Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa
Ai, Boleh Aku Nanya Sesuatu?


__ADS_3

Iraz menghentikan mobilnya di depan bangunan yang lumayan ramai. Bertepatan dengan kedatangannya, Aine keluar dari dalam bangunan dengan keringat yang mengucur dari dahinya. Tubuhnya terlihat elok di bawah balutan pakaian fitness.


Aine menyadari kedatangan Iraz. Langsung ia melemparkan senyumnya pada pria itu.


"Hai, Raz," sapanya sambil menghampiri pria itu.


Iraz melambai. Memperhatikan wajah gadis itu sejenak. "Minum dulu!" ujarnya melemparkan sebotol minuman melewati jendela mobil yang terbuka.


Aine menangkapnya dengan sigap. "Tau aja apa yang sedang ku butuhkan," ucapnya membuka tutup botol pemberian Iraz, meneguknya.


"Haus banget, ya? Satu botol bisa habis gitu," komentar Iraz saat melihat Aine hampir menghabiskan satu botol minuman.


"Iya, Raz. Sejak tadi aku belum minum. Niatnya tadi mau beli minuman di depan, eh kamunya datang. Makasih, Raz, heheheh," balas Aine setelah menyelesaikan minumnya. Dia bersendawa sekali hingga membuat Iraz tertawa kecil.


"Kita langsung pulang, Raz?" tanya Aine masuk ke dalam mobil.


"Terserah kamu aja, Ai. Aku sih ngikut aja," jawab Iraz membuka jaketnya dan memberikan pada Aine.


Gadis itu mengerti kenapa jaket itu diberikan padanya. Pasti karena Iraz tidak suka melihat wanita terlalu terbuka. Tapi entah sih, soalnya itu opininya saja.


"Bukannya tadi kamu bilang ada urusan, ya, Raz?" tanya Aine seraya mengancing jaket Iraz yang kebesaran di badannya.


"Iya. Tapi aku takut ngebiarin kamu pulang sendiri. Sekarang kan lagi musim penculikan orang. Gimana kalo kamu diculik?" kata pria itu setengah bercanda


"Hahahaha, paling-paling aku dijadiin sate sama penculiknya!" sambung Aine.


"Dasar! Seharusnya kamu takut, bukan malah bercanda!" ucap Iraz mulai mengendara.


Mobil pun melaju meninggalkan bangunan yang semakin ramai itu.


Di tengah perjalanan, Iraz membuka obrolan. Biasanya dia hanya pendengar setia dari setiap cerita Aine, hampir tidak pernah ia mengajak Aine bicara duluan. Tapi entah kenapa kali ini dia berbeda.


"Ai, aku boleh nggak nanya sesuatu?"


Aine menatap Iraz sejenak, kemudian jalanan di depannya. "Boleh dong. Boleh banget malah," jawab Aine.


"Tapi kau janji jangan marah, ya..." suara Iraz terdengar lembut kala mengatakan kalimat itu.


Aine tersenyum kaku. "Aduh, kau membuatku penasaran deh!"


"Janji dulu!" ujar Iraz.


"Hmm, iya, janji deh." jawab Aine semangat.


Iraz menarik nafas panjang. Ia ragu untuk menanyakan tapi rasa penasarannya terus saja menyuruh mulutnya untuk bicara.

__ADS_1


"Apa, Raz? Aku nggak sabar untuk menjawab nih," Aine sampai mengungkit agar pria itu angkat bicara.


"Apa kamu anak kandung di keluargamu?" akhirnya dia berani mengatakannya.


Aine mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


Iraz bedehem. "Maksudku, kamu anak kandung Isman nggak?"


"Tentu saja!" jawab Aine lugas.


"Kamu yakin?"


"Yakinlah!" jawab Aine.


"Tau dari mana? Emang kalian pernah tes DNA?"


"Nggak sih."


"Jadi apa yang membuatmu yakin?" Iraz menyatukan alisnya. Baginya ini masih sebuah misteri.


Aine berfikir sejenak. Mencoba mengingat peristiwa peristiwa di masa lalu yang menguatkan kepercayaannya tentang identitas dirinya. "Pertama, sejak aku kecil Mama selalu bilang gini padaku: 'Pantasan aja kau berbeda dengan saudaramu, orang kau lahirnya di rumah! Vanya dan Melanie itu lahir di rumah sakit termahal di kota ini!' lalu dia juga mengatakan saat mengandungku, dia stress mulu hingga tidak mau merawat diri."


"Kedua, golongan darahku sama dengan golongan darah Papa. Dan yang ketiga, aku pernah lihat tanda bukti lahirku di kamar Mama." tutur Aine panjang lebar.


"Iya sih, wajahmu juga mirip dengan kedua saudaramu. Dagumu mirip sama Vanya, ya? Dan bentuk wajahmu juga mirip sama kakakmu. Hanya saja baru kelihatan miripnya setelah kamu kurus." Iraz menimpali.


"Hehehe. Makanya," gadis itu tersenyum kecil. "Btw kenapa menanyakan itu?"


Iraz menggeleng. "Nggak apa-apa, sih. Hanya saja tadi aku berkunjung ke rumah orangtuamu. Dia bilang hanya punya dua orang putri, makanya aku penasaran." jawab Iraz.


