Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Kunjungan Tengah Malam


__ADS_3

Sudah dua hari Aine menguasai rumah itu. Dan sampai saat ini, Iraz tidak lagi menampakkan diri. Hal tersebut membuat Aine sedikit khawatir.


"Vanya!!" panggil Aine ketika dia tidur-tiduran di atas sofa sambil menonton TV.


Tidak ada sahutan.


"Vanyaaa!" panggilnya sekali lagi.


Orang yang namanya dipanggil segera berlari dari arah dapur. "Ada apa Nona?" jawabnya terengah.


"Lelet banget!" ketus Aine. "Lain kali aku nggak suka ya, kalo jawabannya kelamaan!"


"Maaf, Nona, tapi suara Anda tidak kedengaran ke dapur..."


"Makanya, punya kuping dikorek sekali-kali! Biar jangan budek!"


Vanya menunduk. "Baik, Nona. Sekali lagi maafkan saya," tidak ada jalan keluar kecuali mengiyakan aja. Demi keselamatan juga.


Aine menatap sebal adiknya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Vanya. Tidak mungkin dia dipanggil tanpa alasan.


"Ambilkan remote itu!" menunjuk benda bertombol yang tergeletak di atas meja.


Vanya menatap benda yang ditunjuk. "Baik, Nona."


Benar-benar tidak waras! Dia memanggilku dari dapur hanya untuk mengambil remote yang ada di depannya? Apa susahnya bangkit dan meraihnya. Gadis aneh!


"Pergilah! Aku malas melihat wajahmu!" usir Aine setelah benda yang ia inginkan berada dalam genggamannya.


Vanya mengangguk, tersenyum lalu meninggalkan Aine. Bisa-bisa dia membunuh gadis itu karena geram. Bahaya kalo emosinya keluar disaat-saat susah seperti sekarang.


***


Aine menatap jam di dinding. Sudah pukul 23.00, harusnya ia sudah terlelap, tapi entah kenapa ia tidak ingin tidur.


Aine sudah melakukan berbagai macam cara agar matanya lelah. Tapi jangankan lelah, malah ia semakin segar saja.


"Aku tidak bisa tidur!" gumamnya bangkit dari ranjang. Menghampiri jendela kaca yang menampakkan pemandangan malam yang indah.


"Pasti karena aku kangen sama Iraz." gumamnya lagi.


Pria itu menghilang. Aine sudah menghubungi berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Hal tersebut membuat gadis itu sedih, makanya satu hari ini dia sangat kasar pada ketiga wanita itu. Mereka menjadi sasaran kemarahan Aine.


Tiba-tiba hape di tangannya berdering. Menunjukkan seseorang menghubunginya. Aine segera membaca siapa yang meneleponnya malam-malam begini.


"Iraz?" seketika senyumnya terkembang. Langsung ia mengangkatnya.


"Halo, Raz," sapanya hampir menangis.


"Belum tidur ternyata," suara Iraz terdengar santai.


"Kamu dimana? Udah dua hari nggak ada kabar!" gadis itu agak marah tapi bibirnya manyun habis.


"Dimana aja yang penting sehat." jawab Iraz bercanda.


"Ihhhh! Aku serius, Raz! Kamu dimana?"


Orang di seberang tidak langsung menjawab. "Aku di bar, Ai." jawabnya beberapa detik setelah menjeda.


"Bar mana? Aku mau nyamperin kamu," kata Aine berbalik. Ia menatap ruangan luas yang menjadi kamar tidurnya untuk beberapa waktu ke depan. Itu kamar Melanie, kamar paling bagus dan luas di rumah itu. Semua perabotan di dalamnya lengkap dan dekorasinya juga mewah.


"Eh, nggak boleh!" suara pria itu terdengar panik.


"Kenapa?" Aine sedikit kecewa.

__ADS_1


"Bar bukan tempat yang tepat untuk gadis sepertimu, Ai.." balas Iraz. "Apa ada masalah?"


