
Waktu berjalan begitu cepat, 3 hari sudah seorang gadis cantik hidup tanpa kehadiran sosok sang ayah disisinya. Kesedihan masih melanda gadis cantik tersebut namun dengan kehadiran kedua sahabatnya mampu menghiasi kesepian yang dia rasakan.
Namun tepat hari ini juga dia harus kembali merasakan kesedihan karena kedua sahabatnya yang selalu ada bersamanya kini harus pergi mengejar mimpi mereka ke Negara lain.
Di sebuah Bandara terdapat tiga gadis cantik dan dua orang paruh baya yang sedang menangis haru karena sebentar lagi dua gadis cantik akan berangkat ke Singapura untuk mengejar cita-cita mereka.
"Papi mami." Ucap Siska dan Riska dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang." Ucap kedua orang tua Siska dan Riska.
"Papi dan mami baik-baik disini ya jaga kesehatan kalian." Ucap Siska sambil memeluk erat kedua orang tuanya. Disusul Riska yang juga ikut memeluk erat kedua orang tuanya.
Air mata yang mereka tahan dari tadi pun akhirnya tumpah juga.
"hiks hiks sayang kalian disana jaga diri baik-baik ya, jangan makan sembarangan, nanti mami dan papi akan sering kunjungi kalian jika papi tidak sibuk." Ucap mami Siska dan Riska yang tak lain adalah nyonya Sinta dengan air mata yang terus menetes.
"Dan yang perlu kalian ingat kuliah yang benar jangan sampai kalian terjerumus kedalam pergaulan bebas." Perintah papi Siska dan Riska yang tak lain adalah Tuan Regi CEO dari perusahaan Pratama dengan tegas.
Namun jauh didalam lubuk hatinya dia juga merasa sedih jika harus berpisah dengan kedua putrinya itu.
Sedangkan Siska dan Riska yang mendengar perintah kedua orang tuanya hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
Kemudian mereka mengalihkan pandangannya ke seorang gadis cantik yang hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cia." Ucap Riska sambil memeluk sahabatnya diikuti oleh Siska.
Ketiga gadis cantik tersebut berpelukan bagai teletubies.
"Hiks hiks kalian benar mau pergi ninggalin gue sendiri." Ucap Cia dengan suara seraknya.
"Hiks hiks maafin kita karena gak bisa menemani loh terus." Ucap Siska dengan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.
"Hiks hiks loh disini baik-baik yah. Kita janji kok akan selalu menghubungi loh, dan satu lagi jika nanti loh sudah kuliah di Paris jangan lupain kita ya." Ucap Riska sendu.
"hiks hiks kalian juga janji ya jangan lupakan gue, hanya kalian sahabat dan keluarga yang gue punya sekarang." Ucap Cia kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Jangan takut sayang masih ada papi dan mami yang akan jagain sahabat kalian ini." Ucap papi Regi
"No! Cia adalah putri kita sekarang jadi apapun yang terjadi jangan pernah sungkan kepada papi Dan mami." Ucap mami Sinta kemudian mendekap Cia kedalam pelukannya.
"Dan sekarang panggil mami dan papi sampai seterusnya karena loh adalah sahabat plus saudara bagi kita." Ucap Siska.
Kemudian kelima manusia tersebut saling berpelukan hingga tak lama kemudian pesawat yang akan ditumpangi oleh Siska dan Riska akan take off.
__ADS_1
"Sayang jangan lupa hubungi papi dan mami jika kalian sudah sampai." Perintah mami Sinta.
"Iya mi kita berangkat dulu ya." Pamit Siska sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Papi dan mami jagain Cia ya." Perintah Riska kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Siap sayang." Ucap kedua orang tua Siska dan Riska kompak kemudian mengecup puncak kepala anak-anaknya secara bergantian.
"Cia kita berangkat ya." Ucap Riska dan Siska.
"Kalian baik-baik ya disana." Ucap Cia sambil melambaikan tangannya kepada kedua sahabatnya yang mulai menjauh dari tempat mereka berada.
Hingga tak lama kemudian pesawat yang ditumpangi kedua gadis cantik tersebut telah hilang dari pandangan mereka.
"Sayang kamu pulang bersama papi dan mami ya." Ajak mami Sinta ketika mereka sudah sampai di parkiran.
"Tapi...." Belum selesai Cia bicara langsung dipotong oleh Tuan Regi.