"Dia memang selalu begitu, Raz. Dari aku kecil mereka semua memang tidak pernah mengakui aku. Jangankan sama kamu, sama orang biasa aja mereka mengatakan aku anak adopsi. Tapi nggak apa-apa, namanya juga anak yang berbeda," Aine memaksakan bibirnya melengkung.


Iraz tau hati gadis itu hancur banget kalo mengingat keluarganya. Meski dia pura-pura baik-baik saja di luar, Iraz tetap tau bagaimana perasaan gadis itu.


"Apa maksudmu mereka memang tidak pernah mengakuimu?"


"Lebih tepatnya begitu." sahut Aine. "Aku ingat ketika seorang teman Papa datang ke rumah, Papa dengan bangga mengenal Vanya dan Melanie pada temannya itu. Lalu aku datang mendekat agar dikenalkan juga. Tapi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan berhasil mengubahku menjadi patung. Saat itu Papa mengatakan bahwa aku adalah anak pembantu. Aku sakit hati sih," cerita Aine.


"Sekejam itu?" Iraz tertarik.


"Yah. Belum lagi kalo ada acara ulangtahun, perayaan dan segala macam, mereka tidak pernah mengikutkan ku. Di foto keluarga juga aku nggak pernah ada," lanjut Aine lagi.


"Benar, sih. Tadi aku udah cari wajahmu nggak ada. Ih, aku jadi geram!"


"Hehehe, aku tidak ingin memberitahu ini, tapi rasanya sayang tidak diberitahu. Satu tahun yang lalu, tepat di acara wisuda Melanie, aku memohon agar ikut diperayaan. Aku tuh penasaran banget sama yang namanya suasana wisuda. Tapi Mama marah besar dan mengatakan kalo aku hanya akan malu-maluin saja. Eh, setelah dimarahin aku tetap ditinggalkan. Waktu itu aku benar-benar sakit hati sih," cerita Aine lagi.

__ADS_1


"Satu keluarga kok kejam banget!" komentar Iraz. "Bahkan seandainya kamu anak angkat sekalipun, mereka tidak berhak melakukan itu padamu. Tidak adil banget!"


Aine tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Raz. Dulu aku juga selalu protes kepada Yang Kuasa karena memberiku ketidakadilan. Tapi sekarang aku percaya keadilan itu ada. Buktinya Dia sengaja mempertemukan ku denganmu agar aku bisa merasakan yang namanya bahagia."


Iraz tersenyum di balik maskernya. Menatap Aine sejenak kemudian mengusap rambut gadis itu sebentar. "Itulah yang membuatku tertarik untuk selalu membantumu, karena kamu gadis yang tabah." ucapnya tulus.


Aine merasakan kenyamanan dari usapan lembut pemberian tangan Iraz. Dia merasa nyaman, aman dan terlindungi. Pria itu memberikan kenyamanan yang tak terlukiskan bagi Aine.


"Eh, btw darimana kamu tau kalo aku putrinya Isman? Terus bagaimana kamu bisa mengunjungi rumah ku? Bagaimana caramu bisa masuk ke sana?" Aine menghujani Iraz dengan pertanyaan.


"Aduh, Ai, tanyanya satu-satu dong! Aku bingung mau jawab yang mana,"


"Hehehe, nggak jadi deh. Harusnya aku tau kamu itu manusia super. Kau kan bisa melakukan segalanya..."


"Alla! Bilang aja lupa pertanyaannya!" kata Iraz dengan nada senang.


Aine menatap langit yang mendung. "Duh, kayaknya akan turun hujan deh,"


"Biarin aja, kan hujan anugerah."


"Ya tapi aku belum angkat jemuran, Raz!"


"Oh iya!" Iraz menyadarinya. "Ya udah, pegangan yang kuat, Ai, kita akan mengebut!"


***


"Papa ada berita bagus untuk kalian!" Isman memberitahu kedua putrinya saat acara makan malam.


"Apa, Pa?" tanya mereka bersamaan.


"Bos Papa yang sering Papa ceritain itu menyukai salah satu dari kalian berdua. Ini peluang besar, loh," jawab Isman berseri.


"Pasti aku kan Pah!" Melanie dengan pedenya menganggap dialah yang diinginkan.


"Papa tidak tahu, Mel. Dia tidak mau memberitahu siapa. Yang pasti salah satu dari kalian deh," lanjut Isman.


"Bagus tuh, kalo nikah ama bos dijamin hidupnya enak. Bisa beli apa aja, nggak perlu capek-capek kerja. Gebetin boleh dong Mel," Andari, istri Isman ikut dalam obrolan.


"Kenapa kak Mel mulu! Aku kapan dapat cowok seperti itu? Diakan sudah punya kak Alvan, keren juga kok," Vanya, anak bontot di rumah itu protes sambil mengunyah makanannya.


"Makanya aku udah bilang, aku itu lebih cantik dari kamu. Kamu aja yang kepedean," Melanie menatap adiknya remeh.


"Papa kan nggak bilang kalo cowok itu sukanya kak Mel, aku itu protes karena Mama anjurin kamu mulu, bukan karena kak Mel menang!"


"Elle! Paling-paling akhirnya aku juga yang dipilih. Tapi nggak apa-apa, kalo cowoknya ganteng, kaya, aku mau. Entar aku kasih Alvan untuk kamu. Tenang aja,"

__ADS_1


__ADS_2