
"Ci-a." Ucap Alex terbata-bata. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kekasihnya ada disini.
"Kamu kemana aja selama ini Lex, kenapa gak pernah kasih kabar ke aku." Ucap Cia dengan menatap Alex yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.
"Honey kok kamu lama bangat sih dari toiletnya." Ucap Fania dengan manja dan sengaja memeluk lengan sang suami yang tak lain adalah kekasih dari adek tirinya.
Deg! Bagai tersambar petir hati Cia benar-benar terluka sekaligus bingung kenapa kakak tirinya memanggil Alex dengan sebutan honey.
"Ho-ney." Ucap Cia dengan suara bergetar menahan gejolak didalam hatinya.
"Apa maksudnya kak, kenapa kakak panggil Alex dengan sebutan honey padahal kakak sendiri tahu kalau Alex adalah pacar aku." Tanya Cia dengan menahan emosi mendengar kakak tirinya dengan berani memanggil Alex dengan sebutan honey.
"Kakak tahu Alex adalah pacar kamu tapi kamu juga harus tahu kalau Alex..." Belum sempat Fania meneruskan ucapannya. Tiba-tiba suara Dokter memanggil nama Cia.
"Apa disini ada yang bernama nona Cia." Ucap dokter yang baru keluar dari kamar tempat ayah Cia dirawat.
"Saya dok, bagaimana dengan kondisi ayah saya. Dia baik-baik saja kan?" Tanya Cia.
"Pasien memanggil anda untuk masuk kedalam." Ucap Dokter yang mengabaikan pertanyaan Cia.
"Tapi ayah saya baik-baik saja kan?" Tanya Cia kembali.
"Nona akan tahu sendiri, untuk yang lain mohon menunggu diluar karena cuma nona Cia yang dipersilahkan masuk." Perintah Dokter Steven.
Dokter Steven adalah Dokter muda berwajah tampan hingga tidak salah jika dia menjadi idola para suster dan Dokter di rumah sakit tersebut dan Dokter Steven juga merupakan salah satu Dokter yang handal di RS De Metz.
"Kenapa kami tidak boleh masuk Dok, saya ini istrinya." Ucap Mama tiri Cia tidak terima jika Cia masuk sendiri kedalam ruangan tersebut.
"Benar kata ibu saya Dok, ibu saya juga berhak masuk kedalam." Ucap Fania dia takut jika hanya Cia yang masuk kedalam sang ayah akan mengatakan sesuatu yang dia sembunyikan selama ini.
__ADS_1
"Maaf walaupun nyonya adalah istrinya tapi kenyamanan pasien adalah yang paling penting." Ucap dokter Steven.
"Hmm." Ucap Vino sedikit keras.
"Tu-an Alvino." Ucap Dokter Steven gugup sambil membungkukkan badannya. Dokter Steven benar-benar tidak menyadari bahwa pewaris keluarga De Metz ada disini.
"Kenapa tuan Alvino ada disini, apa hubungannya dengan keluarga pasien?" Gumam Dokter Steven dalam hati.
"Tuan." Ucap Cia, mama tiri Cia, Fania dan Alex kompak.
"*Sepertinya gue pernah lihat orang ini." Gumam Alex dalam hati.
"Kayaknya dia bukan orang sembarangan sampai-sampai dokter di RS besar ini sepertinya sangat menghormatinya. Kalau di lihat-lihat dia sangat tampan bahkan Alex yang terkenal tampan aja masih dibawah pria ini." Gumam Fania sambil memperhatikan penampilan Vino dari atas sampai bawah*.
"Tuan Alvino maaf kami tidak tahu bahwa anda akan berkunjung kesini karena tidak ada penyampaian sebelumnya." Ucap Dokter Steven.
Dokter Steven takut jika dipecat karena dia sudah mengabaikan pemilik RS De Metz.
"Sejak kapan tuan Alvino peduli ke orang lain, tapi perempuan yang ditolongnya cantik bangat sih atau jangan-jangan tuan Alvino tertarik dengan perempuan ini." Gumam dokter Steven dalam hati yang merasa heran dengan sikap Vino.
"Dokter pasien terus memanggil nama nona Cia." Ucap suster yang tiba-tiba keluar dari ruang perawatan ayah Cia.
"Nona Cia silahkan masuk." Ucap Dokter Steven.
Cia pun langsung memasuki ruang perawatan sang ayah. Hatinya begitu sakit melihat sang ayah yang terbaring lemah di kasur pasien tersebut.
"Hiks hiks ayah." Ucap Cia menangis.
"Ayah kenapa bisa seperti ini?" Tanya Cia sambil memegang pergelangan tangan sang ayah.
__ADS_1
"Ci-a sa-yang ayah min-ta ma-af." Ucap pak Rudi lemah.
"Hiks hiks hiks, ayah kenapa minta maaf ayah tidak salah, Cia yang salah sudah menjadi anak durhaka. Tidak bisa menjaga ayah dengan baik hiks hiks." Ucap Cia menangis tersedu-sedu.
"Ti-dak anak A-yah bu-kan anak yang dur-haka, a-yah yang su-dah men-jadi ora-ng tua dur-haka. Ma-afin a-yah nak." Ucap pak Rudi dengan air mata yang ikut menetas.
Sedangkan Cia hanya mengeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.
"A-yah su-dah tidak ku-at sa-yang, pe-san a-yah jadi-lah anak yang suk-ses jan-gan mu-dah di tin-das. A-yah sa-yang sa-ma ka-mu." Ucap pak Rudi kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
"hiks hiks Ayah bangun, Cia mohon ayah bangun hiks." Teriak Cia histeris sambil mengoyangkan lengan tangan sang ayah.
Suara Cia pun didengar sampai diluar hingga semua orang memasuki ruangan tersebut.
"Hiks hiks Dokter cepat periksa ayah saya dok hiks." Ucap Cia dengan penampilan yang sudah acak-acakan.
Dokter Steven pun memeriksa denyut nadi ayah Cia namun Dokter Steven hanya menghembuskan nafas dengan pelan.
"Maaf pasien sudah dipanggil oleh Sang Mahakuasa." Ucap Dokter Steven yang ikut prihatin melihat kondisi perempuan cantik didepannya.
Deg!
"hiks hiks kenapa ayah tinggalin Cia sendirian, kenapa ayah tega sama Cia. Cia janji akan menjadi anak yang selalu berbakti kepada ayah asalkan ayah bangun hiks hiks." Ucap Cia dengan tangisan pilu, siapapun yang mendengarkannya akan ikut sedih mendengar tangis gadis cantik tersebut.
"hiks hiks ayah kenapa tinggalin ibu secepat ini, ibu tidak akan kuat yah. Maafin ibu jika pernah menyakiti perasaan ayah, ibu sayang sama ayah hiks." Ucap mama tiri Cia sambil ikut menangis.
"hiks hiks hiks Fania mohon ayah bangun yah, Fania janji akan menjadi anak serta kakak yang baik. Maafin Fania jika Fania punya salah sama ayah hiks hiks." Ucap Fania sambil ikut menangis disamping jenazah sang ayah.
"Maafin Alex yah telah mengecewakan ayah, maaf juga Alex telah menyakiti perasaan putri ayah. Tapi Alex janji akan selalu menjaganya sampai maut memisahkan kami." janji Alex dalam hati.
__ADS_1
"Kasihan bangat nih cewek harus menjadi yatim piatu terlebih kekasih yang dicintainya ternyata telah menjadi suami kakak tirinya sendiri." Gumam Vino dalam hati yang prihatin dengan keadaan Cia.