
Disebuah Sma ternama dikota tersebut tepatnya dikelas XII Ipa A ketiga primadona sekolah tersebut sedang duduk sambil membicarakan rencana mereka setelah lulus dari sekolah tersebut.
"Cia rencananya loh mau lanjut kemana." Tanya Siska sambil menatap wajah sahabatnya.
"Hmm kalian tahu sendirikan bagaimana dengan kondisi keuangan ayahku." Ucap Cia sendu. Dia juga sebenarnya sangat ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi tapi sayangnya kondisi keuangan keluarganya sangat rendah.
"Emangnya ayahmu gak pernah tanya loh mau kuliah atau tidak?" Tanya Riska.
"Pernah sih ayah juga gak pernah melarang aku buat kuliah bahkan dia juga mendukung penuh keinginanku. Namun gue tahu jika gue tetap nekad kuliah pasti ayah yang akan kesusahan buat membiayai uang kuliah gue." Ucap Cia lirih. Dia satu sisi dia juga ingin merasakan menjadi mahasiswi dan bisa menjadi sarjana namun disisi lain dia juga tidak mau membebani ayahnya.
Apalagi dengan pendapatan sang ayah yang rendah kalau di fikir baik-baik tidak akan sanggup untuk membayar semuanya apalagi mengingat biaya kuliah yang tidak bisa dianggap enteng.
"Kenapa loh gak coba untuk daftar beasiswa aja secara loh kan pintar jadi kemungkinan besar loh pasti bisa diterima." Ucap Siska.
"Iya Cia loh kan sangat pintar kenapa tidak memanfaatkan kepintaran loh itu." Puji Riska.
"Gue juga maunya begitu tapi kalau gue gak diterima gimana dong." Ucap Cia dengan nada putus asa.
"Astaga Cia loh kok gampang putus asa sih, semenjak hubungan loh dengan Alex bermasalah pemikiran loh udah mulai lemot. Jangan bilang kalau kepintaran loh juga udah berubah, kok gue jadi gak yakin ya kalau loh mau bisa lolos beasiswa." Ucap Riska konyol.
Siska yang mendengar ucapan saudara kembarnya itu hanya memutar bola matanya jengah. Dia yang lemot kenapa malah ngatain orang." Gumam Siska dalam hati yang benar-benar kesal dengan sikap saudara kembarnya itu.
"Loh gak usah dengarin omongan orang gila ini Cia. Lebih baik loh coba buat daftar beasiswa diterima atau tidak itu urusan belakang yang penting loh berusaha. Ingat usaha tidak akan mengkhianati hasil.
" Ucap Siska bijak. Dia sangat yakin sahabatnya ini bisa dengan mudah mendapatkan beasiswa secara dia memiliki IQ yang tinggi.
Cia yang mendengar ucapan ucapan Siska pun mulai mempertimbangkan ucapan tersebut. Apa gue coba aja yah benar kata Siska yang penting berusaha aja dulu. Terima atau tidak toh itu urusan belakang." Gumam Cia dalam hati.
"Iya benar kata loh Sis, dan gue juga akan coba untuk daftar beasiswa mudah-mudahan Tuhan membukakan jalan." Ucap Cia dengan yakin. Dia berfikir dengan beasiswa dia tidak akan merepotkan ayahnya dan bisa membanggakan ayahnya suatu saat kelak.
__ADS_1
"Amin gue dukung loh." Ucap Siska dan Riska kompak.
"Tapi btw rencana kamu mau urus beasiswa dimana." Tanya Siska.
"Hmm kalau itu nanti gue pikiran baik-baik. Sebenarnya gue punya kampus impian tapi itu di Luar Negri." Ucap Cia yang sangat berharap ada keajaiban sehingga dia bisa kuliah di universitas impianya tersebut.
"Wow negara mana." Tanya Riska heboh. Karena rencananya dia dan juga Siska akan kuliah di Luar Negri tapi belum jelas di negara mana.
"Privasi." Ucap Cia santai.
Riska yang mendengar jawaban sahabatnya itu hanya mendengus kesal.
"Semoga impian loh tercapai yah Cia." Ucap Siska tulus.
