
Deg! jantung Alex berdetak lebih cepat dia benar-benar tidak menyangka hubungan yang sudah mereka jalin selama 2 tahun harus berakhir terlebih semua masalah disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Sayang kamu gak seriuskan dengan ucapan kamu barusan? aku yakin kamu hanya bercanda kan?" Tanya Alex mencoba menyakinkan apa yang diucapkan kekasihnya barusan lebih tepatnya mantan kekasih.
"Gue gak bercanda gue serius dan gue harap loh jangan pernah muncul lagi di kehidupan gue." Ucap Cia dengan suara paruhnya.
"Sayang aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa tapi aku harap kamu tenangkan diri kamu dulu fikirkan baik-baik karena keputusan yang diambil saat emosi itu tidak akan baik." Mohon Alex mencoba membujuk sang mantan kekasih.
"Loh itu gak tahu malu bangat yah, asal loh tahu semua ini disebabkan oleh diri loh sendiri yang dengan mudahnya terjerat oleh perempuan murahan seperti dia." Ucap Riska geram sambil menunjuk wajah Alex dan Fania bergantian.
"Maksud loh apa hah? kalian semua yang murahan." Ucap Fania emosi.
"Loh itu punya mulut dijaga yah. Dasar benalu." Ucap Siska tak kalah emosi.
"Hahaha kak gimana mau menjaga mulut sedangkan selangkanganya aja gak bisa dijaga." Ucap Riska dengan sangat pedas.
Kedua saudara kembar tersebut seakan-akan ingin mencabik-cabik muka kakak tiri Cia tersebut.
"Kalian jangan pernah menghina anak saya." Ucap mama Fania yang tiba-tiba muncul dari arah belakang sambil membawa koper ditangannya.
"Oh jadi kalau anak ibu yang jelek ini bukan perempuan murahan berarti ibunya dong yang murahan." Ucap Riska santai sambil melipat kedua tanganya didada.
Ucapan Riska tersebut sontak meyulut emosi bagi mama Fania.
"Maksud kamu apa ******, kamu itu bukan siapa-siapa disini jadi gak usah ikut campur." Ucap mama Fania.
__ADS_1
"Kami berhak ikut campur karena perempuan yang kalian hina adalah sahabat terbaik kami yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri." Ucap Siska. Sedangkan Cia yang melihat kedua sahabatnya mati-matian membelanya dibuat terharu oleh ucapan Siska barusan.
"Iya kalian memang harus mengasihani anak yatim piatu, kasihan dia hanya sebatang kara jadi lebih baik kalian pungut aja dia." Ucap mama Fania dengan ucapan yang benar-benar tajam.
"Jangan pernah menghina Cia seperti itu." Bentak Alex yang benar-benar geram mendengar mama mertuanya menghina perempuan yang dia cintai.
"Kenapa memangya salah yang ibu bilang. Kamu jangan membelanya Alex ingat kamu itu menantu saya, suami dari Fania dan calon ayah bagi anak yang ada dalam kandungan Fania.
Jangan pernah membela perempuan pembawa sial seperti dia, ibunya meninggalkannya disusul ayahnya dan sekarang kekasihnya sendiri pun lebih memilih perempuan lain. Sangat malang sekali nasibnya." Ejek mama Fania yang benar-benar tidak punya hati.
"Ibu saya mohon jangan per...." Ucap Alex namun ucapannya langsung dipotong oleh Cia.
"KALIAN KELUAR DARI RUMAH SAYA SEKARANG." Teriak Cia yang sudah tidak tahan mendengar semua hinaan dari mantan ibu tirinya tersebut.
"Tanpa loh suruh kami juga akan keluar." Ucap Fania sinis.
"Alex ayo." Ajak Fania namun Alex hanya diam ditempatnya.
"Sayang maafin aku." Ucap Alex yang mengabaikan ucapan Fania malah mencoba mendekat kearah Cia.
"GUE BILANG KELUAR." Teriak Cia dengan keras.
