Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Dart


__ADS_3

Drtttt! Pesan penuh amarah itu sampai ke hape milik Iraz dalam waktu sekejab. Vey yang duduk tidak jauh dari hape pria itu lantas segera mungkin untuk membukanya. 


Apa-apaan ini! Kata Vey dalam hati. Dia agak kesal membaca pesan yang kurang baik itu. Pesan yang berisi ujaran kotor. Dia segera saja mencari tau siapa sendernya. 


Hah? Aine? Siapa Aine ini? Kok kasar banget jadi manusia. Pake acara bilang jauhin lagi! Kebangetan banget ini jadi manusia! Emang dia pikir dia siapa berani seperti itu pada adikku.  Vey mengomel sendiri.


Eh tapi kenapa namanya Iraz ya? Apa ini salah kirim. Tapi... ah tau ah.  Mending aku tanya langsung sama Stevan. Gumam Vey lagi. Wanita itu berjalan menuju kasur tempat adiknya terbaring. 


"Stevan...." panggilnya pelan. Pria itu menggeliat pelan. Membuka matanya pelan. 


"Ada apa?" tanya  Iraz lemah. Sepertinya dia masih dalam kondisi kurang baik hingga belum bisa bekerja seperti sebelumnya. Vey juga sudah mengorbankan waktunya demi merawat sang adik.


"Kamu sudah lebih baik?"

__ADS_1


Iraz membenamkan kepalanya ke dalam bantal lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Ia tidak tertarik meladeni pertanyaan Vey yang terlontar setidaknya sepuluh kali sehari. 


"Stevan, kalo kamu udah lebih baik, aku ingin menanyakan banyak hal padamu."


Iraz semakin tidak tertarik dengan perkataan kakaknya. Sumpah demi apa ini membosankan sekali. Vey tau persis bagaimana sifat asli adiknya. Dari zaman dia masih anak-anak sampai sekarang pria itu tetap pada sifatnya. Namun, itulah yang membuat seorang Iraz unik dan tak tertandingi.


"Iraz itu siapa?" tanya Vey tiba-tiba. Hal tersebut berhasil membuka mata Iraz yang sempat tertutup jengah.


"Mau kah kamu menjelaskan siapa mereka secara sadar padaku? Tentu ini akan menjadi kehormatan bagiku sebagai seorang kakak untuk mu." kata Vey dengan lembutnya.


Iraz membuka wajahnya yang sedari tadi ditutupi selimut. Dia menatap wajah kakak nya dengan tatapan tajam namun lemah. Ia berusaha untuk membaca situasi yang terjadi di hari sebelumnya. Dan yah, dia yakin semua ini terjadi karena dia memberikan hapenya di utak Atik oleh wanita itu hingga nama Aine dan Alvan dapat diketahui wanita itu.


"Dari mana kamu tau nama Iraz?" tanya pria itu santai. Dia ingin membahasnya dengan santai.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum kecil. "Dari hape mu. Lagi pula di hari sebelumnya kamu sudah memberitahu bahwa Aine memang wanita yang kamu sukai. Aku tidak tidak keberatan, tapi sepertinya dia agak kurang sopan deh."


"Maksud mu?" wajah Iraz mulai berubah.


"Tadi kamu mendapat pesan dari Aine..."


Iraz langsung tersentak. Dia langsung mencari hapenya dengan mata. "Di mana hapeku?" itu pertanyaan yang dia lontarkan.


Vey menggeleng tidak percaya. Tampaknya pria itu memang tidak berniat mendengarkan nya sedikit pun. Terbukti dari semua tingkahnya yang seolah-olah tidak suka dengan kehadirannya setiap saat.


"Stevan, aku tau kamu punya sebuah rahasia besar. Tapi mulai sekarang kamu bisa bicara dengan ku. Beritahu aku segalanya, maka aku akan membantumu."


Iraz memicingkan matanya. "Berikan hapeku!"

__ADS_1


__ADS_2