"Ya, ada. Ini masalah yang sangat besar," jawab Aine pelan.


"Masalah apa, Ai?" pria itu khawatir.


"Aku kangen sama kamu. Ini masalah yang cukup serius,"


Pria di seberang tertawa renyah. "Kirain apaan..." gumamnya tapi terdengar oleh Aine.


"Tunggu, Ai... aku yang akan mengunjungimu."


Aine tersenyum. "Oke, Raz." sayup-sayup ia mendengar percakapan Iraz dengan orang-orang.


"Mau kemana, Tuan?"


"Ke tempat yang indah."


"Waduh, parah sih kalo udah nyangkutin tempat yang indah," pria bersuara berat mengimbuni.


"Duluan, bidadari udah menunggu."


***


Aine turun dari kamarnya. Ia sempat sempatnya mengintip tiga wanita penghuni rumah itu. Memastikan bahwa mereka sudah terjatuh ke dalam mimpi.


Benar saja, mereka sudah terlelap. Meski berdesak-desakan, tidur mereka cukup nyenyak. Satu selimut bagi tiga membuat mereka sedikit tersiksa.


Setelah memastikan rumah itu aman, Aine berjalan menuju teras. Ia akan menunggu Iraz di sana.


Baru saja ingin duduk, mobil hitam milik Iraz memasuki gerbang rumah yang memang terbuka. Pria itu turun dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Ai," panggilnya pada gadis yang hendak duduk. Yang dipanggil langsung berlari, memeluk Iraz tanpa aba-aba.


"Kamu hilang dua hari ini! Aku jadi kangen," jawab Aine tanpa malu.


"Hahahaha," Iraz tertawa kecil. "Aku tidak hilang, Ai, aku hanya memberikanmu waktu untuk menuntaskan misi mu sendirian."


"Tapi aku bosan tanpamu."


"Hahahaha, baru kali ini dibuat baper sama cewek," Iraz melepaskan pelukan itu. "Aku lapar, Ai!" ujarnya mengedipkan matanya.


Aine tersenyum. Ia melirik jam di hape, sudah jam 24.00.


"Kamu mau makan apa tengah malam begini?" Aine menatap wajah Iraz yang ganteng tanpa masker.


"Apa aja, yang penting masakan kamu." jawab Iraz.


"Oke, mari kita masak..." Aine menarik tangan Iraz agar mengikutinya masuk ke dalam. Ia menyuruh pria itu duduk untuk menunggu.


"Dua hari ini aku makan mie instan aja loh, Ai." Iraz memberitahu.


Aine menoleh sebentar, menatap Iraz yang duduk tidak jauh darinya. "Lah, kok gitu?"


"Aku nggak suka makan apapun selain masakan kamu, Ai. Mungkin karena udah ketagihan,"


"Alla!"


"Iya, Ai, suer. Kemarin udah kucoba makan di restoran, eh gulanya kebanyakan. Aku malah hampir muntah. Makanya, selama kamu tinggal di sini, aku akan tetap makan mie instan."


Aine menghentikan kegiatannya sejenak. Ia tersenyum pada pria itu. "Nggak boleh makan instan mulu! Entar sakit, loh!"


"Terus aku harus gimana? Nggak mungkin banget aku bawa kamu pulang,"


Aine menyelesaikan masakannya. Semangkuk sup telur siap disajikan.

__ADS_1


"Makan, Raz... sup telur panas cocok untuk menu tengah malam." kata Aine meletakkan mangkok itu di depan Iraz.


"Wahhhh, makasih, Ai.."


Gadis itu duduk di samping Iraz. Mendampingi pria itu makan. Persis kayak istri yang baik pada suami.


"Raz, bagaimana kalo kamu makan tiap malam di sini aja? Dari pada makan mie instan?" tawar Aine.