"Aku harap kamu tidak serius dengan ucapan kamu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau putus dari kamu." Ucap Alex kemudian berjalan keluar dari rumah dengan posisi Fania dibelakangnya. Namun sebelum Fania menghilang dari pintu dia menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidahnya tanda penuh kemenangan.
Setelah Alex dan Fania benar-benar hilang dari pintu tersebut sontak air mata yang ditahan sedari tadi akhirnya mengalir deras membasahi wajah cantik tersebut.
__ADS_1
"Hiks hiks apa salahku Tuhan, apa benar aku ini pembawa sial hiks hiks. Kenapa semua orang meninggalkan aku, ayah ibu Cia ingin ikut dengan kalian hiks hiks." Tangis Cia pecah sambil duduk dilantai.
"Hiks hiks kenapa kalian semua meninggalkan aku sendiri, ayah kenapa tidak membawa anakmu yang malang ini untuk ikut bersamamu. hiks hiks untuk apa lagi aku hidup didunia ini. Orang yang selama ini aku cintai ternyata tega mengkhianati aku hiks hiks." Tangis Cia pilu yang benar-benar menghayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Siska dan Riska yang melihat keadaan sahabatnya tersebut ikut sakit hati.
"Gue janji akan bantu loh untuk balas dendam kepada mereka." Gumam Siska dalam hati. Hatinya juga hancur melihat kondisi sahabatnya seperti ini.
"Kalian memang jahat tunggu saja pembalasan dari kami dan saya jamin kalian akan datang sendiri bertekuk lutut dihadapan Cia." Gumam Riska sambil memeluk sahabatnya disusul oleh Siska.
"Hiks hiks aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku anak pembawa sial. Hidupku hancur aku tidak punya alasan lagi untuk hidup. Aku mau menyusul ayah sama ibu saja hiks hiks." Ucap Cia dan langsung melepaskan pelukan kedua sahabatnya kemudian berlari kearah dapur.
Siska dan Riska yang melihat sahabatnya berlari pun sontak terkejut dan langsung ikut berlari menyusul sahabatnya tersebut. Sampai didapur mereka kaget melihat Cia memegang pisau yang sudah mengarah ke lehernya.
"Cia stop." Teriak Siska dan Riska kompak
"Gak gue mau pergi menyusul ayah dan ibu. Untuk apa gue hidup hiks hiks." Ucap Cia disela tangisnya
"Loh gak anggap kita apa hah? apa loh udah gak menganggap kita sebagai sahabat loh." Bentak Riska.
"Kalau loh bunuh diri apa semuanya akan baik-baik saja, apa loh yakin orang tua loh akan bahagia dengan kematian loh yang ada mereka akan sangat sedih melihat diri loh nanti. Apa loh tidak tahu perbuatan yang paling dibenci Tuhan adalah bunuh diri.
Apa loh mau melihat mereka bahagia diatas penderitaan loh, dengan kematian loh mereka akan merasa semakin menang. Loh harusnya menjadi wanita yang kuat bukan wanita yang lemah. Buktikan kepada mereka kalau loh bisa membuat mereka menderita bahkan merasakan sakit yang lebih dari apa yang loh rasakan." Ucap Siska panjang lebar.
"Jangan pernah lemah karena dengan kelemahan loh itu akan membuat mereka semakin mudah untuk menindas diri loh." Ucap Riska. Cia yang mendengar ucapan sahabatnya tersebut langsung melepaskan pisau yang ada ditangannya.
__ADS_1
"*Kenapa gue gak bisa berfikir panjang, ayah ibu maafin Cia. Benar kata Siska dan Riska gue tidak boleh lemah, gue akan tunjukin kepada mereka bahwa gue bisa membuat mereka bertekuk lutut dihadapan gue nanti. Tunggu pembalasanku.
Dan untuk kamu Alex ini adalah air mata terakhirku. Aku menyesal pernah mencintaimu begitu dalam hingga akupun membencimu begitu dalam." Gumam Cia dengan mengepalkan kedua tangannya*.