
Keesokan harinya Vino pun berangkat ke Paris menggunakan Jet pribadi keluarga De Metz.
"Sayang jangan lupa kabari mommy kalau kamu sudah sampai di sana." Ucap Mommy Anggika sambil memeluk putranya.
"Iya mom." Ucap Vino membalas pelukan sang mommy.
"Jangan peluk istri daddy terus. Lebih baik kamu berangkat sekarang pesawatnya sudah siap dari tadi." Ucap Daddy Regi dan menarik tubuh sang istri dari pelukan putranya sendiri.
"Ck dasar tua bangka cemburuan." Ledek Vino kesal melihat sikap posesif sang daddy.
Tapi sebenarnya dia juga sangat bahagia melihat keharmonisan kedua orang tuanya yang selalu tampil romantis walaupun umur mereka sudah tidak mudah lagi.
"Suka-suka daddy dong istri-istri daddy kenapa kamu malah sewot. walaupun daddy sudah tua tapi daddy masih bisa memberikan kamu adik baru, Ya kan sayang?." Tanya Daddy Regi sambil mengedipkan sebelah matanya kearah sang istri.
"Daddy gak usah aneh-aneh ingat umur." Ucap Mommy Anggika yang merasa malu dengan sikap blak-blakan suaminya.
"Mom Vino pergi dulu ya, jaga diri baik-baik. Dan kasih tahu suami mommy untuk tidak marah-marah ingat umurnya sudah stengah abad." Ucap Vino sambil mencium pipi sang mommy dengan cepat.
"Vino daddy sudah bilang jangan dekat-dekat dengan istri daddy. Oh ya jangan lupa bawah menantu untuk daddy dan mommy. Ingat kita ini udah tua udah sepantasnya mengendong cucu." Ucap Daddy Regi geram melihat sang putra yang berani mencium istrinya.
"Hati-hati ya sayang, jaga diri kamu dan adik kamu disana. Benar kata daddy kamu jangan lupa bawah menantu untuk kami." Ucap Mommy Anggika. Sedangkan daddy Regi yang mendengar ucapan sang istri pun sontak tersenyum mengejek kearah sang putra.
Vino yang mendengar permintaan kedua orang tuanya pun hanya cuek saja sambil berjalan kearah pesawat yang sudah menunggunya dari tadi.
"Ck dasar anak itu tidak tahu sopan santun sama sekali kepada daddynya." Umpat Daddy Regi kesal melihat sang putra yang sudah menaiki pesawat tanpa pamit kepadanya.
"Itukan salah daddy sendiri. Udah tahu Vino tidak suka di kaitkan dengan wanita malah menyuruhnya cari menantu." Ucap Mommy Anggika sambil menatap tajam kearah suaminya.
"Lah bukannya mommy juga setuju dengan permintaan daddy." Ucap Daddy Regi yang merasa bingung dengan sikap istrinya.
"Terserah." Ucap Mommy Regi ketus kemudian berjalan kearah parkiran meninggalkan suaminya yang masih diam ditempatnya.
"Hais perempuan selalu benar. Tapi disini bukan cuma saya yang salah kan tadi dia juga menyetujui ucapan saya." Gerutu Daddy Regi yang merasa tidak terima disalahkan sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kampus
__ADS_1
"Hai." Sapa Cassandra yang tidak sengaja bertemu dengan Cia di parkiran kampus.
"Hai." Sapa Cia balik.
"Loh baru nyampe juga ya?" Tanya Cassandra yang mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Cia yang sudah berjalan terlebih dahulu beberapa langkah darinya.
Kedatangan mereka pun sontak menjadi pusat perhatian dikampus karena Cia dan Cassandra merupakan primadona kampus. Namun ada juga yang tidak suka dengan mereka siapa lagi kalau bukan para mahasisiwi yang iri dengan kecantikan kedua perempuan tersebut.
"Wow primadona kita sudah datang."
"Leticia cantik bangat sih."
"Cassandra juga cantik bangat."
"Calon masa depan gue sudah datang."
"Biasa aja kali."
"Cantikan gue daripada mereka yang hanya orang miskin."
Dan masih banyak lagi pujian dan hinaan yang mereka dengar namun mereka hanya cuek saja karena bagi mereka hal itu sudah biasa. Apalagi Cia yang selalu menjadi pusat perhatian dari waktu masih sma.
