
"woii loh mau kemana." Tanya Riska sedikit berteriak ketika melihat saudara kembarnya yang berjalan ke arah mobil mereka.
Sedangkan Siska yang diteriaki seperti itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Riska.
"Pak mana kunci mobilnya." Tanya Siska kepada sopirnya.
"Emangnya buat apa non?" Tanya sang sopir dengan sopan yang tak lain adalah pak Asep.
"Bapak pulang duluan ajah yah nanti saya yang nyetir mobilnya." Ucap Siska dengan tak kalah sopan.
Siska dan Riska walaupun terlahir dari keluarga yang kaya namun mereka tetap memperlakukan pelayannya dengan sopan tanpa melihat status sosial mereka. Sesuai dengan ajaran kedua orangtua mereka yang selalu memperlakukan orang dengan ekonomi bawah dengan baik.
"Saya dan Riska masih ada urusan penting jadi bapak pulang dulu ajah, bapak naik taksi ajah yah." Sambung Siska sambil menyerahkan satu lembar uang lima puluh ribu.
"Baiklah non, nanti hati-hati nyetir mobilnya." Ucap Pak Asep sambil menerima uang dari Siska.
"Iya pak, jika papi dan mami nyariin kami bilang ajah masih ada urusan dengan Cia." Ucap Siska.
"Baik non kalau begitu saya pamit pulang dulu." Ucap pak Asep.
Setelah itu Siska pun berjalan kearah sahabatnya.
"Loh ngomong apa ogeb dengan pak Asep." Tanya Riska. Ketika Siska sudah duduk disamping Cia, jadi Cia berada ditengah-tengah Siska dan Riska.
"Cuma ambil kunci mobil." Sambil memperlihatkan kunci mobil yang ada ditangannya. Sedangkan Riska hanya manggut-manggutkan kepalanya.
30 menit kemudian.
Ketiga gadis cantik tersebut sudah mulai merasa bosan karena orang yang ditunggu tak kunjung datang.
bahkan langit pun sudah menampakkan awan yang hitam tanda sebentar lagi hujan akan turun.
"Cia coba loh telfon itu Alex kenapa itu anak belum muncul juga." Ucap Riska yang sudah mulai bosan.
"Ok tunggu sebentar ya." Ucap Cia sambil menelfon Alex. Namun orang yang ditelfon tidak mengangkat panggilan telfon darinya.
"Tunggu 10 menit lagi mungkin dia lagi terjebak macet." Ucap Siska dengan masih berfikiran positif.
"Astga ini kita diparkiran sudah berjam-jam, kita kayak tukang parkir ajah." Ucap Riska kesal karena orang yang ditunggu tak kunjung datang menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
"Kalian pulang ajah, mungkin benar kata Siska Alex lagi terjebak macet. Gue hubungi gak diangkat." Ucap Cia yang merasa tak enak kepada sahabatnya yang kelihatan sudah sangat bosan menemaninya.
walaupun bukan dia yang meminta tapi mau bagaimanapun dia tetap senang karena sahabatnya sangat perhatian kepadanya.
"Ayo kita tunggu dia dimobil, kayaknya hujan sebentar lagi turun." Ajak Siska.Mereka pun berjalan kearah mobil, setelah berada dimobil benar saja hujan lebat langsung menguyur kota tersebut.
Hingga 1 jam kemudian Riska pun tertidur di kursi belakang, sedangkan Siska duduk di bangku kemudi dengan handphone yang menampilkan game favoritnya. Untuk Cia jangan ditanya dia sibuk menelfon sang kekasih tapi tidak aktif.
"Gimana Cia udah diangkat belum." Tanya Siska yang sudah sangat bosan namun dia kasihan kalau harus meninggalkan sahabatnya sendiri.
"Gak aktif." Ucap Cia lesuh.
"Gak aktif loh bilang tadi aktif tapi gak diangkat sekarang gak aktif." Ucap Siska kesal. Sekarang dia yakin apa yang dipikiranya akhir-akhir ini.
Tidak mungkin orang yang selama ini bucin tingkat akut segampang itu berubah tanpa ada sebabnya.
"Gue khawatir bangat sama dia jangan-jangan dia kenapa-napa lagi, mungkin dia kejebak hujan di jalan secara hujan sangat lebat. Sedangkan hanphonenya yang gak aktif mungkin tiba-tiba lowbet." Ucap Cia dengan nada khawatir.
Siska yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya bisa menghela napasnya panjang, sahabatnya disini sangat khawatir kepada orang yang belum tentu mengkhawatirkanya.
"Jadi bagaimana mau tetap disini sampai malam atau pulang nanti loh minta penjelasan ke dia kenapa tidak datang menepati janjinya." Ucap Siska.
Cia yang mendengarkan ucapan Siska langsung melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan stengah 5 dan bergantian melirik kearah kursi belakang yang ditempati Riska yang sedang tidur.
"Kita pulang ajah kalau begitu kasihan Riska yang tidurnya sampai gak nyaman begitu." Ucap Cia dengan nada kecewa karena sang kekasih tidak menepati janjinya namun terbesit rasa khawatir takut ada hal buruk yang terjadi dengan sang kekasih.
