
"Jangan grogi, Ai...kan kemarin udah pemanasan..." Iraz menggenggam tangan Aine saat mereka sedang melakukan perjalanan ke rumah orang tua Aine.
"Aku takut membuatmu kecewa, Raz..."
Iraz tersenyum, "Kau nggak bakal pernah membuatku kecewa, Ai. Bahkan jika misi balas dendam ini gagal, aku akan tetap bangga padamu. Semangat," pria itu terus menggenggam tangan Aine dengan satu tangan. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menyetir.
"Makasih, Raz..." hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan berulang-ulang. Kadang dibarengi dengan mata yang mengembun.
Sepuluh menit kemudiannya, mobil hitam itu sampai di depan rumah keluarga Aine. Mulai sekarang, rumah itu adalah miliknya untuk tiga bulan kedepan. Ia ratunya sekarang.
"Ai, ingat, harus sombong! Oke?" sekali lagi Iraz membenarkan.
Aine tarik nafas dulu. "Oke, Raz..." jawabnya agak gugup.
"Kau penguasanya, Ai... lakukan sesukamu. Dunia mereka milikmu. Balas mereka sesuka hatimu. Jangan kasih kendor,"
"Hehehehe. Kuatkan aku, Raz... aku yakin misi ini tak akan berjalan lancar kalo kamu tidak ada di sampingku."
"Of course, honey. Don't be afraid, I'm here for you."
Lagi-lagi senyum Aine mengembang full mendengarnya.
***
Aine dan Iraz masuk dengan menutup wajah mereka dengan masker. Gadis itu tidak terlalu menor. Hanya mengurai rambut, memakai setelan kaos yang dipadukan dengan jeans.
Berbeda dengan Iraz yang mengenakan pakaian formal. Ia hendak berangkat ke kantor tapi menyempatkan diri mengantarkan Aine. Sekalian mempertimbangkan keadaan. Dia tidak mungkin meninggalkan Aine jika situasi tidak sesuai dengan yang diekspektasikan.
Rumah itu sepi, tidak seperti biasanya. Tidak ada lagi pembantu yang berlalu-lalang mengerjakan pekerjaannya, yang ada hanya tiga orang wanita berwajah muram yang duduk di atas sofa.
"Sudah menunggu ternyata," kata Iraz menatap tiga orang itu.
"Tu-tuan Inui..." Melanie menatap pria itu. "Semua ini bohong, kan? Kami tidak benar-benar bangkrut, kan?"
"Tidak... kalian hanya jatuh miskin." balas Iraz remeh.
"Ti-tidak mungkin..." ujarnya putus asa.
Iraz menarik tangan Aine dan merangkulnya. "Katakan pada mereka yang sebenarnya," bisiknya agak keras.
__ADS_1
Aine mengangguk.
"Seperti yang kalian ketahui, aku yang akan mengambil kendali penuh di rumah ini selama tiga bulan kedepan. Kalian adalah budak, dan aku adalah ratunya." tutur Aine dengan tatapan matanya yang tajam.
"Tapi Nona Zhang, Anda mengatakan bahwa Anda bahagia keluar dari rumah ini. Dan Anda menjanjikan keuntungan waktu itu," Andari menatap Aine penuh kelesuan. Tampaknya ia terpukul mendapat kabar buruk seperti ini.
"Kamu benar, aku memang bahagia keluar dari sini. Tapi dalam artian yang berbeda. Bahagia karena penderitaanku berakhir sejak keluar dari rumah neraka ini," balas Aine mulai terbawa emosi.
"Ma-maksud Anda?" otak ketiganya mulai bekerja mencari tau identitas asli gadis itu.
"Sebelum kita masuk ke pendalaman identitas, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa Isman sudah memberitahu kenapa ini terjadi pada kalian?" Iraz menyela, ia tidak ingin terburu-buru melanjutkan aksi keterkejutan ini.
"Su..sudah, Tuan.." jawab mereka bersama-sama.
"Berarti kalian sudah membaca isi kontraknya, kan?" tanya Iraz lagi. Tangannya terus menempel di bahu Aine.
"Sudah, Tuan..."
"Bagus. Berarti untuk selanjutnya aku tidak perlu memantau kalian. Sudah jelas bahwa isi kontrak itu menyuruh kalian untuk takluk dan bertekuk lutut di hadapan Ai. Jadi, aku memaksakan kalian supaya bisa memenuhi persyaratan itu. Kalian mengerti?" gertak Iraz.
"Me-me-mengerti, Tuan," jawab Andari hampir kehabisan nafas. Entah kenapa kali ini kedua manusia itu sangat menakutkan.
Ketiganya menelan ludah. Dalam hati, pertanyaan mereka sama. Kenapa ini harus terjadi?
"Lanjut, Ai..." bisik Iraz.
"Oke." jawab Aine. Meski dadanya bergetar, ia memaksakan diri untuk bisa. Ia yakin, Iraz tak akan membiarkannya terluka.
"Aku sudah lama menunggu saat ini tiba." kata Aine melepaskan diri dari rangkulan Iraz. "Saat dimana aku menempatkan kalian di posisiku. Melihat kalian sebagai budak, dan membiarkan kalian merasakan apa yang kurasakan. Dan segalanya tercapai sekarang."
"Aku tau, kalian pasti sudah melupakanku. Tapi tidak apa, aku bisa mengenalkan diri sekali lagi." Aine menoleh ke belakang sejenak, mengemis kekuatan pada pria itu. "Berdirilah!"