"Ok nanti kita makan barang dikantin ya." Ucap Cassandra.
"Siap." Ucap Cia sambil berjalan kedalam kelasnya.
Dan tidak lama kemudian seorang dosen pun masuk kedalam kelas. Hingga 2 jam kemudian proses belajar pun selesai.
"Leticia." Panggil Cassandra yang sudah berada didepan pintu.
"Tunggu sebentar." Ucap Cia sambil memasukkan laptop dan buku kedalam tasnya.
"Loh udah lama disini?" Tanya Cia yang sudah berada didepan Cassandra.
"Gak baru-baru kok." Ucap Cassandra.
"Oh." Ucap Cia. Mereka pun berjalan kearah kantin secara beriringan. Seperti biasa setiap mereka melewati koridor kampus pasti banyak pujian dan hinaan yang mereka dengar.
__ADS_1
"Kita duduk disitu aja yuk." Ajak Cassandra sambil menunjuk ke arah meja yang masih kosong.
"Ayo." Ucap Cia. Mereka pun langsung berjalan kearah meja tersebut. Namun sebelum mereka duduk tiba-tiba ada 2 gadis cantik berwajah bule dengan pakaian yang sangat terbuka datang mengejutkan mereka.
"Siapa yang suruh kalian duduk disini." Ucap Perempuan dengan make up yang tebal.
"Kita lah siapa lagi." Ucap Cassandra.
"Ini tempat duduk kita jadi silahkan cari meja yang lain." Ucap Wanita disebelahnya.
Kedua perempuan tersebut adalah Rebecca dan Clara yang mereka merupakan senior Cia dan Cassandra. Kedua perempuan itu terkenal sering membully mahasisiwi yang berasal dari kalangan ekonomi rendah.
Siapa yang tidak kenal dengan mereka hampir semua mahasiswa dikampus mengenal mereka. Karena Rebecca merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di Prancis, selain itu ayahnya juga merupakan ketua mafia.
Sedangkan Clara ayahnya merupakan orang kepercayaan ayah dari Rebecca dan juga merupakan tangan kanan ayah Rebecca dalam dunia bawah. Hingga tidak salah jika Rebecca dan Clara selalu bersama.
"Maaf ya seharusnya kakak yang mencari meja lain karena kita duluan yang sampai dimeja ini." Ucap Cassandra kesal.
"Beraninya loh melawan gue hah. Loh gak tahu gue ini siapa?" Tanya Rebecca emosi. Karena baru kali ini ada yang berani membatahnya terlebih juniornya sendiri.
"Gak tahu dan gak pengen tahu." Ucap Cassandra santai.
Mendengar Ucapan Cassandra sontak membuat emosi Rebecca semakin besar.
"Loh itu hanya orang miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk bisa kuliah disini. Loh sudah salah cari lawan." Bentak Rebecca.
"Memangnya loh siapa?" Tanya Cassandra yang juga sudah mulai emosi.
"Gue Rebecca putri tunggal dari salah satu pengusaha terkaya dinegara ini dan juga gue adalah anak dari seorang ketua mafia yang ditakuti dinegara ini." Jelas Rebecca sambil tersenyum mengejek karena merasa bahwa perempuan didepannya pasti menyesal telah mencari masalah dengannya.
Namun realita tak sesuai ekspetasi. Bukannya takut Cassandra malah tertawa terbahak-bahak seperti yang diucapkan Rebecca adalah lelucon baginya.
Sontak Rebecca dan semua mahasiswa yang dikantin pun heran melihat reaksi Cassandra yang tidak ada rasa takutnya sama sekali.
"Terus gue harus takut gitu? yang punya perusahaan kan ayah loh, yang ketua mafia kan ayah loh. Jadi apa yang gue harus takuti dari perempuan manja kayak loh yang udah besar tapi masih berlindung diketiak ayahnya." Ejek Cassandra.
"Tunggu pembalasan gue." Ucap Rebecca yang merasa telah dipermalukan oleh Cassandra.
__ADS_1
Rebecca yang kehabisan kata-kata pun langsung keluar dari kantin namun sebelum keluar dia mengebrak meja yang ada didepannya dengan sangat keras.