"Gue lebih kasihan ke loh Cia yang menunggu orang yang tak tahu dimana." Gumam Siska sambil melirik sebentar ke arah Cia yang sesekali memeriksa handphonenya.
"Ok tapi kita singgah ke cafe dulu yah, gue lapar banget ni, dan gue yakin loh dan Riska juga sudah sangat lapar." Ucap Siska yang siap mengemudikan mobilnya.
"Maaf yah sudah merepotkan loh dan Riska." Ucap Cia dengan penuh rasa bersalah karena gara-gara dia kedua sahabatnya itu harus menahan lapar.
"Hmm santai ajah lagi, loh kan sahabat kita jadi tidak mungkin kan kita ninggalin loh sendirian. Gak kebayang kan kalau tadi kita ninggalin loh sendiri gimana caranya loh mau pulang secara gak ada satupun kendaraan umum yang lewat." Ucap Siska sambil fokus menjalankan mobilnya.
"Iya gue benar-benar berterima kasih ke kalian." Ucap Cia dengan senyum manisnya. Dia merasa bahagia memiliki sahabat seperti Riska dan Siska yang selalu ada untuknya.
Padahal bisa saja mereka menjalin persahabatan dengan orang yang memiliki status sosial setara dengan mereka. Tapi kedua sahabatnya tersebut bukan orang yang menilai orang dari materi tapi dari hati.
"It's ok, Itulah gunanya sahabat." Ucap Siska dengan senyum tak kalah manisnya.
__ADS_1
Mobil pun terus berjalan dengan kecepatan rendah karena jalan yang sedikit licin dan penglihatan kedepan gak terlalu jelas karena disebabkan hujan yang terlalu lebat.
Hingga 20 menit kemudian mereka pun sampai di parkiran cafe yang instagramable dengan perabotan dan dekorasi yang didominasi kayu namun tidak meninggalkan kesan hangat dan elegant. Sehingga tidak salah jika pengunjung cafe tersebut didominasi oleh kaum muda.
"Woiii Riska bangun." Ucap Siska sambil menghadap ke arah kursi belakang. Sedangkan Riska hanya menggeliat sambil memperbaiki posisi tidurnya
"Riska bangun kagak loh." Teriak Siska dengan kencang sehingga membuat Cia refleks menutup kedua kupingnya sedangkan Riska langsung bangun karena kaget mendengar teriakan dari sang kembar laknatnya tersebut.
"Kenapa sih ganggu orang tidur ajah." Gerutu Riska kesal karena diganggu waktu tidurnya.
"Loh juga dibangunin susah bangat." Ucap Siska tak kalah kesal. Sehingga Cia malah menikmati drama kedua saudara kembar tersebut, yang sedikit dapat menghilangkan Alex dari pikiranya.
"Alex mana? Kenapa kita malah ada di cafe?." Tanya Riska yang bingung kenapa mereka ada di cafe dan Cia masih satu mobil dengan mereka yang berarti Alex tidak datang menjemput Cia.
"Nanti ajah nanyanya mending kita turun dulu isi perut gue udah lapar bangat." Ucap Siska dengan cepat karena dia yakin saudara kembarnya ini tidak akan berhenti bertanya.
"Ok gue juga udah lapar bangat." Ucap Riska menatap Cia seperti dapat melihat raut kekecewaan di muka sahabatnya.
"Maaf yah gara-gara gue kalian menahan lapar." Ucap Cia dengan rasa bersalah.
"Santai ajah." Ucap Siska
"Ayo Kita turun tapi kayaknya kita harus lari kedalam cafe karena hujan belum berhenti sedangkan dimobil tidak ada payung." Ucap Siska sambil membuka pintu mobil dan siap untuk turun menembus hujan diikuti kedua sahabatnya.
Mereka pun sampai di kursi yang berdindingkan kaca tersebut sehingga dapat melihat aktivitas orang yang berada di parkiran. Mereka pun langsung memesan makanan dan minuman.
Hingga tak membutuhkan lama pesanan mereka pun datang dan dengan cepat mereka menyantapnya karena sudah terlalu lapar. Hingga di pertengahan mereka makan Riska yang sedang mengunyah makanan yang penuh didalam mulutnya langsung tersedak.
uhuk uhuk uhuk
"Ais loh jorok bangat sih." Omel Siska sambil melap mukanya dengan tissue karena nasi yang berada dalam mulut Riska malah berhamburan mengenai wajahnya.
"Itu bukannya Alex." Ucap Riska sambil menatap ke parkiran yang terdapat laki-laki tampan yang mereka tunggu dari tadi namun tak kunjung datang.
Cia dan Siska yang mendengarkan Riska menyebut nama Alex langsung mengikuti arah pandang Riska yang ternyata melihat ke arah kedua pasangan yang terlihat sangat mesra
deg
Ternyata laki-laki tersebut ada di cafe ini tapi yang membuat mereka kaget adalah Alex tidak sendirian melainkan bersama perempuan yang kelihatan sangat mesra, bagaimana tak mesra tangan perempuan tersebut memegang lengan tangan dari si laki-laki sedangkan tangan laki-laki memegang payung yang dipakai oleh kedua orang tersebut.
__ADS_1
Mereka seperti pasangan yang sangat romantis.