"Nggak bisa, Ai. Bahaya," jawab Iraz yang baru saja memulai makannya.


"Makanya tiap malam aja, jam segini misalnya,"


"Aku takut ngerepotin kamu, Ai..." pria itu menatap wajah Aine.


Aine menopang wajahnya dengan satu tangan, tergelitik mendengar ucapan Iraz.


"Bahkan jika kamu ingin aku jadi koki setiap saat, aku pasti tidak akan merasa direpotkan. Malah aku yang akan merasa merepotkan." sahut gadis itu.


Senyum pria itu terkembang. "Sejak kapan aku punya gadis seromantis ini?"


Wajah Aine langsung bersemu kemerahan.


Iraz kembali melanjutkan makannya. "Jadi fiks yah, aku datang setiap tengah malam?"


Aine mengangguk. "Iya, Raz. Kasihan banget liat orang tampan sepertimu cuma bisa makan mie instan," lanjut Aine.


"Hahahaha, kadang malah nggak makan. Contohnya saja dari tadi siang, aku nggak mencicipi apa-apa selain segelas wine."


"Astaga, nggak boleh seperti itu, Raz... entar sakit loh,"


Iraz tersenyum. Menatap mata Aine lekat lekat. "Biarin aja, kan ada kamu yang bakalan ngurusin."


"Hahahaha, aku nggak bakalan mau!"


"Kok gitu sih,"


"Becanda, Raz.. tapi kalo boleh jangan sampai sakit lah. Yang terpenting di hidup ini adalah kesehatan. Harusnya kita menjaganya..."


"Itu sih aku tau, cuman siapapun pasti ingin sakit jika diurusin sama cewek seperti kamu. Udah cantik, baik hati, pinter masak, humble dan sebagainya m Kita tuh seakan terbius loh, Ai..." Iraz melanjutkan makannya.


"Cukup...cukup, Raz... aku jadi kesenangan." gadis itu tersenyum malu-malu.


Pria itu terdiam. Ia melanjutkan makannya tanpa bersuara lagi.


"Kamu mau?" Iraz menyendok dan menyodorkan pada Aine. Gadis itu tidak menolak, membuka mulutnya.


"Ai, sebenarnya aku juga kesepian tanpamu." pria itu mulai membuat pengakuan. Ia menyuap Aine beberapa kali berselang setelah dia. "Makanya, kadang aku pulang jam-jam 02.00 ke rumah. Aku tuh kayak merasa nggak ada gunanya pulang, lebih baik ke bar atau semacamnya."


"Jadi maksudmu, haruskah aku pulang?"


"Nggak usah, Ai..." tolak Iraz. "Aku akan bertahan sampai waktunya selesai."


"Hmmm," Aine berfikir. "Bagaimana kalo kamu tinggal di sini aja. Kebetulan ada banyak kamar kosong."


Tawaran Aine memang cukup menggiurkan, tapi Iraz tidak mau. "Makasih, Ai..tapi kayanya aku nggak bisa deh, aku takut mereka mengetahui identitasku."


"Makanya, kamu harus datang tengah malam, bangunnya pagi sekali. Jadi mereka tidak akan tau kalo kamu tinggal di sini,"


"Hahahaha, sesusah itu? Mending aku pulang, Ai... bebas tidur kapanpun aku mau. Kalo soal kesepian, aku kan bisa nyempatin waktu buat ngeliat kamu. Iya


kan?"


"Terserah kamu deh, Raz... tapi mulai sekarang, kamu nggak boleh ngelewatin makan. Tiap pagi harus datang ke sini buat ngejemput makan pagi dan siang. Terserah mau makan di kantor atau dimana. Intinya aku bakal nyiapin. Terus makan malam harus datang setiap malam seperti ini. Ngerti?" tiba-tiba saja Aine berubah cerewet.


"Hahahaha, siap, bosss. Makin cerewet makin cinta deh."

__ADS_1


__ADS_2