku yang terlalu memaksamu untuk membencinya. Aku yang salah,"


Aine menggeleng. "Nggak, Raz, kau nggak salah,"


Pria itu menatap wajah Aine. "Sesusah itu menggantikan posisi Alvan di hatimu." ucapnya tanpa intonasi.


Aine mengerutkan keningnya. "Kamu marah karena aku tidak bisa membencinya?"


"Kenapa aku harus marah? Mencintainya, membencinya, itu hak kamu!"

__ADS_1


"Tapi ekspresimu seolah memberitahu bahwa kamu marah. Dan dari tadi kamu juga kritis terhadap Alvan," Aine memberanikan diri.


"Bukan marah, tapi cemburu, Ai." pria itu memasang senyumnya. "Aku iri padanya."


"Cemburu? Iri? Kenapa?" Aine jelas heran, apa yang bisa dicemburui dari Alvan? jelas-jelas Iraz ada seratus level diatas pria itu dari segi apapun.


"Dia bisa mendapatkan hatimu. Itu kehebatannya."


Aine tersenyum.


"Bisakah aku menggantikan Alvan? Aku juga ingin memiliki hatimu..."


Deg! Jantung Aine berdegup kencang. Matanya tidak bisa teralih dari wajah Iraz.


"Tidak bisa, ya?" tanya Iraz karena tidak mendapat respon dari Aine.


Aine bukannya tidak mau, tapi ia yakin bahwa Iraz sedang bercanda. Baginya tidak mungkin pria sekeren Iraz suka pada gadis tolol sepertinya. Tidak logika banget.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku rasa tetap seperti ini akan jauh lebih baik." pria itu memalingkan wajahnya. "Tapi berjanji lah padaku, kamu tidak boleh balikan lagi sama dia," jadinya Iraz mengambil jalan tengah dengan memberikan satu kalimat yang bisa disahut.


Gadis itu mengangguk. "Oke, Raz." jawabnya.


Hari sudah hampir gelap, matahari yang tadinya terlihat bulat sempurna, kini mulai menghilang separuh. Akan tetapi, cahaya keemasan itu masih beradu dengan kegelapan.


"Ini hari yang indah." ucap Iraz pelan. "Aku punya hadiah untukmu,"


Aine langsung berseri. "Apa itu?" menatap wajah Iraz penuh harap.


"Pejamkan matamu!" perintahnya.


"Lah, kenapa?"


"Pejamkan aja!"


Aine menurut, ia menutup mata sambil terus memeluk lututnya. Ia tidak bisa menebak hadiah apa yang akan dia terima.


Pria tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Ia ingin menyentuh sesuatu bagian wajah Aine dengan bibirnya. Hampir saja, tapi hatinya tiba-tiba melarang. Segera ia menjauhkan wajahnya lagi.


"Nggak jadi, Ai!" ujarnya.


Aine membuka matanya, menatap pria itu agak kesal. "Kenapa?"


"Kayaknya kau tidak akan suka dengan hadiah ini. Aku kasih kapan-kapan aja, yah... kalo kau sudah siap..." jawab Iraz tersenyum.


Aine manyun habis. "Ya!!! Kok kapan-kapan sih! Sekarang aja, Raz..."


"Aku yakin kau tidak akan suka kalo aku kasih sekarang..."


"Tidak mungkin tidak suka! Yang namanya dikasih hadiah pasti senang lah!" protes Aine.


Iraz tersenyum, lalu bangkit. "Kapan-kapan, Ai..."


"Iraz.... apa sih, hadiahnya? Aku jadi penasaran... aku sudah sampai tutup mata!" rengeknya.


"Hadiahnya nggak boleh diberitahu!" pria itu tersenyum sembari berjalan menuju mobil.

__ADS_1


"Aku tutup mata lagi deh? Kasih sekarang yah! yah! yah!"


__ADS_2