Ketiganya berdiri dengan kaki yang gemetaran. Jantung mereka juga berdegup kencang. Mereka takut, berpikiran bahwa orang yang sedang bicara pada mereka adalah orang yang memiliki kuasa tinggi.
"Aku tidak akan sekejam ini, jika seandainya aku bukan orang yang terlupakan." katanya lirih. Ia membuka maskernya. Memperlihatkan paras aslinya pada Mama dan kedua saudarinya. "Apakah kalian mengenaliku sekarang?"
Ketiganya mengangkat kepala, menatap wajah gadis itu serius.
Cukup lama mata mereka lengket ke wajah cantik itu, sebelum akhirnya seseorang diantara mereka memutuskan untuk mengangkat suara.
__ADS_1
"Aine?" Melanie tidak seratus persen yakin dengan ucapannya sendiri.
"Hai, Kak Mel, rupanya kamu tidak melupakanku," Aine tersenyum memperlihatkan jajaran giginya yang rapi dan terawat dengan baik.
Kedua wanita yang belum menyadarinya membuka mata lebar-lebar. Mereka menelusuri gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tidak ada yang mirip. Aine yang sebelumnya jelek dan tidak terawat, dan orang yang berdiri sekarang adalah bidadari yang cantik. Gak mungkin banget itu Aine, pikir mereka.
"Kamu bilang apa sih, Mel, gak mungkin dia Aine," bisik Andari pelan. Rupanya Aine mendengar bisikan itu.
"Ma, ini aku, Aine Fourie, anak kandung yang kau abaikan. Akulah orang yang kalian jadikan pembantu selama ini. Yang sudah kalian remehkan. Lihat, semuanya berpihak padaku sekarang, aku penguasanya.... hahahaha" Aine tertawa seram. Ia mendekati ketiganya dengan langkah sombong.
"Dunia berputar. Ada kalanya manusia rendahan sepertiku diberi kesempatan untuk menguasai. Ada kalanya juga orang jelek sepertiku diberikan waktu untuk cantik. Makanya sebenarnya tidak ada gunanya menyombongkan apa-apa." Aine berjalan mengelilingi Vanya yang agak terpisah dari Andari dan Melanie.
"Kalian boleh mengingat dosa yang pernah kalian perbuat padaku. Inilah saatnya untuk membayar. Aku ingin membagi rasa sakit yang pernah kualami." gadis itu beralih ke mamanya yang menatapnya dari tadi. Mungkin belum percaya kalau putri keduanya telah berkepompong menjadi bidadari.
"Dari awal aku masuk ke rumah ini, aku sudah memberikan banyak kode. Termasuk menekan kalian secara kasar, tapi tampaknya kalian tak kunjung menyadarinya. Jadi lebih baik aku berterus terang seperti ini," Aine menatap kakaknya bengis. Rasa sakit yang terakhir kali disalurkan wanita itu masih membekas dalam ingatannya.
"Ne...kau masih hidup ternyata," Andari mengambil tindakan semacam memainkan trik.
"Tutup mulutmu!" Iraz langsung menyerocos. Ia berjalan mendekati Aine dan menarik gadis itu ke belakang. Mungkin Iraz takut kalau-kalau ketiga wanita itu berbuat yang tidak baik pada Aine. "Di surat kontrak, kau sudah jelas-jelas membaca bahwa kalian tidak boleh fasih padanya. Formal, ingat, harus formal! Panggil dia Nona Aine!"
"Ma-maaf tuan, tapi dia putri saya..." kata Andari memberanikan diri. Ia pikir Iraz tidak tau kalo Aine putri di rumah itu.
"Aku tau. Aku juga tau kau menyuap guru supaya nilainya jelek agar dia tidak diterima di universitas. Aku tau semua Andari!" balas Iraz sengit. "Kau tidak perlu berusaha menyelamatkan diri, soalnya nggak akan ada gunanya."
"Kenapa Anda setega itu?" Andari mengembunkan matanya.
"Karena itu tadi, karena kalian memperlakukannya lebih rendah dari binatang! Itu sebabnya kalian pantas menerima ini!" Iraz membantu.
"Akan tetapi, seorang anak memang harus berbakti kepada..."
"Jika orangtunya memberikan hak si anak. Dan, harus dibarengi dengan sikap orangtua juga. Jika semisal orangtuanya kek kamu, siapapun pasti berfikir untuk membalasmu. Seharusnya kau menyadari itu!" potong Iraz.
Andari menelan ludahnya. Sepertinya gak ada gunanya melawan Iraz. Pria itu benar-benar punya jurus mematikan untuk membungkam mulut lawan bicaranya. Hebat sih dia.
"Ai, sepertinya aku tidak bisa meninggalkanmu hari ini. Mereka tetap berbahaya meski sudah di ringkus. Aku nggak bisa ngebiarin kamu sendirian. Hari ini ku putuskan untuk menemanimu saja," Iraz menatap gadis itu, mengelus rambutnya di depan ketiga wanita itu.
Melihat itu, Vanya langsung mengerti satu hal. Ternyata benar dugaannya, Ainelah orang yang dia maksud selama ini. Orang yang disukai dan dicintai oleh Iraz. Terbayar sudah rasa penasarannya.
"Bergeraklah, Ai. Aku menantikannya," Iraz menatap gadis itu dengan penuh semangat. "Mari melakukannya bersama-sama."
__ADS_1