"Tidak ada tapi-tapian sekarang kamu adalah putri kami juga jadi kamu harus tinggal di kediaman Pratama mulai sekarang." Perintah papi Regi dengan tegas sambil masuk kedalam mobil dan duduk di kursi depan yang dikemudikan oleh sopir pribadi mami Sinta.
Disusul oleh Cia dan mami Sinta yang duduk dikursi belakang.
"Tapi pi aku mau tinggal dirumah peninggalan ayah sebelum aku pergi ke Paris." Ucap Cia sendu setiap kali mengingat sang ayah.
"Mami mengerti perasaan kamu tapi mami harap kamu mau ya pulang bersama mami dan papi. Sebelum kamu berangkat ke Paris kami janji akan ikut menginap dirumah peninggalan ayah kamu." Janji mami Sinta. Cia pun menganggukan kepalanya namun sepertinya masih ada yang dia fikirkan.
"Untuk kebutuhan kamu pakai saja punya Siska dan Riska." Ucap mami Sinta yang sseakan-akan bisa menebak apa yang di pikirkan oleh Cia.
"Baiklah mi." Pasrah Cia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Garden Cafe
"Woii gue dengar-dengar Alex udah menikah ya?" Tanya Dafa.
"Loh tahu darimana bukannya pacar Alex yang cantik itu baru lulus Sma." Ucap Rian yang tak percaya dengan info yang disampaikan sahabatnya.
"Tapi gue dengar-dengar kok waktu dikelas kebetulan kalian berdua belum datang." Jelas Dafa.
"Itukan belum tentu kenyataannya." Ucap Rian yang masih belum bisa percaya tentang info tersebut.
"Dia memang sudah menikah." Ucap Vino yang fokus melihat kearah parkiran seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
__ADS_1
"Loh juga udah tahu? kenapa gue doang yang belum tahu." Tanya Rian.
"Loh dengar info itu darimana se-tahu gue loh belum ada dikelas waktu anak-anak omongin tentang pernikahan Alex?" Tanya Dafa heran.
"Udah lama." Ucap Vino singkat.
"What udah lama tapi kenapa loh gak pernah kasih tahu ke kita?" Tanya Dafa kesal.
"Gak penting." Jawab Vino menjengkelkan.
"Huftt beruntung bangat sih Alex dapat istri secantik dan sepintar Cia." Puji Rian ketika mengingat wajah cantik Cia.
"Iya kalau gue berada siposisi Alex pasti gue juga akan langsung ikat dengan tali suci pernikahan daripada nanti diembat orang." Ucap Dafa.
"Tapi kenapa Pernikahan Alex ditutupi padahal dia kan salah satu orang terkaya di negara ini?" Tanya Rian.
"Jelas ditutupi karena ceweknya hamil duluan." Jawab Vino santai.
"What hamil?" Pekik Rian dan Dafa dengan sedikit keras.
"Loh gak lagi bercandakan Vin?" Tanya Rian yang benar-benar tidak percaya dengan alasan yang di ucapkan sahabatnya.
"Sejak kapan gue pernah bercanda?" Tanya Vino balik.
"Gak pernah sih, tapi gue kira Cia itu cewek baik-baik." Ucap Rian yang benar-benar terkejut dengan info yang baru dia dengar.
"Emangnya siapa yang bilang kalau Cia itu hamil?" Tanya Vino.
"Lah bukannya loh sendiri yang bilang kalau mereka menikah karena ceweknya hamil duluan?" Tanya Rian.
"Iya gue memang bilang kalau mereka nikah karena ceweknya hamil duluan tapi gue gak bilang kalau Cia yang hamil." Ucap Vino.
"Ckck kalau bukan Cia siapa lagi? kan pacarnya Alex itu Cia." Ucap Dafa yang kesal dengan ucapan Vino yang membuatnya pusing sendiri.
"Ceweknya Alex memang Cia tapi istrinya Alex itu Fania." Ucap Vino.
"Siapa itu Fania." Tanya Dafa penasaran.
"Kakak tiri Cia." Ucap Vino.
"Jadi maksud loh Alex selingkuh dari Cia dengan kakak tiri ceweknya sendiri dan selingkuhannya sekarang telah hamil?" Tanya Dafa heboh.
"Cia sudah tahu semua ini atau belum?" Tanya Rian kepo. Yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Vino.
__ADS_1