"Amin makasih ya." Ucap Cia dengan senyum manisnya.
"Iya kitakan harus selalu mendukung satu sama lain." Ucap Siska diikuti anggukan kepala oleh Riska.
"Loh ngomong apa sih Cia kita gak akan lupain loh. Kita janji dan gue harap loh juga gak akan lupain kita apalagi gue yang cantik dan imut ini." Ucap Riska sambil memeluk sahabatnya tersebut diikuti oleh Siska.
"Best friend forever." Ucap mereka bertiga sambil tertawa kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 bulan kemudian
Waktu seakan begitu cepat berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Dan tidak terasa sudah 2 bulan setelah pembicaraan Alex dan Cia kini hubungan mereka kembali seperti sedia kala.
Walau mereka tidak bertemu setiap hari seperti dulu namun sebisa mungkin Alex akan menemui sang pujaan hati diwaktu free. Soal Fania entah apa yang dilakukan Alex kepadanya sehingga hampir 2 bulan ini dia tidak menganggu hubungan Alex dan Cia.
__ADS_1
Namun Alex masih menyimpan rapat-rapat soal hubungan Alex dengan Fania dari sang pujaan hati. Dia berharap Cia tidak mengetahui hal tersebut yang kemungkinan besar akan merusak hubungan mereka.
"Sayang kamu dimana aku sudah ada di parkiran sekolah kamu nih." Pesan Alex ke Cia. Pasalnya setelah kelas selesai Alex langsung meluncur ke sekolah sang kekasih.
"Tunggu by aku sudah otw kesitu sama Riska dan Siska." Balas Cia sambil berjalan keparkiran bersama kedua sahabatnya.
"OK sayang aku tunggu dimobil ya." Pesan Alex.
Hingga tak membutuhkan waktu yang lama diapun dapat melihat wajah cantik kekasihnya yang sedang berjalan kearah mobilnya.
"Kamu udah lama nungguin aku yah by." Ucap Cia sambil memasang seat belt.
"Gak kok sayang baru sekitar 25 menitan kok." Ucap Alex santai. Padahal 5 menit saja kalau nungguin orang itu kayak udah lama bangat.
"Maaf ya by udah buat kamu menunggu lama." Ucap Cia sambil menatap wajah tampan keasihnya itu.
"Gak kok sayang aku malah bahagia bisa nungguin kamu." Ucap Alex tulus sambil memegang pergelangan tangan sang kekasih dan tangan satunya berada dibalik kemudi mobil.
Hingga tidak membutuhkan lama mobil mewah tersebut sampai disebuah rumah sederhana yang tak lain adalah rumah dari sang pujaan hatinya.
"Kamu gak mampir dulu by." Ucap Cia sambil melepas seat beltnya.
"Gak sayang aku mau pulang dulu kerumah untuk istirahat. Dan nanti malam pukul 7 kamu dandan yang cantik yang sayang aku mau ajak kamu keluar sambil memperkenalkan teman aku. Mereka kepo bangat soalnya sama kamu.
Kalau boleh jujur aku tidak mau kalau ada laki-laki lain yang menatapmu karena aku yakin mereka pasti akan terpesona dengan kecantikan kamu. Tapi aku terpaksa sayang karena mereka selalu bilang aku itu jeruk makan jeruk karena kalau lagi keluar selalu bersama Randy bukan dengan perempuan." Ucap Alex kesal setiap mengingat ucapan temannya yang menganggap dirinya homo.
"Hahaha masa pacar aku yang ganteng ini homo sih." Ucap Cia sambil cekikan.
"Mereka gak tahu aja sayang kalau aku ini pacaran sama bidadari." Ucap Alex gombal dengan menatap dalam bola mata sang kekasih.
__ADS_1
Hingga hidung mereka bersentuhan, Alex sedikit memiringkan kepalanya hingga bibir mereka pun bertemu sontak Cia pun langsung menutup matanya sambil membalas ciuman lembut dari Alex. Alex yang merasa Cia membalas ciumanya tersebut sangat bahagia hingga l*matan bibir mereka pun semakin panas. Lidah mereka saling berbelit satu sama lain.