
"Maaf." Ucap Cia sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa loh minta maaf." Tanya Siska heran.
"Maaf karena gue udah buat kalian khawatir dan maaf juga karena sudah menjadi seorang sahabat yang bodoh buat kalian. Hanya karena hati gue hancur. Gue hampir membuat dosa yang besar." Ucap Cia menatap sendu kedua sahabatnya tersebut.
Siska dan Riska yang melihat kesedihan sahabatnya pun sontak memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Loh gak perlu minta maaf, kita tahu kok gimana hancurnya perasaan loh sekarang. Tapi yang perlu
kamu ingat kamu tidak sendiri masih ada kita bahkan papi dan mami pun menyayangi kamu seperti putri mereka sendiri. Jadi jangan sedih lagi ya." Ucap Riska sambil menghapus air mata Cia dengan lembut.
"Dan loh juga harus ingat apapun masalah yang sedang loh hadapi, mau sehancur apapun hati loh ingat jangan pernah melakukan dosa besar yang akan semakin membuat orang tua loh disana merasa sedih dan kecewa dengan apa yang loh lakukan.
Jangan pernah merasa bahwa loh itu pembawa sial kematian sudah ada yang mengatur kita hanya mengikuti takdir yang telah ditentukan Tuhan untuk kita. Jangan pernah menjadi lemah jadilah wanita yang kuat karena semakin loh lemah musuh loh akan semakin merasa menang.
Hidup itu Anugerah apapun yang terjadi jangan pernah melupakan Tuhan, karena Tuhan tidak akan menguji kita diluar kemampuan umatnya. Yakinlah semua akan indah pada waktunya." Ucap Siska panjang lebar dengan mencoba memberi pencerahan kepada sahabatnya.
"Maaf! gue menyesal telah berfikiran pendek, gue benar-benar berdosa telah menyalahkan Tuhan dengan apa yang gue alami sekarang, tanpa gue sadari cobaan yang diberikan Tuhan merupakan salah satu langkah buat gue supaya semakin kuat menjalani hidup ini." Ucap Cia dengan rasa bersalah.
"Tuhan mohon ampuni aku, berikanlah kesabaran dan ketabahan yang besar kepadaku supaya bisa menjalani hidup ini seperti yang engkau rencanakan bagiku." Doa Cia dalam hati.
"Tidak apa-apa yang penting kamu harus janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti sekarang." Ucap Riska.
"Sekali lagi ingat jangan pernah merasa sendiri karena masih ada kita yang akan selalu menemani kamu apapun keadaanya." Support Siska.
Cia yang mendengar ucapan kedua sahabatnya sungguh dibuat terharu dia merasa Tuhan masih sangat baik kepadanya karena menghadirkan sahabat seperti mereka yang tidak pernah meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Trimakasih karena kalian selalu ada buat gue, trimakasih karena kalian membuat gue percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya sendiri." Ucap Cia dengan rasa syukur.
"Kita sahabat jadi apapun yang terjadi masalah loh adalah masalah kita juga." Ucap Siska.
"Kebahagiaan loh adalah kebahagian kita juga." Sambung Riska.
"Dan kalian adalah kebahagian gue." Ucap Cia kemudian mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
"Jadi apa rencana loh sekarang?" Tanya Riska.
"Mending kita bahas dikamar loh aja." Ajak Siska.
"Kalian tidak pulang." Tanya Cia tanpa merespon ucapan kedua sahabatnya.
"Jadi loh ngusir kita?" Tanya Riska sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukan mengusir tapi nanti bokap dan nyokap kalian cariin apalagi ini udah malam." Ucap Cia yang merasa bersalah karena kedua sahabatnya salah paham dengan ucapannya barusan.
"Jadi kalian kesini atas suruhan papi dan mami bukan kemauan kalian sendiri." Ucap Cia dengan akting sedih.
"Kok jadi salah paham terus sih." Gumam Siska dalam hati.
"Tidak bukan begitu maksud gue." Ucap Siska panik.
"Gue tahu kok gue cuma bercanda tadi." Ucap Cia terkekeh geli melihat wajah panik sahabatnya.
Siska dan Riska yang melihat sahabatnya tertawa pun merasa senang.
__ADS_1
"Gue harap loh sering tersenyum seperti ini." Gumam Siska dalam hati.
Mereka pun berjalan kearah kamar Cia. Sampai dikamar mereka pun duduk di lantai dengan beralaskan karpet tipis namun nyaman.
"Btw loh udah mikirin rencana apa yang akan loh lakukan?" Tanya Siska.
"Gue gak tahu otak gue sekarang benar-benar buntu." Jawab Cia sambil mengelengkan kepalanya.
"Hmm apa loh yakin akan balas dendam ke mereka?" Tanya Siska.
"Iya gue yakin walaupun sebenarnya disini semua bukan kesalahan mereka, walaupun Alex dan Fania berkhianat tapi semua itu rencana Tuhan yang berarti gue dan Alex memang bukan jodoh." Ucap Cia sendu apalagi mengingat kenangan indah dia dan Alex. Sejujurnya dia masih sangat mencintai mantannya itu karena waktu 2 tahun itu bukan waktu yang singkat.
"Tapi mengingat perlakuan mereka membuat gue membenci mereka apalagi mengingat ayah baru pergi. Namun jika dilihat dari sikap mereka seperti tidak merasa kehilangan bahkan dengan kejamnya mereka menghina gue dalam keadaan gue masih berduka." Lanjut Cia.
"Iya gue ajah pengen sekali mencabik-cabik mulut kedua wanita ular tadi." Ucap Riska dengan emosi mengebu-ngebu.
"Gue boleh mengungkapkan sesuatu gue gak?" Tanya Cia hati-hati.
"Apa?" Tanya Siska dan Riska kompak. Sambil menatap wajah sang sahabat yang sepertinya ragu untuk menjawab
"Jujur gue merasa ada yang janggal tentang kematian bokap gue. Sebelumnya gue bukan ingin memfitnah orang, namun entah kenapa sejak dari RS sampai sekarang firasat gue mengatakan ada kejanggalan mengenai kematian bokap gue.
Gue ingin buang jauh pemikiran itu namun tidak bisa Dan gue ingin mendengar saran dari kalian?" Tanya Siska.
"Orang yang loh curigai siapa dan kenapa loh mencurigai orang tersebut?" Tanya Siska.
"Hmm begini gue merasa kematian bokap gue ada yang ditutupin. Jujur gue merasa aneh melihat sikap ibu tiri gue maksud gue mantan ibu tiri gue dengan Fania, waktu di RS gue tanya kronologi kematian bokap gue. Ibu Fania cuma mengatakan kalau bokap gue merupakan korban tabrakan lari dia namun cara dia bicara kelihatan gugup apalgi sebelum menjawab dia terdiam agak lama.
__ADS_1
Apalagi waktu Vino ingin membawa kasus ini ke pengadilan sikap ibu Fania seperti menunjukkan rasa takut bahkan dia seperti sengaja menutup kasus yang menimpa ayah gue. Dia bilang kalau kami pasti akan kalah dipengadilan karena kamu orang miskin, namun Vino bersikukuh ingin membantu kami bahkan dia bilang akan menyuruh pengacaranya dan ibu Fania langsung emosi." Jelas Cia panjang lebar.
"Mungkin firasat loh gak sepenuhnya salah apalagi melihat tingkah ibunya Fania yang biasa saja dan tidak merasakan kesedihan sama sekali." Pendapat Riska.